Sigupai Mambaco : Wujud Cinta Banyak Pihak

Sigupai Mambaco buka di Pantai dan di tempat wisata di awal menggunakan motor pribadi pengurus

Ditulis Oleh : Nita Juniarti - 24 September 2020

Minggu, 7 Januari 2018 ketika itu genap sebulan saya pulang dari Jakarta setelah sebelumnya bertugas setahun di Banggai, Sulawesi Tengah. Ketika masih di Sulawesi Tengah, saya berniat akan berbuat sesuatu yang berkelanjutan di kampung saya. Janji sarjana yang pernah saya ikrarkan ketika menyelesaikan S1 tahun 2015 lalu kembali tergiang bahwa kemanapun saya pergi tujuan saya adalah pulang dan kepergian selalu bearti mencari ilmu baru kemudian menerapkannya di kampung sendiri. Jika pada tahun 2015-2016, aktif dengan Pustaka Ransel dan membawa pulang ke Aceh Barat Daya maka kali ini juga harus demikian. Saya mengajak adik ketiga bernama Randa untuk membuka lapak buku di Bukit Hijau dekat kota Blangpidie, dia setuju.

Awalnya saya ragu dengan yang saya lakukan tapi lanjut saja. Toh, ketika bertugas di Banggai Sulawesi Tengah ada yang mengelola rumah belajar dengan sukarela. Ada juga penyala Banggai yang menggerakkan kegiatan literasi di Banggai Sulawesi Tengah mereka tidak segan-segan bergerak.

 

Berdirinya Sigupai Mambaco

Hari Minggu, 7 Januari 2018 itu kami hanya menemukan 3 orang pembaca di Bukit Hijau. Namun, hal itu ternyata tidak membuat saya dan Randa menyerah. Minggu depannya, berbekal motor dan buku kami membuka lapak buku di Dermaga Susoh. Pemikiran sederhana agar buku-buku yang sudah ada di rumah (kebetulan buku pribadi saat itu koleksinya lumayan banyak) tidak hanya dibaca oleh diri sendiri dan keluarga saja dan mendekatkan literasi kepada masyarakat.

Ternyata banyak juga yang berminat, minggu kedua itu sebab hanya menggelar buku di atas tikar beberapa pengunjung pantai salah paham dan bertanya “berapa buku ini dijual”. Minggu ketiga akhirnya Lapak Buku Keliling yang kemudian diberi nama “Sigupai Mambaco” itu semakin ramai dan dikenal meskipun sematan “penjual buku” bertahan selama tiga bulan lamanya.

Nama Sigupai Mambaco itu, saya ambil dari “Sigupai” berarti icon padi yang ada di Aceh Barat Daya, dan menjadi gelar Kabupaten Aceh Barat Daya juga. Sedangkan “Mambaco” berasal dari bahasa Aneuk Jamee, bahasa salah satu suku di Aceh Barat Daya yang menjadi lingkungan tinggal pengurus yang berarti membaca. Jadi, secara harfiah Sigupai Mambaco berarti “Aceh Barat Daya membaca”.

 

Pejuang Awal

Ketika menjalankan Sigupai Mambaco diawal-awal, saya memakai sistem taruh buku dari teman-teman yang punya koleksi buku terutama buku anak-anak. Saat itu, Riffa meminjamkan 20 buah buku miliknya dalam sebuah tas dan juga membantu mencetak spanduk agar tidak dikira penjual buku.  

Kegiatan ini terus berlanjut setiap Hari Minggu sore, dan di luar dugaan banyak pengunjung yang mampir dan membaca buku di sana serta ada yang kemudian menyumbangkan buku mereka untuk dibaca oleh orang banyak bukan cuma dipinjamkan tapi diberikan sebagai donasi.

Seiring berjalannya waktu, Lapak Buku Keliling pindah tempat ke pinggir pantai, tepatnya di Dermaga Susoh. Karena rupanya orang yang datang ke sana lebih ramai, dari pada tempat wisata yang dikunjungi sebelumnya. Benar saja, pengunjung yang antusias membaca buku pun lebih banyak.

Untuk mengembangkan kegiatan Lapak Buku Keliling, pada bulan April 2018 Sigupai Mambaco bekerjasama dalam proyek Pijar Ilmu Astra Asuransi dan mendapatkan tambahan fasilitas berupa becak dengan rak bukunya. Lalu, Sigupai Mambaco didaftarkan di Pustaka Bergerak dan melaksanakan pertukaran buku dengan beberapa anggota lain di Pustaka Bergerak Indonesia agar bukunya baru, bukankah buku lama adalah buku baru bagi yang belum membacanya?


Keterlibatan Keluarga

Pada Desember 2018, Sigupai Mambaco menggelar buku tidak hanya di pantai, melainkan juga di rumah, rak buku tanpa becak diletakkan di halaman rumah dan buku ditata sedemikian rupa. Anak-anak sekitar rumah sangat antusias berkerumum mengunjungi dan membaca buku-buku yang ada. Bahkan kadangkala mereka mengadakan praktek beberapa hal, yang petunjuknya didapat dari buku. Selain itu, di rumah ternyata anak-anak bisa membaca pagi-siang-sore, pulang datang dan pulang lagi. Antusias anak-anak dan tawa mereka membuat saya berdiskusi dengan keluarga bagaimana jika Sigupai Mambaco buka juga di rumah. Jadi, selama musim liburan Sigupai Mambaco buka setiap hari dari jam 08.00 wib-18.00 wib di depan rumah. Anak-anak biasanya membaca di atas bebatuan yang dialas terpal. Rasanya jika membaca saja tidak terlalu lengkap akhirnya muncul ide untuk menjalankan kegiatan menceritakan kembali hasil bacaan, lomba mewarnai, lomba menulis surat dan Minggu Inspirasi yang diisi oleh sukarelawan hasil status di WA sehingga minat anak-anak semakin tumbuh untuk terus berkunjung ke Sigupai Mambaco.

Waktu terus berjalan, kegiatan yang awalnya membawa buku dengan motoran dan becak, akhirnya menetap di rumah yang terletak di pemukiman tengah rawa. Program kegiatannya pun ditingkatkan, dengan dana swadaya dan sukarelawan dari teman-teman yang ingin membantu. Kegiatan membaca, menceritakan kembali, berdiskusi, mewarnai, berdongeng, belajar Bahasa Arab atau hal lainnya pun menjadi rutin dilaksanakan. Begitu juga dengan kegiatan pengenalan sampah dan pemilahannya. Kegiatan tersebut sering di-posting di media sosial sehingga membuat tertarik beberapa kenalan yang ingin menuliskan tentang kegiatan sosial ini di media.

Saya yang bekerja di luar daerah harus melanjutkan pekerjaan, saat Sigupai Mambaco buka saya pernah bekerja di Palembang 2018 dan di Malang tahun 2019- April 2020. Tentu saja saya tidak bisa mengurusi kegiatan Sigupai Mambaco secara penuh. Adik Saya, Randa lulus SMA dipertengahan tahun 2019 dan saya sedang di Malang ketika itu serta adik kedua saya sekolah di Bogor. Saya kira Sigupai Mambaco akan tamat riwayatnya. Namun, mengejutkan ibu dan Ayah saya membawa Sigupai Mambaco pada hari minggu ke Dermaga Susoh. Selain itu, Kakek dan Nenek saya biasanya yang membuka atau menutup Sigupai Mambaco saat buka di rumah jika Ayah dan Ibu tidak bisa membawa Sigupai Mambaco ke Pantai karena hari hujan atau ada kendala lainnya.

Hal-hal yang saya syukuri ketika membangun Sigupai Mambaco adalah sikap keluarga yang sejak awal mengizinkan saya dan Randa membuka lapak buku keliling dengan motor tanpa peduli dianggap aneh oleh masyarakat sebab belum pernah terjadi di kabupaten kami selama ini. Biasanya orang-orang mendatangi perpustakaan nah ini perpustakaan mendatangi orang, bukankah itu sangat aneh? Lalu ketika keluarga mendukung dengan cara mereka sendiri agar Sigupai Mambaco tetap eksis walaupun semua anak muda di rumah sudah merantau.


Mulai Banyak Tantangan

Perhatian dari berbagai pihak terus berdatangan terus berdatangan terutama dari kenalan tempat saya bekerja dan teman-teman baik. Meski hingga 2020 ini belum pernah ada bantuan dari dana desa atau dari pemerintahan, Sigupai Mambaco tetap berjalan.

Pada Juli 2020, kegiatan yang dilakukan oleh TBM Sigupai Mambaco disorot oleh Perpustakaan Daerah Aceh Barat Daya karena banyaknya teman-teman yang menulis tentang gerakan yang baru di Aceh Barat Daya ini. Bermodal informasi yang didapat dari media sosial, enam orang petugas perpustakaan daerah mencari alamat Sigupai Mambaco, dengan penuh kesulitan mencari di mana letak Sigupai Mambaco, sebab secara sejarah kampung Rawa tidak pernah terkenal dengan prestasi dan hal positif di kabupaten ini. Awalnya perpustakaan daerah mengajak kerjasama untuk dijadikan mitra perpustakaan. Namun, pada awal agustus ada peristiwa saya memprotes keadaan perpustakaan daerah di media sosial saat berkunjung bersama anak-anak yang menang lomba resensi dan mencoba membawa mereka ke perpustakaan daerah agar merasakan pengalaman berkunjung ke perpustakaan. Akibat dari protes di status facebook ini, pihak perpustakaan merasa tersinggung dan mengatakan bahwa mereka menunda bantuan buku untuk Sigupai Mambaco. Usut punya usut ternyata akibat status facebook saya, seorang wartawan mendatangi perpustakaan dan menaikkan berita tentang kerusakan buku dan pustaka yang tidak terawat itu. Hal ini lah yang menyebabkan pihak perpustakaan merasa terusik. Saya dipanggil ke kantor dan saya pribadi meminta maaf meski setelah itu hubungan saya dan perpustakaan daerah tidak baik-baik saja. Akhirnya, Sigupai Mambaco kembali bermitra dengan siapa saja yang ingin menjadi relawan.

Kesempatan-kesempatan


Saya Percaya, tetap berdenyut dan terus bekerja adalah usaha untuk mengetuk pintu langit. Maka, sekalipun swadaya dan dukungan keluarga saat ini sungguh menganggumkan, kami terus menjalankan Sigupai Mambaco, menebarkan manfaat sebisa kami. Setelah tahun 2019, akhirnya di 2020, Sigupai Mambaco kembali mendapatkan tawaran untuk menerima bantuan pemerintah sebagai TBM Rintisan tingkat Nasional. Hanya saja persyaratan yang dibutuhkan sangatlah banyak, sehingga membutuhkan banyak dana untuk pengurusannya. Kemudian pengurus mendatangi kepala desa untuk meminta bantuan. Namun kepala desa belum bersedia memberikan pendanaan karena memang harus dianggarkan terlebih dahulu di tahun sebelumnya. Begitu juga dengan kecamatan dan dinas pendidikan setempat. Namun, semua pihak mendukung untuk urusan surat-menyurat dan berkas-berkas. Kepala Desa, Kecamatan dan Dinas pendidikan bekerjasama untuk membantu memudahkan pengurusan surat yang dibutuhkan untuk TBM Rintisan yang ketika itu hanya diberi waktu dua hari untuk pengurusannya.

Pelajaran dari hal ini adalah Pengurus tidak patah semangat. Kami tetap berusaha untuk mendaftarkan diri pada ajang TBM Rintisan dengan mengajukan proposal. Soal keuangan, masih bisa dibantu dengan cara patungan antar pengurus secara sukarela dan juga ada seorang kawan yang mengajukan diri untuk membantu membukakan rekening yang membutuhkan biaya cukup besar. Alhamdulillah, Sigupai Mambaco berhasil ikut serta ajang TBM Rintisan tingkat Nasional.

Selain itu, mengigat koleksi buku yang masih terbatas dan lama kelamaan rusak, akhirnya Sigupai Mambaco mengikuti lomba-lomba yang berkaitan dengan literasi, dan beberapa kali memenangkan kompetisi tingkat Nasional yang berhadiah buku-buku. Hal itu dilakukan karena sejauh perkembangan Sigupai Mambaco, minat baca pengunjung sangatlah tinggi, terutama di kalangan anak-anak sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi koleksi buku. Jika dulu ada free Cargo Literasi bisa mendapatkan buku sebagai hasil tukeran dari Pustaka lain maka sekarang hanya mengandalkan buku dari hasil lomba. Meski begitu, kesempatan-kesempatan selalu datang untuk Sigupai Mambaco dengan jalan yang tidak diduga-duga.

Semakin Banyak yang terlibat

Kekuatan Media Sosial yang digunakan secara maksimal sungguh luar biasa. Selama ini, untuk kegiatan di Sigupai Mambaco rata-rata mendapatkan suntikan dana dari teman-teman berbagai kalangan yang mempunyai kelebihan rezeki berupa uang tapi tidak punya waktu dan kesempatan bertemu anak-anak. Teman-teman yang terlibat secara luring juga bersifat relawan. Ternyata benar, rezeki itu tidak melulu tentang uang tapi punya kenalan orang-orang yang mau ikut terlibat pada sesuatu yang kita bangun adalah rezeki dari Tuhan, terima kasih banyak orang-orang baik. Menurut catatan saya, kiranya ada hampir 30 orang yang terlibat dengan caranya masing-masing sejak Sigupai Mambaco berdiri pada 7 Januari 2018 lalu.

Pandemi dan Sigupai Mambaco

Selama pandemi Covid-19, Sigupai Mambaco akhirnya memberanikan diri membuka peluang untuk peminjaman dalam rangka mematuhi physical distancing meski saat ini buku hanya berjumlah 416 buah buku. Selain itu, selama pandemi Sigupai Mambaco ikut serta dalam mensosialisasikan cara cuci tangan pakai kepada anak-anak, mengajak pengunjung memakai masker bahkan menutup sementara Sigupai Mambaco saat diperintahkan oleh Desa ketika Aceh Barat Daya berada di Zona merah covid-19.

Pandemi Covid-19 juga menghadirkan ide kolaborasi baru berupa kegiatan virtual melalui intagram live seperti Bincang Asyik (BiSik) dan program review buku Mahota Buku (MaBuk) bahkan melaksanakan Festival Seni Sigupai Mambaco melalui daring dan melibatkan beberapa relawan yang lokal dan nasional. Kegiatan tersebut selalu didukung secara swadaya oleh teman-teman yang ingin mengadakan ulang tahun, ingin berkonstribusi pada daerah tapi tidak bisa pulang langsung yang ada hanya uang tapi tidak punya waktu dan kesempatan. Meskipun dengan banyak keterbatasan, kegiatan Sigupai Mambaco tetap berjalan dan terus menyebarkan virus literasi di kalangan masyarakat Aceh Barat Daya.


John Doe
Nita Juniarti
Seorang Perempuan yang sedang belajar banyak hal

Artikel Terkait

Pengabdian Luhur Dalam Berjuang Membangkitkan...

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan, Untuk Membangkitkan Dan Mengembangkan Literasi Dijaman Sekarang Ini Yang Serba Digital, Jaman Milineal. Berawal Sebagai Seorang Pustakawan Honorer di...

Apa Itu Literasi?

Apa Itu Literasi ? literasi Jadi Diskursus Yang Banyak Dibicarakan Orang Belakangan Ini. Tapi Faktanya, Literasi Belum Banyak Dipahami Banyak Orang. Literasi, Memang Sering Disebut Dalam...

Sambut Bulan Bahasa, Pustaka Bergerak Adakan...

Sayembara Menulis Para Pencipta Peristiwa.dalam Rangka Memeriahkan Bulan Bahasa Oktober 2020, Pustaka Bergerak Indonesia Mengajak Para Penggerak Literasi Untuk Terus Bergerak Produktif Meski Dalam...

Komentar

Lihat Komentar Lainnya
Muhammad Nanda Zy
Muhammad Nanda Zy 2020-09-25 14:21:35

inspiratif

Nita Juniarti
Nita Juniarti 2020-09-25 20:00:55

Masya Allah dikomen sama calon profesor. Terima kasih pak

Nita Juniarti
Nita Juniarti 2020-09-25 20:00:55

Masya Allah dikomen sama calon profesor. Terima kasih pak

Nita Juniarti
Nita Juniarti 2020-09-25 20:00:56

Masya Allah dikomen sama calon profesor. Terima kasih pak

Nita Juniarti
Nita Juniarti 2020-09-25 20:00:56

Masya Allah dikomen sama calon profesor. Terima kasih pak

Juanda Azwansyah
Juanda Azwansyah 2020-09-25 19:03:44

Masya Allah... ????

Nita Juniarti
Nita Juniarti 2020-09-25 20:01:14

Terima kasih

SDIT Rabbani Qur'an School
SDIT Rabbani Qur'an School 2020-09-25 20:21:52

????????????

SDIT Rabbani Qur'an School
SDIT Rabbani Qur'an School 2020-09-25 20:22:14

Mantap ????

Ranti Huri
Ranti Huri 2020-10-12 23:27:53

Sukses selalu, Sigupai Mambaco ?

Nita Juniarti
Nita Juniarti 2020-10-19 06:05:04

Aamin. Terima kasih ran

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul