Kiki: Sudah Kubaca Semua, Tak Ada Lagi Buku Yang Menarik

Kiki, Bilal, dan Faqiha, pengunjung setia TBM Sou Mpelava

Ditulis Oleh : Syilva Muslimah - 03 November 2020

“Sudah kubaca semua. Tak ada lagi yang menarik.”

         Kalimat bernada keluhan itu datang dari seorang pengunjung setia TBM Sou Mpelava. Namanya Kiki, siswa kelas IV SD Inpres Pelawa.

        Kiki adalah satu dari sedikit sekali orang Batak yang ada di Desa Pelawa. Pernah tinggal dan mengenyam pendidikan di salah satu sekolah di Medan membuat anak lelaki ini sering menggunakan kata-kata baku yang jarang dipakai oleh kami orang Pelawa. Logatnya juga masih sangat kental. Barangkali karena di lingkungan keluarganya, ayahnya yang marga Nasution itu berlogat Batak, ditambahi Ibu dan kakeknya yang Sinambela juga berdialek Batak, dan pernah saya mendengar neneknya yang Kaili tulen pun terbawa arus logat serupa.

         Jangankan neneknya yang serumah, kami yang tidak tinggal serumah saja kerap kali terpancing untuk ikut menyamai logat Kiki dan Bilal, adiknya. Ah, anak-anak ini sama sekali tidak terkontaminasi dengan logat Pelawa yang khas itu.

"Kali ini mau pinjam buku apa lagi kau, Bang?"

Seperti itu biasanya saya bertanya jika Kiki datang ke Sou Mpelava. Menyamai Bilal yang memanggilnya Abang. Tak lupa saya sematkan logat meniru Judika. Lalu Kiki akan tersipu malu mendengar logatnya ditiru. Atau barangkali anak itu merasa lucu melihat perempuan suku Kaili ini memaksakan diri untuk berdialeg Batak.

            Hampir semua buku bacaan anak-anak yang ada di TBM Sou Mpelava telah tamat dibaca Kiki. Bahkan ada yang sudah berulang-ulang dikhatamkannya. Tiga minggu yang lalu dia mengeluhkan hal itu. Ketika saya tanya mengapa ia hanya datang bermain catur dan tidak meminjam buku, anak berumur 10 tahun itu menjawab “Sudah kubaca semua, tak ada lagi buku yang menarik.”

Beberapa saat saya terdiam mendengar jawabannya. Atau lebih tepatnya berpikir soal apa yang harus dilakukan jika menghadapi pembaca jenis ini.

"Kau mau baca buku tebal? Tapi tidak ada gambarnya." tanyaku. Ide itu muncul begitu saja.

            "Yang mana?" jawab Kiki antusias. Berbinar matanya.

            Saya mendekat ke rak buku fiksi lalu sigap mengambil buku ‘Bumi’ yang ditulis oleh Tere Liye. Itu adalah novel fantasi setebal 438 halaman. Kiki menerima buku itu dengan sorot mata khas anak-anak yang penuh rasa ingin tahu. Sesaat kemudian, ia pamit pulang. Anak itu berlari dengan langkah kaki ringan nan bahagia yang telah lama hilang dari langkah-langkah orang dewasa.

            Beberapa hari kemudian, Lopian Sinambela yang akrab kami sapa Butet, ibu Kiki, datang membawa kabar gembira. Katanya ia ikut membaca buku yang dipinjam Kiki. Ibu muda itu turut penasaran dengan cerita Raib, Seli, dan Ali melawan Si Tanpa Mahkota.

            “Saya bilang Kiki, kalau abis kau baca jangan dulu kasi pulang, Ibu mo baca juga."

            Hohoho. Rupanya perempuan yang darinya aku mengenal kain ulos itu sudah mulai tertular virus literasi.

***

            “Kaka Eva, saya mau kasi pulang buku ini. Mau pinjam lanjutannya lagi.”

Hari ini, Kiki datang mengembalikan ‘Bumi’ dan meminjam buku kedua dari serial Bumi yang berjudul ‘Bulan’. Saya katakan padanya kalau buku-buku itu adalah serial novel yang panjang. Setelah ‘Bulan’ ada lagi ‘Matahari’, ‘Bintang’, ‘Komet’, ‘Komet Minor’, ‘Ceroz Batozar’, ‘Selena’, ‘Nebula’, dan masih banyak lagi yang dijanjikan Bang Darwis ‘Tere Liye’. Kiki semakin bersemangat. Katanya, dia akan membaca semuanya. Saya tersenyum bahagia. Esok lusa ketika buku terbaru serial Bumi dirilis, saya akan memiliki teman baru untuk membincangkannya.

  Selamat membaca, Rizki Alfian Putra Pratama Nasution. Horas!


John Doe
Syilva Muslimah
Orang Pelawa yang bercita-cita ke Arab Saudi

Artikel Terkait

Mewarnai, Alternatif Relaksasi Di Tengah Pandemi

Semenjak Siang Anak-anak Telah Berdatangan Ke Tbm Sou Mpelava. Sebagian Mengaku Sengaja Datang Lebih Awal Agar Tidak Terlambat. Tampaknya Mereka Sudah Tak Sabar Mengikuti Kegiatan Kelas Mewarnai...

Tentang Haters Di Taman Bacaan

Pak, Apakah Ada Orang Yang Benci Taman Bacaan? Begitu Tanya Seorang Pegiat Literasi Nun Jauh Di Sana Ke Saya.maka Saya Jawab, Tentu Dan Pasti Ada. Sekalipun Taman Bacaan Bersifat Sosial, Pasti Ada...

Sajak Tiga Lentera

Sajak Tiga Lentera Karya: Syarifudin Yunustuhan, Boleh Aku Bertanyaketika Gunung Di Sebelah Sana Membisu Termenungketika Ladang Dan Kebun Di Sebelah Sana Membelalak Tercengangketika Sungai Di...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul