Ke Sidey Saya Kembali

Gelar lapak di Pantai Sidey

Ditulis Oleh : Ali Sunarko - 23 September 2020

Ke Sidey Saya Kembali

Oleh: Ali Sunarko

                                                                                          

                 Tahun 1996 Tugas pertama saya sebagai CPNS Calon Pegawai Negeri sipil . Sebuah SMP Negeri 7 Warmare namanya terletak di Kampung Sidey Baru SP 10 (Satuan Pemukiman) transmigrasi Yang notabene warga atau penduduknya didatangkan dari berbagai suku mulai dari Jawa, NTB, NTT dan warga lokal suku Meyah yaitu Kampung Sidey dan Kaironi. Setelah Otsus bergulir wilayah ini mekar menjadi distrik atau kecamatan sendiri, yaitu Distrik Sidey. Angan Saya melayang dua puluh lima tahun lalu, daerah yang baru dibuka dengan kondisi wilayah terisolir kira-kira kurang lebih 90 Km dari kota Manokwari. Kondisi serba terbatas, tanpa listrik, jalan masih belum di aspal dan berjembatan. Jika banjir dua sungai Wariori dan Waramui yang tidak bisa dilalui, transportasi masih sulit, transportasi termudah, termurah adalah jalan kaki atau pakai sepeda onthel melewati jalan setapak Kampung Aurmios dan menyebarangi dua sungai tadi. Sekarang jalan mulus Trans Papua menuju Sorong, Jembatan sudah berfungsi, listrik 24 jam dan bidang perekonomi ditopang dari hasil perkebunan kelapa sawit membentang ribuan hektar yang dikelola oleh perusahaan raksasa Medco, sehingga terasa sekali perubahannya rumah-rumah sudah permanen, mobil dan sepeda motor berlalu lalang di kawasan ini bahkan saya tak lagi mendapati anak atau orang tua memakai sepeda onthel seperti duapuluh lima tahun lalu. Bahkan Internet sudah dapat diakses dari wilayah ini Perubahan besar yang langsung menyetuh warganya.

                 Saya berkemas-kemas dan bersiap-siap untuk tur literasi ke Distrik Sidey, saya pilah pilih buku dan bahan bacaan yang akan dibawa, karena pembacanya beragam dari anak pelajar hingga petani. Yusril Driver Mobil Baca dan Usaha Ekonomi Kreatif bertugas mengecek dan mengontrol kondisi dan kesiapan mobil, dari bahan bakar, hingga suku cadang seperti kondisi ban, oli dan lain-lainnya. Istri saya kebagian persiapan bekal makanan, minuman untuk dua hari karena kita akan menginap di sana. Tak lupa kami membawa buku yang dititipan dari para donatur salah satunya Fedi Nuril seoarang artis film dan sinetron yang peduli terhadap gerakan literasi.

                 Donasi yang terkirim jauh dari Jakarta ke Manokwari dengan harapan dari pengirimnya (Fedi Nuril) dapat membagikan rasa kebahagiaan menjelajahi dunia fantasi baca para pembacanya. Kami bertanggung jawab meneruskan melalui perjalanan 3 jam dari kota sekitar 90 km dari  Manokwari menuju Distrik Sidey tepatnya di Pantai Sidey memuaskan dahaga bacaan mereka. Dan meneruskan amanah dari niat para donatur buku yg tulus dan ikhlas berjuang mengirimkan buku dan kami pun berjuang melayankannya ke pembaca, itulah hakekat rantai berbagi literasi.

                 Fajar menyising dari timur, kami bergegas menuju mobil baca dan segera bergerak menuju Distrik Sidey. Sepanjang perjalanan Saya dan istri bercerita tentang masa awal perjuangan kami bertugas di daerah pedalaman Sidey kepada driver kami Si Yusril Lagani relawan Ali Sun Center ini baru lulus SMK Jururan Teknologi Informatika di Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Cerita ini bukan hanya sebagai hiburan tetapi Saya selipkan unsur didaktisnya berupa semangat hidup, kemandirian, perjuangan hidup di rantau. Ibaratnya hari ini menanam Esok kita Menuai  ( tapi Saya juga mengingatkan agar Yusril tetap fokus melihat jalan karena di sini apabila menabrak hewan piaraan akan ribet urusannya hingga ujung-ujungnya berupa denda adat yang kadang tidak masuk akal besarannya). Kesuksesan dan hasil kerja kita tidak muncul tiba-tiba tapi melalui perjuangan dan usaha yang panjang,  “Jika kamu Yusril ingin sukses ! Ambil pelajaran ini untuk langkahmu ke depan.” Dan akhirnya Saya bertugas sebagai guide yang menjelaskan daerah yang kita lewati, peristiwa apa saja yang pernah terjadi. Kulirik dengan ekor mataku Yusril tampak memanggut-manggutkan kepalanya. Matahari mulai menampakan dirinya cuaca pagi ini terasa cerah secerah hati kita untuk semangat menebarkan virus literasi bagi anak-anak generasi emas ini.

                 Mobil kami memasuki kawasan Masni. Perjalanan kami perkirakan memakan waktu tiga jam. Kira- kira dua jam lagi tiba di Sidey. Jam 09.00 WIT kita harus sampai tujuan karena harus mengikuti Upacara Hari jadi Kabupaten Manokwari yang tahun ini dipusatkan di Distrik Sidey. Mobil- mobil dinas berkejaran searah dari Manokwari menuju Sidey. Suasana lapangan yang kami tuju sudah mulai ramai. Kami menuju rumah salah satu teman dan kenalan ketika Saya masih bertugas di sini namanya Pak Usman Efendi asal dari Lombok Nusa Tenggara Barat, untuk memarkirkan mobil baca dan rencananya kami akan menginap di rumahnya.

           Suasana upacara hari jadi Kabupaten Manokwari ke-121 berjalan sangat meriah ada beberapa atraksi budaya dari suku-suku yang hidup damai di Manokwari, seperti Tari Tumbuk Tanah dari Suku Meyah, Reog dan Kuda Lumping dari suku Jawa dan tari Perang Laskar Manguni dari Manado. Selesai upacara dilaksanakan syukuran, ramah tamah rakyat dan bupati. Pada pintu gerbang prosesi penjemput tamu terdapat kelompok penari adat dari Sidey sedang menyanyi dan menari, tiba-tiba pimpinan rombongan berlari dan menarik lengan Saya. Saya diajaknya melingkar-lingkar menari ular sambil melompat-lompat naik turun. Saya mengikutinya dengan senang dan gembira di tengah tarian itu lelaki yang tadi menarik lengan Saya berkata setengah teriak “ Pak!. Saya Dolfinus Moktis anak murid Bapa di SMP ! mendekatkan mulutnya ke telinga Saya.

“ O...Ya mantap..! Ko kerja di mana sekarang? Tanya Saya

“ Bapak Sa jadi kepala Puskesmas Sidey! Lanjutnya

“ Luar Biasa ! jawabku” tarian berhenti dan saya minta mengabadikan momen ini lewat ponsel yang Saya bawa. Begitulah sikap mereka yang selalu menghargai guru sebagai orang yang berjasa baginya. Pesanku Padanya besok Saya akan melakukan pelayanan di Pantai Kampung Sidey beritahu anak-anak besok jam 10.00 WIT supaya datang.

“ Iya Bapa...kami tunggu Sa juga so rindu ingin bercerita dengan Bapa.”  Pertemuan akhirnya terhenti karena Saya bertemu dengan teman lama Bpk Sujadi yang juga menjadi Kepala Sekolah di SMP tempat kami bertugas dulu. Dan mereka harus siap mejemput bupati.                                                                                        

                       Sore hari setelah beristirahat kami bergerak ke Kampung Sidey Makmur SP 11. Perjalanan dari SP 10 memebutuhkan waktu 20 menit, Kami melakukan gelar Lapak di Jalur 2 Rumah Bapak Dwi Karsi. SP 11 merupakan kampung transmigrasi yang berhasil dibidang pertanian, penduduknya rajin dan ulet, produk unggulan mereka berupa palawija seperti Kedelai, cabe, tomat, semangka juga hasil perkebunan kokao atau coklat. Juga beberapa penduduk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Begitu di gelar lapak buku mula-mula anak-anak ragu mereka kira harus membayar atau dagangan. Maka ketika Saya berteriak “ Ayo....baca gratis! Banyak buku bagus ! Silakan ambil dan baca !” serentak anak-anak itu bergerak menyerbu buku yang memang sangat bagus dan jarang mereka temui di kampung ini. Beberapa orang tua ikut hadir dan memilih-milih buku, ada yang menemani anaknya membaca, ada yang membacakan cerita, bahkan ada yang mau membeli buku. Saya katakan buku ini tidak diperjual belikan hanya untuk dibaca gratis.

                  Gelar lapak ini berlangsung sampai menjelang magrib, karena mereka harus mengaji di surau atau masjid di kampung itu. Ketika kami meninggalkan tempat gelar lapak kami mata bocah kecil itu tampak belum puas menikmati dahaga bacanya, mereka berteriak “ Bapak nanti kembali lagi ya....permintaan mengiba, mata Saya tiba-tiba berkaca-kaca mendengar ucapan mereka, yang dengan tulus berkata terima kasih.....sambil melambaikan tangannya. Dalam hati Saya “ Saya akan kembali ke Sidey ini.

                 Hama sejuk, hangat meresap pada badan kami, semalam tidur sangat pulas, hinnga subuh membangunkan kenikmatan kami, udara pagi lembah Sidey di kaki Gunung Arfak membuat kita terlena suasana kampung, jauh dari kebisingan suara kendaraan dan polusi udara. Kesegaran yang tak terkira nilainya yang kita dapat dari Tuhan tanpa membeli seperti udara dalam tabung oksigen rekayasa buatan manusia yang sangat mahal bila kita memerlukannya. Pagi ini kami nikmati dengan berjalan pagi melihat pusat pemerintahan Sidey yang mulai menggeliat. 

                 Sarapan pagi telah siap. Sampai di rumah hidangan sarapan telah disiapkan tuan rumah mempersilakan kami untuk mencicipi masakan yang terhidang di meja makan. Wow....menu yang luar biasa bagi kami, urap dengan bermacam-macam sayuran hijau ditambah opor ayam kampung mengalahkan makanan instan siap saji yang biasa kami nikmati di kota.

                 Usai menikmati sarapan kami coba buka lapak di depan teras rumah Pak Usman Efend Begitu kami buka pintu mobil baca, beberapa anak langsung mengambil buku dan membaca di teras, sarapan rohani pagi yang diperoleh dari kegiatan positif membaca buku di tengah pandemi gadget melanda dunia. Tak terasa waktu menunjukan pukul 10.00 WIT. Kami segera mengemas lapak buku, memasukan ke dalam mobil, bersama tim tur literasi kami menuju pantai wisata Kampung Sidey untuk buka lapak buku dan wisata buku di sana.


            Pemandangan pantai yang mempesona, indah, alami belum terkontaminasi. Tampak anak-anak berlarian kejar-kejaran, bermain pasir, berenang di lautan, menyelam memanah ikan batu di karang. Semua aktifitas anak pantai tergambar jelas dalam keseharian mereka. Aktifitas anak-anak Papua dengan cara belajar tipe kinestik maka pembelajaran dan kegiatan membaca buku di alam ini sangat cocok diterapkan bagi mereka. Kondisi yang kontradikf dengan anak kota yang cenderung diam di rumah bermain seharian dengan gadget tanpa banyak bergerak menjadikan generasi muda yang kurang peka terhadap lingkungan alam dan sosial masyarakatnya.

           Pantai Sidey pun mulai bersolek dengan dibangunnya honey-honey atau gazebo untuk wisatawan duduk menikmati indahnya pemandangan. Lapak buku kami gelar pada salah satu honey atau gazebo. Saya berteriak memanggil mereka, mereka berlarian mendekat dan mengambil buku lalu memanjat dan duduk pada salah satu pohon besar yang menjorok ke pantai diikuti oleh teman-teman lainnya untuk membaca, sungguh pemandangan dan naluri alami mereka ekspresikan, Saya pun tak lupa mengabadikan momen ini. Momen kami berwisata bersama keluarga di pantai dan momen indah kebersamaan kami dalam layanan literasi di kampung ini. Pantai Sidey ini akan sangat ramai bila musim liburan tiba, seperti libur akhir tahun dan libur hari raya.

     

                       Ketika kami sedang asyik menikmati pantai, deburan ombak dan suasana anak-anak membaca datanglah Dolfinus dan Efradus Moktis (Kepala Puskesmas dan kepala Kampung Sidey yang juga mantan murid) membawakan kami kelapa muda untuk kami nikmati lalu kami asyik bercerita tentang masa kenakalan mereka saat sekolah SMP, saat berkemah pramuka hingga lomba gerak jalan di Masni semua diceritakan lepas tanpa sekat lagi sebagai mantan murid dan guru. Di ujung pertemuan mereka mengucapkan terima kasih pada Saya sebagai guru yang telah mendidiknya. Saya hanya menitipkan pesan Bangunlah kampung kamu karena di pundak kamu masa depan kampung ini disandarkan.

                 Tak terasa waktu menunjukan pukul 15.00 WIT, saatnya kami harus mengemasi buku, menyimpan kembali ke dalam mobil sebelum pergi kami membagikan snack dan minuman yang kami bawa dari kota kepada anak-anak yang membaca dan bermain di pantai . Kami Pulang dan mereka terus bermain menikmati harinya yang lepas, berlari-lari seperti deburan ombak, biru sedalam dan seluas samudra pasifik sepanjang pantai utara bumi Papua. Semoga dari sini akan lahir lagi George Saa, Roni Wabia, Boas Salosa, Edo Kodologit, Demas Paulus Mandacan,  Abraham Attururi, dan tokoh-tokoh masa depan tanah ini. Dari Timur Matahari Terbit Menyinari Bumi Pertiwi.



John Doe
Ali Sunarko
DATA DIRI Nama : ALI SUNARKO, S.Pd, M.Pd. Tempat dan Tanggal Lahir: Bojonegoro, 17 April 1970 Tinggal di Manokwari Papua Barat sejak 1994

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul