Menjadi Muslim Yang Berkecerdasan Sosial

Picture by Fathan Faris Saputro

Ditulis Oleh : Fathan Faris Saputro - 09 Januari 2020

Sudah dimaklumi bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah “beribadah” hal inilah yang lebih sering disosialisasikan dalam khutbah dan ceramah keagamaan. Namun, ibadah sebagai perwujudan ketundukan makhluq kepada sang khaliq. Harus dibuktikan secara emprik dalam seluruh aktivitas social kemanusiaan.


Ketaatan manusia dalam bentuk ibadah kepada tuhannya harus dibuktikan ke dalam seluruh tindakannya. Sehingga  dapat menggambarkan ketaatan sepenuhnya kepada tuhannya pada seluruh aktivitas kehidupannya, termasuk di dalamnya ketika seorang membuktikan kematangan dirinya dalam bentuk “kecerdasan social”. Sebuah kemampuan untuk berkontribusi positif bagi orang lain, karena dia memandang bahwa orang lain merupakan bagian dari dirinya yang harus diuntungkan sebagaimana dirinya berusaha untuk memperoleh keuntungan.


Saat ini, ditenggara banyak orang yang memiliki kemampuan berkarya untuk dirinya dan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya, tetapi tidak atau paling tidak kurang berkemampuan untuk memberikan kontribusi positif bagi orang lain. Dalam dunia bisnis, misalnya seseorang akan terasa sulit mempersepsi kompetitornya sebagai mitra yang harus diuntungkan, dan oleh karenanya dia hanya akan berupaya untuk menjadikan orang lain sebagai pihak yang akan dikeruk untuk menghasilkan keuntungan bagi dirinya. Praktik di dunia bisnis ini pun banyak berlaku dalam interaksi sosial yang lain, karena seseorang telah terjebak dalam sebuah cara pandang: “yang terpenting adalah aku”.


Dalam sebuah Hadits yang sangat popular, Rasulullah saw. Pernah mengigatkan kepada umatnya untuk tidak terjebak dalam cara pandang seperti itu, dengan sabdanya yang bisa kita elaborasi pemahamanya menjadi: “Tiada sempurna iman seseorang, sebelum dirinya melihat arti penting orang lain bagi dirinya sebagaiman dia melihat arti penting dirinya bagi diri sendiri”. (HR Ahmad)


Makna hadits diatas, dalam konteks keberagaman kita sebenarnya merupakan interpretasi rasional-empirik Rasulullah saw. Dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak kepada setiap orang yang beriman untuk membuktikan keberimanannya dalam wilayah konsekuensional. Iman harus terimplikasi vertical, juga (berdimensi) horizontal. Dalam dimensi vertikalnya implementasi iman berbentuk “keshalihan ritual”, sedang dalam dimensi horisontalnya, di samping berbentuk kecerdasan intra-personal, juga harus terimplementasi dalam bentuk kecerdasan inter-personal dan sosial.


Kalau kecerdasan intra-personal berbentuk kepedulian seseorang untuk beramal salih untuk kepentingan dirinya, sedang kecerdasan inter-personal berbentuk kepedulian antar sesama manusia, maka kecerdasan sosial berbentuk kesediaan untuk berbagi kepada orang lain, yang antara lain dalam wujud pranata sosialnya berbentuk “sedekah”. Sebentuk kecerdasan yang memungkinkan seseorang manusia maju dalam bersikap, berbuat, dan berkarya secara dinamis dan konstruktif untuk orang lain, tanpa merasa kehilangan sesuatu. Bahkan, dengan cara pandangnya yang sudah terbentuk menjadi sebuah karakter, maka “sedekah” dipandang sebagai sebuah kenikmatan untuk berbagi yang dapat menghadirkan sesuatu yang lebih bernilai dari pada sebuah atau serangkaian pemberian yang diterima olehnya. Seseorang bahkan lebih merasa puas ketika memberi sesuatu kepada orang lain dari pada memiliki sesuatu dari hasil pemberian orang lain.


Sebenarnya fitrah manusia menghendaki kebersamaan. Dan salah satu wujudnya adalah kesadaran tentang adanya ketergantungan antar manusia. Setiap manusia sadar bahwa dia tidak mungkin hidup sendiri. Itulah pentingnya kecerdasan sosial bagi seorang Muslim.



John Doe
Fathan Faris Saputro
Aktif bergerak dalam dunia lingkungan hidup. peraih Award lomba menulis Kemenag Kabupaten Lamongan 2020

Artikel Terkait

Peran Amanah Dalam Kepemimpinan

Amanah Memiliki Akar Kata Yang Sama Dengan Kata Iman Dan Aman. Orang Yang Beriman Disebut Mukmin Yang Dapat Mendatangkan Keamanan Dan Dapat Menerima Amanah. Kuatnya Hubungan Antara Iman Dan Amanah...

Mewariskan Nilai-nilai Kepahlawanan Kepada...

Sejarah Mencatat Bahwa Kemerdekaan Indonesia Dirintis, Diperjuangkan, Dan Didirikan Oleh Para Pendahulu Atas Dasar Tekad Dan Semangat Untuk Bersatu. Maka Dari Itu, Jika Tekad Dan Semangat Untuk...

Reformasi Dikorupsi, Bergerak Dan Melawan

Putaran Demi Putaran Diskusi Telah Dijalankan, Aneka Protes Baik Di Media Sosial Maupun Nyata Telah Digalakkan. Mulai Dari Tolak Revisi Uu Ketenagakerjaan, Revisi Uu Kpk, Rancangan Uu Pertanahan,...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul