PERSPEKTIF-PERSPEKTIF DALAM SOSIOLOGI

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 22 Juli 2020

Sosiologi adalah suatu ilmu yang memelajari tentang masyarakat. Sebagai sebuah ilmu, ia memiliki metode, sistem, objek material dan formal, serta bersifat koheren. Sosiologi sekurang-kurangnya dapat dirumuskan dalam dua cara. Pertama, suatu ilmu adalah sebuah kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji melalui suatu ilmu pengetahuan. Kedua, suatu ilmu adalah sebuah metode untuk menemukan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji. Bila rumusan pertama diterapkan, maka sosiologi merupakan suatu ilmu sejauh ia mengembangkan kerangka pengetahuan yang teruji, yang didasarkan pada penelitian ilmiah. Bila sosiologi didefinisikan sebagai ilmu klasik, maka sosiologi adalah suatu ilmu sejauh terdapat di dalamnya penelaahan ilmiah.


Perspektif dalam Sosiologi

Menurut KBBI, perspektif artinya cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagaimana tampak oleh si pengamat dengan tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya). Dalam kajian para sosiolog, perspektif didefinisikan sebagai himpunan asumsi dan keyakinan tentang sesuatu yang sedang diamati berdasarkan cara-cara tertentu. Perspektif memengaruhi perilaku manusia untuk bertindak menanggapi sebuah konteks situasi yang terjadi. Perspektif membimbing seseorang dalam menemukan perilaku relevan dan rasional sesuai dengan fenomena yang ada.

Untuk menelaah sesuatu para sosiolog melakukan asumsi-asumsi. Beberapa perspektif dalam sosiologi.


1. Perspektif Evolusioner

Perspektif evolusioner digagas oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer. Perspektif evolusioner merupakan perspektif paling awal dalam sosiologi. Perspektif ini memberikan gambaran bagaimana masyarakat tumbuh dan berkembang. Karena ilmu pengetahuan semakin berkembang, maka perspektif ini pun ditinggalkan.

   Para sosiolog yang memakai perspektif evolusioner mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang beraneka ragam, dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada urutan umum yang dapat ditemukan. Perspektif evolusioner merupakan perspektif aktif meskipun bukan perspektif yang utama dalam sosiologi.


2. Perspektif Interaksionis Simbolik

Perspektif interaksionis tidak menyediakan teori-teori besar tentang masyarakat. Alasannya ialah istilah masyarakat, negara, dan lembaga masyarakat adalah abstraksi konseptual saja. Sedangkan yang dapat ditelaah secara langsung hanyalah orang-orang dan reaksinya saja. Jadi, para penganut aliran interaksionis tidak terlalu tertarik membuat definisi-definisi mengenai masyarakat, negara, dan lembaga masyarakat karena hal itu bagi mereka terlalu abstrak.

Para ahli interaksionis simbolik memusatkan perhatian pada interaksi antara individu dan kelompok-kelompok kecil. Mereka menemukan bahwa orang-orang berinteraksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencakup tanda dan isyarat dan yang paling penting melalui kata-kata secara tertulis maupun lisan.

Suatu kata tidak memiliki makna yang melekat dalam kata itu sendiri, melainkan hanyalah suatu bunyi. Suatu kata, baru akan memiliki makna, bila orang sependapat bahwa bunyi yang diucapkan tersebut mengandung arti khusus. Misalnya, ya, pergi, datang, merupakan simbol-simbol karena lekatnya arti dalam kata tersebut. Meskipun beberapa arti dapat dikomunikasikan tanpa kata-kata sebagaimana diketahui oleh yang sedang bercinta, dan sebagian besar dapat dikomunikasikan secara lisan maupun tulisan.

Para ahli interaksionis selanjutnya melihat bahwa manusia berinteraksi melalui kejadia-kejadian yang terjadi di sekitar mereka. Sosiolog W. I. Thomas mengungkapkan definisi situasi, demikian: “Kita bertindak secara tepat apabila sesuai dengan sifat situasi dan kondisinya.” Orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan hal tersebut disebut empan papan (tidak sopan). Seseorang yang keliru akan situasi berusaha lari dari hal tersebut. Akan tetapi, tindakan yang tidak tepat akan menimbulkan akibat-akibat yang tidak menyenangkan.

Dalam buku The Social Construction of Reality ((Peter L. Berger, Thomas Luckmann, 2011) dikatakan bahwa masyarakat adalah realitas obyektif, dalam arti sang masyarakat. Masyarakat itu tetap nyata, meskipun kita memiliki pandangan beragam terhadap mereka. Akan tetapi, masyarakat itu juga tergantung pada pandangan subyektif orang tersebut. 

Dalam perspektif interaksionis simbolik, situasi dan kondisi ditafsirkan oleh subyek. Ini bukan berarti semua kenyataan itu subyektif, tetapi ada juga fakta yang obyektif di alam semesta seperti adanya matahari, bulan, bintang, hujan, kemarau, dan lain-lain. Maka, kenyataan itu tetap ada.


3. Perspektif Fungsionalis

Perspektif fungsionalis melihat masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisir, teratur dan bernilai yang dianut sebagian masyarakat tersebut. Masyarakat dilihat sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan menjaga kestabilan dan keseimbangan.

Talcott Parson, Kings Loin Davis, dan Robert K. Merton merupakan tokoh dalam perspektif fungsionalis. Mereka berpendapat bahwa perbuatan atau tindakan dilakukan karena memiliki fungsi. Kalau sesuatu tidak berfungsi, maka hal itu lambat laun akan hilang. Pola perilaku hilang bila tidak berfungsi.


4. Perspektif Konfilk

Perspektif konflik dicetus oleh Karl Marx. Ia melihat pertentangan dan eksploitasi kelas sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah. Dalam rentang waktu yang lama perspektif konflik ini diabaikan oleh para sosiolog, dan dewasa ini kembali menjadi bahan perhatian mereka.

Perspektif konflik melihat masyarakat konflik di antara kelas, di mana masyarakat terikat secara bersama karena kekuatan dari kelompok atau kelas yang dominan. Mereka mengklaim bahwa nilai bersama yang dilihat oleh para fungsionalis sebagai pemersatu bukanlah benar-benar suatu konsensus, melainkan konsensus tersebut merupakan hasil ciptaan dari kelas yang dominan yang menguasai masyarakat. Oleh karena itu, dialog terjadi apabila satu sama lain dalam keadaan seimbang dan setara.

Menurut pengikut perspektif konflik, para fungsionalis gagal mengajukan pertanyaan secara fungsional yang bermanfaat untuk masyarakat. Mereka cenderung konservatif. Mereka berasumsi bahwa keseimbangan yang serasi bermanfaat bagi setiap orang.

Perspektif konflik selalu membuat dua kutub yang dipertentangkan. Gerak perilaku secara fungsional bermanfaat, dan oleh karena itu tindakan itu dimunculkan ke permukaan.


Perbandingan pertanyaan dalam perspektif-perspektif sosiologi

Dikisahkan beberapa orang mahasiswa mengajukan keberatannya atas peraturan baru yang ditetapkan oleh sebuah universitas perihal administasi. Berikut ini mari kita lihat pertanyaan khas dari setiap perspektif dalam menanggapi kisah tersebut.


a. Pertanyaan dari perspektif evolusioner:

  • Bagaimana pola yang sudah ada dan pola mana yang diikuti?
  • Bagaimana urutan peristiwa sehingga suatu kebijakan baru dibuat?


b. Pertanyaan dari perspektif interaksionis simbolik:

  • Bagaimana aturan-aturan dibuat dan diubah?
  • Siapa yang mempunyai wewenang untuk merubah aturan dan bagaimana caranya?
  • Dalam konfrontasi, bagaimana orang yang baik dan jahat mendapat julukan?


c. Pertanyaan dari perspektif fungsionalis:

  • Alasan-alasan apakah yang mendorong perubahan kebijakan tersebut?
  • Tujuan apakah yang bisa dicapai bagi universitas dan bagi mahasiswa dengan perubahan itu?
  • Akibat-akibat apakah yang akan timbul dari konfrontasi tersebut?


d. Pertanyaan dari perspektif konflik:

  • Mengapa masukan dari mahasiswa tidak didengarkan sebelumnya?
  • Siapakah yang mendapat keuntungan dan kerugian dari kebijakan yang dibuat?
  • Mengapa fakultas dan pihak administratif menginginkan perubahan ini dan mengapa mahasiswa menentang?



Penulis: Silferius Hulu, S. Fil

Sedang menempuh Program Studi Pascasarjana di STFT St. Yohanes Sinaksak-Pematangsiantar.

Calon Imam Biarawan dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).



Artikel Terkait

Lembaga Sosial

Lembaga Sosial Merupakan Sebuah Sistem Hubungan Sosial Yang Terorganisir Yang Mengejawantahkan (mengaktualisasikan) Nilai-nilai Dan Prosedur-prosedur Umum Tertentu Demi Memenuhi Kebutuhan Dasar...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul