Seklumit Curhatan Dari Taman Baca Mbangun Aksoro

lapakan buku di sudut desa

Ditulis Oleh : Taman Baca Mbangun Aksoro - 12 Oktober 2020

Tidak seperti biasanya, aku melihat berbagai rasa aneh berada di sekelilingku, berada di dekatku, berada di daerahku, berada di desaku, Desa Kebon Gede. Aku lahir dan besar disini, dan teringat masa kecilku dijejali rasa sederhana anak petani, masa kecil bak burung bebas yang terbang menembus angkasa, selalu riuh terdengar permainan khas anak desa, setiap pagi, siang, bahkan malam.

Saat ini aku seorang bekas anak rantau, yang sedang berusaha mencari jalan rezeki lain di desa, dengan membantu orang tua bercocok tanam. 2019 tepat saat keanehan kurasa, tak ada anak bermain bersama, tak ada anak yang sopan kepada orang tuanya, tak ada rasa kasih sayang antar sesama warga desa, yang dulu aku rasa ketika masa kecil. Apa yang terjadi wahai desaku? kemana ciri khasmu? kemana jatidirimu? kemana?

Sampai akhirnya kutemui sebuah jawaban. Dimana sebab dari semua itu adalah dengan masuknya gadget ke ruang publik desa, iya betul. Penggunaan gadget yang terlalu berlebihan, sehingga menyebabkan candu dikalangan anak-anak, menyebabkan perubahan iklim tradisi karena seringnya menonton hal yang kurang pantas di dunia maya.

Pada suatu malam keajaiban itupun terjadi, tuhan mempertemukanku dengan seorang kawan lama yang jauh dia tinggal dibawah kaki gunung slamet sana. Ia mengajarkanku, mengingatkanku, bahwa sebuah perubahan terletak dari generasi penerus, "jikalau engkau ingin desamu seperti dulu, dan bahkan lebih baik. Ajarilah anak-anak di desamu dengan budi pekerti layaknya anak desa, yang ramah, santun dan berani berkarya".

Akupun mulai menyadari betapa tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, dan tuhan selalu bersama orang yang berusaha. Sampai akhirnya kubulatkan tekat untuk studi ke berbagai daerah lain, atau desa lain, dan kutemui jalan keluarnya. Mendirikan sebuah taman baca.Karena dengan membaca, diharapkan bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari main gadget ke buku, misal saja buku bergambar atau cerita rakyat.

Kumulai mengumpulkan beberapa manusia-manusia baik di desa. Dari teman dekat, keluarga, sahabat atau siapapun aku ajak. Sampai akhirnya ada satu orang yang menangis tersedu ketika kuceritakan keinginanku mendirikan taman baca, ia adalah Ibu Wiwin. Seorang wanita yang bahkan bukan penduduk asli desa, tetapi dengan tulus merasakan sama seperti yang aku rasakan. Dirumah Ibu wiwin ku kumpulkan beberapa anak muda-mudi, yang diharapkan bisa sejalan dengan kami. Dan betapa terkejutnya aku, mendengar pendapat mereka yang memang sebenarnya sama seperti yang kami rasa, tetapi bingung harus berbuat apa. Beberapa dari mereka adapula yang pada awalnya tidak setuju, karena memang tidak ada income disini, alias ini gerakan sukarela. Kujelaskan dengan sangat hati-hati, betapa jika ingin masa depan ketika engkau dewasa dan menginjak tua desa ini lebih baik, maka lakukanlah perubahan sekarang dan mari kita bergandengan tangan bangun kegiatan ini bersama-sama. Alhamdulillah para pemuda-pemudi sekitarpun terketuk hatinya, dan seminggu setelah pertemuan pertama kuminta mereka mengumpulkan buku bacaan apa saja yang ada dirumah mereka masing-masing. Aku sendiri bersama kawan dekatku Akil mencari donatur buku gratis ke kota pemalang, dan sampai akhirnya kami menemui sebuah keluarga kecil di desa petarukan, yang ternyata mereka sama-sama ingin menggiatkan literasi di pemalang, dan alhamdulillah pak dedi dan ibu widya nama orang yang kutemui tadi, mau menyumbangkan dan meminjamkan beberapa buku bacaannya kepada kami.

Dari situ kami berdua, menemui lebih banyak orang lagi yang peduli akan dunia literasi, sebut saja mas Pujianto dari Warung Kasepuhan, Mas Jenar dari seniman Omah umbu, Mas Abel dan masih banyak lagi.

Satu minggu setelah aku berkeliling pemalang ditemani sahabatku Akil, kuberanikan diri meresmikan dan membuka taman baca. Tetapi ada satu kendala, nama dari taman baca itu apa?

Kembali ku kumpulkan beberapa pemuda-pemudi, tentang nama dan macam kegiatan seperti apa nantinya saat kegiatan awal kita. Salah satu teman menyarankan agar kita meminta nasehat dari salah satu guru ngaji di desa tersebut, namanya Ustadz Ali. Perwakilan dari beberapa pemuda termasuk saya, menemui sang ustadz di majelis kediamannya. Dan alangkah terkejutnya kami, ketika kami menceritakan maksud dan tujuan kami, sang ustadz sudah mengawasi dan mengerti apa yang kami inginkan, dan beliau menyarankan sebuah nama "Mbangun Aksoro".

Buku siap, materi susunan kegiatan siap, tumpeng sederhana siap, anak-anak peserta siap, ikat kepala (udeng) siap. Dan tepat dihari Minggu 29 September 2019 taman baca mbangun aksoro resmi kami buka dengan membaca bissmillahirohmanirohim dan sholawat kepada nabi muhammad SAW.

Tidak ada yang tidak mungkin, perubahan pasti bisa dilakukan asal tujuannya baik. sekarang saya Pendiri atau Ketua dari taman baca Mbangun Aksoro, nan perkenalkan nama saya Tengkuh Budiman atau Mas Ciprut atau Mas Uh atau Mas Koplo atau Mas ganteng, banyak namanya yah. Menceritakan seklumit curhat dari apa yang saya rasa dan alami. semoga menginspirasi, terimakasih. Sebelum dan sesudah saya ucap Salam.

Mbangun AKSORO (Agama aKhlaq SOsial ROhmat/Kasih sayang)


John Doe
Taman Baca Mbangun Aksoro
Semarakan dunia literasi di Desa

Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul