Pergerakan Yang Tersamarkan

Picture by Rumah Baca

Ditulis Oleh : Rumah Baca - 08 Januari 2020

Pergerakan yang tersamarkan


Teringat beberapa waktu lalu ketika ada salah seorang wartawan media nasional yang mencoba meliput kegiatan yang biasa dikerjakan untuk diberitakan. Saat itu tidak pernah terpikirkan akan mendapatkan sebuah pernyataan yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan atau tahu, bahkan saya merasa acuh dan tidak peduli sama sekali.


Ya, saat itu seorang wartawan media nasional mengungkapkan bahwa ia pernah meliput dan memberitakan seseorang yang bisa dikata sebagai seorang pegiat literasi, penulis, memiliki rumah kreatif dibawah naungan Kementerian pendidikan di provinsi yang sama yakni, Jawa Tengah. Bahkan mungkin namanya sudah tidak asing lagi bagi para pegiat literasi di Indonesia, lantaran banyak prestasi, fasilitas dan kegiatan yang maju.


Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan, membanding-bandingkan atau mencoba untuk lebih unggul. Wartawan itu berkata: “Kok bisa ya mas? Kegiatanmu, pergerakanmu yang menghidupi 4 taman baca dan rumah baca secara mandiri dengan masing-masing memiliki koleksi ratusan bahkan ada yang sampai ribuan bahkan berlangsung selama bertahun-tahun yang lalu, berkegiatan, bergerak membawa buku-buku dan menggendong boneka ke sekolah-sekolah, madrasah atau tempat-tempat yang dirasa pelosok dan tertinggal namun tidak nampak dan tersamarkan, tidak ada penghargaan, perhatian dan fasilitas yang serba sederhana bahkan bisa dikatakan kurang layak”.


Gila, kamu lebih keren mas!!!


Mendengar kata-kata itu, saya sejenak terdiam dan hanya tersenyum sambil memandang matanya sembari masih mendengarkan apa yang disampaikannya itu. Saya tidak menghiraukan pencapaian, penghargaan, prestasi atau apapun itu yang orang lain peroleh, karena rejeki, nasib setiap orang berbeda. Saya hanya sekedar menjalani apa yang bisa saya kerjakan, melakukan segala sesuatu sesuai kemampuan, tidak terpikirkan pencapaian, penghargaan, banyak pemberitaan, dikenal dan apapun itu. Karena pergerakan yang sesungguhnya tidak butuh itu semua, karena itu semua semu bagi saya.


Tersamarkan atau bahkan tidak tampak pergerakannya selama bertahun-tahun lamanya tidak jadi soal dan masalah bagi saya. Yang penting saya bergerak, bermanfaat dan bisa berbagi rasa merdeka kepada mereka yang haus akan ilmu pengetahuan.


Selang beberapa hari kemudian, beliau kembali menghubungi saya melalui telepon seluler. Beliau menyampaikan dan menawarkan bahwa ada 3 NGO yang tertarik dan simpatik atas pergerakan yang selama ini saya kerjakan. Bahkan beliau juga menyampaikan bahwa ke 3 NGO itu akan membantu dalam pergerakan dan membuat semakin layak untuk rumah baca dan fasilitasnya. Saya kembali tersenyum, lantaran saya tidak mau merepotkan atau bahkan merugikan dan memanfaatkan dengan kondisi dan keadaan yang serba sederhana dan apa adanya. Setidaknya saya tetap bisa bergerak dengan kondisi tersebut. Dan saya sudah terbiasa dengan janji-janji manis namun tidak nyata.


Sebab, saya sudah berkomitmen sejak awal tahun 2018 bergabung dan nyaman bergerak seperti teman-teman yang lain yang memiliki visi dan misi yang sama yang sudah sejak lama bergabung bahkan sudah dikenal. Setidaknya, pergerakan saya tidak ada embel-embel siapapun, tanpa harus dibayang-bayangi apapun atau bahkan lembaga manapun yang memperlambat pergerakan. Setidaknya bebas merdeka, itulah yang saya pilih.


Kalaupun saya dikenal dan dibesarkan setidaknya itu dari Pustaka Bergerak Indonesia yang memang saya pilih. Kalaupun saya masih tetap tampak samar-samar dan tidak nampak, bukan suatu masalah untuk dipikirkan. 


Intinya bahwa rejeki pegiat literasi itu memang beda-beda: ada yang dapat perhatian pemerintah, ada yang tidak. Tapi semangat kita bergerak memang bukan terutama untuk dinaungi oleh pemerintah, tapi justeru untuk ikut membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa. Soal mendapat perhatian dan naungan yang melimpah, itu urusan yang ke sekian ....

Salam...







Artikel Terkait

Tentang Jurnalistik

Setengah Tahun Lebih Sejak Pemberitahuan Untuk Belajar Dirumah, Selama Itu Pula Rasanya Sepi, Tak Ada Lagi Tawa Dan Belajar Diskusi. Begitu Juga Yang Dirasakan Mereka, Rasa Dan Raga Harus...

Meningkatkan Pendidikan Folklore Di Era...

Folklore Adalah Adat Istiadat Warisan Budaya Yang Tidak Dibukukan Dan Menjadi Warisan Turun Temurun. Folklore Bersifat Diciptakan Artinya Menyebar Dari Mulut Ke Mulut. Folklore Bersifat...

Ceria Lomba Agustusan

Cerita Lomba Agustusanwuluhan- Pada Hari Minggu, 6 September 2020, Para Pemuda Kampung Gumuk Asem, Dusun Karangsono, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember Sedang Menyelenggarakan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul