Literasi Untuk Kesejahteraan: Review Buku Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Literasi

Dokumen pribadi

Ditulis Oleh : Dilla Hardina - 13 November 2020

Judul Buku : Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Literasi
Penulis : Moh. Mursyid
Penerbit : Azyan Mitra Media
Halaman : 90

Membaca agar memberdayakan tidak berhenti pada sebatas pemikiran atau pengetahuan saja, tetapi diikuti dengan implementasi nyata menuju sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.”—hlm. 14.


Buku ini membahas tentang pentingnya keberadaan perpustakaan atau TBM di tengah-tengah masyarakat. Bahwa perpustakaan berdiri bukan hanya sebagai gudangnya buku, melainkan juga dapat menjadi lokomotif perubahan dalam memberdayakan masyarakat.


Buku ini memiliki tampilan yang minimalis berupa ilustrasi deretan buku yang terjajar rapi di perpustakaan. Bisa dibilang, buku ini adalah buku yang paling tipis dari semua buku yang pernah ditulis oleh Moh. Mursyid. Walaupun tipis, buku ini juga memuat teori-teori yang relevan dan pembahasan yang komplit seperti teori tingkatan membaca oleh Ignas Kleden, analisis SWOT untuk menyusun program pemberdayaan serta konsep Penta Helix untuk kolaborasi dan inovasi program. Sehingga, buku ini tetap berbobot dalam segi konten maupun teoritiknya.


Buku ini mempunyai judul yang singkat karena hanya terdiri dari 4 kata. Meskipun demikian, judul tersebut telah mewakili isi keseluruhan dari buku ini. Hanya dengan empay kata saja, judul tersebut telah memberi gambaran bagaimana buku ini berbicara.


Buku ini terdiri dari empat bab, yakni 1) Budaya Baca, 2) Perpustakaan dan Harapan Perubahan, 3) Program Pemberdayaan Masyarakat, dan 4) Aksi dan Sinergi Buku. Buku ini juga dilengkapi dengan kutipan-kutipan menarik yang memenuhi beberapa lembar kertas. Dikatakan “penuh” karena kutipan tersebut dicetak dengan ukuran yang besar, sehingga hal ini dapat memberi kesan penyegaran tersendiri bagi para pembaca.


Awal mula saya membeli buku ini karena masih berkaitan dengan bidang ilmu yang saya pelajari, yaitu Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Dalam jurusan saya juga terdapat mata kuliah bertajuk Literasi Informasi. Sehingga, menurut saya buku ini sangat relevan untuk digunakan sebagai referensi penelitian maupun tugas-tugas saya. Hal ini memang wajar, mengingat penulis adalah seseorang yang berprofesi sebagai pustakawan dan memiliki baground pendidikan Ilmu Perpustakaan. Sehingga, penulis termasuk akademisi sekaligus praktisi yang memiliki banyak pengalaman di bidang literasi.


Dalam buku ini, Moh. Mursyid mengusung konsep tri daya sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang nyata. Dalam konsep tersebut menekankan tiga poin utama, yaitu: pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), pemberdayaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.


Salah satu upaya mengasah ketrampilan atau produktifitas masyarakat bisa dilakukan melalui aktivitas membaca buku. Jika dihubungkan dengan konsep tri daya yang pertama (pemberdayaan SDM), membaca buku dapat mengarahkan seseorang untuk mengasah skill atau kemampuan tertentu. Contohnya seperti buku tentang budi daya kelengkeng, budi daya lele, teknik menyablon, dan lain-lain. Setelah membaca buku tentang ketrampilan tertentu, diharapkan masyarakat dapat mempraktikkannya hingga menjadi mahir. Selanjutnya, bukan tidak mungkin bila masyarakat dapat memiliki ketrampilan baru melalui membaca buku tersebut.


Lalu, konsep tri daya yang kedua (pemberdayaan lingkungan) lebih menekankan pada aspek peningkatan kualitas lingkungan setempat, di mana modal pemberdayaannya adalah lingkungan itu sendiri. Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan alam mulai dari pegunungan, pantai, hutan, danau dan masih banyak lagi. Dalam buku ini, penulis mengarahkan agar masyarakat mampu mengeksplorasi alam dengan sebaik dan sebijak mungkin.

Di samping itu, Indonesia hari ini mengalami berbagai permasalahan lingkungan yang meresahkan seperti masifnya pembangunan gedung-gedung pencakar langit, pembuangan sampah sembarangan, penebangan hutan besar-besaran dan lain sebagainya. Dalam buku ini, penulis memberikan solusi atau alternatif yang dapat dilakukan oleh masyarakat demi kesejahteraan di bidang lingkungan. Misalnya dengan mendirikan bank sampah, pelatihan ecobrick, pelatihan perikanan, pelatihan budi daya tanaman dan lain sebagainya. Dengan begitu, masyarakat akan mendulang dua keuntungan melalui pemberdayaan lingkungan; 1) memperoleh penghasilan 2) ekosistem atau lingkungan dapat lebih terjaga.


Konsep tri daya yang terakhir yakni pemberdayaan ekonomi, di mana poin ini lebih menekankan aspek pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan perekonomian. Konsep ini masih merujuk pada permasalahan yang ada di negeri ini yang hingga sekarang masih menjadi permasalahan besar bagi pemerintah maupun masyarakat, seperti sulitnya mencari lapangan pekerjaan hingga tingginya angka kemiskinan di Indonesia. 


Dalam hal ini, penulis memberikan beberapa contoh aktivitas pemberdayaan yang bisa dilakukan di perpustakaan, misalnya seperti pelatihan membuat jajanan pasar, pelatihan membuat jus buah, pelatihan internet marketing dan masih banyak lagi.

Intinya, dalam buku ini, penulis mengemukakan bahwa perpustakaan dapat menggerakkan masyarakat untuk meraih kesejahteraan melalui kegiatan literasi. Apalagi, dengan membaca buku bertema skill atau ketrampilan tertentu yang sesuai kebutuhan, maka bukan tidak mungkin jika masyarakat mampu menjadi masyarakat yang berdaya dan berguna.


‘'Pemberdayaan masyarakat berbasis literasi merupakan bentuk pemberdayaan yang menekankan pada aspek literasi yang di dalamnya mencakup kemampuan baca-tulis di mana buku atau sumber bacaan sebagai ‘amunisinya’ dan perpustakaan sebagai ‘penggerak’ utamanya.'’—hlm. 43.


Di sini, Moh. Mursyid menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis literasi bukan hanya tanggung jawab pustakawan atau pengelola TBM saja, melainkan juga tanggung jawab bersama. Sebab, pemberdayaan masyarakat berbasis literasi memerlukan sinergitas antara akademisi, pebisnis, komunitas, masyarakat serta pemerintah. Dengan terselenggaranya berbagai kegiatan pemberdayaan di perpustakaan, maka hal ini dapat mendorong masyarakat untuk berdaya dan meciptakan Indonesia yang berkarakter, berkemampuan, dan sejahtera.


John Doe
Dilla Hardina
Kelilingilah dirimu dengan orang-orang yang pantas mendapatkan keajaibanmu

Artikel Terkait

Kiki: Sudah Kubaca Semua, Tak Ada Lagi Buku...

“sudah Kubaca Semua. Tak Ada Lagi Yang Menarik.”         kalimat Bernada Keluhan Itu Datang Dari Seorang Pengunjung Setia Tbm Sou Mpelava....

Literasi Vs Dehumanisasi : Bagaimana Salah...

Memasuki Abad 21, Dunia Memasuki Zaman Yang Memberikan Kemudahan Dan Kebebasan Pada Setiap Manusia Dengan Tingkat Yang Berbeda Dari Zaman Sebelumnya Namun Kita Juga Sama-sama Menghadapi Tantangan,...

Dikala Pandemi, Ilalang Pustaka Rilis Perdana

Semester Pertama Memasuki Dunia Kampus, Ada Yang Menarik Perhatianku. Sebuah Sepeda Onthel Terparkir Rapi Dengan Beberapa Buku Di Belakangnya. Aku Malah Teringat Dengan Kawan Literasiku Sewaktu...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul