Persaudaraan Inklusif

Pertemuan Sultan Malik Al-Kamil dan Fransiskus Assisi

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 05 Februari 2021

PERSAUDARAAN INKLUSIF

Silferius Hulu, S.Fil.

Persaudaraan adalah sebuah ikatan psikologis, spiritual, dan humanis yang tumbuh dan berkembang dalam hati nurani setiap orang. Persaudaraan melekat dan terintegrasi dalam kesatuan pikiran, sikap, dan tindakan. Ikatan persaudaraan tumbuh karena dimensi-dimensi ini, antara lain: adanya kesadaran iman bahwa semua orang diciptakan oleh Satu Pencipta yakni Tuhan yang Mahaesa; adanya kesamaan pola pikir, kebutuhan, spiritualitas, cita-cita dan harapan bersama dalam peziarahan hidup di dunia fana ini. Persaudaraan mengandung makna kesadaran iman, spiritual, tanggung jawab, solidaritas, dan cinta.

Persaudaraan inklusif adalah suatu cita-cita yang hendak digapai bersama dalam keberagaman dan implementasinya. Konsep persaudaraan inklusif ini merangkul semua orang tanpa terkecuali, dengan keyakinan bersama bahwa hidup dan belajar bersaudara merupakan suatu cara yang dipandang amat baik dan memberikan manfaat bagi setiap insan. Persaudaraan inklusif melibatkan perubahan dan modifikasi motivasi, relasi, struktur, strategi, visi dan misi bersama.

Persaudaraan inklusif menjunjung tinggi prinsip “Hidup adalah sebuah proses”, sebagaimana diungkapkan oleh filsuf Alfred North Whitehead (1861-1947). Keterangan ringkas dari ungkapan Whitehead ini dapat dijelaskan demikian: Di dalam segala hal yang berubah, ada sesuatu yang tetap, dan di dalam hal yang tetap ada yang berubah. Hidup kita juga merupakan sebuah proses dan terus berubah. Kita senantiasa berada dalam langkah ‘menjadi’. Kita tidak dapat menilai seseorang sebagai ‘ini’ atau ‘itu’, seolah-olah tidak mungkin lagi berubah. Apa yang tidak baik masih dapat disingkirkan; apa yang belum baik masih dapat diperbaiki; apa yang sudah baik masih dapat ditingkatkan; dan apa yang baik yang belum sempat kita laksanakan, masih mungkin dilakukan.

Kualitas Hidup

Persaudaraan inklusif menuntut kualitas-kualitas hidup positif dari setiap kita. Ragam kualitas tersebut menunjukkan jati diri kita masing-masing, yang hendaknya juga dipancarkan ke dalam persaudaraan antar sesama.

Berikut ini saya akan memaparkan beberapa kualitas hidup positif persaudaraan inklusif.

a. Berpikir dan memikirkan yang baik

Setiap orang mengembangkan kebiasaan berpikir dan memikirkan hal-hal yang baik bagi orang lain. Kualitas sense of belonging dalam slogan “Setiap saudara adalah rahmat” mesti diasah dan dimurnikan terus-menerus. Barangkali, dalam diri orang lain terdapat sikap dan perbuatan yang tidak kita senangi, sama halnya orang lain juga tidak senang melihat sikap dan tindakan kita. Nah, andaikan prinsip saling tidak menyukai ini tumbuh subur dalam keluarga manusia, sudah pasti slogan “Manusia adalah serigala bagi sesamanya” akan menghancurkan identitas sejati diri kita sebagai makhluk dari Satu Pencipta. Persaudaraan inklusif berusaha menerima dan menghargai keunikan, membuka pintu maaf, dan saling menasihati.

b. Berbicara dan membicarakan yang baik

Berbicara baik mengenai kepribadian orang lain merupakan syarat mutlak citra diri orang yang beriman. Namun, kerap sebagian orang lebih asyik mencari satu titik kesalahan dan kelemahan orang lain daripada melihat banyak kebaikan dan keutamaan yang telah dilakukannya. Kerap juga, sebagian orang asyik menceritakan kehebatannya kepada orang lain secara berlebihan, walaupun itu hanyalah tameng untuk menutupi keburukan sebenarnya. Persaudaraan inklusif tidak menyukai gosip, tidak angkuh, dan tidak sombong.

c. Rela berkorban

Hidup dalam persaudaraan berarti hidup bersama dengan orang lain. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Setiap aktivitas yang kita lakukan menuntut dedikasi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, pengorbanan, cinta, dan lain-lain. Ada beberapa aktivitas yang sebenarnya tidak banyak membutuhkan tenaga, seperti senyum, sapa, salam, tolong, maaf, dan terima kasih. Namun, kerap kali hal-hal sederhana ini dilalaikan dalam pelaksanaannya di dalam perjumpaan dengan sesama. Persaudaraan inklusif mengakui kelebihan, kekuatan, kekurangan, dan kelemahan orang lain. Situasi suka dan duka persaudaraan dirasakan bersama. Kebutuhan akan cinta, kasih sayang, perhatian, pengakuan, dan penghargaan dari yang lain menjadi dambaan bersama. Kalau saya membutuhkan cinta dari orang lain, maka terlebih dahulu saya harus mencintai mereka. Prinsip take dan give dibutuhkan dalam persaudaraan inklusif.

d. Adaptif

Pribadi prinsipil tentu saja sangat bagus ya, layak dihormati, disegani, dan dihargai. Pribadi-pribadi seperti ini, dalam keadaan serius, sangat lebih dibutuhkan daripada pribadi pengecut dan munafik yang hanya ikut arus dan mengekor dari belakang. Namun, dalam keadaan biasa, sikap teguh pendirian itu alias keras kepala dan mempertahankan mati-matian pendapatnya tanpa ikut kesepakatan bersama, hendaknya lebih mengasah lagi sikap adaptifnya. Alasannya, ada saja situasi-situasi yang menuntut terjadinya perubahan. Perubahan itu tidak dapat dielakkan lagi.

Pribadi adaptif adalah tipikal yang menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu. Persaudaraan inklusif memerlukan kemampuan fides et ratio agar dapat beradaptasi dalam segala situasi dan kondisi kebersamaan.

e. Be yourself

Semboyan be yourself bukan bermaksud bahwa setiap orang memiliki sikap ekstrem dan indiferen, yakni hidup dan bertindak semau dan seenaknya saja, dengan berdalih ‘itulah diriku’ yang sesungguhnya. Sebenarnya, makna mendalam dari semboyan be yourself adalah be honest with yourself (jujurlah dengan dirimu sendiri). Artinya, kita tidak hanya berhenti pada penampilan lahiriah belaka, namun kita harus masuk ke dalam inti terdalam batiniah kita. Karena penjelajahan terpanjang dalam diri seseorang adalah kemampuannya menjelajahi kedalaman batin (daya reflektif). Bagaimana mungkin menyampaikan kebenaran kepada orang lain, padahal belum mampu jujur pada diri sendiri. Apabila kita menipu diri sendiri, orang lain turut keciprak getah penipuan kita. Persaudaraan inklusif berjuang untuk menyelami kedalaman batin, sehingga mampu memroses sensitivitas, cara pandang, emosionalitas, dan motivasi dari setiap kata dan tindakan.

f. Mampu bersyukur dalam segala hal

Menampilkan muka ceria itu hanya menggerakkan 13 otot wajah. Menampilkan muka murung menggerakkan 47 otot wajah. Ternyata, pekerjaan berat otot wajah itu terdapat pada saat muka murung. Saking beratnya, penuaan dini tidak dapat dielakkan lagi. Namun, banyak orang menyuguhkan ekspresi tak sedap dipandang seperti jengkel, marah, kecewa, galau, murung, pesimis, dan sebagainya. Barangkali ini disebabkan oleh aneka tantangan dan suasana hati. Sebenarnya, kebahagiaan tidak ditentukan oleh faktor ekstern, tetapi ditentukan oleh sikap, pandangan, atau pilihan yang kita putuskan (intern). Semangat bersyukur dalam segala hal memberi kesadaran iman bahwa Tuhan tetap menyertai peziarahan hidup manusia.

Mari, menjalin persaudaraan dengan semua orang. Salam damai dan kebaikan.

Penulis sedang menempuh program studi pascasarjana di STFT St. Yohanes Sinaksak Pematangsiantar.

Calon Imam Biarawan dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).



Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul