Transformasi Pegiat Literasi, Dari Sekadar Penyedia Buku Menjadi Penulis Buku

Menyerahkan buku menebar virus literasi di Bumi Parigata pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daera

Ditulis Oleh : Eli Leu - 20 Oktober 2020


Menjadi pegiat literasi merupakan sebuah kebanggaan dan tatangan tersendiri buat saya sebagai pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Maha Karya, dan saya yakin itu juga dirasakan pegiat literasi lain di masing-masing daerahnya. Sebab, kita tahu bersama setiap daerah memiliki ragam karakter masyarakat yang berbeda-beda, sehingga perlu melakukan ragam pendekatan pula. Maka, dengan segala suka dukanya itu, akan jadi kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagian dari penggerak literasi di masyarakat.

Pentingnya ikut bergerak, karena kita sama-sama menyadari enam literasi dasar menjadi salah satu prasyarat kecakapan hidup di abad 21. Hal itu dibuktikan ketika Programme for International Student Assessment (PISA) mengeluarkan hasil survey pada tahun 2018 yang menunjukkan rendahnya peringkat literasi masyarakat Indonesia dalam kemampuan membaca, sains dan matematika siswa kita jika disejajarkan dengan 79 negara lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana ‘sulitnya’ generasi ini bisa masuk ke persaingan global?

Menyikapi itulah sehingga, literasi menjadi salah satu isu fundamental dalam penerapan merdeka belajar oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dibawa kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim. Maka sebagai pegiat literasi di daerah, kita perlu ikut mendukung dengan serius, dengan menggunakan berbagai metode agar tujuan memasyarakatkan literasi sampai ke lapisan paling bawah sekalipun.

Salah satu dari enam literasi dasar yaitu literasi baca tulis. Di daerah saya, yang bagian dasar inipun masih menjadi tantangan serius. Bagaimana tidak, Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah berada di bagian Timur Indonesia, masih cukup sulit mendapatkan buku murah dan berkualitas. Ketika pegiat literasi yang bergerak di komunitas atau TBM lain di nusantara ini tantangannya menumbuhkan minat baca, mengaplikasikan kemampuan membaca untuk berdaya secara ekonomi, budaya, sains, teknologi dan informasi serta keuangan, kami masih berkutat di tidak tersedianya buku berkualitas secara merata atau penyediaan layanan baca yang belum menjangkau semua wilayah yang kemudian mempengaruhi kemampuan baca tulis masyarakat.

Bagaimana tidak, pesisir pantai Teluk Tomini Parigi Moutong Sulawesi Tengah memiliki panjang 472 KM dan sebagian besar pesisirnya itu berpenghuni, belum lagi wilayah pedalaman yang sebagian besar bukit-bukitnya juga berpenghuni. Itu menjadi tantangan luar biasa dimana hanya ada satu Perpustakaan Daerah yang didirikan di ibu kota kabupaten dan program Perpustakaan Desa belum disambut baik di 278 desa yang tersebar di 23 kecamatan.

Menghadapi kenyataan itu, lambat laun pemerintah daerah mulai menyadari pentingnya sinergi dan kolaborasi dengan para pegiat literasi untuk mendorong pelaksanaan program literasi masyarakat. Salah satu tindakan nyata Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan adalah, Parigi Moutong yang masih cukup tinggi angka tuna aksaranya, menjadi salah satu dari enam daerah di Indonesia yang mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) pada tahun 2015. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan.  Juga dicanangkannya satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk satu desa yang rata-rata ikut melaksanakan kegiatan literasi masyarakat di bawah TBM.   

Sebab disadari bersama, kemampuan literasi bukan hanya sekadar prioritas untuk kecakapan hidup generasi milenial tetapi investasi bagi masa depan yang berkesinambungan yang akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Untuk menghadapi masalah sulitnya mendapatkan bahan bacaan yang murah dan berkualitas, para pegiat literasi di Parigi Moutong harus pandai-pandai mencari peluang. Mulai dari rajin mencari informasi donasi buku, informasi bantuan dana pembelanjaan buku bacaan, membangun relasi dengan mitra pemerintah yang peduli pendidikan, berburu kuis atau lomba-lomba kepenulisan dari penerbit yang memberikan hadiah buku. Selain itu, kami berusaha berjejaring, misalnya untuk pegiat yang baru saja memulai kerja-kerja literasi masyarakat, kami bahu membahu memberikan dukungan untuk merawat semangat bergerak bersama.

Setelah menggunakan cara-cara itu selama dua sampai tiga tahun, kami mendapatkan sejumlah bantuan buku dari berbagai sumber sehingga mimpi untuk menyediakan layanan baca di ibu kota, wilayah pesisir hingga pedalaman Parigi Moutong pelan-pelan bisa tercapai meski diakui belum bisa disebut memadai. Tetapi yang cukup membahagiakan, sudah ada beberapa oase baca yang terbentuk di pesisir dan di pedalaman dari hasil donasi buku, diantaranya oase baca di pegunungan Tinombo di lokasi Komunitas Adat Terpencil suku Lauje pedalaman, wilayah utara Parigi Moutong. Juga terbentuknya beberapa komunitas literasi yang giat melakukan kegiatan literasi baca tulis.

Setelah melalui upaya itu, sejumlah pegiat literasi di Parigi Moutong mulai bertransformasi bukan lagi sekadar menyediakan buku tetapi menjadi penulis buku. Saya bersama teman-teman menginisiasi penulisan buku yang menceritakan suka duka menebar virus literasi di Parigi Moutong. Tujuannya untuk memotivasi para pegiat literasi yang baru, juga ingin menginspirasi lebih banyak orang terutama kaum muda untuk ikut bergerak memasyarakatkan enam literasi dasar. Buku yang kami beri judul ‘Menebar Virus Literasi di Bumi Parigata’ dicetak tahun 2019 dan seluruh keuntungan dari hasil penjualan buku itu dibelikan kembali buku anak yang didonasikan ke anak-anak KAT suku Lauje pedalaman.

Masih di tahun yang sama, kami menginisiasi program Sanjayo Literasi yaitu mendatangi sebuah tempat (desa) dan berkomitmen untuk membawa buku bacaan, menggelar kegiatan literasi seperti membaca bersama, mendongeng, menonton film dokumenter tentang pendidikan, membuat kelas menulis dan kelas mewarnai. Sepulangnya dari sana, kami harus menulis sebuah catatan perjalanan. Kegiatan ini kami mulai dari Juni 2019 hingga Juni 2020 sampai pada akhirnya kami mencetak sebuah buku yang diberi judul ‘Tesa Sanjayo’, yang dalam bahasa Suku Kaili (suku besar di Sulawesi Tengah) dapat diartikan ‘Cerita Jalan-Jalan’. Sisi lain yang kami tonjolkan di buku Tesa Sanjayo selain mencatatkan kegiatan literasi, juga mengedukasi pembaca untuk pengenalan dan pelestarian budaya, mengangkat dan mempromosikan potensi wisata Pargi Moutong lewat tulisan.

Bagi saya, pegiat literasi sudah harus bertransformasi dari bukan hanya menjadi pembaca buku atau penyedia buku bacaan tetapi sudah menjadi bagian dari ‘pencipta’ buku dengan cara menulis. Apalagi kita di wilayah Timur Indonesia menyadari masih sulitnya mendapatkan buku murah dan berkualitas. Ketimpangan karena mahalnya biaya pengiriman menjadi kendala terbesar hingga saat ini. Maka menjadi penulis buku (yang semoga berkualitas) dari Timur Indonesia adalah sebuah keharusan. Cita-cita ini menurut saya harusnya dimulai dari kita yang mengaku sebagai penggerak literasi di masyarakat, sehingga ke depanya bisa lebih mudah mengkader penulis-penulis muda yang mumpuni dari daerah kita.

Hal ini juga sebagai bentuk respon cepat, menyikapi diberhentikannya program pengiriman buku gratis setiap tanggal 17 bulan berjalan. Padahal program ini membawa manfaat yang sangat besar bagi kegiatan literasi di wilayah Timur Indonesia termasuk kami di Parigi Moutong. Harapannya, program ini diadakan kembali oleh pemerintah jika memungkinkan, atau ada program serupa yang fungsinya sama yaitu memudahkan donasi buku hingga ke pelosok negeri sekalipun. Kita tahu bersama, harapan ini tujuannya semata-mata untuk pemerataan akses layanan baca bagi seluruh rakyat Indonesia.

 





Artikel Terkait

Kekuatan Berbagi

Lala Sedang Melamun. Entah Apa Yang Dipikirkan Bocah Perempuan Yang Berusia 6 Tahun Itu. Ia Membuka Ikatan Rambutnya. Rambut Lala Yang Panjangnya Sepunggung Tergerai. Ia Membelai Rambutnya Dan...

Membaca Dan Kepikunan

Membaca Dapat Mengurangi Resiko Kepikunan. Seseorang Yang Banyak Membaca Akan Memperkecil Kemungkinan Menjadi Pikun Di Masa Tua, Apalagi Mereka Yang Sehari-harinya Bergelut Dengan Kegiatan Membaca...

Bergerak Dengan Hati

Segerombolan Anak Sma Berangkat Ke Sekolah. Sambil Bercanda Mereka Berjalan Perlahan Karena Memang Masih Pagi. Sampai Di Depan Rumah Mereka Berdiri Sebentar Ketika Membaca Papan Nama Rumah...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul