Sembilan Tiang Penyanggah RBI Kokohkan Semangat Literasi

Rangka Rumah Baca Inspirasi

Ditulis Oleh : Milha Mallawa Bakri - 13 Oktober 2020

Sembilan Tiang Penyanggah RBI Kokohkan Semangat Literasi



Panggilan itu terngiang di lubang telingaku, sesaat setelah hampir dua minggu aku mengabaikan pesan messenger, namanya Ilham, usia 22 tahun, pernah bertemu sekali pada saat kegiatan salah satu lembaga kemahasiswaan, dimana kala itu, aku didaulat memantik materi gender.



"Kak saya ingin membuat gerakan literasi di desaku, bisa tidak kakak membimbing?, ungkap Ilham lewat via telfon WhatsApp.



Akupun memberi respon, "Apa visi Ilham, kenapa ingin membuat gerakan literasi di desa?, menjadi pegiat literasi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, waktu harus kita tumbalkan, sebab literasi bukan sekadar baca tulis lalu selesai, " balasku dengan nada tegas.



"Saya ingin berbuat di desa lewat gerakan literasi kak, semoga kakak bisa meluangkan waktu jalan-jalan ke desa kami, sambil berdiskusi, " ungkap Ilham.



"Baiklah Ilham, esok tunggu aku di rumahmu, kirimkan alamat, dan saya siap mensuplay buku, namun tidak dalam jumlah banyak ada satu dos buat langkah awal, " balasku dengan hangat.

Ilham tak hanya sering mengirimkan chat messenger, WhatsApp dan telfonpun, selalu saja dia menghubungiku, ingin mendesak agar diriku berkunjung ke desanya.



Viralnya gerakan literasi di penjuru tanah air, tidak lantas membuat kita latah, ingin membuat pula, karena melihat sekeliling mengandrungi gerakan literasi.



Tahun ini genap 7 tahun , saya bergelut di dunia literasi, dari komunitas ke komunitas lain, semakin ke desa semakin membuat candu, menggerogoti nalar dan ragaku.


Aku belum bisa mengkategorikan berhasil di dunia literasi, sebab gerakanku hanyalah gerakan kerikil.

Pernah saya mencoba bergelut di salah satu kampus di Kota Makassar, mengajar selama setengah tahun, namun entah rayuan ke desa-desa menarik kembali raga ini kembali, balik kampung, sampai hadiah beasiswa lanjut S3 harus aku tanggalkan.



Entah raga ini tak cocok di kota metropolitan, sebab aroma kopi kampung, begitu nikmat saat bersanding, dengan cerita-cerita tetua-tetua kampung yang kukunjungi, ah, betul-betul membuat candu. Memantik raga untuk pulang kampung.



Yah, masih banyak "kamus-kamus berjalan" di kampung yang ingin aku rekam dan tuliskan, kebahagiaan tak ternilai saat sari pengetahuan leluhur kuteguk, dipertemukan dengan guru-guru bijaksana, sederhana namun memiliki kedalaman ilmu.



Banyak tetua kampung mumpuni agamanya kutemukan, mereka hanya memakai peci biasa yang lusuh, namun ketika aku duduk melingkar, serasa tak ingin beranjak pulang.



Semakin ke desa semakin pengetahuan ini bertambah, belajar tentang nilai-nilai, dan kearifan lokal. Tak jarang banyak aku menemukan, petani di desa lebih hebat dari sarjana pertanian.


Perempuan-perempuan tangguh di lahan-lahan, dengan gagahnya bertani dan beternak.

Perempuan-perempuan desa yang menjaga tradisi, dengan laku spritualitasnya, perempuan-perempuan yang berjuang mendidik generasi, dengan mengajari literasi qur'an, para pendeta-pendeta yang menyambutku dengan penuh kasih, saling melingkar berdiskusi tentang bangsa, dan merajut rasa kemanusiaan.



"Yah, aku menemukan arti literasi secara universal, bahwa literasi itu bukan sebatas membaca buku, namun lebih luas kita harus mampu menajamkan nalar, membaca gunung, membaca laut, membaca manusianya, membaca pemimpin, intinya membaca alam dan isinya, " kembali aku bertutur ke Ilham.



Satu hal yang kadang terlupakan, saat ego intelektual mendominasi, kawan-kawan sesama pegiat literasi, jangan sangka orang-orang kampung, tidak melek literasi.



Satu niat saat berkunjung ke titik baru, berliterasi ke desa bukan untuk menggurui, namun ke desa untuk mengambil sari-sari pengetahuan, dan kemudian mencoba menuliskan apa yang dilihat, apa yang dirasakan.



Ilham sosok pegiat literasi, yang berani memulai, mendedikasikan diri, kini Ilham telah berhasil mengajak pemuda-pemuda di desanya, untuk mengembangkan Rumah Baca Inspirasi di Desa Tonyaman.



Apresiasi ketika sembilan tiang penyanggah rumah baca berdiri kokoh, beberapa warga kumpul dan turut membantu, yah kita sepakat literasi itu harus mampu, mengembalikan nilai-nilai gotong-royong ke generasi millenial.



Berhasil tidaknya Rumah Baca Inspirasi, ditentukan oleh seberapa besar semangat kawan-kawan RBI, untuk tetap merawat semangat, betah berproses, tanpa terjebak pada budaya instan.



Mie instan saja masih membutuhkan proses apalagi, rumah baca inspirasi yang baru beranjak usianya lima bulan.

Bunyi ketukan palu para warga, pahatan tiang dan balok, turut hadir tetua kampung, bapak Imam Masjid dan beberapa warga, ibu-ibupun membantu menyiapkan makanan.


Inilah salah satu esensi literasi meneguk nilai-nilai di masyarakat.

"Kemarin kami meminta tinggi badan kakak, jawaban sebenarnya, di mana salah satu tiang penyanggah rumah baca kami, disesuaikan dengan tinggi badan kakak 154 meter, kami semua bersepakat dan beberapa orang tua kampung, 154 tinggi badan kakak sebagai filosopi penopang kami, dengan berdirinya rumah baca ini, " ungkap Ilham dengan senyuman termanisnya, yang berusaha menjelaskan kepadaku dengan penuh antusias.



Waduh tidak enak jantung, aku ini hanya mensupport dari belakang layar, kalianlah yang pejuang-pejuang hebat, kenapa ukuran tinggi badanku, jadi salah satu penanda, sementara yang jadi penopang luar biasa kalian adalah, gerakan proses yang dibangun, dengan nilai gotong-royong, serasa hati ini malu, sebab aku belum bisa, memberikan apa-apa ke Rumah Baca Inspirasi.



Semua orang bisa memberikan semangat, namun kawan-kawan RBI secara tidak langsung menjadi guru kehidupan buatku, bagaimana aku melihat langsung, mereka ikut proses memotong kayu, mengangkat, hingga akhirnya membuat atap sendiri, meski jemari mereka kadang tergores.



Teruslah bergerak, bukankah kita sepakat setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini, dilengkapi dengan potensi. Terima kasih telah mendaulatku sebagai salah satu pembina.

Jujur ini amanah berat, sebab laku diriku masih banyak kekurangan.


Apabila esok engkau menemukan keburukanku, jangan sungkan menegurku, sebab aku hanyalah manusia biasa, masih terus berjalan dan berjalan, belajar meliterasi diri sendiri.



Panjang umur perjuangan literasi, tumbuhlah tanpa harus saling menciderai, rakitlah semangat, salam hormatku buat pak guru Sumarlin, yang juga salah satu pembina RBI, buat Pak guru Ilham yang senantiasa mensupport dengan energi kata "ayo eksekusi", kata ini serasa membakar semangat kawan-kawan RBI, dan Pak Mansyur yang tak henti-henti meluangkan waktu, menjadi mentor mengajari kawan-kawan RBI membuat atap.



Kawan Nono, Wana, Lisa, Sitti, Hijrah, Madi, Naim,Suherman,Iyan,Cici,Resky,Hijrah,Siti

Halisa, Elisa,Ramida,Elna,Nurul,Filda,Ana,Dian, Ila,dan Musdalifa, mereka motor penggerak hingga RBI, menjadi rumah baca yang menginspirasi.



Esok tidak menutup kemungkinan akan bertambah lagi jiwa-jiwa tulus nan ikhlas, ingin bergabung di RBI menikmati wanginya proses.

Mengokohkan sembilan penyanggah rumah baca inspirasi, di tangan kalian hidup matinya RBI, semesta mendukung segala niat, satu visi literasi, untuk meliterasi diri agar literat, dan mampu saling memproduktifkan ruang gerak.



RBI senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, agar saling memupuk rasa saling memanusiakan, tanpa memandang, suku, agama, dan status sosial.

RBI lahir tanggal 16 Juni 2020, ini adalah momentum sejarah, bahwa Rumah Baca Inspirasi beralamat di Jalan : Salo Mandalang, Dusun : Tanah Takko, Desa : Tonyaman, Kecamatan : Binuang,

Kabupaten : Polewali Mandar, Provinsi : Sulawesi Barat, Kode pos : 91312.


RBI tumbuh di tengah-tengah pandemi corona melanda, namun ide-ide kreatif dan gerakan literasi senantiasa digaungkan, tanpa harus mengendorkan semangat.

Salam Literasi, RBI bergerak! 


John Doe
Milha Mallawa Bakri
Gerakan berliterasi dari pelosok untuk negeri, merawat identitas lokal, membumikan nilai-nilai pancasila, dan tetap visioner di tengah perkembangan pengetahuan.

Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul