Rekomendasi Ngobrolin16, REVOLUSI MENTAL & FCL

Picture by Pustaka Bergerak Indonesia

Ditulis Oleh : Pustaka Bergerak Indonesia - 01 Juli 2021

Secara politis, Free Cargo Literasi (FCL) bisa menjadi strategi pemersatu bangsa Indonesia. Buku-buku yang dikirim hanyalah sebuah metode dalam rangka mewujudkan hal yang lebih besar. Pengiriman buku-buku kepada seluruh warga negara yang selama ini dianggap kurang – bahkan aksesnya nihil terhadap sumber bacaan – adalah sama dengan mendekatkan semesta yang lebih besar dari pada semesta konkret yang menjadi habitus mereka selama ini.

Pada Ngobrolin #16, secara terang-benderang diketahui bahwa tidak ada yang tidak setuju dengan FCL. Hanya saja, dibutuhkan sikap konkret dari para penentu kebijakan di negeri ini untuk mewujudkannya. Sikap konkret tersebut adalah penentuan sumber dana FCL dan regulasi yang seharusnya dirumuskan kembali. Ada pun pihak-pihak yang terlibat sebagai pemantik di acara Ngobrolin#16 kali ini sebagai berikut:

1. Prof. Djoko Saryono (Tim GLN Kemendikbudristekdikti RI) dari Kendari, Sulwesi Tenggara

2. Bunda Menik (Buku Untuk Papua) dari Raja Ampat, Papua

3. Rinnelya Agustien (Pena dan Buku) dari Balikpapan, Kalimantan Timur

4. Farida Badaruddin (Donasi Buku) dari Tangerang, DKI Jakarta

5. Gol A Gong (Duta Baca Indonesia) dari Banten

6. John Lobo (Katakan Dengan Buku) dari Mojokerto, Jawa Timur yang juga merupakan penggerak literasi Nusa Tenggara Timur

7. Nero Taopik Abdillah (Ketum PP Forum TBM) dari Jawa Barat

8. Muhammad Akbar (1001 Buku) dari DKI Jakarta

9. Mumun Boneka Pustaka dari Grobogan, Jawa Tengah

10. Moderator: Dahri Dahlan (Perpustakaan Rakyat Sepekan, Polman) dari Samarinda, Kalimantan Timur.

 

Prof. Djoko Saryono dalam acara tersebut menyampaikan hal yang barangkali tidak dipikirkan beberapa orang. Belakangan ini, secara general, fase literasi digital diidentikkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Menurut Guru Besar literasi tersebut, masih ada banyak masyarakat di Indonesia yang bahkan untuk literasi dasar atau konvensional pun masih belum memadai. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan FCL masih sangat relevan.

Hal tersebut sejalan dengan kondisi saudara-saudara kita yang ada di Raja Ampat, Papua. Bunda Menik, sebagai salah satu bagian dari PBI menunjukan dengan bagus kondisi masyarakat yang masih kekurangan buku apalagi akses internet. Untuk mengirim sejumah buku dari satu pulau ke pulau lain di sana, dibutuhkan biaya pengiriman berkali-kali lipat jauh lebih mahal dari pada harga buku yang bisa dikirim. Sementara minat baca masyarakat di sana sangat tinggi. Dengan jelas pula, Bunda Menik menceritakan efek nyata buku pada seorang anak di Raja Ampat yang bercita-cita menjadi pilot setelah membaca. Betapa buku mampu membangkitkan imajinasi orang dan membangkitkan keberanian untuk memiliki cita-cita yang – bahkan – belum pernah disaksikan dalam realitas hidupnya.

Sisi keprihatinan lain negeri ini terkait literasi adalah calon Ibukota Negara. Di Penajam dan Kukar, tempat ibukota negara akan didirikan, ternyata belum ada kantung-kantung komunitas buku. Komunitas yang concern terhadap perbukuan yang bisa diakses penduduk setempat adanya di Balikpapan. Hal tersebut disampaikan oleh Rinnelya Agustien, salah satu aktivis literasi Kota Balikpapan, yang juga menyayangkan ketiadaan FCL. Baginya, akses terhadap bacaan oleh masyarakat umum di IKN nanti harus disegerakan dan FCL adalah salah satu solusinya.

Sementara itu, Duta Baca Indonesia, Gol A Gong juga mendukung FCL sembari memberikan alternatif untuk penyebaran buku. Dikatakannya, FCL tidak harus selalu dari pusat. Para anggota legislatif yang berkunjung ke Jakarta bisa menjadi media penyebaran buku dari Jakarta ke daerah masing-masing. Cara lain; dengan penyediaan kotak donasi buku di Perpusnas sebagai wadah donasi buku dari warga maupun pengambilan buku oleh warga, termasuk para penggerak literasi yang bertandang ke Jakarta. Hal ini tentu saja sangat menarik, tetapi bukan berarti dengan tawaran alternatif semacam itu, FCL bisa tidak dilaksanakan lagi.

Maka dengan mendengarkan, mempertimbangkan dan menyimpulkan hasil dialog pada Ngobrolin #16 Pustaka Bergerak Indonesia yang diadakan secara virtual pada tanggal 12 Juni 2012, dapat diperoleh beberapa poin rekomendasi sebagai berikut.

1. Literasi digital yang sedang digalakkan pemerintah tidak mungkin dicapai sebelum literasi dasar tercapai dengan merata dan masih banyak daerah yang belum menyelesaikan literasi dasar. Untuk itu, FCL sangat relevan dalam rangka mencapai literasi digital;

2. Meng-general-kan literasi digital di seluruh Indonesia adalah tindakan penyimpangan pembangunan dan termasuk bentuk ketidakadilan bagi seluruh warga negara. FCL adalah sebuah usaha untuk mengatasi penyimpangan dan ketidakadilan tersebut;

3. Mendesak pemerintah terkait untuk segera merumuskan syarat dan ketentuan FCL dan segera mengadakan program FCL dengan sistem yang melibatkan partisipasi masyarakat;

4. Dalam rangka perumusan program FCL tersebut, pemerintah terkait sebaiknya melibatkan Pustaka Bergerak Indonesia beserta berbagai organisasi literasi dan elemen-elemen lain yang relevan;

5. Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk menetapkan landasa hukum dan menentukan sumber anggaran program FCL;

6. Menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama para pegiat literasi dan perbukuan, agar terus mengawal dan memberikan sumbangsih untuk mewujudkan FCL;

7. Menghimbau kepada seluruh pihak yang disebut di nomor 6 untuk menggunakan # (tagar) terkait FCL dan seruan untuk mewujudkan FCL di media sosial, sampai FCL bisa diwujudkan;

 

Dengan adanya ketujuh poin rekomendasi tersebut, maka diharapkan kepada seluruh pihak terkait, terutama pemerintah dan presiden, agar segera merealisasikannya. Demikianlah rekomendasi ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

 

 

Jakarta, Juni 2021

 

Pustaka Bergerak Indonesia



John Doe
Pustaka Bergerak Indonesia
Pustaka Bergerak adalah jaringan masyarakat madani yang secara sukarela bekerjasama untuk membangun kekuatan dan kemandirian masyarakat lokal

Artikel Terkait

Bergerak Dalam Waktu

Membaca Buku Dapat Menumbuhkan Suatu Kreativitas Menulis, Melalui Peristiwa-peristiwa Wahana Bergerak Di Segala Penjuru Tanah Air Ini Dengan Berbagai Aneka Ragam Yang Tentunya Berbeda-beda....

Revolusi Perpustakaan : Pustaka Bergerak Indonesia

Saat Ini Ada Banyak Cara Memahami Revolusi. Ada Revolusi Teknologi Dan Informasi, Revolusi Atom Atau Nuklir, Namun Akan Lebih Bagus Dalam Penyebaran Suatu Tragedi-tragedi Adalah Revolusi...

Penyuluhan Budidaya Sapi Potong Sebagai Wujud...

Perpustakaan Rumah Baca berlian Pekon Kanoman Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus Menyelenggarakan Sebuah Acara Sosialisasi Atau Penyuluhan Budidaya Sapi Potong Yang Dilaksanakan Pada Kamis,...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul