Membedah Dosa Besar Pembangunan Orde Baru

Sampul buku

Ditulis Oleh : Cusdiawan - 25 November 2020

Judul Buku : Gagalnya Pembangunan: Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru
Penulis : Andrinof Chaniago
Penerbit : LP3ES
Halaman : 0

Buku Gagalnya Pembangunan: Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru yang ditulis oleh Andrinof Chaniago, seorang dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, merupakan buku yang bagus untuk dirujuk dalam mengupas model pembangunan Orde Baru, karena disajikan secara komprehensif dan kaya akan data-data empiris.

Dalam bukunya tersebut, Andrinof berkesimpulan bahwa model pembangunan yang jalankan oleh pemerintahan Orde Baru merupakan faktor elementer yang menyebabkan Indonesia mengalami krisis besar-besaran pada tahun 1997-1998, bahkan menjadi negara di Asia yang mengalami krisis paling parah pada periode akhir 1990-an. Oleh sebab itu, pembangunan Orde Baru merupakan sebuah kegagalan.

Andrinof memulai perbincangan dalam buku tersebut dengan memaparkan mengenai definisi pembangunan. Dengan merujuk pada Dudley Seers, seorang ekonom Inggris yang pada 1969 memaparkan bahwa yang disebut sebagai pembangunan harusnya semakin mengakomodasi pentingnya martabat manusia dan kesejahteraan masyarakat luas sebagai tujuan pokok pembangunan. Seers berpendapat bahwa pembangunan belum bisa berhasil bila salah satu atau dua dari tiga kondisi, yaitu kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan, jadi lebih buruk, meskipun pendapatan per kapita melambung tinggi.

Saat itu, selain Seers, lembaga multilateral seperti Bank Dunia di bawah kepemimpinan Robert S. McNamara pun tidak lagi hanya memberi perhatian pada mobilisasi dan penggunaan dana untuk meningkatkan kapasitas produksi pada negara-negara berkembang, tetapi juga menekankan pada tujuan-tujuan sosial seperti memberantas kemiskinan dan mengurangi kesenjangan. 

Masalah ketimpangan sosial-ekonomi memang harus diperhatikan, karena ada berbagai macam pendapat dari para ahli yang menyebut bahwa ketimpangan dapat menyebabkan terjadinya suatu kekerasaan kolektif, salah satunya yaitu Ted Robert Gur.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya pemerintah Orde Baru sempat mengadopsi gagasan pembangunan yang berorientasi pada pembangunan sosial dan tidak melulu soal pertumbuhan ekonomi dengan dicanangkannya konsep Delapan Jalur Pemerataan pada tahun 1978.

Akan tetapi, hal yang patut disayangkan, yakni model pembangunan yang dilancarkan bersifat sentralistis, birokratis dan “top down”. Tidak hanya itu, masalah yang paling elementar lainnya, yakni tidak konsistennya pemerintahan Orde Baru terhadap konsep pembangunan yang dilancarkan pada akhir dekade 1980-an tersebut. Wacana pembangunan semakin berbelok meninggalkan konsep pembangunan manusia dan masyarakat yang sesungguhnya.Pembelokan tersebut, di latar belakangi oleh berbagai kondisi, salah satu yang utama yakni lingkungan internasional melalui slogan program-program penyesuian struktural, para pejabat pemerintah Indonesia mengalami pendiktean secara halus konsep pembangunan oleh lembaga seperti Bank Dunia dan IMF.

Pada akhirnya, pemerintah Orde Baru justru memilih jalan yang semakin berkompromi dengan tuntutan-tuntutan penyesuaian struktural melalui jalan yang lebih liberal pada tahun 1988 dan 1989. Akibatnya, Andrinof memaparkan bahwa model pembangunan yang diterapkan “pembangunan adalah bisnis”. Jelas saja, praktik tersbebut semakin menjauhkan dari visi pembangunan sosial dan manusia, dan yang terjadi kesenjangan sosial ekonomi dan laju kemerosotan hubungan sosial, yang menurut Andrinof memberi kontribusi yang signifikan terhadap krisis besar yang menimpa Indonesia pada 1997-1998.

Bagi Andrinof, dibalik pertumbuhan ekonomi yang tinggi sejak tahun 1988, juga berlangsung sebuah proses pelapukan struktural pada perekonomian dan sistem sosial di Indonesia. Andrinof mencatat bahwa persoalan pembangunan semakin bertumpuk akibat langkah hiperpragmatis yang diambil oleh pemerintah selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir Orde Baru. Langkah hiperpragmatis tersebut menghadirkan the bubble economy, yang menjadi salah satu penyebab utama Indonesia mengalami krisis besar-besaran.

Menjadi persoalan lainnya, “dosa besar” atas pilihan kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh Orde Baru tersebut dampaknya masih terasa hingga kini. Tidak hanya soal ekonomi yang berada di bawah kendali kekuatan global, tetapi juga memberi iklim yang kondusif bagi tumbuhnya opurtunisme di kalangan pengusaha dan politisi, penyempitan visi pembangunan, tidak menerapkan etika politik, dan lain-lain. Singkat kata, gagalnya pembangunan Orde Baru yang dikarenakan kebijkan hiperpragmatis, termasuk karena praktik-praktik otoriter-sentralistik yang dipraktikannya, membawa bangsa ini pada suatu krisis multidimensi yang dampaknya masih terasa hingga kini. 

Bagi saya, apa yang dipaparkan oleh Andrinof memang relevan. Pertama, ada banyak studi ekonomi politik yang menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi memang tidak selalu menjamin terwujudnya kesejahteraan atau tereduksinya ketimpangan, salah satunya seperti yang dipaparkan oleh Lorenzo Fioramonti dalam bukunya Problem Domestik Bruto: Sejarah dan Realitas Politik di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi (2019).

Keduanya, menyoal hubungan lembaga multilateral beserta penyokongnya dengan Indonesia yang menurut Andrinof turut andil membentuk model kebijakan hiperpragmatis yang dipilih Orde Baru, saya rasa hal tersebut mengukuhkan teori dependensia, Dos Santos misalnya, sebagaimana yang dikutip dalam buku Isu-isu Pembangunan (2019) yang ditulis oleh Oekan Abdoellah dan Dede Mulyanto, yang menyebut bahwa ketergantungan muncul akibat adanya jalinan internasional (external dependency) dan ketergantungan sebagai a set of structure (internal dependency).

Ketiganya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Andrinof soal warisan Orde Baru yang masih terasa hingga kini, dari soal oportunisme elite politik-pengusaha, kemudian ekonomi yang di bawah kendali kekuatan global, saya justru melihat relevansi tesis oligarki Vedi Hadiz dan Richard Robinson, sebagaimana yang dikutip oleh Intan Suwardi dalam artikel bab “Memahami Ekonomi Global yang Imprealis” yang terdapat dalam buku Oligarki: Teori dan Kritik (2020), yang menyebut bahwa “fitur-fitur penting dari orde sosial dan politik lama dengan bungkus baru”, yaitu sistem yang notabene demokratis dan berkarakteristik pasar (market society). 

Menyangkut poin ketiga, yang menurut hemat saya menjadi salah satu masalah utama dalam ekonomi-politik di Indonesia, sebagaimana tesis Hadiz dan Robinson, tentu kita tidak bisa mengabaikan dinamika ekonomi global dan perkembangan kapitalisme kontemporer, termasuk dalam soal memengaruhi dinamika kekuasaan oligarki di Indonesia.

Oleh sebab itu, yang ingin saya sampaikan, visi pembangunan Andrinof yang begitu luar biasa, sebagaimana yang terangkum dalam buku Evolusi Mimpi Menata Indonesia: Andrinof A.Chaniago dan Jejak Kelahiran Pemikiran Pembangunan Pasca 2014 yang ditulis oleh Ade Wiharso dan Lina M.Komarudin (2019) mengenai pembangunan yang berkualitas, yang tidak hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi, tapi juga harus merduksi ketimpangan, dan tidak menghadirkan kerusakan lingkungan dan sebagainya, akan sulit terealisasi apabila soal ekonomi-politik oligarki dan kapitalisme global ini tidak dibongkar. 

Sebagai penutup, saya rasa buku Andrinof penting untuk dibaca, sebagai bahan pembelajaran, agar bangsa ini tidak mengalami kembali krisis yang begitu parah. Terlebih lagi, buku ini disajikan dengan argumen yang kuat mengenai penyebab gagalnya pembangunan Orde Baru. Bukan hanya itu, mengutip Andrew Maclntyre, Profesor Ekonomi-Politik Australian National University yang mengatakan “Andrinof menyampaikan argumentasi baru dan segar dalam mengkritik pemikiran yang mapan tentang kebijakan pembangunan di Indonesia. Generasi baru ilmuwan Indonesia benar-benar ditantang untuk memperdebatkan sebuah isu besar secara serius”.



Riwayat Buku

Judul Buku : Gagalnya Pembangunan: Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru

Penulis : Andrinof A. Chaniago

Penerbit : LP3ES

Tahun Terbit : 2012

ISBN : 978-979-3330-99-0

Jumlah hlm : xiv+310



John Doe
Cusdiawan
Alumnus Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, saat ini tercatat sebagai mahasiswa Program Magister Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul