Tak Ada Lagi Keseruan Di MPLS

Picture by Prama Putranto

Ditulis Oleh : Prama Putranto - 29 Juli 2020

Hari pertama masuk sekolah merupakan saat-saat yang dinantikan bagi seluruh peserta didik baru. Setelah melewati serangkaian proses seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang cukup menguras tenaga karena harus selalu memantau pergerakan jurnal berdasarkan jalur pilihan seperti zonasi, prestasi, maupun jalur lainnya selama proses seleksi. Hingga akhirnya hasil seleksi pun diumumkan, ada rasa bahagia karena dapat diterima di sekolah idaman ada pula yang kecewa tidak diterima di sekolah idaman hanya karena jarak tempat tinggal. Namun bagaimanapun juga harus diterima dengan lapang dada dan proses pembelajaran di sekolah harus terus berjalan.


Protes mengenai seleksi PPDB terus berjalan dan gejolak tersebut masih terasa. Di satu sisi, sekolah pun harus segera mungkin menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan sistem serta metode pembelajaran yang akan diterapkan.


Muncul dinamika yang harus dihadapi dalam kondisi sulit seperti saat ini. Ada yang memperbolekan menyelenggarakan MPLS secara tatap muka langsung dengan sistem shift dan menerapkan protokol kesehatan ada pula yang menyelenggarakan secara daring dengan berbagai macam aplikasi yang ada. Kebijakan pun turut berubah-ubah, sehingga masyarakat dan pelaksana pun menjadi bingung. Pelaksanapun terkadang harus berbenturan dengan masyarakat yang memprotes kebijakan yang dinamis. Hal-hal seperti itu sering terjadi di masyarakat. Perlu kepala dingin dan senantiasa sabar menghadapi dinamika yang senantiasa mewarnai dalam bermasyarakat terlebih di tengah pandemi saat ini, sensitivitas meningkat.


MPLS tetap dilaksanakan meskipun menuai pro dan kontra. Banyak hal yang berbeda terkait dengan pelaksanaan MPLS kali ini. Suka cita diterima di sekolah idaman, keceriaan dapat berjumpa teman-teman baru di sekolah baru, dan senyum bahagia dapat kembali belajar bersama di sekolah sudah tak terasa lagi. Peserta didik datang dengan penuh kekhawatiran. Saat masuk pintu gerbang sekolah pun bukan disambut oleh guru dengan senyum hangat namun disambut dengan Thermo Gun. Lalu kemudian dicek satu per satu apakah sudah memakai masker dan membawa hand sanitizer dan selalu diingatkan untuk senantiasa mencuci tangan serta menerapkan protokol kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kemudian suasana menegangkan kembali muncul tatkala peserta didik diarahkan menuju ruang kegiatan dengan senantiasa menjaga jarak. Perlahan melangkah sembari memperhatikan tanda jaga jarak yang terdapat di lantai sekolah.


Waktu pelaksanaan MPLS dibatasi, materi yang disampaikan pun juga dibatasi, semua serba dibatasi apabila dilakukan dengan cara tatap muka secara langsung. Hanya materi-materi kontekstual dan adaptif yang dapat disampaikan terkait dengan wabah covid19 ini. Disampaikan pula mengenai proses pembelajaran jarak jauh yang akan diterapkan dan juga tentang metode dan aplikasi apa saja yang akan dipakai. MPLS sejatinya adalah kegiatan dimana peserta didik mendapatkan materi mengenai wawasan wiyata mandala dan pendidikan penguatan karakter. Namun semua itu tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Hanya materi-materi urgent berkaitan dengan kondisi pandemi saat ini saja.


Pada saat penyampaian materi suasana sangat hening dan mencekam. Semua yang terlibat baik guru dan murid tidak seleluasa seperti sebelum-sebelumnya. Semua saling menjaga dan terjebak rasa was-was. Tidak ada lagi keceriaan, tawa, canda, bahagia saat kegiatan MPLS. Tidak ada lagi peserta didik kelas XI dan kelas XII yang dilibatkan untuk mempromosikan kegiatan ekstrakurikuler ataupun organisasi-organisasi yang terdapat di sekolah. Tidak ada lagi kegiatan inaugurasi di dalam MPLS dimana peserta didik dapat menampilkan bakatnya di bidang apapun. Keseruan itu telah hilang. Seluruh kegiatan-kegiatan baik intrakurukuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sebagai wadah bagi peserta didik untuk mengaktualisasi diri, mengembangkan bakat, dan membentuk karakter sudah tidak mungkin untuk dilaksanakan secara tatap muka langsung. Semua itu demi memutus mata rantai penyebaran covid19.


Begitulah kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Pembelajaran jarak jauh harus diterapkan demi menjaga generasi emas penerus bangsa. Semua kegiatan di sekolah baik intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler wajib dilaksanakan secara daring. Hal seperti ini perlu disikapi dengan arif dan bijaksana meskipun selalu melahirkan polemik di setiap kebijakan yang ada. Prinsip kesehatan dan keselamatan jiwa pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat adalah hal yang harus diutamakan. Terus merapal doa agar bumi ini bangkit kembali. (prp) 


John Doe
Prama Putranto
Energi Positif Berbagi Kebahagiaan

Artikel Terkait

Sekolah Semakin Sepi

Kembali Membuka Tas Sembari Memastikan Apakah Semua Keperluan Untuk Keesokan Hari Sudah Siap Untuk Dibawa. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Stopwatch, Peluit, Baju Ganti, Dan Tentunya Sebotol Air...

Globalisasi Dan Pendidikan

Kita Hidup Pada Era globalisasi. Tidak Ada Jalan Untuk Mengelak Dari Sana. negara Tidak Punya Banyak Pilihan Untuk tidak Mengikuti Perkembangan Global. globalisasi adalah...

Dampak Covid-19 Terhadap Implementasi...

Pandemi Covid-19 Sangat Mengejutkan Masyarakat Di Seluruh Dunia Karena Memberi Perubahan Secara Tiba-tiba Pada Keseharian Individu Dan Aktivitas Masyarakat, Yang Akhirnya Membawa Dampak Perubahan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul