Numpang Perahu Padewakang Melayarkan Buku

Picture by Muhammad Ridwan

Ditulis Oleh : Muhammad Ridwan - 08 Januari 2020


“Sejatinya, membaca adalah esensi kegiatan #EkspedisiPadewakang. Pelayaran ini membaca masa lampau, membaca sejarah dan kebudayaan bahari, membaca memori yang masih tersisa, dan kepada adik-adik di pulau kecil yang dilewati pelayaran, memberikan bahan bacaan,” demikian status saya di postingan Instagram dan Facebook, saat mengunggah kegiatan lapak baca kedua yang dilaksanakan di Wai Wuring, P. Adonara, Flores Timur, NTT.


Dalam ekspedisi perahu padewakang yang kami laksanakan, ada kegiatan ‘tidak resmi’ yang saya ikutkan, yakni menjadikan pelayaran ini sebagai wahana membawa bahan bacaan ke adik-adik di pulau yang akan kami singgahi. Bila biasanya saya dan teman-teman relawan menggunakan Perahu Pustaka, maka kali ini kami, khususnya saya dan Yusuf Wahil jurnalis foto yang juga relawan Armada Pustaka Mandar, nebeng di perahu padewakang.


Misi utama ekspedisi padewakang adalah membawa perahu dari Makassar ke Australia. Pikir saya, kan pasti singgah di pulau kecil, pasti ada waktu kosong (bukan melulu urusan perahu) saat singgah di pulau. Dari pada luang saja, mending diisi dengan kegiatan literasi.


Idenya lambat muncul, menghitung hari menjelang keberangkatan kami di Makassar awal Desember 2019 lalu. Kebetulan waktu itu ada juga bazar buku Big Bad Wolf di Celebes Convention Center, sering dilaksanakan di Jakarta tapi pertama kali di Makassar. Pulang dari bazar terbersit ide. Awalnya minta donasi buku (saya posting ke media sosial), menyusul donasi uang. Banyak yang mau sumbang tapi kejauhan. Jadi donasi uang yang masuk kami belikan buku di BBW. Untung beberapa relawan Armada Pustaka Mandar ada di Makassar, seperti Tajriani Thalib, Imam, dan Yusuf Wahil. Mereka semua yang menampung donasi dan membelikan buku-buku.


Singkat cerita, kami membelikan buku donasi, kalau tidak salah ingat antara 2-3 juta, buku-buku berkualitas. Itu kami bawa di pelayaran. Kegiatan melapak pertama kali diadakan di Larantuka, Flores Timur, NTT, 27 Desember. Di kegiatan tersebut kami bekerjasama dengan Simpasio Institute, komunitas literasi setempat.


Teman-teman dari Simpasio membantu memanggil adik-adik untuk datang membaca. Mereka juga menyiapkan fasilitas tempat (tikar), sebagian besar bahan bacaan, dan makanan (snack) yang dibagikan ke adik-adik pembaca. Usai kegiatan membaca, ada sesi berkisah tentang pelayaran kami oleh salah satu kru, bang Anton Samalona. Setelah itu, meminta kesediaan adik-adik pembaca untuk meninjau apa yang mereka baca. Yang naik ke depan, dapat hadiah buku. Bukan hanya menceritakan apa yang mereka baca, kuis-kuis sederhana juga kami berikan. Misal nama-nama pulau di sekitar mereka.


Berikutnya kami laksanakan di Wai Wuring, 1 Januari 2020, sebagaimana yang saya tuliskan di awal. Bila biasanya melapak di ruang terbuka, saat di Wai Wuring kami meminjam ruangan rumah penduduk sebab gerimis. Anak-anak membaca, masih seperti biasa, membaca "saja". Setelah itu diajak meninjau bacaan lewat "pancingan". Ragu, malu dan takut salah juga menyertai, hal yang sering kami dapati. Sedikit-sedikit dimulai berupa pertanyaan, misal, nama ikan dalam bahasa lokal. Mereka antusias dan lincah jawab. Nanti dari situ kembali masuk ke buku. Dan, itu sedikit berhasil menumbuhkan kepercayaan diri di adik-adik pembaca.


Tuan rumah senang kediamannya ditempati membaca. Ada buku yang dia sukai (saya lupa judulnya, tapi buku agama), dia minta. “Oh iya pak, kami bisa kasih, silahkan ambil,” kata saya kepadanya.


Lepas berlabuh dari Wai Lolong, Pulau Lembata, perahu padewakang rencananya menuju P. Alor. Sebab ada masalah patah kemudi, kami memutuskan singgah di P. Pentar untuk mengganti kemudi. Di situ jadi lama, tiga hari. Cuaca buruk membuat kami memutuskan untuk berlabuh di situ beberapa hari. Sabtu sore atau 4 Januari, lapak baca ketiga kami buka di Desa Ile, Pulau Pentar. Belum masuk sih P. Alor, tapi sudah masuk wilayah kabupaten paling timur NTT tersebut.


Di pantainya, bukan pasir tapi tebing karang, ada balai-balai beratap di situ. Di situ saya dan Yusuf gelar bacaan. Tempat itu saya lihat saat di pagi hari pergi bersama anak-anak setempat menangkap ikan menggunakan jaring/pukat. Saya sampaikan nanti sore saya akan bawa buku ke kampung mereka. Mereka sangat antusias.


Meski hujan, yang membuat kami kembali menumpang rumah penduduk, mereka tetap semangat membaca. Walau yang datang membaca ga sampai selusin, kegiatan meninjau bacaan tetap dilakukan. Hanya saja, hampir semua dari mereka belum bisa menceritakan apa yang mereka baca. Jadi kami ganti dengan hal lain, khususnya kuis-kuis. Karena peserta sedikit, semua yang membaca dapat hadiah buku. Minimal mereka bisa memperkenalkan diri di hadapan kami dan teman-temannya.


Lusanya, 6 Januari, kegiatannya bukan membaca teks, tapi membaca padewakang, yakni menggambar. Dilaksanakan di Desa Bara Nusa (hanya berjarak beberapa puluh meter dari titik lapak di Desa Ile), di dermaga kapal feri merapat yang tidak terpakai. Kami bagikan kertas menggambar dan pensil warna ke 15 adik-adik yang berpartisipasi. Sepertinya mereka tidak pernah ada pengalaman intens menggambar. Sebagian besar dari mereka lama baru bisa menggoreskan pensil warnanya. Oh iya, kami meminta untuk menggambar perahu padewakang. Karena ada yang sulit menggambar padewakang yang memang rumit, “grade”-nya diturunkan, gambar sampan saja. Tetap kesulitan. Meski demikian, ada yang berhasil menggambar. Gambar-gambar mereka unik, mengingatkan gambar atau motif padewakang yang pernah dibuat oleh orang-orang Aborigin di Australia Utara di gerabah, kulit kayu, dan tebing batu.


Sewaktu di Bara Nusa, saya mendapat info bahwa ada komunitas literasi di desa seberang teluk yang kami tempati. Nama komunitasnya Suluh Muda. Saya cek di group Facebook PBI, ya, ada di situ, ada kontak personnya. Sayangnya, saat saya telepon, teleponnya tidak aktif. Kalau bisa ketemu, beberapa buku bisa kami donasikan, sebagaimana yang kami lakukan di Larantuka, ke Simpasio Institute.


Demikian deskripsi singkat tentang kegiatan literasi yang saya dan Yusuf Wahil lakukan dalam pelayaran ekspedisi perahu padewakang ini. Masih ada beberapa pulau yang akan kami singgahi, mudah-mudahan kami ada waktu memberi bahan bacaan ke adik-adik di kawasan ini (NTT dan Maluku Tenggara Barat).


Apa yang kami bawa tidak seberapa dalam hal kuantitas, dari segi kualitas, saya yakin apa yang mereka ikuti, bisa menjadi salah satu memori terbaik di masa kecil mereka.


Catatan: Dokumentasi kegiatan lapak baca selama pelayaran perahu padewakang bisa dilihat di Instagram @ridwanmandar


John Doe
Muhammad Ridwan
Father, author, journalist, traveller, librarian, photograph, pirate

Artikel Terkait

Tentang Jurnalistik

Setengah Tahun Lebih Sejak Pemberitahuan Untuk Belajar Dirumah, Selama Itu Pula Rasanya Sepi, Tak Ada Lagi Tawa Dan Belajar Diskusi. Begitu Juga Yang Dirasakan Mereka, Rasa Dan Raga Harus...

Meningkatkan Pendidikan Folklore Di Era...

Folklore Adalah Adat Istiadat Warisan Budaya Yang Tidak Dibukukan Dan Menjadi Warisan Turun Temurun. Folklore Bersifat Diciptakan Artinya Menyebar Dari Mulut Ke Mulut. Folklore Bersifat...

Ceria Lomba Agustusan

Cerita Lomba Agustusanwuluhan- Pada Hari Minggu, 6 September 2020, Para Pemuda Kampung Gumuk Asem, Dusun Karangsono, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember Sedang Menyelenggarakan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul