MENGGAPAI KEMERDEKAAN

Picture by Muhamad Mahdi

Ditulis Oleh : Muhamad Mahdi - 06 Juli 2020

Beberapa kali merasa gagal, depresi dan terpuruk karena harapan sendiri. Beberapa kali merasa sedih, kecewa, dan terluka karena pikiran sendiri. Beberapa kali merasa benci, kesal, dan dendam karena nafsu sendiri. 74 tahun lamanya negara Indonesia telah merdeka, apakah pantas menyebut diri kita sudah merdeka? Apakah sudah benar-benar yakin, bahwa kita telah merdeka? Yang jelas-jelas, kita mudah mengikuti, terpengaruh, atau apapun hal-hal yang membuat diri kita tidak menjadi tuan rumah diri sendiri. Seakan diri hilang arah, seakan diri tak punya jiwa, seakan diri mudah goyah. Saat ada yang terlihat bagus, rasanya ingin kita tiru, saat ada yang terlihat menjanjikan, rasanya ingin kita coba, saat ada yang terlihat menguntungkan, rasanya ingin kita miliki. Lantas, apa gunanya akal pikiran? Apa gunanya hati nurani? Kalau senantiasa menuruti nafsu sendiri.


Pada dasarnya, memerdekakan diri sendiri tidaklah mudah. Karena jiwa yang merdeka adalah jiwa yang tidak menuhankan manusia, harta, nafsu atau hal-hal di luar diri kita. Meski tidak mudah mewujudkan kemerdekaan diri dari belenggu yang menyiksa dan melunturkan kepribadian, bukan berarti menjadi suatu hal yang tidak mungkin. Karena ini adalah langkah awal untuk diri menjadi berdaulat, sehingga dampaknya adalah menjadi negara yang disegani, kesejahteraan yang terjamin, dan juga bisa dimampukan untuk menjadi adil. Berpuluh-puluh tahun lamanya kita tersiksa oleh belenggu yang tiada henti mencekik, sudah seharusnya kita jadikan kemerdekaan Indonesia sebagai momentum untuk bangkit dan berbenah. Kita coba untuk mengintropeksi diri, berdamai dengan keadaan, lalu cintai diri sendiri terlebih dahulu. Kenapa? Karena itu adalah langkah awal untuk kita untuk lebih baik. Sehingga kesadaran dalam diri pun sudah mulai muncul dan terbentuk. Setelah itu, akan ada di mana kita mengasah potensi-potensi dalam diri sendiri. Sehingga bukan materi yang menjadi orientasi hidup kita, melainkan menjadikan diri bermanfaat dan berguna bagi sesama. Dan dampaknya, materi atau uang yang akan datang kepada kita.


Bukan seberapa banyak harta yang dimiliki, namun seberapa mampu bersyukur dalam menjalani hidup. Seraya merapal doa-doa dalam heningnya malam, untuk menyadari bahwa kita hidup sebagai seorang hamba: bukan menjadi penguasa. Orientasi hidup bukan sekadar mengejar matrealistik, bahkan menjadikan surga ataupun neraka sebagai tujuan. Lebih dari itu. Agar kita dimampukan untuk menjadikan jiwa-jiwa yang merdeka. Jiwa-jiwa yang tidak goyah ataupun takut. Jiwa-jiwa yang senantiasa merindu, jiwa-jiwa yang senantiasa mau untuk bersatu, jiwa-jiwa yang senantiasa untuk saling merangkul, menjaga dan mengeratkan. Semoga kesadaran itu hadir dan segera untuk berbenah. Karena Indonesia sudah begitu lamanya tertidur, hingga kita semua diharuskan untuk bangkit (bangun dari keterpurukan) dan menjaga eksistensi Indonesia (setelah berdiri gagah saat di puncak). Ini bukan tentang satu orang, bukan pula satu golongan, namun seluruh makhluk yang ada di Indonesia. Semoga diridhoi. Bismillah.



John Doe
Muhamad Mahdi
Nuswantara - Semesta Raya

Artikel Terkait

Menghidupkan Yang Akan Mati

Sore Itu Mbah Kus Meminta Bantuan Cucunya. Dengan Perasaan Yang Senang, Si Cucu Bergegas Menuruti Permintaan Itu. Penuh Harap Seperti Biasanya Akan Diberikan Upah Setelah Terselesaikan. Namun...

Hak Asasi Manusia

1.   pengertian Hak Asasi Manusia Menurut Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Tahun 1948, Yang Disingkat Dengan Duham, Hak Asasi Manusia Adalah Sejumlah Hak Dasar Alamiah Yang...

Apa Itu Literasi?

Faktanya, Literasi Masih Banyak Belum Dipahami Banyak Orang. Literasi, Memang Sering Disebut Dalam Berbagai Diskusi Dan Seminar. Namun Dalam Realisasinya, Praktik Baik Literasi Belum Banyak...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul