Memberontak Dan Melawan Menggunakan Buku-buku Bacaan

Picture by Ahmad Wahyu Rizkiawan

Ditulis Oleh : Ahmad Wahyu Rizkiawan - 04 Desember 2019

Serupa Subcomandante Marcos dengan EZLN-nya, Pustaka Bergerak adalah gerakan memberontak dan melawan kebodohan menggunakan buku-buku bacaan.


Para penggerak pustaka, sepintas mengingatkan saya pada kisah Subcomandante Marcos--- sosok pemberontak Mexico yang identik buku dan kata-kata.


Ya, Rafael Sebastian Guillen Vicente atau Delegate Zero atau lebih dikenal sebagai Subcomandante Marcos, adalah sosok di balik adagium populer: Kata adalah Senjata.


Jika Marcos bergerak melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa menggunakan kata-kata. Pustaka Bergerak melawan kebodohan dan label buruk Unesco menggunakan semangat berbagi buku.


Subcomandante Marcos memang tak populer. Dia, justru menutupi wajah dan identik bertopeng dengan pipa cerutu di mulutnya, serupa Popeye si pelaut.


Di dunia fiksi, mungkin kita mengenal sosok Elliot (Mr. Robot) maupun V (V for Vendetta). Nah, barangkali, Subcomandante Marcos merupakan sosok vigilente dari dunia nyata.


Dialah sosok besar di balik Ejército Zapatista de Liberación Nacional (EZLN) atau Tentara Pembebasan Nasional Zapatista.


Para pembaca yang budiman, EZLN merupakan kelompok revolusioner bersenjata yang bermarkas di Chiapas, salah satu provinsi miskin di Mexico.


Banyak kalangan menganggap gerakan Zapatista sebagai kelompok revolusioner bersenjata yang anti kekerasan dan menggunakan teknologi modern satelit dan internet sebagai suatu cara menggalang dukungan domestik dan luar negeri.


Selain melawan ketidakadilan dan penindasan kaum adat, dia, Subcomandante Marcos, adalah sosok yang membela para buruh dan orang-orang miskin melalui pergerakan, tulisan dan pemikirannya.


EZLN merupakan respon atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pemerintah pada masyarakat adat. Di Chiapas, sejarah panjang mereka dicatat sebagai masyarakat adat dengan gerakan perjuangan yang terorganisir secara sistemik.


Meski tak pernah mau menampakkan diri, Marcos merupakan sosok paling penting sekaligus inti dari gerakan tersebut. Selain ahli strategi, Marcos seorang penulis yang sangat produktif. Ia ahli propaganda.


Namun, yang menjadikan Marcos teramat istimewa — setidaknya di mata saya — bukan kemampuan mengorganisir pemberontakan. Tapi kecintaannya pada proses membaca sekaligus menulis buku.


Bukan hanya kemampuan mengorganisir pemberontakan yang membuat Subcomandante Marcos istimewa. Tapi kemauan dan kekuatannya dalam membaca dan menulis buku.


Dilihat dari berbagai tulisannya, Marcos memang bukan orang biasa. Presiden Meksiko, Ernesto Zedillo Ponce de Leon pada 1995 mengumumkan, Subcomandante Marcos sebenarnya adalah Rafael Sebastián Guillén Vicente, lelaki kelahiran Tampico pada 1957.


Dia mantan profesor, satu dari lima mahasiswa Departemen Filsafat dan Sastra Universitas Otonomi Nasional Meksiko, yang lulus dengan nilai terbaik dan mendapatkan medali kepresidenan dari Presiden Meksiko, José López Portillo, pada 1981.


Subcomandante memang tidak pernah mengakui atau membantah identitas tersebut. Selain foto-fotonya mirip, latar belakang pendidikannya meninggalkan jejak teramat jelas dalam tulisan-tulisannya.


Sangat jarang ada pemberontak yang suka membaca dan menulis. Ini yang membikin saya terkagum-kagum. Bahkan, secara blak-blakan, Subcomandante Marcos berproklamir bahwa kata-kata adalah senjata.


Dalam perkara menulis, produktivitas Marcos terbukti dengan lahirnya ratusan esai dan banyak buku. Sebagian besar tulisannya fokus pada ideologi anti-kapitalis dan advokasi untuk hak-hak masyarakat adat. Hebatnya, Marcos juga menulis puisi dan novel.


Marcos telah menulis lebih dari 200 esai dan cerita. Juga telah menerbitkan 21 buku yang mendokumentasikan pandangan politik dan filosofisnya.


Esai dan cerita-ceritanya disusun dalam buku-buku. Sejumlah tulisannya berupa kisah-kisah secara tidak langsung. Namun, ada pula tulisan yang langsung menggedor kepala para pembaca.


Bersyukur ketika sejumlah tulisan Marcos serta artikel-artikel mengenai pemberontakan Zapatista telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh penerjemah spesialis Bahasa Amerika Latin, Ronny Agustinus.


Sejumlah judul seperti Bayang Tak Berwajah: Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (INSIST Press, 2003), Kata Adalah Senjata: Kumpulan Tulisan Terpilih (Resist Book, 2005).


Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan (Komunike-komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme) (Resist Boom,2005) adalah judul buku yang mengisahkan Marcos dan Zapatista dalam melakukan perlawanan.


Sastrawan Besar Mexico, Gabriel Garcia Marquez, pernah mewawancarai Subcomandante Marcos. Dalam sebuah wawancara mewakili majalah Revista Cambio dan terbit pertama kali pada 26 Maret 2001, tampak betapa Marcos sangat mencintai baca buku.


Dalam wawancara tersebut, terlihat betapa produktivitas menulis Marcos diakibatkan riwayat membaca buku yang luar biasa hebat. Di sela-sela waktu kacau penuh peperangan, dia masih menyempatkan diri membaca banyak buku.


“Dalam tentara-tentara gerilya yang ada sebelum kami, para prajuritnya mengisi waktu luang dengan mengelap senapan dan menyetok amunisi. Di sini, senjata kami adalah kata-kata, jadi kami harus bergantung pada gudang amunisi kami setiap saat” kata Marcos.


Semangat membaca buku yang membabi-buta tersebut, kau tahu, berkait erat dengan masa kecilnya. Dalam keluarga Marcos, kata-kata memiliki nilai yang teramat khusus.


Marcos percaya bahwa kesadaran berbahasa bukan diperuntukkan sebagai cara berkomunikasi satu sama lain, tapi sebagai cara untuk membangun sesuatu.


Para simpul dan penggerak Pustaka Bergerak, sesungguhnya juga sedang melakukan perlawanan. Bukan perlawanan perang, tapi perlawanan terhadap kebodohan dan label buruk Unesco.


Pustaka Bergerak merupakan respon atas ketidakadilan dan ketidakmerataan buku-buku bacaan. Kelak, sejarah panjang mereka dicatat sebagai orang-orang yang bergerak demi keadilan memperoleh ilmu dan hak-hak membaca buku.




Naskah ini dimodifikasi dari artikel berjudul Mengenal Subcomandante Marcos, Pemberontak yang Suka Baca Buku, pernah dimuat di Jurnaba.co dalam rangka memperingati hari kelahiran Subcomandante Marcos (19 Juni 2019)






John Doe
Ahmad Wahyu Rizkiawan
Pustakawan dan pendamping belajar

Artikel Terkait

Kita Ingin Berdamai Tapi Tidak Dengan Corona

Presiden Jokowi Menghimbau Kita Untuk Berdamai Dengan Corona Agar Kita Bisa Memulai Fase Hidup Normal Yang Baru Berdampingan Dengan Corona. Tapi Apakah Corona Semudah Itu Diajak Berdamai? Emangnya...

Kolaborasi Harmoni & Pbi : Peduli Mahasiswa...

Jakarta – Harmoni Indonesia Kembali Menyalurkan Bantuan Sosial (bansos) Berupa 200 Paket Makanan, Minuman Dan Alat Kebersihan Yang Kali Ini Diberikan Kepada Mahasiswa Rantau Yang Tinggal Di 10...

Perbedaan Karakter Orang Yang Ingin Sukses Dan...

Perbedaan Karakter Orang Yang Ingin Sukses Dan Yang Ingin Gagalpenulis; Silferius Hulu, S.fil.pernahkah Anda Mengalami Situasi Jatuh Bangun Dalam Membentuk Karakter Kepribadian Anda? Saya Dapat...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul