Kesenian Jarang Jenggo Solokuro Lamongan

Picture by Fathan Faris Saputro

Ditulis Oleh : Fathan Faris Saputro - 22 Januari 2020

Kesenian Jaran Jenggo adalah kesenian tradisional masyarakat Desa Solokuro yang telah lama hidup dan berkembang di tengah masyarakat pendukungnya. Desa Solokuro sendiri merupakan desa dengan luas wilayah 1.717 Ha, berbatasan dengan Desa Payaman di sebelah utara, Desa Takerharjo di sebelah timur, Desa Payaman dan Tenggulun di sebelah barat, dan berbatasan dengan Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren di sebelah selatan. Desa Solokuro berjarak 36 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Lamongan. Aku banyak mengenal Jaran Jenggo ini karena bertetangga rumah dengan pemiliknya, mari kembali membahas keseniannya.

Setelah dikhitan dan dinyatakan sembuh untuk melakukan prosesi Jaran Jenggo. Prosesi pertama adalah sungkeman pengantin khitan kepada orang tua untuk meminta maaf dan memohon do’a restu agar diberi kelancaran dalam perjalanan arak-arakan.


Kemudian dilanjutkan dengan sungkem Jaran Jenggo kepada anak dan orang tua penyelenggara sebanyak tiga kali. Sungkem tersebut dilakukan sang kuda dengan menekuk kaki depan dan kepala kuda turun ke bantal dan tikar di depan anak dan orang tua. Orang tua kemudian mengantar anaknya menaiki kuda untuk kemudian diarak.

Kesenian ini merupakan kesenian arak-arakan yang dipadukan dengan atraksi-atraksi yang dilakukan oleh kuda dan beberapa pawang. Kesenian Jaran Jenggo adalah seni kuda yang dilatih njenggo, yang berarti mengangguk-anggukan kepala sambil menari/berjoget menurut panduan seorang pawang yang disesuaikan dengan irama musik. Kesenian Jaran Jenggo di Solokuro Kecamatan Lamongan. Jaran Jenggo sendiri memiliki makna jaran goyang atau kuda goyang. Keseniaan ini menggabungkan beberapa seni musik. Jaran Jenggo dilakukan oleh 12 pemain dengan rincian 2 penuntun kuda, 9 pemain musik jedor (4 pemain rebana, 2 pemain kendang, dan 3 pemain jedor yakni bedug berukuran kecil), 1 pengarah pengantin khitanan, 2 pawang penggiring kuda saat arak-arakan dan prosesi lain.


Religi dan tari bahkan dibumbui dengan kekuatan supranatural/mistis agar lebih menarik yang dipandu seorang pawang. Jaranan juga merupakan perpaduan antara sifat sakral dan profan, karena kesenian memiliki unsur-unsur seni hiburan yang menonjol. Kuda yang sudah dilatih tersebut akan bergoyang sesuai irama, kuda tersebut ditunggangi anak laki-laki. Kuda dan anak laki-laki tersebut diberi pakaian mewah layaknya seorang raja yang menunggangi kudanya. Kesenian Jaran Jenggo ini biasanya diundang jika ada seseorang yang meminta untuk menyelenggarakan sebuah acara, misalnya sunatan, acara ulang tahun dan karnaval. Tuan rumah yang mengundang biasanya yang memiliki anak laki-laki dibawah usia 12 Tahun.


Cara mengapresiasi kesenian Jaran Jenggo ini dengan diiringi lagu-lagu islami dan sholawat, serta ada yang mengayomi dengan payung. Musik yang mengiringi Jaran Jenggo tersebut adalah dari orang-orang yang memainkan alat musik seperti rebana, gendang, gambang, piano dan jedor. Dengan demikian Jaran Jenggo tersebut diarak mengelilingi desa dan di setiap perempatan kuda tersebut atraksi dan bergoyang seirama dengan suara musik. Keunikan dari kesenian ini juga sudah sangat jelas, kuda yang sudah terlatih untuk bergoyang sudah menjadi ciri khas pada kesenian Jaran Jenggo karena sanggat berbeda dengan kuda-kuda pada umumnya.


Pada awal sejarahnya, adanya Jaran Jenggo di Desa Solokuro ini muncul pada tahun 1907-an, jaran ini adalah milik dari Mbah H. Rosyid, beliau adalah seorang kepala Desa Solokuro. Mulanya kuda mbah H. Rosyid merupakan alat transportasi atau sebagai tunggangan pribadi untuk jalan-jalan ke sawah juga berdagang, tetapi ada keunikan sendiri di mana kuda mbah H. Rosyid ini ketika dinaiki langsung mengangguk-anggukan kepalanya sambil berjalan meringik (bergoyang). Sejak itulah mbah H. Rosyid dan masyarakat Solokuro menamakannya sebagai Jaran Jenggo, yang berarti kuda yang bisa berjoget. Kemudin mbah H. Rosyid sering bermain bersama anak cucu untuk berlatih dan bermain bersama kudanya dan apabila punya putra, cucu, family yang baru dikhitan pasti diarak keliling desa yang diiringi terbang jidor sebagai penghargaan atau pengumuman bahwa pengantin yang diarak telah dihitan. Dari kebiasaan itu akhirnya budaya itu diwarisi oleh keturunan mbah H. Rosyid secara turun temurun. Hal ini terbukti sepeninggal mbah H. Rosyid kesenian tradisional Jaran Jenggo itu dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama mbah H. Sarno juga penerus kepala Desa Solokuro. Setelah beliau wafat dilanjutkan putranya yang bernama mbah H. Khudori juga penerus kepala Desa Solokuro. Generasi selanjutnya diwariskan kepada putra H. Kudhori yaitu bapak Djayadi, beliau adalah seorang sekretaris desa. Lalu dilanjutkan oleh saudara sepupunya yaitu bapak Sumindar. Kemudian pada tanggal 1 juli 2002 dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama bapak Sampurno dan Bapak Kuri sampai sekarang.


Seiring dengan perkembangan zaman para pemain/pawang pun bertekad untuk mencoba mengkolaborasi permainan kesenian tradisional Jaran Jenggo dalam beratraksi. dengan motivasi dan rajin berlatih taklama kemudian pawang kuda berhasil menundukkan kesenian Jaran Jenggo dengan mengkolaborasi dalam beratraksi.

Sejak itulah para pemain/pawang menamakan kesenian Jaran Jenggo “Aswo Kaloko Joyo” yang berarti jaran kondang jayane (kuda terkenal kejayaannya). Sejak itulah para pemain Jaran Jenggo bertekat untuk melebarkan sayap agar permainan kesenian Jaran Jenggo tidak monoton pada ngarak manten khitanan saja, tetapi para pemain/pawang sanggup melayani ngarak sunatan, ngarak manten pernikahan, ulang tahun, karnaval dan acara-acara penting adat dan masyarakat. Begitu pula dengan musik, alat musik yang digunakan dalam mengiringi kesenian Jaran Jenggo adalah band jidor pemain maupun pawang mencoba berkolaborasi dengan berbagai jenis musik dari berbagai daerah sehingga mampu memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pengguna yang punya hajatan.


Ragam Gerak Kesenian Jaran Jenggo memiliki macam-macam gerak dan tari diantaranya sebagai berikut: Kuda bersujud (nyemba) di depan pengantin/familiy. Kuda dan pawang berjoget sepanjang perjalanan tanpa kendali. Kuda naik kursi. Kuda bisa berjoget, berdansa bersama Jaran Jenggo. Penari jaran berjoget, menari diatas punggung kuda dan jungkir balik dari berbagai arah. Pawang dan pemain jaran mluma (tiduran) di sela-sela kaki kuda. Kuda menginjak kepala pawang. Tarian kuda jengger. Atraksi mati suri Bersama pawang kuda. Iringan musik yang digunakan untuk mengiringi Jaran Jenggo bergoyang adalah band jedor.


Musik dari berbagai daerah seperti jedor, kendang, terbang, gambang, dan horjen. Jedor adalah salah satu jenis musik yang banyak mendapat pengaruh dari musik Eropa. Kata "tanjidor" adalah kata dalam bahasa Portugis tangedor, yang artinya "alat-alat musik berdawai". Kendang adalah sebuah alat musik jawa (tepatnya dari jawa tengah) yang digunakan untuk mengimbangi alat musik lain atau mengatur irama. Instrumen ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Rebana/terbang adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Gambang adalah alat musik pukul tradisional (bagian dari perangkat gamelan) yang dibuat dari bilah-bilah kayu atau besi bilah, yang panjang dan besarnya tidak sama, dimainkan dengan alat pukul. Horjen/piano adalah sebuah alat musik yang dimainkan dengan jari jemari tangan.


Penonton akan dibuat tertegun dengan kebolehan binatang piaraan ini. Bukan hanya dandanannya saja yang serba gemerlap bak pakaian sang raja yang menyita banyak mata. Lebih dari itu, perilakunya yang menyerupai manusia membuat banyak kepala bergeleng-geleng karena kagum. Bagaimana tidak, dua ekor binatang ini bisa berjoget mengikuti irama terbang dan jidor (semacam beduk), jenis alat musik Islami.


Jaran Jinggo ini biasanya ditunggangi bocah belia yang didandani bak raja biasanya seorang anak kecil yang sedang punya acara atau hajatan. Jaran Jinggo bisa larut dalam gerakan, binatang ini manggut-manggut mengikuti irama jidor. Jaran Jenggo bisa menyampaikan salam hormat dengan cara bersujud kepada penonton. Kadang pula ketika digelarkan tikar dan lengkap dengan bantal, binatang jantan bersujud dan mulutnya mencium bantal. Sejurus kemudian, binatang ini tertidur pulas di atas tikar. Selain berkat pawang hewan yang handal gerakan kuda termasuk seniman lainya ini dibawa pengaruh magic. Indikasinya, begitu sang pawang mencoba membangunkannya dengan sebilah keris yang digenggam ditangannya, biasanya sontak makhluk yang membujur kaku ini terbangun. Begitulah waktu dan tempat pertunjukan kesenian Jaran Jenggo yang sedang mencoba memperlihatkan aksinya di hadapan penonton atau masyarakat.


Fungsi estetika mengharuskan upaya kesenian juga tidak dilepaskan dari pemikiran atau konseptualisasi berkenaan dengan hakikat kesenian maupun kaidah-kaidah seni, serta lebih detail lagi pencermatan akan teknik-teknik yang memungkinkan tampilnya keunggulan. Waktu dan tempat pertunjukan Jaran Jenggo terdiri dari susunan berbagai unsur-unsur pendukung pertunjukkan.


Kesenian Jaran Jenggo merupakan kebudayaan yang menarik dan patut untuk dipertahankan. Bukan hanya menarik, kesenian ini sangat unik karena melibatkan jaran (kuda) sebagai tokoh utama di dalamnya. Sayang sekali jika generasi milenial tidak mengenal kesenian ini. Semoga dengan penjelasan di atas dapat kembali mengingat perayaan yang mungkin pernah kalian lihat ketika masih kecil.



John Doe
Fathan Faris Saputro
Aktif bergerak dalam dunia lingkungan hidup. peraih Award lomba menulis Kemenag Kabupaten Lamongan 2020

Artikel Terkait

Peran Amanah Dalam Kepemimpinan

Amanah Memiliki Akar Kata Yang Sama Dengan Kata Iman Dan Aman. Orang Yang Beriman Disebut Mukmin Yang Dapat Mendatangkan Keamanan Dan Dapat Menerima Amanah. Kuatnya Hubungan Antara Iman Dan Amanah...

Mewariskan Nilai-nilai Kepahlawanan Kepada...

Sejarah Mencatat Bahwa Kemerdekaan Indonesia Dirintis, Diperjuangkan, Dan Didirikan Oleh Para Pendahulu Atas Dasar Tekad Dan Semangat Untuk Bersatu. Maka Dari Itu, Jika Tekad Dan Semangat Untuk...

Reformasi Dikorupsi, Bergerak Dan Melawan

Putaran Demi Putaran Diskusi Telah Dijalankan, Aneka Protes Baik Di Media Sosial Maupun Nyata Telah Digalakkan. Mulai Dari Tolak Revisi Uu Ketenagakerjaan, Revisi Uu Kpk, Rancangan Uu Pertanahan,...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul