Sruput Kopi Di Taman Bacaan

Sruput kopi di taman bacaan

Ditulis Oleh : Syarif Yunus - 08 Februari 2021

Kopi. Ada yang suka ada yang tidak suka. Itu sudah biasa dan sah-sah saja. Seperti hidup pun. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Seperti vaksin Covid-19 pun ada yang menolak ada yang tidak tidak menolak. Seperti taman bacaan pun, ada yang benci ada yang suka. Karena siapapun. Tidak akan pernah bisa “memaksa” orang lain untuk menyukainya. Pro kontra sah-sah saja. Agar jangan melumpuhkan akal sehat.


Pada secangkir kopi. Apalagi di pagi hari. Sebutlah Sruput kopi di taman bacaan.

Selalu membuat penikmatnya selalu takjub. Selalu bersyukur dan bersenang hati. Terasa indah saat meneguknya. Karena rasa pada secangkir kopi. Pahit itu bersifat alamiah. Orisinal dan bukan dibuat-buat. Rasa yang tidak mungkin di manipulasi. Emas ya emas, sampah ya sampah. Tidak akan pernah tertukar sedikitpun. Di taman bacaan, gerakan literasi pun tumbuh secara alamiah. Dengan segala suka duka dan dinamikanya. Hanya untuk tegaksnya tradisi baca di kalangan anak-anak, di kampung-kampung pelosok antero nusantara.


Secangkir kopi. Selalu membuat kagum, bahkan terheran. Karena sensasinya yang luar biasa. Persis seperti, takjubnya manusia kepada Tuhannya. Kagum pada cara Tuhan memberi rezeki kepada umatnya. Tidak pernah tertukar bahkan tidak bisa dimanipulasi sedikitpun.

Pada secangkir kopi. Ada hati nurani. Ada kebenaran yang hakiki. Bukan celotehan atau argumen yang dibuat-buat. Karena kopi, selalu mampu menyelaraskan pikiran, hati, dan sikap penikmatnya. Karena sesempurna apapun kopi yang kamu buat. Kopi tetap menghadirkan sisi pahit yang sulit disembunyikan.


Pada kopi. Ada takaran yang seimbang; antara manis dan pahit. Biar pas rasanya. Jangan terlalu manis. Jangan juga terlalu pahit. Kopi yang mampu membangkitkan energi dan inspirasi. Kopi yang penuh esensi bukan sensasi. Seperti pepatah “hiduplah sesuai dengan kemampuan; jangan hidup atas kemauan apalagi kebencian”.

 

Sungguh, menyeruput kopi pagi. Bak memendam rasa angkuh akibat gemerlap dunia.  Takjub pada kebesaran-Nya, bukan keangkuhan diri. Agar tetap tenang dan lembut dalam belantara kehidupan. Tanpa perlu meninggikan hati; tanpa perlu merendahkan orang lain. Karena di depan kopi, semua manusia sama saja. Ada kelebihan sekaligus ada kekurangan. Bahwa semanis apapun hidup, rasa pahit akan selalu ada. Maka akal sehat, harus tetap berpihak kepada kebenaran dan kebaikan. Apapun kondisinya, bagaimana pun keadaannya.


Pada secangkir kopi. Selalu ada pesan yang menghampiri.

Bahwa siapapun, tidak ada yang sempurna. Maka tidak perlu adu argumen dengan orang yang mempercayai kebenciannya sendiri. Lalu buta dari melihat kebaikan yang ada di dekatnya. Dan secangkir kopi, tidak pernah berhenti memberi inspirasi tentang hebatnya sebuah perjalanan. Salam literasi #TamanBacaan #GerakanLiterasi

 



John Doe
Syarif Yunus
Pegiat literasi dari Kab. Bogor, Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka. Mari jadikan membaca dan menulis sbg kegiatan asyik.

Artikel Terkait

Negeriku

Kepada Kau Ku Bertanyaindonesiaku ! Inikah Kau Atau Kaukah Itu?punggungmu Digunduli, Perut Dan Lambungmu Diracuni, Dagingmu Dikeruk Dibiarkan Berserakan Bak Sampahkau Yang Sakit, Renta Dan Kering,...

Berkenalan Dengan @perpustaxaan

Artikel Ini Pernah Diterbitkan Di Denpasar Kolektif Zine Tahun 2020perkenalan Perpustaxaanperpustaxaan Adalah Inisiatif Pengarsipan Konten Daring (online) Yang Dikumpulkan Dari Berbagai Sumber...

Nyanyian Senja

Peluk Angin Penanda Sunyikala Hati Berbisik Sepiuntaian Nada Terdengar Pilualunan Syair Yang Berbisik Rindu sapaan Alam Antarkan Hayalkuberselimut Hati Berbalut Rinduhayal Mengingatkan Ku...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul