New Normal; Menakar Ketahanan Desa Dan Potretnya

Picture by Ahmad Saufi

Ditulis Oleh : Ahmad Saufi - 27 Juli 2020

Tulisan ini, merupakan sebuah pemikiran reflektif penulis dalam menganalisa kebijakan baru Pemerintah dalam menghadapi dan sebagai strategi untuk keluar dari permasalahan ekonomi. Kebijakan baru tersebut adalah Peraturan Presiden Nomor 82 tahun 2020 tentang Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi yang lebih memprioritaskan agenda disektor kesehatan dan pemulihan ekonomi secara bersamaan dalam skala nasional. Ekonomi Nasional perlu dipulihkan segera mengingat ketidak-pastian kapan virus ini akan hilang dan upaya Pemerintah agar tidak terjadi resesi ekonomi yang menjebak sehingga akan berdampak pada goyahnya ekonomi. Mengutip dari The Balance, resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa bulan, umumnya selama tiga bulan.[1] Pandemi covid-19 yang melanda Dunia dan khususnya Indonesia selama kurang lebih 5 bulan berpotensi untuk itu, sebagaimana negara di Kawasan Asia, Korea Selatan yang terlebih dahulu terkena resesi karena dampak dari Covid-19 dan potensi itu mengancam negara lain seperti Singapura dan bisa saja menimpa Indonesia. Semoga tidak terjadi dan kebijakan yang diambil ini sangat tepat dan bermamfaat.    


Namun tidak berlebihan jika saya melihat ini sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan dan mengairahkan ekonomi dari berbagai sumber seperti Industri Penerbangan, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan dunia Pariwisata. Daerah punya skema yang berbeda dalam pembangunan berkelanjutan dan memacu potensi Desa agar mandiri dan berdaya. Jauh sebelum adanya Covid-19 melanda, Daerah dan Desa sudah melakukan pemberdayaan dalam bentuk pengembangan Desa Wisata dan sumber ekonomi lain lewat pelembagaan ekonomi yang berbentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Konsep ini, justru dianggap baik karena mempersiapkan Desa dengan potensi sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi situasi darurat yang berpengaruh pada tatanan hidup baru. 


Penulis melihat begitu penting dalam kesiapan menghadapi kondisi New Normal dan sebagai kekuatan pemulihan ekonomi di daerah salah satu yang unik dan menarik adalah kemajuan yang dilihatkan dari potret gambaran tumbuh dan berkembangnya Desa Wisata di Provinsi Jawa Tengah. Provinsi yang berada di Tengah Pulau Jawa ini memiliki luas wilayah 32.800,69 km², atau sekitar 28,94% dari luas pulau Jawa yang tersebar di 35 Kabupaten/Kota. Berdasarkan Data BPS tahun 2020 jumlah penduduknya mencapai 34.718.204 jiwa dengan kepadatan sebesar 1.058,46 jiwa/km².[2]


Wilayah dengan beragam kekayaan sumber daya dan keindahan alam yang dimiliki baik bersifat alami maupun buatan hasil kreatifitas manusia. Secara historis daerah ini juga berjaya sebagai pusat perdagangan dimasa Kerajaan dan sekarang daerah ini maju karena didukung letak geografis yang strategis untuk dikembangkan terutama pariwisata. Banyaknya tempat-tempat bersejarah bekas peninggalan Kerajaan, Artepak dan bangunan Pra-Sejarah di Sangiran hingga bangunan bekas penjajahan Belanda seperti Lawang Sewu dan megahnya Candi Borobudur menjadi daya tarik wisatawan Domestik maupun turis Internasional. Tidak hanya wisata yang berbasis Urban dan berskala Perkotaan tetapi wisata Pedesaan yang berkontribusi positif bagi kemajuan ekonomi di daerah tersebut.


Penulis mengajak para pembaca untuk melihat potret kemajuan Desa Wisata di Jawa Tengah, yang menyimpan keindahan dan pesona alam yang belum terdokumentasikan dengan baik sehingga upaya kedepan untuk mempromosikan menjadi tugas bersama berbagai pihak lintas sektor.


Geliat Desa Wisata

Keberhasilan implementasi kebijakan Pemerintah Daerah tersebut terlihat dari geliat tumbuhnya Desa Wisata selama 4 tahun terakhir yang seakan Desa berlomba untuk melakukan pemetaan potensi yang akan dikembangkan. Data Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah (2019), mencatat perkembangan pesat dan peningkatan per tahunnya yakni sebanyak 126 Desa Wisata (2015), 145 (2016), 147 (2017), dan 229 (2018). Pemprov Jawa Tengah melihat ini sebuah peluang maka dibuatlah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2019 tentang Pemberdayaan Desa Wisata sebagai bentuk dukungan yang bersifat infrastruktur dan pemberdayaan. Menarik jika kita melihat secara mendalam tentang isi Perda tersebut adalah Bagaimana Strategi dan Basis Pemberdayaan yang akan dilakukan?


Strategi pemberdayaan yang dimaksud sebagaimana tersebut pada Pasal 5, dianaranya adalah: a). Melakukan identifikasi nilai-nilai budaya yang ada dan potensial untuk dilestarikan dan dikembangkan; dan b). Pemberdayaan potensi wisata desa untuk dibangun dan dikembangkan. Adapun yang menjadi Basis Pemberdayaan sebagaimana tercantum pada pasal 6 ayat 1 adalah: a). Wisata yang berbasis sumber daya alam antar lain huan, perkebunan rakyat, nahari, gas bumi dan sumber air panas dalam model pengembangan wisata agro; b). Wisata yang berbasis tradisi budaya dan kearifan lokal seperti upacara adat, musik tradisional, tarian, situs, dan cagar bduaya, religi, arsitektur lokal, kerajinan lokal dan kuliner khas; c). Wisata buatan manusia yang berbasis kreasi, dan kreatifitas orang maupun kelompok seperti kerajian tangan dalam bentuk seni rupa, seni lukis, taman rekreasi, galeri dan sanggar budaya.[3]


Menurut Saharuddin (2009), semangat Desa dalam pembangunan potensi Wisata bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan sebagai upaya bersama penanggulangan kemiskinan baik di Perkotaan maupun di Pedesaan.[4] Semangat bersama dalam pengentasan kemiskinan harus diperhatikan secara khusus dan terpadu. Pemerintah merancang program penanggulangan kemiskinan yang bersifat bottom-up, yang berarti mengedepankan peran aktif masyarakat sebagai titik sentral pembangunan kebutuhan masyarakat setempat. Hadirnya Desa Wisaya bertujuan merangsang kesadaran masyarakat guna mengembangkan potensi sumber daya dan mengairahkan perekonomian Desa. Desa wisata menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), jika dikelola dengan baik dan profesional serta mendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan dan kesejateraan ekonomi desa.


Potret Baik Desa

Salah satu potret baik dalam pengelolaan dan dianggap berhasil di Jawa Tengah adalah Desa Wisata Umbul Ponggok yang terletak di Kabupaten Klaten. Desa Ponggok adalah salah satu desa dari 898 Desa Wisata yang terbentuk dari tahun 2013-2018. Desa ini sudah terkenal hampir diseluruh Indonesia, dengan aktifitas Bumdes yang produktif dengan unit usaha seperti Toko Desa, Wisata, Penginapan (Home Stay), dan sumber lain dari jasa disektor Pertanian dan Perikanan. Desa ini juga bisa mengoptimalkan potensi berupa wahana wisata air dari sumber mata air alami yang digunakan sebagai tempat pemandian sekaligus menjadi tempat berenang dan menyelam kedasar air (snorkeling) dengan ditemani kawanan Ikan berwarna warni memanjakan mata dan menikmati pemandangan ketika berada didalamnya. Kini Desa Ponggok bukan hanya menjadi tujuan wisata saja, banyak dari Pemerintah Desa diberbagai Daerah menjadikan Ponggok sebagai Pusat Penelitian dan Studi Banding dalam pengelolaan Dana Desa dan Pemetaaan Potensi Desa.


Hadirnya wahana wisata air tentu membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru. Studi yang dilakukan Saufi (2020:105), angka kemiskinan Dasar per Kepala Keluarga (KK) di Desa Ponggok mengalami penurunan dari sebelumnya berjumlah 81 KK di tahun 2014 dan ditahun 2018 menjadi 54 KK. Sedangkan kondisi penduduk mengalami peningkatan yang sebelumnya berjumlah 2041 KK (2014), menjadi 2150 KK (2018).[5] Penurunan tingkat kemiskinan ini disebabkan adanya usaha perbaikan perekonomian masyarakat dan tersedianya lapangan pekerjaan baru dan serapan tenaga kerja lokal masyarakat Desa yang pengelolaannya melalui Badan usaha Milik Desa.

Diakhir tulisan ini, penulis memberikan sebuah rekomendasi singkat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan ketahanan Desa dimasa New Normal. Banyaknya Desa Wisata yang terbentuk tentu tidak semuanya berhasil dalam mengangkat perekonomian warga lokal karena kurangnya inovasi dan pemetaan yang serius dengan mengedepankan sisi sosial dan pemberdayaan sebagai fokus pembangunan. Desa Wisata bukan hanya menjual keindahan alam dan panorama saja, tetapi pemberdayaan masyarakat itu harus utama dalam meningkatkan cara pandang, penerimaan awal dan masyarakat diajak untuk ikut bersama memajukan desa dan pihak terkait sebagai mitra kerjasama dalam pembangunan.


Menghadapi New Normal tentunya tidak mudah, perbaikan ekonomi dan kesehatan menjadi pilihan utama. Namun, melihat kondisi realistis sekarang ini mengingat Data sebaran covid-19 masih sangat tinggi berdasarkan Data Harian Dinas Kesehata Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu 25 Juli 2020, tercatat angka kasus positif sebanyak 8.227 jiwa dengan rincian sebanyak 3.025 orang (36,77 %) telah dirawat, 4.505 orang (54,76 %) dinyatakan sembuh dan meninggal dunia sebanyak 697 orang (8,47%).[6]

Rekomendasi tersebut penting pada masa adaftasi kebiasaan baru untuk memetakan kembali peta jalan potensi sumber daya manusia (SDM) dan objek yang akan dikembangkan, diantaranya adalah a) Penguatan SDM lokal yang bertugas sebagai pengelola Desa Wisata; b) Identifikasi potensi baru yang bisa dikembangkan; c) Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi, sosial dan budaya; d) Promosi wisata melalui media sosial dan website dan media cetak atau elektronik harus digencarkan; dan e) Pengelolaan manajemen organisasi dan keuangan harus berdasarkan prinsip profesional dan keterbukaan.


Tulisan ini, sebagai membuka peta jalan awal untuk meninjau lebih dalam dan detil bagaimana skema format dan bentuk strategi pemberdayaan Desa Wisata dan hubungannya dengan pemulihan ekonomi skala lokal baik Daerah dan Desa. Selanjutnya Penerapan Collaborative Goverment dan membangun kemitraan dengan pihak terkait sangat penting baik Swasta maupun Universitas dalam membangun Desa berbasis Riset untuk Desa Sejahtera, Maju Indonesia.   


Referensi

[1] Kompas (2020). Apa itu Resesi. https://money.kompas.com/read/2020/03/27/082811026/apa-itu-resesi

[2] Badan Pusat Statistik (BPS). (2020). Provinsi Jawa Tengah Dalam Angka. www.jateng.bps.go.id.

[3] Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2019 tentang Pemberdayaan Desa Wisata

[4] Saharudin. 2009. Pemberdayaan Masyrakat Miskin Berbasis Kearifan  Lokal. Vol. 3 No. 01. Hal. 17-44

[5] Ahmad Saufi. (2020). Analisis Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Upaya Menumbuhkan Perekonomian dan Menekan Kemiskinan Di Desa Ponggok Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Public Administration Journal of Research. Vol 2 No 1: Hal. 95-108.

[6] Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2020. Sebaran Kasus Covid-19 Di Jawa Tengah. https://corona.jatengprov.go.id/data

 


John Doe
Ahmad Saufi
Narasi yang menentramkan alam pikiran dan perbuatan.

Artikel Terkait

Mengeja Permainan Badaruddin Amir

Prolog suatu Siang Di Lobi Hotel Di Tahun 2019, Seorang Lelaki Tua Berkacamata Sedang Duduk Sendirian. Di Kepalanya Bertengger Topi Yang Kesannya Asal Dipakai. Lelaki Itu Sudah Saya Kenal...

Waktu Teman Paling Kekal

Waktu Teman Paling Kekaltak Ada Rumah Yang Ditujumelepas Sekilas Setumpuk Resahmengurai Rindu Yang Ditolak Harapansebelum Sempat Menjamah Wajah Yang Semakin Asingwaktu Teman Paling Kekalmenyuapku...

Autophile

Dua November 2019, Adalah Bukan Pertama Kalinya Aku Pergi, Dan Do Something Sendiri. Dekat Atau Jauh, Dan Apapun Aktivitasnya, Nyatanya Sendiri Terkadang Memang Lebih Banyak Memberi Arti. Salah...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul