JANGAN HAMBAT MASYARAKAT MEMBACA

Picture by Pustaka Bergerak Indonesia

Ditulis Oleh : Pustaka Bergerak Indonesia - 14 Maret 2020

Beberapa hari ini sedang ramai di kalangan penggerak literasi perbincangan terkait tulisan Muhidin M Dahlan atau Gus Muh berjudul Jangan Paksa Masyrakat Membaca Bukuyang diterbitkan pertama kali oleh harian Fajar (Makassar), 16 Februari 2020. Tulisan ini juga tak sedikit yang membagikannya. Saya sepakat dengan Gus Muh bahwa dalam mengajak dan berkampanye membaca buku tidaklah boleh memaksa, apalagi mengancam. Perlu pola atau sebuah metode tersendiri agar masyarakat memiliki kemauan atau keinginan membaca buku. Seperti yang Gus Muh tuliskan, membaca itu bukan perkara mudah. Bukan soal rajin dan malas. Ia meminta pengorbanan banyak hal dan menyaratkan banyak perkara. Membaca buku juga bukan soal cepat atau lambat, melainkan “keikhlasan” untuk masuk dalam jeratan sebuah dunia yang nonrealistas, sebuah diskursus.

Namun yang ramai diperbincangkan ialah terkait kegelisahan Gus Muh dengan kampanye mengajak masyarakat awam untuk rajin membaca buku dari kalangan pegiat literasi. Dari poin utama yang Gus Muh sampaikan, lahirlah sebuah tesis. Baginya, bukan kelas petani, buruh, nelayan yang perlu didekatkan dengan buku, melainkan kelompok kecil yang potensial menjadi “kelas elite” seperti kelompok terpelajar, guru, dosen, fasilitator pendidikan masyrakat, mahasiswa. Kelompok ini menurutnya yang memiliki syarat minimal untuk masuk ke dunia buku.

Saya secara pribadi sangat tidak sepakat dengan hal tersebut. Di abad 10 mungkin memang hanya kelas tertentu yang bisa mendapat akses bacaan, tapi di abad 21 ini hal seperti itu sudah tidak relevan lagi. Ini sudah bukan jaman feodal dan kerajaan, Gus. Pengelompokan-pengelompokan masyarakat seperti itu tidak boleh berlaku lagi. Buku harus bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Pengalaman saya berkeliling bawa buku dengan motor Katimbang Honda berjenis C-70 yang di rakit tahun 1969-1980, dengan tiga transmisi, berkapasitas mesin 71,8 cc ohc, menandaskan betapa besar keinginan masyarakat untuk membaca. Pengalaman ini sudah terbit dalam bentuk buku berjudul "Gerak Katimbang Di Butta Turatea" (Sampan Institute Books, Parepare, 2020).

Buku itu merekam antara lain pertemuan saya dengan sepasang suami istri yang bekerja sebagai petani dan ibu rumah tangga, yang memiliki keinginan besar untuk membaca. Mereka ini warga Dusun Jonggoa, Desa Banrimanurung, Kec. Bangkala Barat, Jeneponto. Meskipun mereka hanya warga dusun, namun mereka membaca karena keinginan sendiri, bukan karena paksaan. Lalu jika pengelempokan seperti yang diinginkan Gus Muh itu berlaku, maka bagaimana cara pasangan suami istri tersebut mewujudkan keinginannya?

Ini hanya satu kasus dari banyak yang saya jumpai. Dan bukan sebuah hal yang tak mungkin, kasus seperti ini juga dialami oleh pegiat yang tersebar di pelosok-pelosok Indonesia. Dengan kasus tersebut, masikah memintanya untuk berhenti mengajak dan berkampanye gemar membaca?

Cerita di atas juga memperlihatkan kepada kita bahwa keinginan untuk membaca itu masih ada. sebagian masyarakat masih memiliki hasrat untuk sebuah pengetahuan baru. Namun yang menjadi kendala selama ini ialah akses untuk mendapatkan bacaan. Inilah yang dilakukan oleh teman-teman pegiat literasi, bergerak kesana-kemari, mendekatkan akses bacaan. Gus Muh mungkin lupa: buku itu tak hanya satu macam, tak cuma yang berat-berat saja. Ada juga buku-buku yang ringan dan informatif. Buku jenis inilah yang dibutuhkan kebanyakan petani, nelayan dan masyarakat awam lainnya. Di antara anggota masyarakat itu, walaupun jumlahnya tak banyak, mungkin ada juga yang butuh bacaan yang berat, bukan hanya yang ringan.

Desa sebagai wujud Negara yang paling dekat dengan masyarakat harusnya mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan terkait akses buku bacaan ini. Desa harus membuat perpustakaan. Bukan perpustakaan menetap yang berbentuk bangunan, tapi perpustakaan bergerak. Perpustakaan yang akan berkeliling dari satu dusun ke dusun yang lainnya. Ini bisa menjadi langkah awal bagi desa. Perpustakaan bergerak ini jauh lebih efektif daripada yang menetap asalkan dikelola secara baik. Jika tak dikelola dengan baik dan tidak bergerak, mungkin akan seperti yang Gus Muh katakan: perpustakaan desa hanya akan menjadi rumah hantu dan buang-buang uang pajak rakyat. Menjadi proyek salah sasaran.  

Ditulis oleh : Sultan Jaya Negoro, relawan Sulo Pustaka Turatea, penulis buku "Gerak Katimbang Di Butta Turatea".

*tulisan ini pertama kali dimuat oleh harian Fajar





John Doe
Pustaka Bergerak Indonesia
Pustaka Bergerak adalah jaringan masyarakat madani yang secara sukarela bekerjasama untuk membangun kekuatan dan kemandirian masyarakat lokal

Artikel Terkait

Fenomena Guru-menulis Akankah Masih Bertahan...

Berjualan Buku Di Negeri Yang Penduduknya Tidak Suka Membaca Adalah Tindakan Heroik. (andrea Hirata – Orang-orang Biasa)syahdan, Seorang Guru Yang Mengaku Penulis, Membagikan Sebuah Gambar Jpeg...

Agenda Mendesak Bangsa : Memperjuangkan Bacaan

@muhammad Munir(founder Rumpita Sulbar Wa 082113008787 Email Rumpitasulbar@gmail.com)sebuah Catatan Nirwan Arsuka Terkait Seruan Tentang Gerakan Literasi Parlemen, Tentu Harus Diapresiasi Bersama,...

Pergerakan Literasi Dan Musuh Yang Harus Dihadapi

Di Dunia Pergerakan Literasi, Ada Dua Musuh Yang Niscaya Harus Dihadapi: Rasa Malas Dan Klaim Dari Pihak Tertentu. Dua Musuh Itu Memang Kerap Melumpuhkan. Baik Dari Segi Semangat Maupun Segi...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul