Kekuatan Berbagi

Kawasan timur Palu di masa lalu (Foto: Neni Muhidin)

Ditulis Oleh : Dyah Anggraini - 18 November 2020


Lala sedang melamun. Entah apa yang dipikirkan bocah perempuan yang berusia 6 tahun itu. Ia membuka ikatan rambutnya. Rambut Lala yang panjangnya sepunggung tergerai. Ia membelai rambutnya dan kembali menatap lurus ke depan. Lama ia tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba Lala berkata dengan mantap:

"Bu, aku mau memotong rambutku."

Lala sangat menyayangi rambutnya. Rambut Lala tebal, lurus dan hitam mengkilat. Katanya, ia ingin punya rambut seperti penyanyi cilik yang sering muncul di televisi.  

"Aku akan menjual rambutku. Uangnya akan aku sumbangkan ke korban gempa di Palu. Besok antarkan ke salon ya, Bu."

"Ibu kan sudah menyumbang untuk korban gempa. Lala tak perlu lagi menyumbang."

"Lala mau nyumbang sendiri."

"Mengapa kau tak membuka celenganmu saja?"

"Aku akan buka celengan dan ditambah hasil penjualan rambutku. Jadi lebih banyak, Bu. Ya kan."

Walaupun agak kaget, ibunya gembira bahwa Lala sudah punya keinginan berbagi kepada mereka yang membutuhkan pada saat usianya masih kecil. Ia ingin berdonasi dengan menjual sesuatu yang ia sayangi. Sejak melihat dahsyatnya dampak gempa dan tsunami di Palu, Lala nampak gelisah.

Gempa yang terjadi di Palu pada 28 September 2018 berkekuatan 7,4 M. Getarannya dirasakan sampai Gorontalo, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Gempa disebabkan sesar Palu Koro bergerak. Kota Palu rata dengan tanah. Jalan-jalan terbelah. Banyak bangunan yang roboh. Jaringan air bersih, listrik dan telekomunikasi tidak berfungsi. Bandara, pelabuhan, jembatan, rumah sakit, sekolah-sekolah, rumah ibadah rusak parah.  

Menurut BNPB lebih dari 2000 orang tewas (10 Oktober 2018). Belum lagi yang luka-luka dan hilang. Ribuan orang mengungsi. Mereka yang masih terjebak di daerah terdampak pun banyak. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, di bawah tumpukan puing-puing bangunan, tiang listrik, pohon-pohon. Orang-orang berlarian mencari keluarganya. Yang paling membuat Lala sedih, ketika anak-anak menangis, tak tahu di mana orang tuanya. Matanya berkaca-kaca, membayangkan hal itu terjadi pada kami. Ia tak mau lagi menonton berita tentang gempa itu. 

Esoknya, Lala dan ibunya pergi ke salon di dekat rumah mereka. Lalu mereka menuju ke pusat industri rambut palsu. Pabrik rambut palsu membutuhkan bahan baku untuk membuat wig dan bulu mata palsu. Rambut Lala sudah terjual seharga 300 ribu. Mereka pergi ke bank untuk mengirim donasi dari Lala kepada komunitas Peduli Korban Gempa di Palu. Lala dan ibunya pulang, ia bahagia dengan rambut barunya.

Tadi sore Lala dan ibunya menonton televisi. Mereka melihat keadaan pengungsi yang tinggal di tenda pengungsian. Keadaan pengungsi menyedihkan. Saat ini mereka membutuhkan makanan, pakaian dan obat-obatan. Mereka menunggu bantuan. Selain bantuan dari pemerintah, ada pula bantuan dari lembaga kemanusiaan dari dalam dan luar negeri serta pemerintah negara-negara lain. Masyarakat Indonesia di berbagai daerah juga menggalang bantuan. Para karyawan di kantor pemerintah dan swasta, siswa sekolah-sekolah juga ikut mengumpulkan dana untuk para korban.  

"Bu, donasiku sudah sampai ya?"

"Tentu sudah. Semoga cepat diterima oleh korban bencana."

Lala mengangguk senang. 

"Di mana mereka tinggal sesudah ini?"

"Ya, masa depan serba tidak pasti bagi mereka. Semoga saja lebih banyak orang yang peduli."

"Bagaimana caranya supaya kita tidak terkena gempa?"

"Gempa adalah peristiwa alam yang tak dapat kita hindari. Kita hanya bisa mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Sebenarnya gempa tidak membunuh, tapi bangunan-bangunan yang roboh dapat menimpa orang sampai meninggal."

Lala masih meneruskan menonton berita dari Palu. Meski Lala masih khawatir akan keadaan pengungsi kemudian, ia kelihatan tidak begitu murung. Pemberian donasi itu sedikit mengurangi kesedihannya. Lala merasa bersyukur, bisa membantu korban gempa.  

  



John Doe
Dyah Anggraini
Pegiat literasi.

Artikel Terkait

Transformasi Pegiat Literasi, Dari Sekadar...

Menjadi Pegiat Literasi Merupakan Sebuah Kebanggaan Dan Tatangan Tersendiri Buat Saya Sebagai Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (tbm) Maha Karya, Dan Saya Yakin Itu Juga Dirasakan Pegiat Literasi...

Membaca Dan Kepikunan

Membaca Dapat Mengurangi Resiko Kepikunan. Seseorang Yang Banyak Membaca Akan Memperkecil Kemungkinan Menjadi Pikun Di Masa Tua, Apalagi Mereka Yang Sehari-harinya Bergelut Dengan Kegiatan Membaca...

Bergerak Dengan Hati

Segerombolan Anak Sma Berangkat Ke Sekolah. Sambil Bercanda Mereka Berjalan Perlahan Karena Memang Masih Pagi. Sampai Di Depan Rumah Mereka Berdiri Sebentar Ketika Membaca Papan Nama Rumah...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul