Revolusi Kognisi, Sahabat Literasi IAI Cirebon

Podcast Sahabat Literasi IAI Cirebon

Ditulis Oleh : Fagesssa Dinasty - 21 Mei 2022

Membahas persoalan literasi bukan hanya sekedar mengajak orang untuk membaca, akan tetapi mengajak orang untuk berkreativitas dalam meningkatkan bakat dan meledakkan nalar pikiran. Karena pada pengaplikasian revolusi itu sendiri bahwa literasi memiliki banyak fungsi yang berbeda-beda maka bisa kita artikan bahwa literasi adalah kehidupan dan hidup adalah literasi. Pengertian ini sering kali ditemukan ketika membaca teks dan konteks (keadaan) dalam memahami segala sektor yang telah terjadi hingga terpatri di hati dalam merealisasi.


Sebuah tema Podcast yang diangkat terkait "Motivasi dan Inspirasi Berliterasi" menjadikan sebuah ledakan dalam kesadaran dengan hadirnya seorang sosok yang inspiratif dalam hal ini adalah Muhammad Assegaf (Inisiator Sepeda Pustaka Literasi Pelajar Tegalgubug) dan Fatkah Muklisiady (Penggerak Pustaka Darussalam Gegesik). Kenapa harus revolusi Kognisi yang harus ditingkat? Karena kognisi itu adalah gerbang awal mengawali proses memperoleh pengetahuan sebelum nanti beranjak kejenjang yang lebih tinggi yaitu kognisi sosial dalam proses pengelolaan informasi untuk memahami lingkungan sosial.


Harapan dari sebagian mahasiswa IAI Cirebon yang tergabung dalam lingkaran Sahabat Literasi di UKM ini, harus memiliki sebuah misi dalam membangun statement khusus untuk membuat virus kesadaran, agar ia bisa jatuh cinta kepada buku dan memahami makna literasi secara mendalam dan variatif. Selain Revolusi Kognisi Sosial ada Revolusi Perpustakaan yang harus dibangun yaitu informasi yang bergerak tanpa batas, search engine yang menstrukturkan informasi, dan tuntutan besar partisipasi. Hadirnya literasi digital pun menjadi sebuah tantangan sendiri bagi orang-orang yang membutuhkan buku fisik, artinya perlu digarisbawahi bahwa literasi digital itu penting untuk sekadar browsing tapi keadaan fisik hingga saat ini menjadi sesuatu hal yang benar-benar harus selalu ada dan tetap ada.


Tantangan terbesar bagi kita semua mengenai indeks literasi rendah, harus mempunyai pernyataan bahwa literasi sampai saat ini terlihatlah maju dengan konsep baru. Minat baca sebenarnya tidaklah rendah, hanya sarana bacanya yang saat ini harus terus difasilitasi secara mutu. Lembaga survai apapun yang mengatakan literasi di Indonesia ini rendah harus menjadi sebuah Common Enemy (musuh bersama). Dari mana kita mulai? Dari common enemy kita, rasa kebersamaan untuk memusuhi apa. Kesamaan musuh itu akan membuat panas otak sehingga kita bisa bekerja keras untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada. Termasuk di tanah kelahiran masing-masing, ketika sudah menempuh ilmu setinggi langit hingga harus balik jangan menjadi asing di desa sendiri dengan mengatakan "Aku bukan siapa-siapa."



Artikel Terkait

Mager Karena Pandemi? No Way!

Pandemi Yang Sudah Melanda Selama Kurang Lebih 2 Tahun Membuat Banyak Aktivitas Terhambat. Selain Untuk Para Pekerja, Hal Ini Juga Memberikan Dampak Buruk Kepada Para Anak Sekolah Dan Mahasiswa/i...

Pendayagunaan Kritik Untuk Membangun Konsep...

Kita Tidak Akan Asing Lagi Yang Namanya “kritik”, Kritik Merupakan Tanggapan Dari Seseorang Mengenai Hasil Karya, Pendapat Atau Sebagainya Dari Baik Buruknya Sesuatu. Kritik Dapat Dilakukan...

Perpustakaan Jalanan Aksara Bangsa

Seringkali Kali Kita Mendengar Gaungan-gaungan Setiap Merayakan Hari Atau Yang Berbau Buku Dan Literasi, Bahwa "minat Baca Indonesia Sangat Rendah. Tentu Ini Bukanlah Pembelaan Yang Mengada-ngada....

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul