Kisah Mengharukan Dari Wiraswastawan Bergerak

Suasana layar virtual pada acara Ngobrolin #12 PBI

Ditulis Oleh : Syaifuddin Gani - 17 Maret 2021

Oleh: Syaifuddin Gani

 

Ngobrolin #12 PBI dimulai sekitar pukul 19.40 WITA. Kelima narasumber berasal dan bermukim di tiga wilayah Indonesia, WIB, WITA, dan WIT. Artinya, di ketiga wilayah itu, mengikuti diskusi virtual dengan waktu yang berbeda.

 

Dari Kendari, selaku moderator saya mulai dengan menyampaikan latar belakang acara sebagaimana yang dipublikasikan sebelumnya. Simpul-simpul pustaka yang dibangun di dalam masyakarat, dibangun oleh banyak kalangan. Kerja kolaboratif ini berlangsung di tengah masyarakat yang menginginkan perubahan secara bersama. Elemen-elemen tersebut berasal dari beragam latar belakang pekerjaan warga. Salah satu elemen yang menjadi bagian integral dari gerakan ini adalah wiraswastawan. Dengan lain kata, mereka adalah wiraswastawan yang bergerak, yang mengintegrasikan kerja wirausahanya dengan kerja membangun pengetahuan. Mereka adalah wiraswastawan bergerak! Mereka yang akan berbicara, berbagi peristiwa, dan pengetahuan.


Ridwan Sururi dari Kuda Pustaka, menyampaikan sambutan selaku perwakilan PBI (Pustaka Bergerak Indonesia). Ia menyatakan bahwa penting artinya wiraswastawan yang ikut terlibat di dunia literasi, berkisah pengalamannya untuk menjadi pelajaran bersama.

 

Inilah rekaman dari ruang virtual, Ngobrolin #12 PBI, Sabtu, 13 Maret 2021 yang dimulai dari Manokwari.

 

Ali Sunarko seorang pegiat komunitas di Noken Pustaka, Manokwari, Papua Barat. Sebagai orang yang bergelut di jagat literasi, ia melakukan kegiatan kreatif untuk menopang prosesnya. Salah satu usaha yang dilakukannya adalah mencetak batu sebagai bahan bangunan. Batu cetakan itu lalu dijual. Hal ini dilakukan sebagai sumber pendapat aktivitas literasi komunitas.

 

Tak hanya itu, ia juga mengamalkan gerakan kuliner yang dapat dipesan oleh masyarakat, baik online maupun ofline. Inilah sebuah usaha kreatif sang penggerak. Bahkan, Ali Sunarko bersama kawan-kawannya sempat buka kafe di Noken Pustaka sebagai cara bersiasat dengan situasi di masa pandemi. Baginya, literasi harus mampu memberi kontribusi dengan caranya sendiri atas kehidupan ekonomi (literasi finansial) keluarga, relawan, dan simpul pustaka.

 

Satu hal yang diimpakan Ali, program Free Cargo Literacy sangat ia harapkan untuk hadir kembali sebagai sarana berkirim buku gratis kembali ke pelosok. Dulu, saat program itu berjalan, pengetahuan benar-benar dirayakan lewat buku yang dikirim oleh komunitas, person, lembaga, pemerintah, swasta, dan masyarakat. Bukankah ini sebuah gagasan penting yang secara nyata dapat mengangkat martabat bangsa lewat buku? Mengapa tidak dilanjutkan?

 

Ali yang meminjam filosofi masyarakat setempat dalam berkegiatan di Monokwari (Papua) dan sekitarnya, mensyukuri alam Papua. Di sana, masih menyediakan kekayaan alam yang ikut mendukung aktivitas literasnya. Ikan dapat langsung dipancing. Durian masih dapat dipetik langsung di pohonnya. Aktivitas keseharian itu menyatu dengan laku literasi di Noken Pustaka yang dikelolanya.

 

Sulhan Yusuf punya cerita lain lagi. Pendiri dan pengelola Boetta Ilmoe (Rumah Pengetahuan) di Bantaeng, Sulawesi Selatan itu, menarasikan dimensi kewirausahawannya. Kegiatan yang ia lakoni selama ini, begitu dekat sekali dengan literasi, karena ia seorang penjual buku.

 

“Saya punya toko buku. Sejak tahun 1993, saya dirikan Toko Buku Paradigma Ilmu, kemudian 2001 sampai 2002 saya dirikan cabang Toko Buku Papirus di Makassar.”

 

Ia lanjutkan bahwa tahun 2010, didirikannya Bottoe Ilmoe di Bantaeng yang terus hidup sampai kini. Kenapa lelaki kelahiran 20 Februari 1967 ini memilih profesi sebagai penjual buku? Alasannya ada tiga yakni sebagai arena mencari nafkah, menggiatkan tradisi membaca, dan sebagai sebagai sarana untuk menegakkan idealisme yang ia miliki. Kerja literasi telah menjadi ideologi hidupnya.

 

Proses menyampaikan pengalaman oleh sahabat simpul pustaka, bergerak seiring bergeraknya malam.

 

Tiga pilar itu membuat Sulhan Yusuf bertahan sampai saat ini. Makanya di tiap toko buku yang ia dirikan, ada komunitas yang lahir menyertainya, yang kini disebut sebagai komunitas literasi. Substansi kerja yang dilakukan di komunitas itu adalah pengkajian, komunitas baca, bedah buku, dan lain-lain.

 

Pada 1993—2001 ada persoalan serius yang melanda dunia perbukuan. Menurutnya, semua toko buku mengalami kemunduran. Tahun 2020, terpaksa Toko Buku Papirus ia tutup karena gairah perbukuan lesu dan dampak pandemi Covid-19 yang cukup berpengaruh pada tumbuh hidupnya toko buku.

 

Boetta Ilmu adalah sebentuk kecintaan pada tanah kelahirannya di Bantaeng. Di dalamnya, ia leluasa mengelola toko buku, komunitas, dan kajian. Akan tetapi, tahun 2015 toko buku di Bantaeng ia tutup karena di daerah, bisnis buku kurang hidup.

 

Meskipun demikian, yang tak bisa ia tutup adalah komunitasnya. Kemudian ia ubah menjadi komunitas literasi seperti saat ini, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Usianya telah 11 tahun yang didirikan pada 1 Maret 2010. Hal menarik yang disampaikan Sulhan yang dipetik langsung dari pengalamannya bahwa tidak selalu beriringan antara antusiasme masyarakat membeli buku dengan minat baca. Pada kenyataannya, banyak orang memiliki hasrat baca yang tinggi, tetapi tidak punya kemampuan beli buku. Di sini, komunitas literasi punya ladangnya untuk bergerak, menanam, dan menyemai pohon pengetahuan.

 

Ada hal yang agak aneh dan gila yang dilakukan Sulhan yakni mendirikan toko buku yang di sampingnya ada perpustakaan gratis. Akan tetapi, baginya ini adalah caranya berkomitmen untuk Bantaeng agar warganya dapat membaca buku. Itulah sebabnya, ia kadang bolak-balik Bantaeng—Makassar yang berjarak sekitar 120 kilometer.

 

Di kemudian hari, sebagai siasat berliterasi,  Boetta Ilmu dijelmakan dari komunitas baca menjadi bank buku.

 

Sebagai bank buku, ia melayani peminjanam buku secara bergilir untuk komunitas. Ia pun mencoba mengurai sebuah masalah utama komuntas literasi yakni keterbatasan koleksi yang disebabkan keterbatasan jejaring para penggiat komunitas. Nah, di sini, Boetta Ilmoe tak tanggung-tanggung beri peminjaman 100 buku. Dari sini kemudian muncul ide untuk saling meminjamkan koleksi.

 

Dalam sejarah perjalanan keterlibatan Sulhan Yusuf di ranah perbukuan, ia kemudian pernah berada di sebuah fase ketika lahirn gaya hidup baru akibat booming-nya internet.

“Ada tren orang ke internet untuk membaca yang berdampak pada lesunya toko buku. Akan tetapi, ada toko buku indie yang mengubah cara pemasaran menjadi online yang digawangi kaum muda.”

 

Terkini, sebagai bentuk ikhtiarnya di dunia perbukuan, Boetta Ilmoe ia wakafkan untuk masyarakat Bantaeng. Tidak lupa ia memberi pesan kesehatan untuk tetap bersiasat di era pandemi. Jangan sampai bawa virus baca, ikut pula virus korona. Makanya, saat ini ia tidak bergerak membawa buku, tetapi suntuk berkegaitan di komunitas bersama para anggota.

 

Di era pandemi ini, Sulhan kemudian membuat strategi untuk mengadakan pelatihan menulis bagi anggota di Bantaeng. Semua hasil tulisan itu, kemudian dipublikasikan di sebuah portal yang dikelolanya bernama kalaliterasi.com.

 

Malam semakin larut. Layar virtual semakin hangat.

 

Rudiat dari Tahu Pustaka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memperoleh kesempatan berikutnya untuk berkisah.

 

Ia memulai dengan gurauan yang membuat tawa dan senyum virtual.

 

“Jika teman-teman sebelumnya berbagi pengetahuan, giliran saya berbagi penge-tahu-an yakni tahu sebagai makanan yang menjadi sumber pendidikan dan pengalaman.”

Layar virtual dipenuhi derai tawa.

 

Sejak SD Rudiat berjualan tahu untuk membiayai pendidikannya. Orang tuanya tidak mampu, maka ia terjun langsung untuk ikut menggoreng tempe, tahu, dan lain-lain.

 

Ia berhenti sekolah sejak di kelas 4 SD. Dikatakannnya bahwa ia lahir di dunia literasi, diawali oleh keterbatasan finansial. Di dalam keterbatasan ekonomi, gagasan liar bisa lahir. Untuk tetap memutakhirkan sertifikat pengetahuannya, pada tahun 2015, ia baru mendapat ijazah paket C.

 

Tahun 1997, ia membeli tiga buku yang menjadi batu loncatan ke dunia literasi. Lalu, tahun 2002, bekerja di konveksi. Ke tempat kerja ia selalu bawa buku, disaat rekan kerjanya membawa pakaian. Akhirnya ia mengenalkan buku itu ke lingkungan kerja.

 

Tahun 2000 ia berhenti, lalu membuka usaha kreatif Tahu Pustaka dan berkeliling menggunakan motor yang diberikan oleh majikan tempat bekerja dulu. Tahu Pustaka mulai ia gerakkan tahun 2010. Sampai saat ini, ia dikenal sebagai penggerak Tahu Pustaka.

 

Tahu pun menjadi simbol perjuangan hidupnya. Yah ekonomi, yah literasi.

“Kalau mau tahu, banyak ilmu, baca buku. Kalau ingin sehat, beli tahu,” begitu ia mengenalkan filosofi kerjanya.

Jadi sambil jualan, baca buku tetap jalan. Laku kegiatan ekonomi dan literasi berjalan seiring. Salah satu program lelaki kelahiran 13 April 1973 adalah Gerakan Tahu Baca. Ia melahirkan varian rasa tahu. Ada delapan rasa tahu yang ia kreasikan. Ke delapan rasa itu adalah tahu rasa bawang, tahu rasa seledri, tahu rasa wortel, tahu rasa jagung, tahu rasa pedas, tahu rasa mentega, tahu rasa susu, dan tahu rasa keju. Terakhir ia juga berhasil melahirkan tahu buah naga. Aneka variasi rasa tahu mendapat sambutan baik konsumen, seiring dengan semakin besarnya minat bacanya.

 

Sebuah perpaduan antara tahu baca dan tahu rasa. Dalam kesetiaan berproses, ia mengguratkan jejak progres.

 

Di Bandung, begitu banyak potensi gula, kebun jahe, dan kopi yang membuatnya terpanggil untuk menulis tentang kopi. Dari sini, lahir kolaborasi untuk mengumpulkan potensi itu. Jadilah sebuah produk baru lagi yakni jahe cair dan kopi saset.

 

Pencapaian penting yang diraihnya adalah di masa pandemi ini, bisa menjual ribuan saset produk yang menjadi lumbung pendapatan. Bahkan ia sudah merambah ke toko-toko untuk bekerja sama menitip jualannya. Ia pun sampai menjual tahu ke pemerintah Kabupaten Bandung. Di sekretarianya, telah tersedia internet gratis. Terkini, ia pun memproduksi kerupuk tahu.

 

Keterampilan tangan dan kesegaran gagasan, ia padu.

 

Saat ditanya, bagaimana teknis pembuatan tahu aneka rasa itu, Rudiat menjawab bahwa secara umum cara membuat tahu aneka itu, sama dengan lainnya. Titik perbedaannya ada pada membuat tahu sesuai rasa. Misalnya untuk tahu wortel, maka dicampur tahu dan wortel. 

 

Rudiat juga berbagi pengalaman menjual aneka rasa tahu. Ada seorang pelanggannya yang membeli tahu seledri. Kata sang pelanggan, selama ini ia mengonsumsi seledri untuk obat vertigo. Akan tetapi saat mengonsumsi tahu rasa seledri bikinan Rudiat, ternyata dapat pula mengobati sakit vertigo yang dideritanya. Katanya, ini sebuah jawaban atas pertanyaan yang dia cari jawabnya selama ini; tahu seledri sebagai obat, sebagai terapi!

 

Tahu Rudiat tidak sekadar berfungsi sebagai makanan belaka, tetapi sebagai obat. Literasi kuliner dan literasi kesehatan bertemu dalam satu gerakan penge-tahu-an!

 

Rudiat juga berbagi. Ia beri faslitas pojok baca yang dibagi ke beberapa RW. Bahkan sampai ada pojok baca yang dibangun dari Dana Desa. Di sini, bertemu antara kegiatan masyarakat dan negara!

 

Dari Pulau Jawa, cerita beralih ke Pulau Sulawesi.

 

Raihan, pendiri Lipu’u Pustaka, Gorontalo, berbagi kisah.

 

Raihan adalah seorang penulis. Ia pernah ikut Mastera Novel 2010 yang ditaja Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Pada mulanya ia memiliki Rumah Lukis dengan koleksi pertama 50 judul buku. Ketika anak-anak berkumpul di rumahnya, ia berpikir apakah mereka punya minat baca? Ternyata mereka tertarik membaca walau buku masih terbatas.

 

Akan tetapi, perempuan kelahiran 17 Juli 1980 ini, memiliki rasa malu minta sumbangan buku. Ia lalu mulai mengerjakan sebuah ide yakni berbisnis tanaman hias. Tanaman hias itu kemudian berkembang dan sering dirental oleh instansi. Instansi menyewa bulanan dan dapat diganti ketika ada bunga yang layu.

 

Menurutnya, ini adalah bisnis pertama di Gorontalo. Kemudian ia berpikir kritis untuk tidak selalu menyuplai tanaman dari Surabaya. Ia lalu belajar dari pengalamannya berbisnis dengan rekan Surabaya. Kemudian ia membudidayakan sendiri di Gorontalo. Mengurangi ketergantungan untuk sebuah kemandirian.

 

Dari siasat inilah kemudian ia mulai membeli buku.

 

Raihan berpendapat bahwa ini adalah bisnis yang tidak butuh banyak modal, tetapi ketekunan. Ia pun merambah ke bisnis kuliner ikan tuna. Ia membuat abon tuna dengan variasi rasa yang dilakukannya dengan teknik survei pasar. Ia meracik rasa dari hasil wawancara. Ia lakukan observasi rasa. Hasilnya, abon tuna aneka rasa, laku di pasaran.

 

Menariknya, di masa pandemi ini, baginya tidak ada pengaruh signifikan untuk bisnis rental tanaman rias yang ia geluti. Begitu pula dengan bisnis abon ikan, tetap berjalan karena para emak-emak memesan ikan langsung dari rumah. Ibu rumah tangga memiliki kebiasaan baru di normal baru yakni pesan makanan secara online. Raihan pun terus berkreasi sampai membuat naget tuna yang sudah dijual ke laur daerah.

 

“Sebuah komunitas butuh finansial,” imbuh Raihan.

 

Dengan demikian, jangan bergantung pada seseorang atau instansi tertentu. Jika ada ketergantungan,  maka tidak dapat bergerak bebas. Tidak ada kemandirian.

Akan tetapi, sebuah komunitas juga perlu berjejaring. Pada tahun 2016 ia mendapat bantuan dari Nirwan Ahmad Arsuka selaku Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia dan juga Kantor Bahasa  Gorontalo. Ia dan anggotanya lalu menggilir peminjaman buku ke komunitas dan lembaga seperti panti asuhan dan kalapas anak. Bahkan ia ikut memfasilitasi kemunitas mendapatkan bantuan BI Corner. Lipu’u Pustaka juga menjembatani sumbangkan lemari dan buku ke komunitas.

 

Selama pandemi, Raihan dan kawan-kawan tidak dapat menjalankan program seperti literasi masjid dan belajar bersemuka di rumah, karena suaminya adalah salah seorang anggota Tim Satgas Covid di kotanya. Sehingga protokol kesehatan benar-benar dipraktikkan.

 

Untuk melebarkan sayap gerakan, ia membangun Paguyuban Petani Bunga Gorontalo. Di paguyuban, mereka harus mengenali nama tanaman, filosofi tanaman, asal-muasal tanaman, dan segala hal terkait tanaman. Hal ini dilakukan agar penjual memiliki wawasan atas tanaman jualannya. Sebab penjual yang tak literat, akan kalah bersaing. Petani di era kekinian harus berwawasan juga.

 

Di tengah progresivitas literasinya, ada bisnis baru yang ia lakoni kembali yakni melukis. Sebuah usaha yang digali dari hobi lamanya. Ketika ia unggah lukisan itu di Facebook, banyak pesanan masuk, termasuk dari luar daerah. Alhamdulillah, ada tambahan finansial, katanya.

 

Saat ditanya soal pengetahun melukis, ia jawab bahwa dirinya belajar otodidak. Kemudian, untuk belajar lebih serius dan berjejaring, ia kini bergabung dengan Perupa Gorontalo. Di sini, teman perupa minta ia menulis tentang gerakan literasi di Gorontalo. Agenda lain mereka giatkan yakni diskusi dan pameran.

 

Di Paguyugan Petani Bunga Gorontalo, mereka bertani, membudidayakan tanaman, dan mengenali tanamannya. Pengalaman lain yang ia alami, ada semacam mitos bahwa ada tanaman tertentu yang tidak bisa tumbuh di Gorontalo. Raihan penasaran. Ia tidak begitu yakin. Buku ia baca dan mendapati pengetahuan cara menanam bunga. Bunga “mitos” itu pun kini tumbuh mekar di sana.

 

Bunyi jengkrik mengiringi dalamnya malam ketika Erin Cipta, seorang ibu ramah tangga, eks TKW Taiwan, penggerak pustaka, dan penulis itu mendapat giliran terakhir berbagi kisah.

 

Ia mengelola perpustakaan dengan gairah gotong-royong dan semangat kemandirian yang dudukug buruh migran, baik di luar negeri maupun yang sudah di Indonesia.

 

Pada mulanya, ia suka baca buku tetapi masih untuk diri sendiri, belum kepentingan orang banyak.

 

Darah pengetahuan sudah mengalir dalam tubuhnya. Ayahnya seorang seniman dalang. Ia lalu diberi buku oleh ayahnya, sebuah buku berbahasa Jawa. Dari sanalah novelis ini mengenal literasi. Ia gemar baca dan beli buku sebagai kesenangan pribadi dan untuk orang-orang di rumahnya.

 

Tahun 2009 saat ia mulai ber-Facebook, ia bertemu beberapa kawan yang punya niatan untuk menghibahkan bukunya. Peristiwa itulah yang kemudian melahirkan pertanyaan dalam dirinya.

“Kenapa kalau ada orang berbagi buku, saya juga tidak melakukannya? Bagainmana nanti saya bisa berbagi buku tapi tidak kehilangannya? Dulu saya jualan keliling. Maka saya sekaligus bawa buku untuk dipinjamkan yang nanti dikembalikan.”

 

Salah satu kisah menarik seorang Erin adalah ia pernah mengalami “tsunami” kehidupan. Kejadian tersebut membuatnya meninggalkan tanah air tercinta, pergi Taiwan untuk mencari pekerjaan. Ia pun mendapat pekerjaan dan harus bekerja penuh tujuh hari dalam seminggu.

“Bahkan ada satu hari saya bekerja hamper 20 jam lamanya. Kelelahan fisik saya, terasa amat sangat. Selain itu juga dilanda kelelahan batin, rindu pada anak di tanah air. Termasuk rindu pada buku.”

Hal yang mengobati lelah dan rindunya, ketika dapat gaji pertama, Erin menggunakannya untuk membeli majalah dan buku berbahasa Indonesia terbitan Taiwan.

 

Peserta pertemuan virtual di layar Zoom mengikuti setiap kata yang meluncur dari bibir Erin.

 

Katanya, di sela waktu istirahat yang sedikit, ia gunakan untuk membaca. Hiburannya di Taiwan, membaca!

 

Tahun 2013 ia mulai ikut lomba pada media terbitan Taiwan berbahasa Indonesia, dengan bermodal gadget sederhana. Lomba menulis fiksi yang dilaksanakan TLM (Taiwan Literary Award) for Migrant. Pada lomba itu, Erin menang untuk Kategori Merit Award. Itu diraihnya saat dirinya tahun kedua di Taiwan.

 

Erin lalu mendapat jatah libur untuk pergi menerima piagamnya.

 

Saya ditanya, apa yang dikisahkan Erin dalam fiksinya sehingga berhasil juara?

“Saya ceritakan seorang TKW pekerja migran dari Indonesia, perawat lansia yang menyayangi hewan peliharaan majikan. Di Taiwan, anjing adalah anggota keluarga, bukan hewan semata. Di sana, menyayangi anjing layaknya menyayangi anggota keluarga. Ada konfllik batin sang tokoh karena merawat hewan yang bertentangan dengan nilainya sebagai muslim.”

Dalam perjalanan pekerjaan dan literasi Erin di Taiwan, ia bertemu dengan aktivis baca di Taiwan yang bekerja di NGO. Mereka lalu menyediakan buku-buku dari Indonesia, Vietnam, Filipina, Taiwan, dan lain-lain. Erin dan sahabat barunya itu membentuk GEMAS (Gerakan Masyarakat Sadar Baca dan Sastra).

 

Waktu jualah yang mengharuskan Erin meninggalkan Taiwan. Sebuah kota yang menempa mental, nilai, dan pengetahuannya.

 

Menjelang kepulangannya, teman-teman di sana mengusulkan agar ia membuka perpustakaan di Indonesia yang nantinya didanai teman-temannya sendiri dari Taiwan bernama Gemas Library. Perpustakaan itu kini berada di lingkungan pesantren. Itulah sebabnya, pembaca Gemas Library berasal dari anak-anak pondok.

 

Salah satu momen penting Erin Cipta sebagai penulis adalah bergabung dengan Penerbit Diva Press, Yogyakarta. Di penerbit ini pula, novel pertamanya terbit Carlos, Seekor Aniing, Sebuah Kehidupan, tahun 2017.

 

Inilah kutipan novel Carlos, Seekor Aniing, Sebuah Kehidupan dari gemuruhdalamsunyi.wordpress.com.

 

Kisah cinta tak hanya terpancar dari sepasang manusia. Cinta dan kasih sayang bisa tumbuh dan mekar dari mana saja. Seperti dikisahkan Erin Cipta di novel ini. Kisah yang mulanya berupa cerpen ini ditulis Erin sewaktu ia menjadi perawat lansia di Taiwan. Tokoh cerita dan latar tempatnya pun berada di negeri tersebut. Erin mengisahkan persahabatan seorang anak down syndrome bernama Ye Feng dengan anjing kesayangannya yang bernama Carlos.

 

 

Perjalanan pengetahuan novelis kita berikutnya adalah ia pun bertemu banyak kawan-kawan baru yang bergerak di Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Di simpul PBI itulah ia lalu bertemu Hendra Gunawan dan membawanya menulis buku bergambar Seri Anak Bertanya #5: Siapa Matematikawan Terhebat Sepanjang Masa? Di sini Ercin Cipta sebagai penulis dan Nita Darso sebagai ilustrator.

 

Dunia Erin bergerak dari dunia kerja ke dunia cipta. Cocok dengan namanya, Erin Cipta.

 

Sebagai sumbangsih Erin bagi dunia literasi, honor dari menulis dan pembicara ia gunakan sebagian untuk beli buku, menjadi koleksi di Gemas Library.

 

Apakah Erin berhenti dalam dunia cipta? Tidak!

 

Ia juga mempelajari seluk-beluk madu Indonesia. Saat ini, selain sebagai ibu rumah tangga, juga berjualan ramuan nusantara secara terbatas di kalangan sendiri, dalam bentuk cair.

 

Dari buku, ia melek bahwa madu sangat bervariasi. Bahkan dulu, ia baru ketahui kelak, ayahnya suka madu dan mencatatnya. Ramuan madunya saat ini untuk menguatkan imun. Bahkan ia sudah buat vidoenya di Youtube. Wah, lengkap, ‘kan?

 

Oh yah, satu lagi Erin. Saya yakin, madu ramuanmu, selain menguatkan imun, juga menentramkan iman.

 

Saat sesi tanya jawab, begitu banyak pertanyaan, pernyataan, dan apresiasi kepada narasumber. Apresiasi itu selain datang dari peserta, juga dari sesama pembicara.


 

Kuswanto dari Surabaya bertanya kepada semua narasumber. Ia mengatakan bahwa narasumbernya keren-keren. Pertanyaannya, pernahkah kalian merasa bosan atau jenuh dalam bergerak di dunia literasi? Jika pernah, bagaimana cara melewatinya? Terimakasih, Kuswanto, Surabaya.

Setiap narasumber memperoleh kesempatan menjawab.

 

Ini jawaban Erin.

 

Ia tidak mungkin tinggalkan dunia cipta, dunia pengetahuan itu, karena cinta! Sebab dari sanalah ia bisa membaca sampai bisa menulis.

 

Salah satu caranya menjaga cinta adalah program Beternak Buku. Ia membeli buku bagus di Yogya lalu dilelang. Siapa yang siap tukar dengan buku paling banyak, dia dapat buku bagus versi Erin itu. Selain itu, ia juga memperluas pergaulan. Dari sana ia memperoleh semangat dan kegembiraan yang ia tularkan ke masyarakat sekitar.

 

Bagaimana dengan Ali Sunarko, sahabat kita dari Manokwari?


Katanya, manusiawi belaka kalau ia jenuh. Ia pun melewati fase itu. Akan tetapi, saat melihat ekspektasi anak-anak Papua yang luar biasa cinta pada buku, rasa jenuh itu sirna seketika. Ia dan relawan di Noken Pustaka dengan senang hati melayani mereka, demi upaya meningkatklan taraf hidup yang layak di jalur pengetahuan.

 

Rudiat, sang penggerak Tahu Pustaka, punya kiat lain lagi.


Ketika di titik jenuh, katanya itu sesuatu yang tak bisa dihindari. Apalagi kadang ada reaksi yang kurang appreciate dari masyarakat. Itu semua ia rasakan. Bahkan katanya, dari 1997 ke 2021, banyak sekali hambatan dan titik jenuh.

 

Meskipun demikian, ia kembali ke niat awal yakni membangun perpustakaan yang tidak dilatarbelakangi oleh pemerintah. Cara tempuh demikian, membuatnya harus mandiri dan teguh. Ia harus siap untuk tidak dikenal publik. Ia bahagia dalam proses yang membutuhkan energinya. Katanya, nanti ketika di-blow-up media, baru kegiatannya diketahui masyarakat. Meskipun ia sudah dikenal luas, ia tetap bekerja dan bergerak dengan kemandirian dan jejaring. Dari sana, ia tetap setia di jalan penge-tahu-an pustaka yang ia pilih.

 

Raihan dari Lipu’u Pustaka, Gorontalo, punya kisah juga.

 

Sejak awal untuk menjaga niat, ia kurangi publikasi kegiatannya, terutama kegiatan berbagi. Ia berkaca pada banyaknya komunitas yang memublikasikan secara besar-besaran aktivitasnya, tapi kemudian mati. Itu yang ia jaga. Ucapnya, alhamdulillah pekerjaan ini ia begitu hargai dan senangi. Ia merasakan hidup di antara anak-anak komunitasnya. Kalau begitu, tidak bisa lagi digoyahkan yah, Bu Raihan?

 

Sulhan Yusuf dari Boetta Ilmoe, ikut berkomentar.

 

Setelah hitung-hitung, durasi waktu yang ia lakoni, sudah lebih seperempat abad. Boleh dikatakan dari sisi bisnis, ia dapat semua. Pernah berjaya, bersyukur, jalan pake kepala, kaki di kepala kepala di kaki—meminjam lagu Ariel Noah-- sudah berkali-kali ia lakoni. Bahkan ia pernah alami keterpurukan. Kalau dibilang jenuh, susah mau dikatakan, apakah pernah dialami aatu tidak. Sebab ia masuk ke dunia buku karena pilihan. Bukan karena tidak ada pekerjaan lain.

 

Sebenarnya ia alumni IKIP Ujung Pandang yang punya peluang untuk menjadi tenaga pendidik di sekolah atau kampus, tetapi ia telah memilih berwirausaha. Pilihan pertamanya menjual buku dan tak pernah berubah sampai saat ini. Triknya, ia seimbangakn antara bisnis, idealisme, dan berdedikasi di literasi.

 

Sulhan didukung keluarga: anak dan istri. Jika ada masalah ia selesaikan secara internal. Ia juga berbagi kiat, selain bergiat di dalam komunitas, ia dedikasikan baktinya sebagai rekreasi. Jadinya, jika ia ke Bantaeng, ia jadikan sebagai wisata. Lalu, untuk mengabadikan jejaknya, ia buat portal untuk media menulis yang bernama kalaliterasi.com. Di sini, Sulhan Yusuf berposisi sebagai pimred. Dari sini kita akhirnya mafhum, Sulhan tidak akan berpindah ke lain hati.

 

Ridwan Sururi dari Kuda Pustaka berbagi pendapat pula yang sebelumnya mewakili PBI memberi sambutan di muka acara.

 

Baginya, bukan hanya penting apa yang disampaikan oleh teman-teman sebelumnya. Bahkan ia menjadi sumber pengetahuan berharga bagi pegiat literasi di Indonesia. Ia lalu berbagi pengalaman juga, saat sampai pada titik jenuh, saat di titik kelelahan, ia ingat anak-anaknya yang selama ini menjadi sahabat belajar di Kuda Pustaka. Dari sanalah semangat mengalir dalam diri pria kelahiran 13 April 1973 ini, yang membuatnya bertahan untuk mantapkan gerakan ini.

 

Ditegaskannya, ia ingin bersedekah tetapi tak punya harta. Dengan cara berbagi tenaga, waktu dan pengetahuan di Kuda Pustaka, ia telah melakukan sedekah yang tak ternilai harganya.

 

Imhe Mawar dari Makassar memberi pandangan menarik.


Baginya, cerita kawan-kawan adalah inspirasi bagi kita. Ia yakin, satu tahun penuh bekerja dari rumah, di masa pandemi ini, pasti ada kejenuhan tersendiri bagi relawan dan penggerak. Akan tetapi, selalu ada hal-hal baik yang dikerjakan kawan-kawan yang sangat menginspirasi. Ia pun mengusulkan agar kisah inspiratif ini harus disebarluaskan oleh PBI. Selain dituliskan di media digital, juga dibukukan.

 

Dari Padang, Nasrul Aswar seorang wartawan dan pengamat sastra memberi pendapat.

 

Ia salut kemandirian ekonomi kegiatan literasi yang diamalkan para relawan komunitas. Katanya, memadukan antara sentuhan ekonomi dan literasi adalah sebuah usaha yang layak ditiru. Melihat fenomena ini, ia berharap agar Padang pun harus bisa memadukan antara literasi dan usaha kecil-kecilan. Ia mencontohkan kemungkinan bisa dilakukan yakni masak rendang sambal membaca dan menulis.

 

Di dalam layar Zoom juga ada Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur, Syaiful Bahri Lubis. Katanya, pengalaman lima kawan kita, luar biasa. Sayangnya, pengalaman teman-teman kita ini masih terbatas penyebarluasan informasi atau ceritanya. Alangkah baiknya pengalaman itu dituangkan di dalam sebuah reportase atau apa pun namanya, lalu disebarluaskan.

 

Ia berpendapat bahwa walau bukan diberitakan di media mainstream, akan tetapi melalui media sosial komunitas, dapat diceritakan pengalaman yang cukup menginspirasi itu.

 

“Ini perlu kita wartakan, disebarluaskan. Kisah ini menarik dibaca.”

 

Ia menjelaskan bahwa saat ini, literasi tumbuh kuat di NTT.  Tetapi ia berharap agar Free Cargo Literacy disuarakan kembali. Pengiriman buku ini harus dibiayai oleh negara, pungkasnya.

 

 

Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka, ikut memberi apresiasi.


“Apresiasi tertinggi kepada kawan-kawan kita sebagai narsum malam ini. Kita bukan mainstream di masyarakat. Yang mengapresiasi kita adalah justru anak-anak yang tetap ngotot mengetuk pintu pustaka hanya agar bisa berkumpul dan membaca buku para relawan. Pengalaman ini mungkin dianggap ganjil oleh banyak orang. Tapi jutsru keganjilan ini dibutuhkan oleh masysrakat sebagai rasa cinta relawan dan masyarakat itu sendiri,” kata penulis buku Semesta Manusia tersebut.

 

Nirwan menjelaskan bahwa hal penting lain adalah kita punya forum berbagi semangat dan mengapresiasi satu sama lain, sehingga forum ini bisa kita kembangkan untuk mengundang teman-teman lain berbagi kisah yang mengharukan. Kisah-kisah tersebut layak disebarkan yang bisa membuka mata orang-orang berwewenang untuk membuka kembali pengiriman buku gratis.

 

“Bukan duitnya tidak ada. Tapi regulasi yang tidak fleksibel, sehingga orang-orang ragu untuk beri bantuan.”

Kata penulis buku Percakapan Semesta tersebut bahwa pengiriman buku gratis itu adalah sebuah upaya nyata untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Di ujung pembicaraanya, ia menyampaikan terima aksih kepada para narsum.

 

Jarum jam mengisyaratkan tak lama lagi pergantian waktu. Sebelum menyelesaikan acara, selaku moderator, saya beri kesempatan kepada setiap narsum untuk memberi satu kalimat penutup. Sayang sekali saya tidak sempat merekam kata-kata indah itu.

 

Satu pernyataan yang saya ingat dari Octalyna Puspa Wardany, dokumentator audiovisual diskusi malam itu. Katanya, ia begitu tergugah dengan kisah para penggerak literasi ini. Ini adalah sebuah momen yang sangat mengesankan baginya. Begitu mengharukan, menggetarkan, dan menyentuh. Layak dipublikasikan. Ia senang dengan forum malam ini. Begitu kira-kira Cataryna menutup pendapatnya.

 

Yah, saya sepakat dengan Octalyna. Kisah para penggiat pengetahuan malam itu begitu epik. Setiap narasi yang keluar, mengandung makna perjuangan yang amat berharga. Kerja dan karya berpilin dalam laku hidup yang layak dihormati.

 

Terus bekerja dan berkarya, kawan. Terus menulis dan mencipta!

 

Kendari, 16 Maret 2021


John Doe
Syaifuddin Gani
Penyair, pendiri, dan pengelola Pustaka Kabanti Kendari. Selain itu juga bekerja sebagai peneliti Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara.

Artikel Terkait

Perempuan Dan Pernikahan

Perempuan Selalu Menjadi Sasaran Utama Di Masyarakat. Mereka Sering Kali Diterkam Dengan Segudang Pertanyaan Mengenai Dirinya. Perempuan Lajang Selalu Akan Dihujani Pertanyaan 'kapan Kamu Nikah?'....

Sesudah 2004 Dan Sikap Kita Atas Bencana

Siang Itu, Pak Syamsuddin, Tuan Rumah Tepat Kami Tinggal Selama Dua Bulan Menjalani Kuliah Kerja Lapangan (kklp), Datang Tergesa Yang Disambut Heran Oleh Istrinya. Kami Mendengar Perbincangan...

Turun Gunung

Turun Gunungada Keindahan Dalam Hutanada Hutan Dalam Keindahandiantara Ribuan Bahkan Jutaan Pohon Cengkehrumah-rumah Kobong Berdiri Kokohdi Sela-sela Pohon Saguada Nyanyian Para Burungberjalan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul