LITERASI ITU MENGUATKAN, BUKAN MELEMAHKAN

Picture by Rumah Baca

Ditulis Oleh : Rumah Baca - 27 Juni 2020

LITERASI ITU MENGUATKAN, BUKAN MELEMAHKAN


Masih teringat semenjak tahun 2015 lalu ketika pergerakan literasi saya masih tersamarkan, saat bergerak mengunjungi banyak tempat, naik turun bukit, keluar masuk hutan jati, bertemu dengan orang-orang dan anak-anak yang haus akan ilmu pengetahuan dengan menggendong buku dan boneka.


Keceriaan dan pemandangan indah yang langka dari bocah-bocah dan orangtuanya yang dikunjungi saat disuguhkan buku-buku yang sengaja dibawa, membacakan buku dan bercerita dengan boneka yang setia menemani menjadi sesuatu yang tidak bisa terlupakan dan menyentuh hati.


Sampai pada akhirnya perjalanan panjang dan melelahkan itu membuat saya bisa bergabung dan menjadi bagian dari Pustaka Bergerak Indonesia ditahun 2018 lalu. Perlahan namun pasti, pergerakan literasi saya yang sudah sekian lama jalani dan tersamarkan itupun mulai tampak oleh pandangan mata dan berjejaring serta berkolaborasi dengan banyak para relawan pustaka hebat lainnya di daerah masing-masing di Indonesia.


Namun sampai pada akhirnya, jiwa dan raga yang semakin melemah. Memaksa untuk mengurangi intensitas dan jarak tempuh dalam Bergerak. Tapi, Tuhan itu Maha baik. Disaat jiwa dan raga yang melemah, semangat literasi untuk bergerak tetap bisa dijalankan, menggendong buku dan boneka untuk mengunjungi dan berbagi rasa merdeka dengan anak-anak serta orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Dan mungkin inilah, literasi yang menguatkan ditengah jiwa dan raga yang melemah.


Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mulai tahu pergerakan yang selama ini tersamarkan. Hingga mencoba untuk membuat saya merasa tertekan dan semakin dilemahkan. Entahlah, bukankah esensi dari literasi itu untuk menguatkan dan bukan malah melemahkan.


Sampai akhirnya saya memutuskan untuk Bergerak kembali meski tersamarkan.

Keputusan saya bukan karena saya penakut. Itu hanyalah simbol kalau saya tidak bisa disetir orang, Tidak bisa ditekan orang. Dan apa yang telah dilakukan selama ini sudah jauh dari wewenang sebagai seorang teman.

Saya sedang berdamai dengan diri sendiri. Umur saya tidak lama lagi, meski belum tentu Allah mencabut nyawa saya lebih dulu. Tapi saya tidak mau usaha saya membersihkan hati ini terganggu orang lain. Sudah cukup.

Dan itu saya lakukan dengan mundur. Sehingga saya tahu, bahwa saya tidak mencoreng wajah siapapun.

Karena “Literasi itu menguatkan, bukan melemahkan”.




Artikel Terkait

Menyiapkan Peta Jalan Pulang

Prolog saya, Dan, Mungkin Juga Anda, Sudah Pernah Mendengar Kisah Tentang Orang Tua Di Desa Yang Banting Tulang Demi Menjaga Dan Memberi Jaminan Agar Bekal Biaya Anaknya Yang Bersekolah Di...

Refleksi Filosofis Atas Diri Manusia

Refleksi Filosofis Atas Diri Manusiapenulis: Silferius Hulu, S. Fil Dalam Diri Manusia Terkandung Potensi-potensi Kejiwaan (spiritual) Yang Sangat Menentukan Bagi Esensi (diri) Dan Eksistensi...

Ayam Menulis Telur

Oleh Badaruddin Amir  di Sebuah Sekolah Menulis Suatu Pagi, Dua Orang Siswa Mendekati Gurunya. Mereka Merasa Telah Lama Menjadi Siswa Namun Harapannya Untuk Segera Menjadi Penulis Belum...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul