Memberi Bukan Meminjam

Picture by S Herianto

Ditulis Oleh : S Herianto - 13 September 2020

Ditulis oleh Widayanti Rose


“Dua dikurangi lima berapa?” Pertanyaanku saat melanjutkan materi pengurangan ratusan bersusun pendek, kali ini teknik ‘memberi sedekah’. Istilah baru yang saya pakai untuk pengurangan bilangan yang ‘tidak cukup'.

“Ayo, berapa dua dikurangi lima?” Kembali kuulangi pertanyaan saat wajah mereka terlihat kebingungan.

“Tiga, Bu,” jawab Alka dengan mengangkat tiga jarinya.

“Dari mana dapat angka tiga, Alka?”

“Lima dikurangi dua sama dengan tiga.” Yakin sekali dia menjawab.

“Bagus, lima dikurangi dua memang sama dengan tiga. Tapi ini dua dikurangi lima, jadi misalnya Alka punya dua kelereng, ingin disedekahkan lima, gimana?” aku perjelas kembali pertanyaan yang tadi kulontarkan.

“Gak cukup, Bu,” jawab beberapa anak serentak.

“Ya, gak cukup. Jadi dua jika dikurangi lima gak cukup. Kalau gak cukup berarti harus pin.. “ hampir saja aku menyebutkan kata pinjam. Seperti yang biasa aku ajarkan sebelumnya, seperti itu juga yang disebutkan dalam buku dan seperti itu pula yang diajarkan guruku saat aku kecil. Terus-menerus, turun-temurun.

Ya, aku memang menggunakan istilah ‘pinjam’ untuk bilangan yang tidak cukup untuk dikurangi. Sebelum aku tersadar oleh kiriman salah satu teman facebook Fissilmi Hamida. Dia menceritakan jika anaknya protes saat diajari dengan teknik meminjam bilangan depannya jika tidak cukup untuk dikurangi. Kata anaknya, kalau pinjam berarti harus dikembalikan, nah ini kapan yang akan dikembalikan?

Pertanyaan anak kecil itu cukup menamparku sebagai guru. Aku yang terbiasa mengajarkan seperti itu sebelumnya merasa sah-sah saja. Entah berapa kali aku menyebut kata pinjam itu pada muridku, mereka terus mengingat itu sepanjang waktu. Bahkan mungkin kelak saat mereka mengajarkannya pada putranya, pada muridnya atau pada siapapun yang bertanya padanya.

Sebetulnya sepintas memang tidak ada yang salah dari kata pinjam saat dilakukan untuk menyelesaikan pengurangan bilangan. Toh ini hanya cara, nanti hasil akhirnya menjadi benar saat istilah itu kita gunakan dalam prosesnya. Tapi setelah pertanyaan ananda Zie tersebut, saya jadi sadar bahwa penggunaan istilah pinjam ini bertentangan dengan pendidikan karakter sehari-hari, bahkan bertentangan dengan ilmu agama yang diajarkan bahwa pinjam adalah hutang, dan hutang harus dibayar. Membiarkan mengajari pengurangan dengan meminjam tanpa membayar, itu artinya menanamkan karakter tidak baik secara tidak langsung.

Ya Tuhan, Kali ini aku merasa bersalah.

Telah turun-temurun kami diajari dan mengajarkan hal sepele ini yang berakibat fatal. Jika di kemudian hari apa yang kami ajarkan ini berpengaruh pada mental anak dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kalau orang yang malas membayar hutang bahkan melupakannya begitu saja, itu karena akibat kesalahan pengajaran di kelas awal? Akibat aku yang mengajarkan pengurangan dengan teknik meminjam tapi tak pernah dibayar?

Duh ..

Benar kata orang, jika dokter melakukan kesalahan dalam praktiknya mungkin hanya berakibat fatal pada seorang pasien. Tapi jika guru yang salah memberikan pengajaran, akan berdampak pada puluhan orang, ratusan bahkan ribuan secara turun-temurun menjadi dosa warisan.

Naudzubillah..

Jadi anak kecil bernama Zie ini ada benarnya, jika yang dikurangi gak cukup, jangan meminjam apabila gak dikembalikan. Bilang saja minta, jadi kalau minta tidak perlu diganti.

Aku mengangguk dalam hati membaca postingan ini. Anak kecil ini benar, kebenaran harus diikuti walau datangnya dari anak kecil. Sejak itu aku berjanji dalam hati, tak boleh lagi ada kata pinjam saat mengajar pengurangan yang ‘gak cukup’. Aku akan ganti dengan istilah lain, ‘diberi sedekah’, bukan meminta. Karena jika saya pakai istilah meminta, kurang baik juga bagi mental anak. Saya tidak mau kelak mereka mudah meminta saat tidak cukup. Lebih tepatnya mengajari yang di dekatnya untuk menderma. Jika sebuah bilangan tidak cukup untuk dikurangi, maka yang di depannya harus menderma dengan memberi sedekah 10 angka.

Jadi dua dikurangi lima tidak cukup, maka yang di depannya memberi sedekah 10 angka yaitu jadi 12 dengan menulis angka 1 di depan 2.

Awalnya aku merasa kesulitan menyebutkan kata ‘diberi sedekah’, tapi lama-lama sudah biasa. Siswaku yang belum pernah mendapat pengajaran ‘meminjam’ sebelumnya merasa mudah saja menyebut istilah diberi sedekah ini.

“Jika tidak cukup, berarti yang ada di depannya harus memberi sedekah 10.” Aku memperjelas kembali keteranganku, mengulanginya beberapa kali sampai anak-anakku di kelas merasa paham dan siap berlatih dengan soal yang berbeda.

Aku mencoba memancing ingatan siswa di akhir penjelasan, “Empat dikurangi tujuh…?”

“Gak cukup ….”

“Kalau gak cukup, berarti?”

“Diberi sedekah.”

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa mengucapkannya. Tak ada jawaban ‘meminjam pada di depannya´ lagi seperti yang biasa aku jelaskan dulu. Semoga dengan istilah ini berdampak pada karakter baik bagi mereka ke depan. Semoga mereka semakin peka pada sekitar.

Ketika ada teman yang kesusahan, maka yang paling dekat paling membantu dengan sigap. Ketika ada tetangga yang kesusahan, yang paling dekat lebih peduli. Ikut merasakan sedih atas kesusahan yang dialami orang lain, bukan yang susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.


John Doe
S Herianto
S. Herianto, 7 Maret 1974. Sehari-hari bekerja sebagai guru. Sangat hobi menulis dan fotografi. Aktif dalam komunitas KATA BINTANG.

Artikel Terkait

Hasil Pisa Dan Cubitan Untuk Dunia Pendidikan...

Tiga Negara Teratas Dalam Rangking Pisa, Punya Tradisi Membaca Buku Yang Progresifnya Luar Biasa. Itu Menunjukkan Secara Tegas Bahwa Perkembangan Literasi Di Sebuah Negara Berbanding Lurus...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul