Mengapa Thailand Begitu Perkasa Dibidang Pertanian?

Picture by Ahmad Saufi

Ditulis Oleh : Ahmad Saufi - 21 Juli 2020

Tulisan ini sebagai sebuah respon positif melihat kebijakan negara-negara sebelum dan mewabahnya pandemi covid-19 sehingga berdampak pada pemenuhan kebutuhan pangan sebuah negara. Pangan menjadi penting, dahulu isu kemiskinan manusia terjadi atas potret negara-negara pasca-penjajahan. Kini kelaparan atau krisis pangan melanda dunia karena wabah penyakit yang terus menelan korban dan dampaknya hingga hari ini sejak ditetapkan sebagai pandemi dan telah memasuki bulan ke-tujuh. Dikutip dari data terkumpul bersumber dari Johns Hopkins University, virus ini telah menyebar di 188 negara, dengan jumlah kasus positif menembus angka 14,3 juta. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 18 Juli 2020, telah mengumumkan kasus baru yang bertambah sebanyak hampir 260.000 dalam waktu 24 jam. Penambahan ini dianggap terbesar sejak pandemi terjadi, dan angka infeksi baru ini pertama kalinya melampaui angka seperempat juta jiwa umat manusia dalam satu hari. (bbcindonesia,2020).


Warga dunia selain fokus pada pencegahan himbauan tetap menjaga jarak (phisical distancing), memakai masker dan mencuci tangan. namun juga melakukan langkah jangka panjang yakni membuat benteng ketahanan pangan dan ekonomi sebagai solusi bagi warga terdampak pandemi. Penulis mencoba mengajak pembaca melihat apa yang dilakukan oleh negara Siam, sebuah nama yang sudah ratusan tahun lalu dituturkan oleh masyarakat sebagai penyebutan suatu daerah tersebut dan kemudian berubah menjadi Thailand pada tahun 1939. Nama Thailand mengandung arti “tanah orang-orang merdeka” dan menjadi spirit negara monarki konstitusional tersebut tidak pernah dijajah oleh siapapun. Kini negara gajah putih tersebut berjaya dan memiliki prioritas tinggi pada bidang pertanian. Kemajuan pertanian di Thailand tidak lepas dari praktek dan implementasi teknologi modern dalam proses pengelolaannya. Thailand menjadikan pertanian sebagai produk unggulan yang potensial dengan pemamfaatan lahan yang efektif dan baik.

 

Menurut data dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) memaparkan kondisi luas lahan pertanian di Thailand mencapai 221.000 kilometer persegi atau 43,3% dari total lahannya dengan rasio 1:0,32 hektar rata-rata jumlah penduduk.(okezone,2018). Memang tidak sebesar yang dimiliki Indonesia, menurut Bank Dunia pada tahun 2017 terdapat seluas 570.000 kilometer persegi lahan pertanian produktif. Tetapi fakta menarik muncul, Thailand yang luas lahan pertaniannya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia, mampu memaksimalkan hasil pertaniannya hingga mencapai 50 kali lipat lebih besar dibandingkan pertanian di Indonesia. Hal ini disebabkan banyak faktor terutama pada tingginya pemamfaatan teknologi industri pertanian yang canggih dan pola kebijakan subsidi pemerintah yang lebih tinggi. Jika melihat statistik yang ada, tidak heran pertanian di Thailand memiliki produktifitas lebih tinggi sehingga dapat melakukan 1-5 kali panen padi dalam setahun.(inagrichem,2016).

 

Setiap tahun jumlah penduduk dunia akan meningkat dan bahkan negara-negara di wilayah ASEAN termasuk Thailand. Menurut data dari Statista 2019, proyeksi penduduk di kawasan ASEAN pada 2018 berjumlah 647,45 juta jiwa dan Thailand berada pada posisi keempat dengan jumlah penduduk 67,79 juta jiwa. (Katadata,2019). Tekanan laju penduduk dan pemenuhan kebutuhan yang berbasis pangan, menjadi prioritas setiap negara dan meningkatkan produktifitas pertanian dan perlindungan petani. Lembaga Global Harvest Initiative memprediksi, kebutuhan pangan dunia pada 2050, meningkat tajam dua kali lipat dari saat ini seiring meningkatnya jumlah penduduk.

 

Apa Yang Sudah Dilakukan Thailand?

Padi menjadi komoditas utama dan perhatian serius pemerintah Thailand. Wajar bila ada sebuah visi besar sebagai dapurnya dunia (Kitchen of The World) dan telah terbukti sebagai salah satu negara eksportir beras terbesar didunia. Negara Gajah Putih ini pun membuat berbagai strategi untuk memajukan dunia pertanian. Menurut Frans Dabukke (2014:93), dalam studinya menyebutkan bahwa strategi tersebut adalah sebagai berikut 1) pengembangan kualitas hidup petani (smart farmer); 2) pengembangan efisiensi produksi pertanian, manajemen, dan ketahanan pangan; dan 3) pengembangan sumber daya pertanian secara efisien, seimbang, dan berkelanjutan. Disamping itu, Pemerintah Thailand juga telah membuat standarisasi untuk menjangkau pasar internasional, yakni dengan menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Agricultural Practices (GAP). Petani di Thailand digenjot untuk memenuhi kedua standarisasi tersebut dan pemerintah berperan besar mendampingi petani mulai dari penerbitan administrasi hingga mengeluarkan subsidi untuk sertifikasi petani. (infoagribisnis,2017). Standar ini diterapkan sebagai bagian visi besar dan meningkatkan kepercayaan dunia internasional akan kualitas hasil produksi pertanian dan mengangkat derajat petani lokal sesuai standar yang berlaku global.

 

Pembangunan pertanian yang telah dilakukan Thailand sangat diprioritas kepada perluasan lahan dan pemamfaatan hasil produksi padi, dan mengabaikan konversi. Saking seriusnya pemerintah Thailand melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap kualitas tanah yang subur dan kurang subur. Tanah yang subur akan diintervensi dengan melakukan pengelolaan pertanian terpadu dan fokusnya pada peningkatan produksi padi dan mendidik petani agar cermat dan bijak meningkatkan kualitas pasca panen. Sedangkan lahan kurang subur akan digunakan sebagai komoditas tanaman karet dan sawit. Namun jumlah lahan konversi tersebut sangat kecil. Pemerintah lebih fokus mengembangkan pertanian sebagai komunitas yang sangat kuat dan mendominasi.

 

Thailand sangat kaya ide dalam mengembangkan dunia pertanian didalam Negeri. Salah satu yang berkembang pesat adalah pertanian organik yang mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Dunia memberi gelar sebagai produsen organik (Organic producer) kepada Thailand patut dibanggakan dan merupakan dukungan bersama berbagai pihak yang turut mengembangan sektor potensial tersebut.(Supa,2010). Melihat kemajuan pertanian organik itu tentu tidak semudah yang dibayangkan. Negara Monarki dibawah kendali Raja Vajiralongkorn tersebut memulainya sejak tahun 1990 dan telah memasuki tahap pertumbuhan. Negara tidak sendirian, sektor publik dan swasta diajak terlibat sebagai mitra untuk mempromosikan pertanian organik karena melihat mamfaat ekonomi dan kelangsungan ekologi. Produk organik lainnya seperti teh, rempah-rempah, dan buah-buahan, juga dikembangkan sebagai pilihan beragam dan tuntutan pasar global. (LIPI, 2017). Kemajuan pertanian organik di Thailand tentunya melibatkan berbagai pihak, dengan prinsip collaborative governance pemerintah melakukan inisiasi kerjasama antar petani, pengusaha, pemerintah, Non-Govermental Oganization (NGO) dan Universitas. Tujuannya pun beragam, disamping untuk menjaga dan memelihara lingkungan, juga peningkatan kualitas kesehatan, sampai pada mencari keuntungan nilai tambah secara ekonomi.

 

Teknologi Industri 4.0, Bekerja!

Pemerintah Thailand mengembangkan pertanian 4.0 dan menargetkan untuk meningkatkan pendapatan perkapita petani sampai 7 kali lipat, dari 56.000 Baht menjadi 390.000 Baht dalam waktu 20 tahun mendatang. Memasuki revolusi industri, pertanian Thailand dengan cepat melakukan transformasi ekonomi menuju perekonomian industrialisasi. Kini, program pemerintah menuju Petani pintar (Smart Farmers), sudah dijalankan hampir 100% jumlah petani di Thailand dengan menggunakan mekanisasi dalam produksi pertanian, dari penyemaian hingga panen.(vovworld,2018).

 

Pertanian 4.0 berfokus pada penerapan teknologi tinggi terhadap komoditas-komoditas utama dan komoditas-komoditas yang punyai nilai terpadu seperti beberapa jenis sayuran dan buahan. Thailand dengan konsep dan strategi yang menerapkan pertanian 4.0 melakukan terobosan pertanian dengan mengedukasi rakyat untuk mengerti dengan nilai-nilai keselamatan bahan makanan. Menurut Huchingson (1981), penggunaan alat dan mesin pertanian sudah sejak lama digunakan dan mengikuti perkembangan kebudayaan manusia. Awalnya alat dan mesin pertanian masih sederhana dan terbuat dari kayu kemudian berkembang menjadi bahan logam dan kemudian mempengaruhi perkembangan secara besar terhadap mesin pertanian. Traktor roda empat adalah salah satu perkembangan teknologi dalam bidang pertanian. Alat ini merupakan kendaraan yang mempunyai daya penggerak sendiri dan memiliki poros roda yang dirancang untuk menarik serta menggerakkan alat dan mesin pertanian. Selain traktor, Thailand sudah lama mengembangkan alat-alat pertanian yang canggih seperti Robot dan Drone. Tim peneliti dari Mahidol University Thailand, mengembangkan robot dan pesawat tanpa awak (drone) untuk membantu proses mekanisasi pertanian dari masa tanam, panen, dan pasca panen. Robot pertanian berfungsi sebagai perangkat perkiraan cuaca dan memantau secara keseluruhan area tanam. Dalam prakteknya, peneliti ini melakukan kolaborasi antar Universitas dengan menjalin kerjasama dengan Chiang Mai University dalam pengembangan perangkat dengan menggabungkan kemampuan sensor dan teknologi mekanik. (cnnindonesia,2015).

 

Regenerasi Pertanian

Rendahnya kelompok usia muda di sektor pertanian bukanlah fenomena baru, dengan alasan utama tentu saja berkaitan dengan ekonomi. Saat ini, profesi petani masih dipandang sumber penghasilan ekonomi yang kurang menjanjikan, dan memiliki risiko kerugian yang tinggi jika terjadi gagal panen. Potret ini sangat menyakitkan dan bahkan sebagai salah satu faktor timbulnya kemiskinan baru dalam bidang pertanian. Kaum muda enggan tertarik untuk terjun dan menekuni bidang pertanian dan melirik usaha non-pertanian yang lebih aman seperti bekerja sebagai buruh di pabrik atau melakukan urbanisasi keluar dari lingkungan pertanian dan beralih ke sektor swasta. Namun hal itu tidaklah menjanjikan dan berdampak pada bertambahnya penghasilan menjadi lebih tinggi. Kondisi angkatan pekerja disektor pertanian sungguh sangat berubah dan menurun drastis di negara-negara di dunia. Menurut Uchiyama, dkk (2014) dalam Sri Hery Susilowati (2016), melalui studinya tentang fenomena penuaan petani dan berkurangnya tenaga kerja muda mengatakan pemuda yang bekerja di sektor non-pertanian juga meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah petani usia tua yang dominan dan merosotnya minat generasi muda bekerja di sektor pertanian ternyata juga dialami oleh negara-negara lainnya, bukan hanya negara-negara di Asia, namun juga di negara-negara Eropa dan Kanada.

 

Selama tiga dasawarsa terakhir, pada tahun 1980 jumlah petani di Thailand sebanyak 65,65% dari total tenaga kerja. Periode berikutnya di tahun 1990 sebanyak 19 juta orang atau 63,4% penduduk masih bertahan disektor pertanian. kemudian turun drastis pada tahun 2000 diangka 44,28%. Petani yang keluar dari sektor pertanian pada umumnya beralih pekerjaan disektor jasa dan industri, dengan peningkatan tenaga kerja sebesar 35,81%. Tapanapunnitikul dan Prasunpangsri (2014), menyebut rata-rata usia petani di Thailand yang berusia 25–39 tahun juga menurun dari 34,7% menjadi 28,7%. Sebaliknya, petani tua jumlahnya meningkat secara konsisten dari 4,4% menjadi 12,4%. Dewasa ini rata-rata umur petani di Thailand sekitar 51 tahun. Angka itu merupakan potret pertanian di Thailand, namun sekarang banyaknya lembaga pertanian yang menyediakan program kursus dan magang yang disediakan oleh pemerintah memancing minat dan kemauan warga Thailand dan bahkan negara lain untuk belajar dan menyerap ilmu pengetahuan. Tren positif atas kenaikan jumlah angkatan kerja muda yang akan terlibat disebabkan karena penerapan teknologi dari pengolahan tanah, panen hingga pemasaran yang sudah disediakan pemerintah secara terintegrasi. Peningkatan ekonomi yang menjanjikan bagi kaum muda, tidak terlepas dari berbagai kebijakan dalam negeri Thailand menjadikan pertanian dan pengembangan melalui riset dan pelatihan petani organik yang disegani dunia saat ini.

 

Permodalan Pertanian dan Subsidi Pupuk

Permodalan pertanian sering kita kenal dengan kredit merupakan salah satu faktor pendukung utama pengembangan adopsi teknologi usaha tani. Kredit pertanian bukan sekedar faktor pelancar pembangunan pertanian, tetapi juga berfungsi sebagai satu titik kritis pembangunan pertanian. (Syukur, et al.,1998). Kredit memiliki peran penting sebagai mesin pembangunan pertanian diantaranya adalah: 1) membantu petani kecil dalam mengatasi keterbatasan modal dengan bunga relatif rendah; 2) mengurangi ketergantungan petani pada pedagang perantara sehingga memperbaiki struktur dan pola pemasaran hasil pertanian; 3) mekanisme transfer pendapatan untuk mendorong pemerataan; dan terakhir 4) insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi pertanian. Lemahnya permodalan pertanian berkaitan erat dengan resiko dan ketidakpastian investasi disektor pertanian, baik disebabkan oleh struktur kepemilikan aset yang kurang menguntungkan maupun oleh tingginya ketergantungan pertanian terhadap lingkungan, ditambah dengan tingginya suku bunga pinjaman yang mengakibatkan kurang menariknya investasi disektor pertanian.

 

Adopsi teknologi berperan penting dalam mempengaruhi produktivitas pertanian dan kaitannya dengan pendapatan rumah tangga. Adopsi teknologi dapat meningkatkan kemampuan petani untuk mengembangkan usaha taninya, yakni berupa penggunaan bibit varietas baru, perbaikan sistem tanam, serta penggunaan pupuk dan obat-obatan. Namun, untuk melakukan pengembangan teknologi rumah tangga dibutuhkan akses terhadap modal pembiayaan berupa kredit. Kebutuhan akan kredit merupakan sesuatu yang vital bagi petani (Derosari et al. 2014). Mengutip dari Yasmeen, et al (2011), bahwa kredit memiliki peran dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui pengembangan produksi dan peningkatan konsumsi. Penggunaan kredit dengan benar akan meningkatkan luas usaha tani, peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan inovasi pertanian, pembentukan modal, dan peningkatan standar hidup rumah tangga berupa konsumsi, baik konsumsi pangan maupun non-pangan.

 

Permodalan petani di Thailand mengenal Bank Of Agriculture sebagai penyalur dan penyedia modal bagi petani dalam mengembangkan bidang-bidang pertanian. Perusahaan besar di Thailand melakukan kontrak dengan petani tanpa menggunakan agunan, sehingga jika terdapat kegagalan dengan hasil panen tanah mereka tidak akan disita dan kegagalan petani ditanggung oleh pemerintah. Pemerintah juga mengawasi aturan tentang kontrak pertanian yang dilakukan perusahaan dengan petani dalam menjamin harga minimal dari produk yang mereka minta untuk ditanam oleh para petani. Penetapan batas harga tersebut jika perusahaan tidak mematuhinya, maka petani bebas untuk menjual produknya ke pihak yang lain. Memasuki era new normal, peran vital ada ditangan pemerintah diseluruh dunia dalam membangun ketahanan pangan berbasis rumah tangga dan industri skala besar food estate yang bersifat jangka panjang. Tentunya hal ini dijalankan dengan prinsip keterbukaan dan mempertimbangkan sisi kesehatan lingkungan. Sekali lagi, ketahanan pangan menuntut basis di masyarakat harus berdaya dalam mengelola potensi pertanian dengan mengubah pola-pola lama kearah sistem yang baru, lebih canggih, lebih maju dan cerdas.

   

Bagaimana Pertanian Indonesia, kini? dan Bagaimana Nasib Petani, hari ini?

Semoga Pemerintah masih peduli?  


John Doe
Ahmad Saufi
Narasi yang menentramkan alam pikiran dan perbuatan.

Artikel Terkait

Menyiapkan Peta Jalan Pulang

Prolog saya, Dan, Mungkin Juga Anda, Sudah Pernah Mendengar Kisah Tentang Orang Tua Di Desa Yang Banting Tulang Demi Menjaga Dan Memberi Jaminan Agar Bekal Biaya Anaknya Yang Bersekolah Di...

Menggapai Kemerdekaan

Beberapa Kali Merasa Gagal, Depresi Dan Terpuruk Karena Harapan Sendiri. Beberapa Kali Merasa Sedih, Kecewa, Dan Terluka Karena Pikiran Sendiri. Beberapa Kali Merasa Benci, Kesal, Dan Dendam...

Payung Persatuan Itu Bernama Cinta

Bagaimana Bisa Merasa Benci, Kalau Yang Diberi Tuhan Selalu Indah. Bagaimana Bisa Merasa Bosan, Kalau Yang Diberi Tuhan Selalu Haru Dan Bahagia. Bagaimana Bisa Merasa Kesal, Kalau Yang Diberi...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul