Jalan Panjang Pergerakan Boneka Pustaka Bergerak

boneka pustaka

Ditulis Oleh : Rumah Baca - 18 September 2020

Jalan panjang pergerakan “Boneka Pustaka Bergerak”.


Masih teringat sejak tahun 2015 sudah bergerak, menggendong buku-buku dan boneka yang diperoleh dari kantong pribadi dan bersusah payah penuh perjuangan. Bukan sekedar buku untuk dibaca anak-anak, masyarakat dan orang yang haus akan bahan bacaan, tapi buku khusus untuk dibacakan dihadapan puluhan bahkan ratusan anak beserta orangtua / guru. Boneka yang bisa dimainkan siapa saja, yang entah berapa banyak telah berganti-ganti boneka, beraneka macam bentuk, jenis dan nama.


Menyusuri puluhan kilometer melewati jalan setapak, berbatu, jalan berkubang, naik turun bukit, melintasi hutan jati, perkampungan yang sama sekali tidak ada akses listrik dan sinyal, panas kepanasan dan hujan kehujanan bahkan tak jarang baju kering di badan. Jatuh bangun tergelincir serta tidak terhitung lagi berapa kali harus ganti ban, keluar masuk bengkel motor, yang mungkin orang-orang akan ogah atau enggan mendatangi atau melakukan kegiatan ini.


Sering dianggap gila, sering dikata kurang kerjaan, sok baik dan entah berbagai macam cemoohan. Namun tak jarang mendapati senyum kebahagiaan, raut wajah gembira dan ucapan terima kasih serta ketulusan di dapatkan dari anak-anak, orangtua dan masyarakat yang didatangi saat bergerak.


Keceriaan dari anak-anak dan orangtuanya ketika dikunjungi saat disuguhkan buku-buku yang sengaja dibawa, membacakan buku dan bercerita dengan boneka yang setia menemani menjadi sesuatu yang tidak bisa terlupakan dan menyentuh hati.


Dengan menggunakan media boneka ketika bergerak menyuguhkan buku-buku bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan namun memiliki keterbatasan untuk bisa mendapatkan akses buku bacaan berkualitas merupakan cara untuk menarik perhatian dari orang-orang dan anak-anak yang didatangi.


Pembawaan yang kalem dan pemalu seakan tertutupi dengan media boneka yang dibawa. Dan saat mulai bertemu, berinteraksi dengan orang-orang dan anak-anak yang baru kali pertama di temui, seakan menuntut untuk tampil ceria dan menghibur, jauh dari kesan kalem dan pemalu. Alasan bergerak dengan media boneka karena cukup mampu menarik dan mendukung pergerakan saat menyuguhkan buku-buku yang telah dibawa untuk dibaca, seakan menjadi daya tarik dan ciri khas dalam bergerak.


Dimana saat itu tidak banyak orang yang bergerak seramai sekarang, tidak adanya pemberitaan media semudah dan cepat viral seperti saat ini. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan hati akan sampai ke hati. Tanpa adanya gembor-gembor pergerakan, karena bergerak dalam diam menjadi pilihan.


Sampai pada akhirnya perjalanan panjang dan melelahkan itu dapat bergabung dan menjadi bagian dari Pustaka Bergerak Indonesia ditahun 2018 lalu. Perlahan namun pasti, pergerakan literasi yang sudah sekian lama di jalani dan tersamarkan itupun mulai tampak oleh pandangan mata dan mulai berjejaring serta berkolaborasi dengan banyak para relawan pustaka hebat lainnya di daerah masing-masing di Indonesia.


Seiring berjalannya waktu, raga yang semakin melemah memaksa untuk mengurangi intensitas dan jarak tempuh dalam Bergerak lantaran virus yang bersemayam dalam tubuh dan hingga kini belum bisa disembuhkan. Tak hanya itu, jiwa ini pun juga ikut melemah karena depresi parah yang dialami dan memperparah keadaan lantaran terlalu memikirkan kondisi raga yang melemah setiap harinya oleh virus.


Dengan jiwa dan raga yang melemah tidak setangguh dulu lagi, namun semangat bergerak masih berkobar dan masih diijinkan oleh Tuhan untuk menggendong buku-buku dan boneka, mengunjungi dan berbagi rasa merdeka dengan anak-anak serta orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Hanya saja jangkauan dan waktu serta jumlah buku dan boneka tak seperti dulu. Dan mungkin inilah, literasi yang menguatkan ditengah jiwa dan raga yang melemah.


Tidak sampai disitu, disaat kondisi yang belum membaik, Tuhan kembali memberikan cobaan sebagai wujud kasihnya. Kecelakaan yang menyebabkan lengan kiri dan tempurung lutut kanan retak, membuat lengkap semua penderitaan yang dirasa. 


Dengan keadaan seperti itu, terpikirkan untuk tetap bisa bergerak namun dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Latar belakang sering bertemu dengan banyak orang yang memiliki visi dan misi sama tentang keprihatinan susahnya mendapatkan akses buku bacaan berkualitas melatarbelakangi untuk mendirikan simpul pustaka lain yang akan mengkoordinir dan bertanggung jawab di daerahnya masing-masing.


Sampai akhirnya, hingga kini berhasil menginisiasi simpul-simpul pustaka dan mampu menghidupi 5 taman baca dan rumah baca secara mandiri dengan masing-masing memiliki koleksi ratusan bahkan ada yang sampai ribuan dan berlangsung selama bertahun-tahun yang lalu, berkegiatan, bergerak membawa buku-buku dan menggendong boneka ke sekolah-sekolah, madrasah atau tempat-tempat yang dirasa pelosok dan tertinggal. Meski belum ada perhatian dari pemerintah dan fasilitas yang serba sederhana bahkan bisa dikatakan kurang layak, namun semangat untuk terus berbagi rasa merdeka tidak memutuskan segalanya.


Dengan latar belakang dan terletak di wilayah berbeda di Grobogan, Jawa Tengah, kelima simpul pustaka yang berhasil diinisiasi itu tetap berjalan untuk mendekatkan akses buku bacaan berkualitas bagi siapa saja yang haus ilmu pengetahuan tanpa membedakan suku, budaya, agama, ras, warna kulit, umur ataupun status sosial.


Mulai dari yang berlatar belakang Padepokan, madrasah (TPQ), sekolah Paud dan bimbingan belajar yang tersebar di berbagai daerah berbeda dengan latar belakang orang-orang yang berkunjung memiliki segmentasi berbeda-beda, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.


Komitmen sejak awal tahun 2018 bergabung Pustaka Bergerak Indonesia dan nyaman bergerak seperti teman-teman lain yang memiliki visi dan misi sama dalam bergerak yang sudah sejak lama bergabung bahkan sudah dikenal. Setidaknya, pergerakan yang tidak ada embel-embel apapun, tanpa harus dibayang-bayangi siapapun atau bahkan lembaga manapun yang memperlambat pergerakan. Setidaknya bebas merdeka, itulah yang menjadi pilihan untuk berbagi rasa merdeka.


Intinya bahwa rejeki pegiat literasi itu memang beda-beda: ada yang dapat perhatian pemerintah, ada yang tidak. Tapi semangat kita bergerak memang bukan terutama untuk dinaungi oleh pemerintah, tapi justeru untuk ikut membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa. Soal mendapat perhatian dan naungan yang melimpah, itu urusan yang ke sekian.


Dan akhirnya, menjelang akhir tahun 2019 menuju tahun baru 2020, jiwa dan raga ini belum juga bisa kembali bergerak setangguh dan membanggakan seperti dulu lagi. Tetapi setidaknya beberapa simpul pustaka yang berhasil diinisiasi tetap bergerak, berbagi rasa merdeka di wilayah masing-masing.


Ketika jiwa dan raga kembali stabil seperti dulu lagi, niatan untuk kembali bergerak lagi meski dengan porsi pergerakan yang tidak sama seperti dulu, karena sampai saat ini menjadi satu-satunya orang di Grobogan yang bergerak dengan menggendong buku-buku dan boneka menghampiri anak-anak dan masyarakat yang haus ilmu pengetahuan. Entah sampai kapan? Hari ini? Besok atau lusa?


Dalam keadaan pandemi covid 19 seperti saat ini yang masih berlum usai, masih diijinkan oleh Tuhan untuk bergerak menyuguhkan buku-buku untuk dibaca. Hanya saja lebih menyarankan meminjam buku dengan jumlah banyak untuk dibaca di rumah masing-masing untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Bahkan saat pandemi covid 19 yang belum usai, berhasil untuk kembali menginisiasi simpul pustaka baru yang kelima di daerah lain di Grobogan. Dengan maksud untuk dapat bisa menyuguhkan buku-buku untuk dibaca di daerah baru yang menjadi wilayah simpul pustaka baru ini berada.


Dan semoga pandemi covid 19 bisa segera berakhir dan diberikan kekuatan dan kesehatan, sehingga dapat kembali bergerak untuk berbagi rasa merdeka seperti dulu lagi dengan membawa buku-buku dan boneka di daerah-daerah di Grobogan. Aamiin...




Artikel Terkait

Ternyata Ada Ribuan Bahan Bacaan Gratis, Lo!

“kak Anggi, Sudah Dapat Novel Dan Referensi Yang Kakak Bilang Ditugaskan Bu Isnaini Kemarin?”“sudah Dong, Banyak Lagi”“wah, Keren Kak. Aku Pun Dapat Tugas Yang Sama Dari Bu Isnaini Di...

Tagline Lawan Unesco, Sebagai Bentuk Suatu Jawaban

Banyak Sekali Data-data Yang Tersebar, Terkait Minat Baca Anak Indonesia Yang Masih Terus Dikatakan Rendah Dan Selalu Di Presentasikan. Menilai Anak-anak Dari Semua Kalangan Di Indonesia Masih...

Gerakan Literasi, Beberapa Catatan

Geliat Gerakan Literasi Di Indonesia Kian Hari, Kian Gencar Terdengar. Melalui Media Daring, Televisi Maupun Media Cetak. Pun Munculnya Beberapa Komunitas, Club Baca Ataupun Pustaka Bergerak...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul