Ngobrolin Buku Dan Suara-suara FCL

Picture by Pustaka Bergerak Indonesia

Ditulis Oleh : Pustaka Bergerak Indonesia - 04 Januari 2021

Catatan kecil dari Ngobrolin#7 PBI oleh Imhe Mawar

“Saya tidak mau ada ade-ade yang seperti saya, cukup saya yang tidak tahu, jangan lagi mereka,” ungkap Agus Mandowen, relawan Noken Pustaka Papua di acara Ngobrolin#7 yang diselenggarakan Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), Sabtu, 12 Desember 2020 melalui ruang Zoom. Sesi Ngobrolin kali ini menghadirkan para pekerja bergerak yang menembus batas-batas, mereka berbagi rasa merdeka lewat buku-buku. Selain Agus, ada Robianto relawan Pedati Pustaka Bayalangu yang juga hidup sebagai pekerja serabutan, ada pemulung limbang Qadry Paolai dari Bilik Pustaka Salabose, dan tukang kuda Ridwan Sururi yang membawa buku-buku menemui pembacanya dengan Kuda Pustaka di kawasan Gunung Slamet.

Agus berjalan jauh membawa Noken—tas rajut tradisional karya tangan mama-mama Papua—berisi buku-buku. Konon tas tradisional Noken ini adalah simbol kehidupan yang lebih baik. Doa dan harapan serupa para relawan Noken Pustaka seperti Agus yang berjalan membawa buku mendatangi kampung-kampung, agar adik-adik di Papua juga bisa mengakses bacaan bergizi dari buku-buku yang dibawanya. Jika jarak kampung yang hendak dikunjungi cukup jauh, Agus akan mengendarai motor. Agus tak sendiri, dia akan bersama kawan-kawannya sesama relawan Noken Pustaka. “Tak bisa jalan sendiri, karena harus memanggul motornya lewat sungai. Saya ada teman yang juga kuat, kami sama-sama atlet angkat besi,” ungkap Agus.

Saat pandemi, Agus tetap bergerak membawa Noken berisi buku-buku, tapi tidak melapak di tempat keramaian. Agus mendatangi rumah-rumah membawakan buku-buku agar adik-adik pembaca Noken Pustaka tetap bisa belajar. Tak sekadar mengantarkan buku, Agus seringkali menemani adik-adik ini untuk belajar. Mama-mama senang Agus datang bawa buku, Mama-mama sangat terbantu. Selama pandemi, anak-anak di Papua juga di seluruh Nusantara tak bisa berkumpul dan belajar di sekolah. Buku dalam wujud fisik akan sangat membantu mereka tetap bisa belajar dari rumah masing-masing.

Himbauan belajar secara daring nyatanya tak bisa diakses oleh semua anak-anak di negeri ini. Untuk bergabung di ruang Zoom dan berbagi cerita di Ngobrolin#7, Agus terpaksa harus numpang di rumah Pak Misbah di Pasir Putih Manokwari, karena jaringan internet di tempatnya tidak mendukung. Jadi jangan membayangkan kelancaran dan kenyamanan anak-anak di kota yang hidup berkecukupan, sehingga bisa menikmati belajar secara daring serta mengakses bahan pembelajaran di dunia maya dengan mudah. Sebagian anak-anak di negeri ini masih sangat membutuhkan buku secara fisik, seperti di Papua, alasan itulah yang membuat Agus tetap bergerak meski sedang musim pagebluk.

Sebelum lanjut cerita Ngobrolin Buku, mari kita pindah cerita. Suatu waktu di masa pegebluk ini, saya mengajak beberapa kawan saya untuk bertemu di ruang Zoom. Salah satu kawan yang kebetulan sedang tugas di Papua, tepatnya di Agats, sebuah distrik di Kabupaten Asmat, meminta agar pertemuannya ditunda. Karena ruang bertemunya di Zoom, saya pikir tak bakal terlalu repot. Tapi ternyata bertemu 1-2 jam di ruang Zoom ternyata cukup berat diongkos buat kawan saya itu. “Mhe, di sini—Mumugu Batas Batu—, kuota enam gigabita itu harus ditebus dengan lima ratus lima puluh ribu rupiah,” kata kawan saya lewat sambungan telpon. 1 GB seharga Rp 120 ribu, dan 2 GB Rp 230 ribu. Di Agats, ada juga voucher tanpa batas kuota tapi terbatas waktu yakni Rp 100 ribu untuk 10 jam pemakaian. Tak hanya mahal, persoalan lain yang dialami di sebagian wilayah Papua juga Nusantara adalah kapasitas bandwidth-nya terbatas alias rendah. Kabarnya, pertengahan tahun ini ada perbaikan jaringan internet di Papua, tapi kata kawan saya, jaringan internet hanya lancar di wilayah-wilayah birokrasi pemerintahan. Dari cerita kawan saya itu, kita bisa membayangkan berapa banyak pelajar yang akan kesulitan belajar secara daring.

Kembali ke cerita Ngobrolin Buku, kali ini saya ingin mengajak kawan-kawan berjalan-jalan ke Jawa Barat, di Desa Bayalangu, ke tempat Robianto yang berkeliling membawa buku-buku menggunakan Pedati Pustaka menemui pembacanya yang kebanyakan anak-anak. Pria berusia 36 tahun ini dimasa remajanya terkenal cukup nakal, tapi bukan sosok yang tak punya kepedulian, sepulang dari Malaysia—3 tahun dia bekerja sebagai TKI—dia melihat anak-anak di desanya sampai jam 3 dinihari belum tidur, mereka hanya sekedar nongkrong dan tak punya kegiatan yang berarti. Melihat kondisi itu, dia berpikir bagaimana dia bisa membantu masyarakat.

Bermodalkan 20 buku, Kang Robby pun bikin perpusja—kependekan dari perpustakaan jalanan—dan pertama kali melapak di alun-alun Cirebon, hasilnya tidak ada yang datang. Tapi itu tak menyurutkan semangatnya, dia percaya ada banyak anak-anak yang senang membaca dan membutuhkan buku-buku. Pada 2015 dia berkenalan dengan Nirwan Ahmad Arsuka, yang memberinya sekardus buku. “Satu kardus buku itu napas pertama saya, saya semakin semangat bergerak,” ungkap Robby yang bercerita melalui sambungan telpon. Selama 6 bulan ia berkeliling berjalan kaki mendatangi berbagai desa menemui pembacanya. Barulah setelah itu dia membikin pedati yang ditarik menggunakan motor jika hendak berkeliling.

Selama berkeliling di 34 desa di Cirebon, Kang Robby menemukan bahwa minat baca anak-anak sangat besar. Malah anak-anak selalu menantikan kedatangannya membawa buku-buku, kegembiraan luar biasa tampak dari wajah anak-anak jika Pedati Pustaka datang, mereka bertambah gembira jika menemukan buku-buku koleksi terbaru. “Bang Robby kemana aja? Kami bingung mau cari buku kemana!” tanya anak-anak saat Kang Robby muncul di alun-alun dengan Pedati Pustaka. Pandemi sempat membuat Kang Robby absen berkeliling melapak buku.

Demi memenuhi kebutuhan pembacanya, Kang Robby selalu berusaha menambah koleksi buku-buku di Pedati Pustaka, saat Free Cargo Literacy (FCL) tiap bulan ia mendapat kiriman buku-buku dari donatur, bahkan pernah satu waktu dalam sebulan ia mendapat 300 kilogram buku donasi. Buku-buku itu tak hanya digunakan Pedati Pustaka saja, tapi juga dibagikan ke simpul-simpul pustaka lain. Setiap kali mendatangi sebuah desa, di desa itu selalu dihidupkan simpul pustaka baru. Kang Robby biasa meminjamkan 100 eksemplar buku sebagai modal awal simpul pustaka tersebut.

Selain menunggu kiriman buku dari para donatur, Kang Robby juga rajin berburu buku dirongsokan. Sering kali Kang Robby menemukan buku-buku bagus, salah satu buku yang nemu dirongsokan “Dibawah Bendera Revolusi”. Untuk menebus buku-buku dirongsokan hanya Rp 5.000 untuk tiap kilogramnya.

Seperti Bang Agus, Kang Robby juga adalah seorang buruh serabutan, kadang-kadang bekerja sebagai buruh bangunan, kadang juga menjadi buruh tani. Meski bekerja sebagai buruh serabutan, Kang Robby punya cita-cita besar dalam upaya ikut mencerdaskan generasi muda dengan menyiapkan akses bacaan yang buka selama 24 jam. “Siapapun warga yang ingin pinjam buku bisa datang sendiri dan tulis sendiri,” ungkap Kang Robby. Rumah baca yang dibuat Kang Robby itu sudah beroperasi selama 4 tahun. Iya percaya, jika anak-anak bisa mengakses bacaan dengan mudah, mereka pada akhirnya akan menemukan keasyikan membaca. Seperti pengalaman Kang Robby sendiri saat masih duduk di bangku kelas 5 SD, karena menemukan keasyikan membaca, dia sampai mengabaikan sekolah. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Tan Malaka yang menjadi idolanya.

Jika Kang Robby berkeliling dengan motor menarik Pedati Pustakanya, Ridwan Sururi berkeliling menggunakan kuda menyebar bacaan di kawasan kaki Gunung Slamet di Jawa Tengah. Dari Senin hingga Jumat, Pak Ruri sudah punya jadwal rutin mendatangi 10 sekolah. “Tadinya dua belas sekolah, tapi yang dua tidak lagi karena kebetulan sekolah tersebut dekat dari rumah. Menghentikan kunjungan kedua sekolah tersebut sekaligus untuk melihat efek kunjungan sebelumnya, ternyata anak-anak itu banyak yang datang ke rumah untuk pinjam buku,” ungkap Pak Ruri. Menurutnya, itu adalah bukti bahwa anak-anak itu senang membaca, membaca itu bisa jadi candu, jadi perlu menyiapkan akses bacaan. Tak sekedar membawa buku, Pak Ruri juga seringkali bercerita dan mendongeng kepada murid-murid SD ini. Tak hanya berkunjung ke sekolah, Pak Ruri juga sering datang ke tempat anak-anak ngaji.

Membawa buku dengan kuda, kata Pak Ruri memberi kesenangan kepada anak-anak yang membuat tertarik untuk mendekat. Jika Senin hingga Jumat Pak Ruri berkeliling sekolah menyebar bacaan, lelaki yang berprofesi sebagai tukang kuda ini baru mencari nafkah p

ada Sabtu-Minggu dengan mendatangi tempat wisata dan menyewakan kuda tunggang.

Berprofesi sebagai tukang kuda inilah yang mempertemukan Pak Ruri dengan Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia. “Kami berteman di Facebook, beliau beli kuda saya pada 2014 lalu, dari situ perbincangan berlanjut hingga akhirnya gagasan Kuda Pustaka lahir,” ungkap Pak Ruri. Pak Nirwan juga mengirimkan beberapa kardus buku diawal-awal Kuda Pustaka bergerak.

Meski hanya tamatan SMP, Pak Ruri ‘kecil’ adalah sosok yang suka membaca, terutama cerita-cerita kolosal. Di masa lalu, Pak Ruri seri menulis cerita untuk Album Dunia Dongeng di RRI.

Kuda Pustaka Gunung Slamet kini memiliki 5.000 koleksi buku. Menurut Pak Ruri, jumlah ini masih termasuk kurang, terutama koleksi buku-buku anak yang kurang dari 20 persen dari koleksi Kuda Pustaka, sementara pembacanya yang banyak justru pembaca anak. Saat program FCL masih ada, Pak Ruri tak harus bingung mencari buku-buku tambahan, karena hampir tiap bulan ada kiriman buku. Menurutnya, tambahan koleksi buku-buku ini membuat anak-anak makin semangat membaca. Semangat bergerak. (*)



John Doe
Pustaka Bergerak Indonesia
Pustaka Bergerak adalah jaringan masyarakat madani yang secara sukarela bekerjasama untuk membangun kekuatan dan kemandirian masyarakat lokal

Artikel Terkait

Ternyata Ada Ribuan Bahan Bacaan Gratis, Lo!

“kak Anggi, Sudah Dapat Novel Dan Referensi Yang Kakak Bilang Ditugaskan Bu Isnaini Kemarin?”“sudah Dong, Banyak Lagi”“wah, Keren Kak. Aku Pun Dapat Tugas Yang Sama Dari Bu Isnaini Di...

Tagline Lawan Unesco, Sebagai Bentuk Suatu Jawaban

Banyak Sekali Data-data Yang Tersebar, Terkait Minat Baca Anak Indonesia Yang Masih Terus Dikatakan Rendah Dan Selalu Di Presentasikan. Menilai Anak-anak Dari Semua Kalangan Di Indonesia Masih...

Gerakan Literasi, Beberapa Catatan

Geliat Gerakan Literasi Di Indonesia Kian Hari, Kian Gencar Terdengar. Melalui Media Daring, Televisi Maupun Media Cetak. Pun Munculnya Beberapa Komunitas, Club Baca Ataupun Pustaka Bergerak...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul