Saatnya Akrabkan Anak Dengan Buku Di Masa Covid-19

Anak-anak yang membaca di masa Covid-19

Ditulis Oleh : Syarif Yunus - 27 September 2020

Di tengah wabah virus corona, inilah saatnya akrabkan dengan buku. Di saat kegiatan sekolah “dirumahkan” dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) pun terkendala infrastruktur teknologi. Maka buku bacaan harusnya bisa menjadi sabahat di masa Covid-19. 

 

Apalagi di tengah gempuran era digital, terobosan baru untuk meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia penting untuk digalakkan kembali. Tradisi baca dan budaya literasi patut menjadi gerakan massal di masyarakat. Sekaligus menjadi langkah nyata untuk mewujudkan perilaku membaca buku di kalangan anak-anak Indonesia.


Salah satu langkah nyata yang diperlukan untuk tingkatkan minat baca anak adalah memberi kemudahan akses bacaan kepada anak-anak di seluruh pelosok nusantara. Di samping memperbanyak taman bacaan masyarakat (TBM) di desa-desa atau di kampung-kampung yang selama ini kesulitan mendapat akses buku bacaan.


Berangkat dari realitas itulah, TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Lentera Pustaka yang berlokasi di Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari Kaki Gunung Salak Bogor bertekad mengakrabkan anak-anak dengan buku bacaan. Membaca buku bisa sambil bermain. Membaca buku yang perlu dikemas asyik dan menyenangkan. Maklum, membaca buku memang perilaku yang membosankan bagi banyak orang.


"Kami di TBM Lentera Pustaka mengusung #BacaBukanMaen. Itu artinya, program yang dijalankan tidak hanya di taman bacaan tapi dapat dilakukan sambil bermain di kebun, di sungai, maupun di jalanan. Spiritnya, kita ingin akrabkan anak-anak dengan buku bacaan, di manapun mereka berada” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka.


Selain jam baca yang diselenggarakan 3 kali seminggu, TBM Lentera Pustaka juga menjalankan program-program yang memacu minat dan tradisi baca 60 anak yang menjadi anggota. Mulai dari kegiatan bulanan dengan menghadirkan “tamu dari luar”, laboratorium baca setiap minggu pagi, baca di sungai, baca di kebun, baca di jalan, pesta jajanan kelililing, dan senam literasi yang diselenggarakan secara rutin. Tujuannya, agar anak-anak lebih dekat dengan buku dan lebih termotivasi dalam membaca.


Sejak didirikan 3 bulan lalu, TBM Lentera Pustaka saat ini memiliki 3.500 koleksi buku bacaan yang seluruhnya donasi para simpatisan dan dikelola oleh 2 petugas baca. Kawasan di sekitar TBM Lentera Pustaka rencananya akan dijadikan “kampung baca” sebagai komitmen membangun tradisi baca dan budaya literasi yang kuat di kalangan anak-anak. Maklum di wilayah ini, tingkat pendidikan masyarakat sekitar 81% hanya SD dan 9% SMP. 

Akrabkan anak dengan buku bacaan.


Tentu bukan hanya meningkatkan minat baca. Tapi buku dan tradisi baca adalah membangun peradaban. Utamanya peradaban anak-anak kampung yang selama ini dianggap masih jauh dari ilmu dan pengetahuan. Peradaan untuk menyeimbangkan kegiatan membaca dan bermain. Akrabkan anak dengan buku bertujuan untuk mendekatkan anak-anak dengan buku. Agar buku bacaan tidak kalah dari gawai atau ponsel. Bahkan lebih besar dari itu, harapannya buku dapat mengubah “cara pandang” anak-anak akan pentingnya belajar dan sekolah. Agar tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah.


Maka, kesadaran orang tua dan pendidik untuk mengkampanyekan pentingnya tradisi baca dan budaya literasi harusterus didengungkan. Kampanye akan pentingnya membaca bagi anak-anak harus terus ditegakkan oleh semua pihak. Tradisi baca di anak-anak kita hampir hilang. Untuk itu, semua pihak baik korporasi dan individu harus peduli terhadap tradisi baca anak-anak. Inilah saatnya, siapapun turun tangan untuk membangun budaya baca anak-anak.


Indonesia akan hebat, keluarga akan hebat bila anak-anak yang ada di dalamnya selalu mau membaca dan dekat dengan buku. Anak-anak yang akrab dengan buku. Namun sebaliknya, kita akan sengsara bila anak-anak semakin jauh dari buku. Inilah saatnya bagi siapapun, untuk ikut andil dalam menyebarkan virus membaca kepada anak-anak di dekat kita. Karena membaca adalah jendela ilmu pengetahuan. Salam literasi.


John Doe
Syarif Yunus
Pegiat literasi dari Kab. Bogor, Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka. Mari jadikan membaca dan menulis sbg kegiatan asyik.

Artikel Terkait

Tentang Haters Di Taman Bacaan

Pak, Apakah Ada Orang Yang Benci Taman Bacaan? Begitu Tanya Seorang Pegiat Literasi Nun Jauh Di Sana Ke Saya.maka Saya Jawab, Tentu Dan Pasti Ada. Sekalipun Taman Bacaan Bersifat Sosial, Pasti Ada...

Sajak Tiga Lentera

Sajak Tiga Lentera Karya: Syarifudin Yunustuhan, Boleh Aku Bertanyaketika Gunung Di Sebelah Sana Membisu Termenungketika Ladang Dan Kebun Di Sebelah Sana Membelalak Tercengangketika Sungai Di...

Anak-anak Indonesia Yang Membaca Di Senja Hari

Anak-anak Di Kaki Gunung Salak Yang Membaca Di Senja Hari. Sebuah Pemandangan Yang Sulit Lagi Ditemukan Di Era Digital. Sementara Banyak Anak Menyerbu Gawai, Bermain Game Online Atau Menonton Tv....

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul