Kemerdekaan: Totalitas Pengabdian Kepada Allah Dan Negara

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 18 Agustus 2020


Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia mengingatkan kita kembali untuk menghaturkan pujian dan syukur kepada Allah atas anugerah kemerdekaan dan berterima kasih kepada para pahlawan yang telah berjuang hingga gugur di medan perang demi mewujudkan Indonesia Merdeka. Pada tanggal 17 Agustus 2020 ini kita sebagai saudara-saudari sebangsa dan setanah air merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75. Pada tahun ini, pemerintah telah menetapkan tema perayaan kemerdekaan yakni Indonesia Maju. Slogan Indonesia Maju merupakan suatu representasi dari Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila menjadi simbol jati diri bangsa Indonesia untuk mampu memperkokoh kedaulatan, persatuan dan kesatuan bangsa yang kita cintai ini.

Ada dua sikap yang perlu dimiliki oleh pemerintah dalam mengatur rakyatnya, yakni sikap arif dan bijaksana. Arif artinya cerdik, pandai, berilmu, paham, dan mengerti. Sedangkan bijaksana adalah suatu sikap yang selalu bertindak berdasarkan akal sehat dan logis sehingga dapat bersikap tepat dan berdaya guna dalam menghadapi setiap keadaan dan peristiwa. Kedua sikap kepemimpinan ini kembali menguji pemerintah kita pada masa pandemi Covid-19. Para pimpinan diuji untuk memberikan dan mengimplementasikan segala daya upaya dan kompetensinya mengatasi pandemi ini. Pemimpin perlu berpikir dan bertindak lebih cepat dari perubahan yang terjadi. Presiden Joko Widodo menyebutnya dengan istilah kerja extraordinary. Tindakan, keputusan, dan kebijakan harus ditempatkan dalam nuansa krisis. Hal-hal standar tidak berlaku pada masa krisis.

Momentum Kemerdekaan menjadikan kita hidup sebagai orang merdeka. Kemerdekaan yang penulis maksud adalah kemerdekaan rohani yang dinyatakan melalui peri hidup baik, hidup sesuai dengan kehendak Allah, dan saling mencintai sebagai saudara. Kita adalah saudara-saudari sebangsa dan setanah air.

Kita juga perlu menyadari bahwa kita memiliki kewargaan ganda: warga negara dan sekaligus warga kerajaan Allah. Pertama, sebagai warga negara, kita mengakui bahwa pemerintah adalah mereka yang mendapat amanah dari Allah dan masyarakat untuk memegang kekuasaan negara. Sebagai warga negara yang baik, kita harus tunduk pada hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Contoh sederhananya, pada masa pandemi Covid-19 ini, kita dapat menunjukkan bukti kepatuhan kita pada pemerintah dengan cara disiplin menerapkan protokol kesehatan dan berjuang bersama memutus rantai penyebaran virus mematikan ini.

Kedua, sebagai warga kerajaan Allah, kita harus memberikan yang terbaik untuk Allah, yakni persembahan total hidup kita kepadaNya melalui pelayanan dan solidaritas cinta kasih kepada sesama. Tidak ada lagi hati yang saling membenci, namun saling mencintai. Tidak ada lagi sikap egois, tapi saling mendukung satu sama lain. Kesetiaan dalam melaksanakan hal tersebut merupakan sebuah tuntutan dan keharusan. Akan tetapi, kesetiaan bukanlah pertama-tama usaha manusia. Kesetiaan merupakan anugerah Allah. Karena itu, menjalin relasi intim dengan Allah setiap saat adalah kunci kesetiaan dalam menghayati hidup panggilan hidup yang kita terima dari Allah yang Esa.

Sekarang ini, kita memaknai kemerdekaan tidak hanya sebatas pada kata, tetapi lebih sebagai kesempatan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan dan juga kesempatan berkarya tanpa batas. Waktu ini juga menjadi saat yang tepat bagi kita untuk fokus kepada hal yang benar dan sungguh penting dalam usaha menyatukan visi dan misi kita kepada visi dan misi Allah dan bangsa Indonesia yang kita cintai ini, melalui sikap kerja sama yang nyata, yakni menebarkan damai dan kebaikan serta memperkenalkan jati diri bangsa Indonesia kepada dunia.

Pramudya Ananta Toer dalam pepatahnya, ia mengatakan demikian: “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.”

Masa sekarang ini, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi muda yang baik, tetapi juga generasi yang unggul, kreatif, inovatif, dan berintegritas tinggi. Mari saudara-saudariku sebangsa dan setanah air, kita mewujudkan hal itu karena pada dasarnya tujuan besar Bangsa Indonesia dapat kita capai melalui kerja sama.

Dirgahayu Republik Indonesia! Dirgahayu Negeri Pancasila! Indonesia Maju!

Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!





Artikel Terkait

Refleksi Kritis Dan Relevansi Atas Pancasila

Refleksi Kritis Dan Relevansi Atas Pancasilapenulis: Silferius Hulu, S.fil1.   pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Pancasila Merupakan Asas Dalam Hidup Bermasyarakat, Berbangsa, Dan...

Persoalan Aktual Pancasila

Persoalan Aktual Pancasilapenulis: Silferius Hulu, S.fil.1.   keprihatinan Sila Ketuhanan Dewasa Ini Kita Layak Merasa Prihatin, Bahwa Sila Pertama Itu Sering Kali Tidak Dipahami...

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Pancasila Sebagai Sistem Filsafatpenulis: Silferius Hulu, S. Fil.1.   pengantar Pancasila Mengandung Nilai-nilai Filosofis. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Bertitik Tolak Dari...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul