PERAN LITERASI DI ERA GLOBALISASI

Picture by Fagesssa Dinasty

Ditulis Oleh : Fagesssa Dinasty - 12 Maret 2021

Peran Literasi sekarang membahas bagaimana pentingnya suatu sumber ilmu yang diakses secara mudah untuk masyarakat. Pada tahun 1982 Literasi dikenal dengan membaca, menghitung dan menulis. Namun pada tahun 1999 Literasi dirubah pengertiannya dari membaca, menghitung dan menulis. Menjadi Literasi adalah bagian dari kehidupan, maka kehidupan adalah Literasi. Yang menjadi persoalan masyarakat di Indonesia tidak terlalu meneliti sejarah lebih dalam, maka ketika ada suatu informasi yang mengatakan minat baca rendah, mudah untuk percaya. Ini yang seharusnya dilawan dan menjadi musuh bersama dengan membuat sistem baru dan merubah sistem. Akan tetapi bukan berarti merusak sektor keadaan, melainkan merubah sektor keadaan.


Buku menjadi suatu hal yang sangat pelik bagi setiap relawan, maka dengan segala macam cara yaitu mencari. Mencari di berbagai tempat lapak rongsok dan saling berbagi satu sama lain. Karena selama ini, buku memang menjadi sarana yang sangat penting bagi setiap relawan untuk membuka hal yang baru dan pengatahuan baru bagi masyarakat yang dapat diakses secara mudah. Salah satunya dengan mendatangi masyarakat lebih awal dengan berbagai macam wahana seperti Pedat Pustaka Bayalangu, Sepeda Pustaka Literasi Pelajar Tegalgubug, Angkringan Pustaka Panguragan dan lain sebagainya.


Berbicara kreatifitas adalah bagian yang sangat penting dalam bergerak, guna untuk menggali suatu kemampuan dalam bidang apapun. Namun Relawan lebih sering merujuk suatu kreatifiyas itu pada dunia seni dari mewarnai, mengambar, berpuisi dan masih banyak lagi. Kreatifitas juga nantinya memiliki daya saing yang amat tinggi untuk membuka suatu terobosan-terobosan baru bagi anak-anak untuk meningkat bakat-bakatnya.


Segala sesuatu yang dikerjakan adalah berawal dari sebuah niat dengan suatu tujuan. Niat adalah bagian dari sosial, karena berbicara sosial adalah berkenan dengan masyarakat, maka gerakan Litarasi adalah gerakan yang tepat. Karena mampu untuk meringankan suatu kebutuhan dan memberikan dengan berbagai macam. Dengan buku kita bisa menyatu dalam hidup, dengan buku kita bisa berbagai rasa soal cinta dan kasih sayang, dengan buku kita bisa meraih cita-cita dan impian, dengan buku kita bisa mengetahui banyak hal. Maka ada slogan buku memuliakan manusia dari Pedati Pustaka Bayalangu adalah sebagai tanda bahwa dengan buku kita bisa berbagi rasa dan bahagia.


Tahun 2019 lalu ada Relawan dari Australia yaitu Mergy Ellery (Ahli Psikologi) ia pernah berkata bahwa Indonesia adalah negara yang penuh dengan kekayaan dan disisi lain juga bahwa Indonesia banyak sekali orang cerdas yang mampu memberikan suatu perubahan bagi dunia, namun berbicara soal sistem yang mengatakan masyarakat Indonesia itu bodoh karena dunia merasa takut bila Indonesia dikatatan sebagai negara yang cerdas. Ia berbicara demikian ditemani oleh sahabatnya dari salah sat band pung Gondile (Kameradz Majalengka) beliau adalah orang yang menerjemahkan segala pembicaraannya. Ia pun bercerita bahwa Mergy Ellery selama di Ausrtalia pernah membuat sekolah di penjara, dari ulah perbuatannya itu Mergy pun rela di penjara karena dianggap telah membuat sistem baru yang pemerintah Australia itu tidak menerima terkait tindakannya. Namun menurut Mas Roby (Pedati Pustaka Bayalangu) bahwa ini adalah gerakan yang sangat luar biasa, yang mungkin akan menjadi dampak yang amat besar.


Mergy Ellery sendiri adalah sosok yang memiliki banyak hoby dari otomotif, berliterasi dan bermusik. Konon katanya ketika ia mengisi acara seminar di Australia selama satu jam, jika di rupiahkan nilainya sejumlah 4 juta per/jam. Namun ketika datang di Cirebon berbicara berjam-jam secara gratis. Ini adalah bagian keuntungan berkawan dan berbagi suatu informasi.


Dalam suatu pergerakan. Walaupun selama beberapa tahun lamanya memiliki suatu perubahan yang belum maksimal, setidaknya sudah memberikan dampak bagi masyarakat seluruh Indonesia dan dunia yang merespon sangat baik. Dan terima kasih kepada Nirwan Ahmad Arsuka (Founder Pustaka Bergerak Indonesia) yang sudah memberikan suatu pengharagaan baik berupa sarana buku ataupun barang. Sehingga mampu memberikan suatu perubahan yang berdampak lebih sebagai contoh pergerakan di Asia dan Eropa.



Artikel Terkait

Perempuan Dan Pernikahan

Perempuan Selalu Menjadi Sasaran Utama Di Masyarakat. Mereka Sering Kali Diterkam Dengan Segudang Pertanyaan Mengenai Dirinya. Perempuan Lajang Selalu Akan Dihujani Pertanyaan 'kapan Kamu Nikah?'....

Sesudah 2004 Dan Sikap Kita Atas Bencana

Siang Itu, Pak Syamsuddin, Tuan Rumah Tepat Kami Tinggal Selama Dua Bulan Menjalani Kuliah Kerja Lapangan (kklp), Datang Tergesa Yang Disambut Heran Oleh Istrinya. Kami Mendengar Perbincangan...

Turun Gunung

Turun Gunungada Keindahan Dalam Hutanada Hutan Dalam Keindahandiantara Ribuan Bahkan Jutaan Pohon Cengkehrumah-rumah Kobong Berdiri Kokohdi Sela-sela Pohon Saguada Nyanyian Para Burungberjalan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul