REFLEKSI FILOSOFIS ATAS DIRI MANUSIA

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 13 Juli 2020

REFLEKSI FILOSOFIS ATAS DIRI MANUSIA

Penulis: Silferius Hulu, S. Fil


Dalam diri manusia terkandung potensi-potensi kejiwaan (spiritual) yang sangat menentukan bagi esensi (diri) dan eksistensi (keberadaan) manusia itu sendiri. Dengan potensi-potensi kejiwaan, yaitu pikiran, perasaan dan kemauan, manusia berada di dalam dirinya sendiri dan keberadaannya itu menggungguli makhluk ciptaan lainnya. Pikirannya mempunyai kecenderungan terhadap nilai kebenaran; perasaannya berkecenderungan terhadap adanya nilai keindahan; dan kemauannya selalu tertuju kepada nilai kebaikan. Dengan kata lain potensi-potensi kejiwaan manusia itu mendorong suatu tingkah laku, yaitu ingin tahu mengenai apa saja menurut nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan.

Nilai kebenaran memberikan pedoman dalam hal ketetapan tingkah laku, sehingga setiap perbuatan selalu diawali dengan perhitungan dan pertimbangan logis. Sedangkan nilai keindahan memberikan suasana ketenangan dalam perbuatan, sehingga setiap perbuatan selalu memiliki daya tarik tertentu. Adapun nilai kebaikan memberikan pedoman untuk mengukur apakah suatu tindakan itu berguna atau tidak.


1. Manusia: Ada dan Bertanya

Manusia ada dan berada di dunia. Hidup, pikiran, perasaan, pertemuan dan relasi dengan dunia dan isinya menimbulkan pelbagai perasaan. Perasaan heran dan kagum (thaumasein). Muncul keinginan untuk mencari tahu, mencari kebenaran dari setiap fenomena dan segala sesuatu yang bersentuhan dengan hidup dan kehidupannya. Pencarian makna dalam kejelasan bukan sekedar ke-apa-an sesuatu itu, tetapi lebih dari itu, yakni sampai kepada ke-mengapa-an dan ke-bagaimana-an-nya. Rasa ingin tahu mengenai sesuatu yang sampai ke akar-akarnya itulah sebagai pertanda bahwa filsafat sudah mulai ada.

Latar belakang lahirnya filsafat adalah menurut 2 faktor, yaitu interen dan ekstern. Faktor interen adalah kecenderungan atau dorongan dari dalam diri manusia, yaitu rasa ingin tahu. Sedangkan faktor ekstern adalah adanya hal atau sesuatu yang menggejala di hadapan manusia, sehingga menimbulkan rasa heran dan kagum.

Setiap orang itu berada di dalam filsafat hidupnya. Jadi, setiap orang pastilah berfilsafat. Hal ini dapat dijelaskan dengan melihat sendiri kenyataan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki tujuan hidup. Filsafat akan lahir dan berkembang pada diri setiap orang. pada saat orang mulai memikirkan dirinya, asal mula, keberadaan dan tujuan hidup dan kehidupannya, maka pada saat itu filsafat mulai tumbuh dan berkembang.

2. Sudut Etimologis Filsafat 

Filsafat memiliki akar kata philo dan sophia. Philo artinya cinta, dan sophia artinya kebijaksanaan. Maka philosophia didefinisiakan sebagai cinta akan kebijaksanaan. Lalu orang yang mencintai kebijaksanaan itu disebut filsuf (philosopher) atau ahli pikir. Dalam cinta dan kebijaksanaan ada kecenderungan secara terus-menerus untuk menyatu dengan pengetahuan ilmiah yang mengandung nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Figur seorang filsuf itu dapat digambarkan sebagai orang yang selalu mendambakan pengetahuan yang mendalam dan meluas, teguh pada prinsip kebenaran ilmiah yang berguna bagi manusia demi dinamika hidup dan kehidupan, sehingga membuat perasaan menjadi selalu tertarik untuk mengembangkan hidup ini menjadi kehidupan yang senantiasa tertuju kepada kebahagiaan sejati (prinsip filosofis).


3. Pertanyaan Mendasar Filsafat: Siapakah Manusia?

Pertanyaan mendasar filsafat adalah siapakah manusia itu? Pertanyaan ini merupakan suatu pertanyaan mendalam dan karenanya juga membutuhkan daya ilmiah dan reflektif sehingga dapat memberikan jawaban yang mencerahi manusia.

Filsafat menilik ada-nya dan ke-berada-an manusia. Kekhasan manusia di tengah makhluk lain disadari bahwa manusia itu bukan benda namun hukum jasmani berlaku baginya. Manusia itu bukan tumbuhan namun sangat bergantung dari lingkungannya. Manusia itu bukan roh namun makhluk rohaniah dengan segala kegiatannya yang khas rohaniah seperti aktivitas berpikir, mempertimbangkan, memutuskan, dan bertindak. Eksistensi manusia adakah ada dan bertanya.


4. Filsafat Manusia

Salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakekat manusia dan sepanjang sejarahnya adalah filsafat antropologi (filsafat manusia). Pertanyaan tentang hakekat manusia merupakan pertanyaan seumur keberadaan manusia di muka bumi. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai. Mengapa? Alasannya ialah karena realitas yang ada di sekitar manusia selalu baru, meskipun dalam substansinya tidak berubah.

Paulo Freire mengatakan bahwa manusia merupakan satu-satunya mahkluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Dalam sejarah diketahui bahwa hubungan antara manusia dengan dunia bersifat epokal (hubungan di sini – di sana; masa lalu – masa depan). Hidup dalam masa kini menuju kekekalan.

Dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Filsafat antropologi adalah ilmu yang memelajari tentang hakekat manusia. Hakikat berarti ada-nya manusia. Filsafat antropologi berbicara mengenai apa dan siapa manusia itu.

Bersambung…

Penulis: Silferius Hulu, S. Fil

Sedang menempuh Program Studi Pascasarjana di STFT St. Yohanes Sinaksak, Pematangsiantar.

Calon Imam Biarawan dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).



Artikel Terkait

Rezeki Atau Tragedi

Jutaan Keindahan Ada Di Indonesiamerebak Harum Aroma Kasihnamun Tidak Pada Lukayang Terus Hadir Di Setiap Sedihpara Manusia Lari Tunggang Langgangoleh Sakit Yang Tak Berkesudahandiperas, Diancam...

Memaknai Hidup Dengan Refleksi

Penulis: Silferius Hulu, S. Fil Filsuf Socrates (469 Sm-399 Sm) Dalam Pemikiran Filosofinya Ia Menuliskan Pernyataan Ini: “hidup Yang Tidak Direfleksikan Tidak Layak Untuk Dihidupi.” Socrates...

Kabar Luka, Pendamba Surga

Rajin Bersedekah, Untuk Terlihat. Rajin Berbuat Baik, Untuk Dipandang. Rajin Ibadah, Untuk Mendapat Pahala. Rajin Memupuk Uang, Untuk Perut Sendiri. Atas Nama Kebaikan Dan Kemanusiaan, hanya...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul