Joe

https://thumbs.dreamstime.com/b/joe-gold-sign-mounted-glossy-marble-wall-d-rendered-royalty-free-sto

Ditulis Oleh : S Herianto - 14 September 2020

 

Mumbay adalah salah satu desa di Madura. Desa yang dilingkupi kosmik religius. Beberapa pondok besar dan terkenal berada di desa itu. Kejadian terbunuhnya Basrun yang tertuduh sebagai dukun santet telah mencoreng nama baik desa Mumbay. Hilangnya Joe, disembunyikan jin juga menambah predikat mistis. Desa Mumbay menjadi religius dan mistis.

 

 

Jeritan pertama kelahiran melengking mengisi ruang malam Selasa Kliwon. Sang ayah memberi nama bayi yang baru lahir itu Jumaidah. Terbersit begitu saja saat habis mengadzaninya. Yah, Jumaidah. Nama yang khas Madura. Nama itulah yang menjadi titik awal perjalanan Joe, nama panggilannya hingga dewasa.

Joe kecil dengan nama awal Jumaidah sering sakit-sakitan. Sakit saja sih biasa, tapi ketika kerasukan jin, itu baru luar biasa. Keluarga besar kemudian mengganti namanya dengan Junaidah dengan harapan mendapatkan sehat. Tetap saja dipanggil Joe. Nama panggilan yang maco untuk seorang bayi perempuan. Perubahan nama itu tak banyak memberikan dampak baik. Sakit-sakitan masih saja jadi langganan. Begitu pula dengan kesurupannya. Saat bernama Junaidah, Joe kecil kesurupan jin yang bernama Bongol.

“Tukang santeeet!” Teriak banyak orang terdengar mendekat makin keras.

Tetangga Joe kecil dituduh sebagai dukun santet. Para tetangga berbondongan melabrak rumah Basrun. Pintu rumah Basrun digedor kencang. Gentingnya dilempari batu. Rumahnya dikitari dan dijaga ketat.

Ia dituduh melakukan santet. Tak ada bukti memang, tapi beberapa warga yang dihadiri Basrun dalam mimpi merasa yakin bahwa Basrun adalah tukang santet. Beberapa dari mereka sakit keras mendadak. Ada pula yang meninggal seketika.

“Pura-pura alimnya sebagai Ustadz, hanya kedok busuk!” Salah satu warga menghujat. Yang lain membenarkan dengan mengayun-ayunkan linggis, clurit, obor, dan pentungan kayu.

“Ini tak bisa dibiarkan, Kalebun!” Seseorang mendesak kepala desa untuk bertindak cepat, tepatnya mengajak anarkhis.

“Bakar!!”

Petugas keamanan termasuk polsek Mumbay memagar dirinya agar warga tidak membabi buta. Begitu pula dengan Banser, siaga empat. Bisa saja mereka kalap dan membakar rumah Basrun atau menyeret paksa kemudian menghabisinya. Bisa jadi membakar Basrun hidup-hidup.

Kalebun mengambil alih fokus. Ia berpidato. “Tan-taretan sadaja, ngireng nyabbari kabadha’an. Ampet napso. Ja’ gampang apetenna, ta’ sae. Napa pole tadha’ bukte! Ngireng pasra’agi dha’ aparat, manabi panjenengan sadhaja ngormadi kaula. Ngireng bubar, lebbi sae karembag e compo’ saos. Kadiponapa? (Saudara-saudaraku semua, sabar dan kendalikan diri. Tuduhan saudara-saudara terhadap ustadz Basrun tidak kuat. Tidak berbukti. Mari bersabar menunggu proses yang akan dilakukan aparat, selama saudara-saudara menghormati saya sebagai kades. Mari kita bubar, hal-hal yang ingin dibicarakan, mari di rumah saya saja. Bagaimana?).

Para warga hanya diam sejenak, kemudian hingar lagi. Tangis Joe kecil makin melengking. Joe kecil sepertinya protes atas aksi unjuk rasa atas diri Basrun. Bulan Ramadan kok tidak bisa mengendalikan diri, batin ayah Joe.

Sebagai orang yang sangat dihormati setelah kades, ayah Joe pun didatangi Basrun tepat tengah malam. Sebubar unjuk rasa, Basrun menyelinap dalam pekat malam ke rumah ayah Joe. Ia ingin mendapatkan suaka dari amukan warga yang menuduhnya. Ayah Joe berhasil menenangkannya. Ia berencana mengadakan rembuk-rembuk kecil dengan warga yang menuduh Basrun.

Belum terlaksana rencana ayah Joe, kejadian tak disangka terjadi. Keesokan pagi, Basrun ditemukan tewas dengan perut berantakan. Isi perutnya keluar dan dikerubung semut dan lalat. Tubuhnya meringkuk di area makam Keramat Gung Asmak.

Desa Mumbay heboh. Sebagian besar warga senang dengan terbunuhnya Basrun, sebagian kecil memilih tak peduli. Hanya keluarga besar Basrun yang tampak sangat berduka.

“Siapa yang pertama menemukan jasadnya?” Tanya Kades saat mendatangi TKP.

“Pak Rohim, Pak!”

Menurut Pak Rohim si penyabit rumput, Basrun sudah ditemukan kaku dengan perut terburai pagi itu. Jasadnya ditutupi daun jati.

Joe kecil sakitnya makin parah. Menurut beberapa orang pintar, jin yang merasuki Joe ingin menjadi budak Joe. Jeritan Joe mungkin tanda ketakutan dan penolakan. Joe yang berganti nama duakali, yang saat itu berusia sepuluh tahun, diperlihatkan kejadian pembunuhan Basrun. Seolah-olah si jin itu unjuk kehebatan. Joe menyaksikan seluruh detil peristiwa seperti sedang menonton film dari layar LCD. Begitu jelas. Jin itu salah, dikira membuat Joe menjadi tertarik dengan cara itu. Justru Joe semakin sakit, semakin pendiam. Sekecil itu, ia menjadi saksi kunci atas pembunuhan Basrun. Ia memilih bungkam. Ia tak ingin ada pertumpahan darah lagi. Cukup ia telan semua yang menampak di hadapannya.

Joe tak kunjung sembuh. Keluarga besarnya mengganti namanya lagi. Junaidah diganti menjadi Juwairiyah. Itu merupakan keputusan terakhir keluarga besar Joe.

Sakitnya tak reda walau sudah berganti nama ketiga kalinya. Jin yang mencoba merampas tubuh dan kesadarannya juga tak mau pergi. Jin itu tetap ingin menjadi budaknya.

“Andai Joe mau, pasti ia akan menjadi dukun hebat!” Sahut Kyai Timur kepada ayah Joe.

“Tapi beruntunglah, Joe tidak mau.” Lanjutnya.

Joe kecil terbayang saat menyaksikan tayangan gaib yang diperlihatkan si Bongol. Setiap kali Joe mengingatnya, ia menjerit ketakutan. Badannya memanas. Tubuhnya banjir keringat dan airmata. Berbarengan dengan jeritan yang melengking, tayangan itu berputar dengan sendirinya. Malam itu, sehabis teraweh, Basrun mengaji di makam Keramat, di pesarean Gus Asmak. Dari arah kegelapan, beberapa laki-laki dengan wajah ditutupi topeng hitam menyelinap masuk dan menyeret Basrun. Karena dikeroyok, Basrun tak berdaya bahkan ia tiba-tiba mati tak disadari saat lehernya tertebas. Para pembantainya menyabeti perutnya. Dan satu testikel Basrun dipisahkan dengan clurit. Mereka meyakini bahwa dengan diambilnya satu testikel tukang santet, ilmu hitamnya tidak akan turun kepada ahli waris Basrun.

“Tapi, kalau Basrun memang tukang santet, otomatis ilmu hitamnya pasti turun temurun. Sakit hati keturunannya menjadi santet kuat yang tak disadari.” Sahut seseorang.

Keluarga besar Basrun bukannya tidak membela, tapi mereka memilih menelan kesedihan dan malu mereka sendiri. Mereka tak ingin memperpanjang dan mencari tahu siapa yang melakukan. Biarlah itu menjadi pengadilan Tuhan, siapapun yang salah.

Dari berbagai jejak dan bukti yang tertinggal di TKP, masyarakat dan keluarga besar Basrun bukan tidak tahu pelakunya. Mereka memilih diam. Pihak keluarga besar Basrun membuat permohonan secara tertulis kepada pihak polsek Mumbay agar menutup kasus tersebut.

Pada puncak sakit Joe, warga digaduhkan oleh berita kehilangan. Joe yang dalam keadaan sakit. tiba-tiba saja hilang dari tempat tidurnya. Semua warga mencarinya. Desa yang masih berduka, ditambah lagi dengan kegaduhan raibnya Joe. Keluarga besarnya kian berduka. Ibunya meratap memanggil-manggil namanya.

Berdatanganlah para kyai, mencoba berkomunikasi dengan alam gaib. Ritual tersebut dipimpin Kyai Badrul. Tampak adegan berkelahi tunggal Kyai Badrul seperti merebut sesuatu. Kyai Badrul berhasil mengalahkan Si Bongol. Ternyata si Bongol yang menyembunyikan Joe. Dengan sikap memaksa, Kyai Badrul berhasil merebut Joe dan mengembalikannya dengan selamat ke pihak keluarga.

“Alhamdulillah, kamu kembali, Nak!” Ibu Joe memeluknya sambil mengeraskan tangis. Ayahnya juga berlinangan.

Sekembali Joe, keluarga besarnya mengadakan Yasinan selama empatpuluh malam. “Selain gangguan jin, ini juga dampak Semar Tangis!” Ucap Kyai Badrul.

“Semoga dengan pengajian Yasin ini, Joe terbebas dan lepas dari jeratannya!” Semua yang hadir mengaminkan.

Sejak malam terakhir pengajian itu, Joe berangsur membaik. Kondisi membaik itu membawanya hingga dewasa. Joe dewasa menjadi sosok humoris dan ceria. Ia juga sosok tangguh melipat hari-hari sibuknya menjadi bermakna. Ia menjadi penulis hebat. Singkat cerita, ia dinikahi seorang kyai, yang jatuh cinta karena tulisannya.

“Di alam Jin itu semua tampak dan jelas, yang remang-remang justru yang kita anggap alam nyata ini!” Joe menutup perbincangan mengenang masa kecilnya kepada seorang penulis baru.

“Hikmah besar hilangnya aku dibawa si Bongol adalah imajinasiku.” Lanjutnya. “Dan, dari pengalaman itulah lahirlah karya-karyaku yang insyaallah bermutu dan menemukan jodohku.” Ia menutupnya.

 

 

 


John Doe
S Herianto
S. Herianto, 7 Maret 1974. Sehari-hari bekerja sebagai guru. Sangat hobi menulis dan fotografi. Aktif dalam komunitas KATA BINTANG.

Artikel Terkait

Menghidupkan Yang Akan Mati

Sore Itu Mbah Kus Meminta Bantuan Cucunya. Dengan Perasaan Yang Senang, Si Cucu Bergegas Menuruti Permintaan Itu. Penuh Harap Seperti Biasanya Akan Diberikan Upah Setelah Terselesaikan. Namun...

Hak Asasi Manusia

1.   pengertian Hak Asasi Manusia Menurut Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Tahun 1948, Yang Disingkat Dengan Duham, Hak Asasi Manusia Adalah Sejumlah Hak Dasar Alamiah Yang...

Sigupai Mambaco : Wujud Cinta Banyak Pihak

Minggu, 7 Januari 2018 Ketika Itu Genap Sebulan Saya Pulang Dari Jakarta Setelah Sebelumnya Bertugas Setahun Di Banggai, Sulawesi Tengah. Ketika Masih Di Sulawesi Tengah, Saya Berniat Akan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul