Rumah Pohon

Picture by Dyah Anggraini

Ditulis Oleh : Dyah Anggraini - 07 September 2020

Rumah Pohon


Puteng, Ogoh dan Atok mengaduk-aduk gundukan sampah. Mata anak-anak kecil itu jelalatan mencari barang rongsok. Tangan mereka cekatan. Mereka tiga anak pemulung yang setiap hari memulung di TPA itu. Matahari sudah meninggi. Keringat Puteng membasahi kaos yang kemarin didapatnya di TPA. Puteng mengajak Ogoh berteduh sebentar, mereka berdua menuju sebuah pohon rindang di tepi TPA tersebut.

Ogoh menunjukkan mainan mobil-mobilan yang satu rodanya sudah copot. Mereka tertawa kecil dan mencoba menjalankan mobil-mobilan itu. Keduanya mendapat hasil lumayan banyak, masing-masing hampir satu karung. Puteng mengajak Ogoh ke sisi lain TPA.

Atok masih terus mengobok-obok bukit sampah itu. Penghasilannya agak kurang hari ini. Ia seperti ketiban sial. Sebentar lagi ada truk yang masuk TPA. Atok bersiap-siap jangan sampai kalah cepat dengan pemulung lain. Hari makin siang, truk belum juga masuk.

Atok tak sabar. Karungnya belum penuh. Ia akan kena pukul ayahnya bila tak bisa membawa sedikitnya sekarung sampah. Ketika membayangkan ayahnya yang bakal marah, matanya tertumbuk pada sebuah benda persegi, ada tulisan dan gambar di sampulnya. Didekatinya lalu diambilnya benda itu. Sebuah buku. Ia membuka halamannya tapi tak ada gambar lagi. Semua tulisan panjang-panjang. Atok tak bisa membaca. Tapi dimasukkannya buku itu ke dalam karung.

Atok duduk di bawah pohon rindang. Ia ingin melihat lagi buku itu. Di sampingnya ada seorang pemulung sedang mengantuk. Lelaki itu hampir tertidur ketika Atok memperlihatkan buku itu. Pemulung menguap dan mengucek matanya. Atok memohon ia membacakan cerita di buku itu. Cerita itu membuat Atok, yang sedih karena karungnya belum penuh, yang takut dipukul ayahnya, menjadi berbinar. Atok sangat terkesan oleh cerita itu. Tapi cerita itu belum selesai, sedang lelaki pemulung akan pulang. Sudah cukup banyak barang yang dikumpulkannya.

"Ajari aku membaca, Om. Aku ingin bisa membaca seperti Om."

"Datanglah ke Rumah Pohon di pinggir sawah," kata pemulung.

"Tapi aku harus memulung dari pagi sampai sore. Ayahku akan memukulku kalau karungku tak penuh. Ibuku tak akan memberiku makan."

"Datanglah pada malam hari."

"Tak dibolehkan, aku harus tidur."

"Kalau begitu kau harus pergi tanpa seorang pun tahu."

Lelaki pemulung itu tinggal di Rumah Pohon. Sejak pertemuan dengan Atok, tiap malam terdengar suara anak membaca. Atok, Puteng dan Ogoh nekat datang ke Rumah Pohon. Dongeng pemulung membius mereka, yaitu cerita tentang sampah yang bisa menenggelamkan kampung mereka. Jika ayam-ayam kampung atau ikan-ikan di laut memakan sampah plastik.

Saat bintang memenuhi langit subuh, mereka pulang. Adanya lapak baca malam hari menyebar dari mulut ke mulut. Pemulung itu punya banyak buku. Buku-buku itu ia dapatkan ketika memulung. Banyak buku yang masih baik dibuang begitu saja. Bila ia keliling kampung, orang memberikan barang rongsok, di antaranya buku-buku. Ia heran ada orang tega membuang buku seperti sampah.

Namun hari belakangan ini lelaki pemulung gelisah. Rupanya ada saja orang yang mencemooh kerjanya. Pemulung selalu dianggap berbahaya. Ia dicurigai mengajar anak-anak hal buruk.

Lelaki itu tiba-tiba saja muncul di kampung belum lama ini. Warga hampir menolaknya. Pemuda kampung terusik. Rumah Pohon itu dilempari batu. Orang berhati-hati memarkir motor atau membiarkan pintu rumah terbuka. Orang tua melarang anaknya mendekat kepada pemulung itu. Warga takut melihat tampang seramnya. Lengannya penuh lukisan tak beraturan, setumpuk kalung bergaya etnik di dada, rambut gimbalnya tergerai atau ditutup bandana warna oren.

Sebelum memulung ia kerja di kebun, menanam tomat dan cabai. Hari ini mereka akan panen. Tapi lama warga menunggunya, pemulung tak juga keluar.

"Mari kita lihat ke dalam rumahnya," kata kepala kampung.

Mereka berebut masuk. Di lantai berserakan lukisan pemulung yang belum selesai. Selain pegiat lingkungan, ia juga seorang seniman lukis. Lukisannya terbuat dari sampah juga, seperti ampas kopi, tas kresek, puntung rokok. Ia menjual lukisan untuk biaya kegiatan menjaga lingkungan. Dari kayu-kayu bekas ia membangun Rumah Pohon yang ia jadikan Pondok Baca.

Kepala kampung menatap buku-buku dengan gundah, ia teringat anak-anak pemulung yang sekarang sudah lancar membaca. Ia menghela napas, wajahnya amat sedih. Lelaki yang selalu diolok-olok dan dianggap orang gila itu telah pergi, meninggalkan Rumah Pohon yang penuh buku dan ilmu pengetahuan. Ilmu untuk menjaga bumi dan betapa sampah bisa disulap menjadi uang.














John Doe
Dyah Anggraini
Pegiat literasi.

Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul