Prosedur Kisah Klise Yang Mengkhawatirkan

Dok. Pribadi

Ditulis Oleh : F Daus AR - 12 September 2020

Judul Buku : Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami
Penulis : Hairus Salim HS
Penerbit : Gading
Halaman : 130

Di depan layar kaca ukuran 14 inc, dua perempuan tua sedang beradu pendapat. Menebak arah kisah sinteron yang sedang ditonton. Peristiwa seperti itu sudah sering terjadi di antara mereka. Perempuan tua yang satu adalah emak (panggilan kepada ibu di suku Bugis) saya. Satunya lagi, tetangga, karib emak sejak muda. Keduanya melewati fase hidup bersama hingga kini mensyukuri jalan panjang usia yang sudah kepala tujuh


Seingat saya, sejak tidak bisa beraktivitas banyak di luar rumah dan televisi tidak lagi menjadi barang mewah milik kelas sosial tertentu. Emak saya, di usia senjanya memilih menonton sinetron sebagai aktivitasnya, tetapi ini hanya salah satu saja, sebab beliau masih sering menjahit menyelesaikan keset dari kain percah dan menerima pesanan pembuatan bedak basah.


Emak saya itu, jika sudah menyenangi sejudul sinetron maka ogah memalingkan pandangan ke sinetron lain. Ia hanya menonton sinetron yang telanjur diikuti sejak awal. Meski pola berkisah tiap sinetron tidaklah jauh berbeda, emak saya baru berhenti menonton jika sinetron favoritnya sudah selesai dan akan menonton kelanjutannya esok hari sesuai jam tayang.

 

Sinetron berseri itu menawarkan formula kisah klise. Arahnya sudah bisa ditebak setiap episode. Lalu apa kelebihan yang didapat prosedur kisah demikian. Emak saya fasih mengisahkan ulang tentang perilaku dan ucapan setiap tokoh. Bahkan, ia tak segan mengisahkan itu pada cucunya yang kadang mengganggunya karena si cucu ingin menonton acara lain.

 

Emak saya bisa mencomot sifat tokoh dari sinetron dan disematkan kepada sikap si cucu. “Kamu itu seperti si anu (merujuk pada sosok dalam sinetron), suka menganggu,” ucapnya.

 

Kisah Lurus

 

Itu istilah saya usai membaca kumcer Matilda, Lelaki Izrail dan Seorang Perempuan di Masjid Kami, karya Hairus Salim HS. Prosedur kisah yang ditawarkan tak ubahnya kisah sederhana yang sekali baca sudah tertanam di benak.

 

Lalu apa korelasi lima paragraf catatan pembuka di atas dengan kumcer yang diterbitkan Gading itu. Jawabnya adalah penokohan yang kuat.

 

Kumcer itu saya beli di kantor Lembaga Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu Hairus Salim menjadi pembicara pada 22 September 2017 di kantor LAPAR. Dorongan menghadiri dialog karena ingin melihat langsung sosok salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) itu membedah novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer.

 

Balik ke kumcer yang memacak tiga judul cerpen yang dijadikan judul buku tersebut menyiratkan sisi lain bagaimana Hairus Salim yang sebelumnya dikenal luas sebagai peneliti–penulis topik sosial kebudayaan meramu kesaksian dan ingatan ke medium cerpen.

 

“Saya sebut ‘semacam cerita pendek’ untuk tahu diri saja karena saya bagaimanapun bukanlah seorang penulis sastra profesional.” Tulis Hairus Salim di halaman pengantar. Apa maksud kalimat ini. Apakah Hairus Salim menempatkan dirinya di ruang inferior? Ataukah menulis cerpen hanyalah bentuk remeh temeh mengisi waktu luang? Entahlah.

 

Ada empat belas cerpen menurut pembacaan saya, menggunakan formula yang sama. Setiap memulai pembacaan cerpen seperti mengulang pembacaan cerpen sebelumnya dengan tokoh dan peristiwa berbeda dan, kita akan melewati alur kisah yang bisa ditebak di awal ke mana muaranya. Sungguh klise.

 

Alur cerpen lurus saja ke depan, tidak ada kelokan dan teknik mundur atau serumit tokoh dalam cerpen Budi Darma, misalnya. Atau tidak seabsurd cerpen Phutut EA di kumcer Sebuah Kitab yang Tak Suci.Tentu, formula itu adalah pilihan teknik yang ditempuh Hairus Salim, tetapi, jika keseluruhan cerpen mengandung pola yang sama. Tidakkah itu membosankan.

 

Ada aroma horor yang tertangkap di cerpen Matilda. Tokoh Matilda, utamanya kita kenal setelah Roald Dahl mengabarkan kepada dunia tentang anak yang dilahirkannya itu rakus membaca. Hairus Salim melahirkan ulang tokoh fiktif itu, masih dengan kerakusannya melahap pelbagai jenis buku yang melampaui usianya lalu kemudian membiarkannya pergi.

 

Matilda yang dilahirkan Hairus Salim mengalami kegaiban. Di akhir kisah, anak itu membongkar ketenangan berpikir tokoh Aku karena rupanya, anak bernama Matilda tersebut tidak dikenal oleh orang di kampung. Padahal, anak itu sering datang ke rumah tokoh Aku untuk membaca beragam buku.

 

Cerpen Lelaki Izrail mengisahkan alur yang sangat akrab, khususnya masyarakat di pedesaan. Saya tidak kaget dengan cerita semacam itu. Sejak kecil sudah sering mendegarkan dari tetua di desa perihal seorang yang dianggap memiliki karomah, baik dari ucapan atau perbuatan. Meski orang itu terkesan biasa saja.

 

“Beriring kematian Najib ingatan orang di kampung itu tertuju pada obrolan Ulak Ulu dengan Najib menjelang kedai tutup di malam itu. Bagaimana bisa Ulak Ulu tahu Najib akan meninggal? Dari mana Ulak tahu Najib akan meninggal? Apakah ini hanya kebetulan belaka? (Hal.3).

 

Meramalkan kematian, persinya tidak seperti itu. Tetapi, ada semacam prosedur mengingat hal lampau pada orang yang meninggal. Sebab akibat itu kemudian dihubungkan sebagai isyarat.

 

Sedangkan cerpen Seorang Perempuan di Masjid Kami setali tiga uang. Ada prosedur kisah yang mirip dengan cerpen Matilda. Bedanya, nuansa horor tidak melekat di cerpen ini meski sosok yang dikisahkan juga menghilang di akhir kisah. Kedua cerpen juga mengandung anasir Chekovian, merujuk pada cerpen Anton Chekov, pengarang dari Rusia yang mengakhiri kisahnya begitu saja dan meninggalkan ruang tebak di benak pembaca. Cerpen bergaya Chekovian di peta sastra Indonesia umumnya dilekatkan pada gubahan Kuntowijoyo.

 

Ketiga cerpen tersebut, saya pikir sudah mewakili prosedur kisah yang ditawarkan Hairus Salim yang pernah mengelola majalah budaya Gong di tahun 2003 hingga 2008 ini. Seperti yang telah dikemukakan di awal, bahwa penokohan begitu kuat sehingga melekat hanya sekali baca tanpa perlu mengulangnya. Latar kisah yang bersahaja dan begitu akrab dan itu mengantar kepada pengalaman komunal di kehidupan masyarakat pedesaan.

 

Seperti emak saya yang bisa mengisahkan ulang kisah dalam sinetron yang digemarinya, seperti itu pula pengalaman usai membaca keseluruhan cerpen. Kita bisa menyambungkan kisah di cerpen yang satu dengan cerpen lainnya. Umpamanya saja, cerpen Lelaki Izraili memiliki kaitan erat dengan cerpen Kubur Penuh Cahaya (Hal. 109). Saya pikir, teknik penulisan itu bukan persoalan biasa.

 

Sebab, bukankah, kisah sederhana itu sungguh magis. Serupa kisah-kisah nabi yang menjadi pengantar tidur. Hanya saja, prosedur kisah klise ini terlampau mengkhwatirkan bagi pembaca yang menuntut lebih. Pengakuan pengarangnya kalau ini hanyalah ‘semacam cerita pendek’ mungkin benar adanya.


John Doe
F Daus Ar
Mengelola penerbitan indie, Rumah Saraung di Pangkep. Sulawesi Selatan

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul