Kepada Rosana

Rosana

Ditulis Oleh : Ari Ghi - 12 Oktober 2020

Kepada Rosana.


Apa kabar ?. Apakah kau masih suka hujan ?. Aku disini ingin memberi tahumu bahwa kini aku sudah tak begitu menyukai senja dan kopi. Sejak senja yg asli dicuri oleh sukat, dan dengan bodohnya dihadiahkan kepada wanita yg tak pernah menyukainya. Memang begitulah nasib orang yang mencintai ya!, tak ada jaminan dicintai balik.


Kembali pada senja, padahal senja yang sekarang bukan yang asli. Tapi orang-orang masih saja berebut siapa yang paling baik memperlakukan senja.


Ada orang-orang yang mengalungi senja dengan kata, menjadi puisi. Memberinya cincin-cincing frasa, menjadi kalimat pendek motivasti atau rayuan receh. Bahkan menyelimutinya dengn banyak rasa, menjadi lagu-lagu indie masa kini.


Padahal sekali lagi, senja yang itu kini tak lagi asli. Sukat sudah menggantikannya dengan lukisan di sobekan kertas yang ia ambil serampangan dari dalam kantongnya. Barangkali kertasnya-pun itu adalah nota belanja lusuh yang sengaja di letakkan di kantongnya saat menerima kembalian dari salah satu swalayan.


Kemudian dengan kopi, kini lambungku tak lagi baik meminumnya. Mungkin karena kerja yang kadang hanya duduk seharian, dan jarang minum air putih, menjadi faktor pendukung hingga ginjal, lambung dan mungkin organ lain terganggu.


Ditambah saat itu ingat, aku dan kamu masih sama-sama pecandu kopi yang istiqomah, tepatnya sudah seperti ibadah magrib bagi kita berdua. Kopi Bajawa yang disajikan menggunakan syphon, tanpa gula. Tentunya cukup senyummu kala itu yang menjadi pemanis. Sampai larut dalam tadarrus obrolan ngalor ngidul, atau debat kusir hal-hal konyol, bahkan mungkin lebih banyak tawa jika kuhitung dalam ingatanku kini. Itulah juga yang mungkin jadi faktor lambuku menjadi seperti sekarang.


Tapi terlepas dari itu, sungguh masih nikmat sekali ketika bernostalgia dengan ingatan itu. Sayangnya aku kini aku tak lagi taat, jarang-jarang sekali menyesap kopi. Tak seistiqomah dulu singkatnya. Hingga mungkin mulai tak minat. Jadi, senja dan kopi kini tak lagi menjadi anastesi seperti dulu, bahkan lebih kearah mulai tak menyukainya.


Tapi bagaimana denganmu, apa masih menyukai hujan seperti dulu ros ?.


Sialnya ros, dikotaku hujan tak kunjung turun sepanjang tahun ini. Jadi aku tak bisa melepaskan rasa kala sedih bertubi-tubi menghujam, sepertimu. Ujarmu dulu aku ingat sekali, bahwa salah satu alasan kau menyukai hujan, selain aroma patrikornya yg bikin candu, kau juga bisa sangat lepas menghujani pipimu dengan air mata.


Orang paling konyol-kamu. Begini, karena kau menjadi anak perempuan paling tua. Kau berkeyakinan harus menjadi paling tangguh. Belum lagi sejak ayahmu meninggal, menjadi tekanan tersendiri bagimu bukan ?. Aku memahami, menjadi tulang punggung keluarga ditengah arah keluargamu yang jua masih tak menentu itu sulit. Dan sialnya, kau perempuan satu-satunya yang aku kenal, yang tak ingin air matanya dilihat dan diusap siapapun. Kecuali, hanya hujan yang kau perbolehkan mengusapnya. Dan kau menyebunyikannya air matamu diantara tetesan-tesan hujan.Yang menjadikanmu berkomitmen: sesedih apapun, seberat apapun dan sepelik apapun hidup yang kau alami, kau tak akan menangis jika tak menemukan hujan. Ya, orang paling konyol kau ros.


Orang lain, bisa saja memilih menangis dimana saja. Didalam toilet mungkin, mengunci diri dalam kamar sangat bisa bukan?. Tapi kau dengan santai menjawab, "Tak ada yang lebih ikhlas dari pada hujan".


Otakku yang berprosesor kisaran 1 kilobyte, benar-benar tak paham kala itu. Sampai pada akhirnya, suatu waktu saat, aku berjalan dengan santai disebuah taman. Bertemu dengan dua orang aneh, yang menggelar puluhan buku disalah satu sudut taman itu. Aku menghampirinya, melihat koleksi-koleksi buku yang merakan jejerkan dengan rapi, dan aku mengambil salah satu buku berjudul 'hujan dibulan juni'. Kubacanya singkat sebuah puisi, dengan sebuah akhiran bertuliskan nama dibawah puisi itu, 'Sapardi Djoko Damono'.


Aku jadi ingat, nama itu kau sebutkan dikedai kopi saat kita iseng membahas orang-orang yang memiliki pengaruh dalam hidup kita. Kau sebut salah satunya, adalah nama itu. Bagi aku yang tak sepertimu, yang paham dan mahir perihal puisi, dugaanku barangkali dan jika aku tak salah, salah satu alasan kau menyukai hujan sebab puisi ini bukan ?.


Tapi ros, orang yang kau kagumi dan paling sering kau sebut namanya itu, 19 juli 2020 kemarin dia mangkat dari bumi menyusul orang-orang yang kita sebut namanya waktu itu.


Harapku, semoga kau bisa menemuinya disana. Sebab katanya, disurga itu segala hal menjadi mudah.


Semoga ya ros. Aku rindu.


John Doe
Ari Ghi
Hello, my Name is ghi. Seorang yg menyukai hal-hal yg berhubungan dengan dunia sosial. Saya juga bagian dari pustakabergerak Indonesia.

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul