STOP JADI RELAWAN!

Tarian Tumior Fakfak dalam Parade Budaya dan Inovasi KomposTIFA II Tahun 2017

Ditulis Oleh : Saida Husna - 14 Oktober 2020

STOP JADI RELAWAN !

Dianggap sebelah mata dalam kerja-kerja senyap ‘politisi’ kerelawanan itu adalah hal yang biasa. Sudah kebal bahkan kebas dan mati rasa bagi Propos, Provokator Positif (sebutan relawan komposTIFA). Sekedar mengingatkan saja, kalau setelah membaca tulisan ini lalu terprovokasi untuk bergabung dan melakukan aksi-aksi “militansi” kerelawanan atau terpikir bergabung bersama Propos komposTIFA, maka pikir lagi ulang-ulang.

 “Lho Militansi? Emang Relawan bisa militant, neror, tebar bom ? Wuih, ngerih!”. 

Eits tunggu dulu kawan. Militansi para politisi kerelawanan itu berbeda, apalagi para ‘politisi’ kerelawanan Propos.

Gila, mentang-mentang musim Pemilu jadi kata-katanya musti ada Politisi, Militan, kerja”.

 Kalau bicara semangat bersama Propos komposTIFA, jangan ditanya. Ini bukan perkara jualan jamu atau obat yang para penjajanya pasti akan menempuh segala cara untuk mengkampanyekan jualannya. Orang-orang yang tergabung sebagai Propos KomposIFA apalagi para dedengkotnya, jika ditanya apa yang mereka dapat setelah nyaris 5 tahun menjadi politisi buku senyap, politisi kerelawanan, maka bisa jadi jawaban seragam yang diperoleh adalah “kegilaan yang nyaris permanen binti akut”. Sudah berkali-kali membuat event dengan dana megap-megap, ditikung oleh tetangga seberang jalan ( nah loh! ), belum lagi diterpa badai internal yang bertubi-tubi dan lalu harus bercerai dengan beberapa propos lain tapi toh tidak kapok juga. Dijanjikan surga sama para PHPiers ( PHP itu Pace-pace Pemberi Harapan dan Pastiu), malah bahagia tak ketolongan. Tapi jangan sekali-sekali pertanyaan itu muncul dari ponakan, dari mama, dari bini, dari anak paling bungsu, apalagi dari kucing kesayangan ( nah lho, kucing juga ngomong !)

Contoh Kasus 1.

Pas lagi santai-santainya liburan, tiba-tiba didatangi ponakan, “ Mama XXX libur?”.

“ Lalu menurut NGANA?”

“Hari Minggu juga?”

“ Lalu…?”

U nya panjang, percaya diri. Dan…

“ Tapi kenapa sa tra pernah lihat di rumah?”.

Krik krik krik…. Jedanya yang panjang sekarang. Itu benar-benar NJLEB, Sukses buat rasa bersalah. Luka tapi berdarah malu-malu.

Contoh Kasus 2.

“ Su kasi makan kucing?” ( Ini Mama yang tanya)

“ Lalu menurut ngana?” ( Just intermezzo kah ini)

“ Anak kurang ajar. Pi kasi makan kucing sana. Itu Yakop ( Burung Kaka Tua)  su teriak-teriak”

“ Masih meeting Mama, sama Propos KomposTIFA. Ada pertemuan juga dengan Abang Uut buat tong pu PBI III” ( Oh iyo, PBI itu bukan Pustaka Bergerak Indonesia tapi Parade Budaya dan Inovasi KomposTIFA. Kitong kasi mirip-mirip Pustaka Begerak supaya mungkin bisa Go Nasional kah?)

“ Oh. Iyo sudah. Salam buat Abang Uut. Kamong berapa orang di situ? Abis meeting datang ambil nasi kuning e, Mama su pesan!” (Nasi kuning seperti jadi ikon saat meeting di basecamp KomposTIFA. Mama Andalan yang selalu yang siapkan)

“Siap Mama. Baru kucing sama yakop?”

“ Lalu Menurut NGANA?” ( ini betul-betul Mama yang balas)

Contoh Kasus 3

“ Abang pulang jam berapa?”

“ Mungkin larut De’. Ini masih meeting bahas PBI III deng Abang Uut. Abang tra usah di tunggu”

“ Oke abang. Ingatan, pulang telat trapa asal sayur yang ade su masak dimakan e. Kalau tidak, stop gabung komposTIFA” ( Nah loh, ini Abang Proposnya tra suka makan sayur)

Contoh Kasus 4

Jam 23.00 wit. Suara ojek berhenti di depan rumah. Suara pintu berdecit ( Bukan Decit si Propos KomposTIFA). Langkah senyap, mengendap, masuk pelan-pelan dalam rumah. Suara anak kecil mirip suara anak di film Annabelle. ( seram tidak itu? ). Tiba-tiba peluk kaki. ( tra bikin syok itu tengah malam?). Eh tahu-tahunya anak sendiri. Bungsu 2 Tahun.

“ Ade belum tidur?”

Makin manja. Minta gendong terus dan enggan lepas dari pelukan. Bapaknya Propos KomposTIFA , sering pulang malam belakangan, baru pulang persiapan PBI III, meeting sama Abang Uut. ( sio, Abang Uut ini de Bintang. Yang lain lewat)

Contoh Kasus 5

“ Kaka Decit beli kebab banyak sampe”

“ Itu sudah. Ini untuk Si Koneng dan kawan-kawan. Kasihan berapa hari ini su tra pernah lihat dia”

“ Memangnya trada yang temani dorang di rumah?”

“ Ada, teman kantor serumah. Cuma sekali-sekali tho, sa su abaikan dong satu minggu ini jadi. Ini aja, nanti titip juga di teman kantor. Abang Uut baru hubungi mo meeting persiapan PBI III ini” ( tuh kan, Abang Uut muncul lagi J)

Dalam hati, Kaka Decit bilang ‘Sabar ya Koneng, nanti bisa main bareng lagi’ ( Koneng itu nama kucing kesayangan ).

*

Kawan, kesimpulan dari beberapa kasus di atas  adalah “Peringatan Keras”. STOP JADI RELAWAN! Jangan pernah sekali-sekali teracuni bahkan terpikir untuk menjadi relawan apalagi Relawan Propos komposTIFA. Jika masih nekad juga, pesan terakhir yang bisa saya ( korban) anjurkan, paling tidak kau harus punya 5 modal pokok. Pertama, hati yang luas dan kebal untuk mampu menangkal pertanyaan-pertanyaan absurd yang tiba-tiba dari orang-orang terdekat kita. Kedua, punya orang tua, keluarga, anak yang juga rela memiliki anggota keluarga yang juga absurd. Ketiga, punya pasangan hidup yang sabar luar biasa, ketika pasangannya tidak suka makan sayur ( Oops ! Fokus, fokus, focus!!! ). Maksudnya punya pasangan yang sabar dan memaklumi saat pasangannya sedang sibuk dengan absurditas. Keempat, punya hewan kesayangan yang harus bernama “Koneng” ( Tuh kan, gagal fokus lagi- Ini yang tulis korban absurditas selama nyaris 5 tahun ). Maksudnya punya hewan kesayangan yang juga sedikit absurd ketika dicekoki dan disogok makanan absurd sebagai permohonan maaf ( gimana tidak absurd kalau kucing kesayangan “Cemilan”-nya kebab). Dan terakhir kemampuan untuk menahan tawa sepanjang membaca tulisan absurd ini. Untuk modal terakhir ini, jika kau tak mampu manahannya maka hati-hati, virus absurditas akan segera mewabahimu dan itu berbahaya.

*

Poin ini serius. Seratus persen serius. Sedikit menyadur Om George Bernard Shaw, tokoh filsafat dan pemikir asal British. Sekali waktu Ia pernah ‘bersabda’ bahwa semua orang yang waras akan selalu mencoba beradaptasi dengan lingkungan, menyesuaikan dirinya dengan lingkungan di mana ia berada sedang orang yang tidak waras datang dengan percaya diri, dengan segala absurditas yang dipunyai dalam batok kepalanya dan berkeras kepala melawan arus, memaksa mengadaptasikan lingkungan dengan dirinya. Mencoba membalikkan persepsi orang kebanyakan dan kemudian mendapat tantangan yang tak berbilang. Mereka ini gila, tak berakal sehat kata Om George. Lalu kemudian, beliau menambahkan ( dan kalimat ini menginspirasiku selamanya) “Itulah mengapa, perubahan-perubahan besar di dunia ini hanya berada di tangan orang-orang yang tidak berakal sehat’.

Sebut saja Nabi Muhammad yang di sebut gila oleh kaumnya saat kali pertama membawa risalah kenabian, Galileo Galilei yang dihukum mati Otoritas Gereja karena teori heliosentris berseberangan dengan geosentris yang dikukuhkan gereja, Einstein dengan teori relativitas yang banyak diragukan teman sejawatna saat itu, Ghandi yang humanis melawan penjajah tanpa senjata dan peledak, padahal saat itu jika mau, dia bisa menggalang dukungan dari negara adikuasa Si Polisi internasional, penegak HAM ( konon). Sejarah telah membuktikan dan melegendakan tokoh-tokoh perubahan itu. Dan benarlah kata Om George, perubahan besar yang terjadi di dunia ini, hanya berada di tangan orang-orang yang tidak berakal sehat, orang-orang absurd, orang-orang tak waras.

Dan Kawan, jika kau sudah mulai mendeteksi gejala seperti ini di dirimu, hati-hati! Di situlah tidak jarang sejarah dan legenda akan tercipta. ‘Masih Mo ko jadi relawan?’ (Logatnya sambil membayangkan Kaka Adyn, Propos yang berdarah Makassar)

Terakhir kawan, ini benar-benar penghabisan. Berat kawan! Jadi, STOP JADI RELAWAN jika belum siap menjadi Makhluk Absurd.

Salam Absurditas, Salam Konspirasi Positif J

Rabu, 13 September 2020 FFK

Saida Husna Wokas

Kata-kata asing :

pace : bapak/ sebutan untuk laki-laki dewasa ( umum dipakai di wilayah indonesia timur)

pastiu : masa bodoh/ malas tahu

sa : saya

tra : tidak

su : sudah

pi : pergi

deng : dengan/ bersama

tong : kependekan dari kitong=kita orang/ kita

kamong : kamu orang/ kalian

yakop : burung kaka tua

trapa : tidak apa



Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul