IMPERATIF KATEGORIS MENURUT IMMANUEL KANT

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 06 Juli 2020

Pengantar

Setiap orang memiliki kehendak. Dalam melakukan kehendak, seseorang memiliki motivasi yang murni karena dia memiliki akal budi. Namun, tidak selamanya motivasi seseorang itu murni adanya, terkadang juga melenceng dari apa yang seharusnya. Kecenderungan itu akan tetap ada. Kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam diri seseorang itu harus berpatokan pada suatu hukum moral yang obyektif, yakni berupa perintah mutlak dan tak bersyarat, berlaku di segala tempat, dan tanpa terkecuali. Immanuel Kant merumuskan perintah ini dengan imperatif kategoris.


Immanuel Kant

 Immanuel Kant (1724-1804) adalah seorang filsuf besar yang meyakini bahwa hukum moral itu bersifat mutlak. Aliran rasionalisme dan empirisme menjadi sumbangan terbesar baginya untuk mencari prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan moralitas. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan manusia menjadikan dia sebagai peletak dasar pemikiran filosofi abad kesembilan belas dan kedua puluh. Argumennya tentang hukum moral bersifat mutlak dibelanya dalam bukunya Foundations of the Metaphysic of Morals (1785).[1]

Rumusan Pertama Imperatif Kategoris

Setiap imperatif pada dasarnya terarah kepada kebaikan. Dalam bukunya Foundations of the Metaphysic of Morals (1785), Kant memberi perbedaan mendasar antara imperatif hipotesis dan kategoris. Setiap imperatif kategoris menentukan kehendak baik seseorang, murni dalam dirinya sendiri. Sedangkan imperatif hipotesis menentukan kehendak baik seseorang, tetapi dengan tujuan atau motivasi tertentu. Suatu proses tindakan akan menolong seseorang mencapai apa yang dia inginkan, dan karena itu seseorang harus mengikuti tahapan-tahapan yang berlaku. Kekuatan yang mengikat dari “wajib” tergantung pada adanya keinginan kita yang relevan. Kita dapat melepaskan diri dari kewajiban itu jika kita tidak ingin mencapai apa yang kita inginkan. Keharusan yang ada bersifat kontingen.[2]

Sangatlah berbeda halnya dengan imperatif kategoris. Kant merumuskan imperatif kategoris sebagai berikut: “Bertindaklah hanya menurut kaidah dengan mana Anda dapat sekaligus menghendaki supaya kaidah itu berlaku sebagai hukum universal.”[3] Prinsip moral ini sangat penting dan tidak tergantung pada situasi tertentu, tetapi menyatakan syarat formal yang harus dilaksanakan pada saat bertindak dan sebagai hukum mutlak.[4]

Selanjutnya, Kant memberi sejumlah contoh untuk menjelaskan bagaimana imperatif kategoris berlaku secara umum. Misalnya, ada orang yang ingin meminjam uang, dan dia tahu bahwa tak seorang pun akan meminjamkan kepadanya kecuali jika dia berjanji untuk mengembalikan. Namun dia juga tahu bahwa dia tidak akan mampu mengembalikan. Oleh karena itu, dia pun dihadapkan pada pertanyaan: apakah sebaiknya dia berjanji akan membayar utangnya, meski sebenarnya dia tidak dapat menepati janji itu, agar dapat membujuk orang memberikan pinjaman kepadanya? Jika dia mesti menepati janjinya, hal yang perlu dia lakukan adalah mengembalikan uang pinjaman, meskipun dia tahu tidak akan mampu melakukan itu. Apakah aturan ini dapat menjadi hukum universal? Tentu saja tidak! Karena hal itu hanya semacam pembelaan diri yang sia-sia (inkonsistensi). Jikalau hal semacam ini berlaku secara umum, pastilah tidak ada seorang pun yang mau meminjamkan uangnya. Janji untuk mengembalikan uang pinjaman hanya merupakan dalih yang sia-sia. Dengan demikian, imperatif kategoris membatasi perilaku seseorang.[5]

Kant memberikan contoh lainnya berkaitan dengan pemberian derma. Misalnya, seseorang menolak untuk menjadi dermawan dengan mengatakan: “Saya tidak akan membantu orang lain, karena saya tidak membutuhkan mereka.” Kita dapat membayangkan bilamana aturan ini diterapkan menjadi hukum yang berlaku umum. Kedengarannya logis, tetapi itu mustahil dapat dilakukan oleh setiap orang, karena dia pun adalah makhluk yang terbatas dan karena itu dia membutuhkan orang lain.[6]

Rumusan Kedua Imperatif Kategoris

Meskipun Kant, dalam rumusan pertamanya tentang imperatif kategoris sebagai hukum mutlak, namun Kant memberi rumusan alternatif lainnya. Dalam rumusan yang kedua ini, Kant mendasarkan pandangannya pada dua klaim (tuntutan pengakuan atas suatu fakta bahwa seseorang berhak memiliki atau mempunyai sesuatu). Klaim pertama ialah manusia sebagai makhluk rasional, yang memiliki nilai absolut dalam dirinya sendiri. Klaim kedua yakni hanya manusia yang memiliki kehendak. Dari dua klaim ini, Kant merumuskan imperatif kategoris sebagai hukum yang selalu memperlakukan manusia, baik secara perorangan maupun bersama, sebagai tujuan dalam dirinya sendiri dan tidak pernah dianggap sebagai sarana pemenuhan tujuan saja. Adalah suatu larangan mutlak jika kita memperlakukan orang lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Jika hal ini terjadi, itu berarti kita melakukan tindakan penghapusan martabat seseorang sebagai makhluk rasional.[7]

Kant sangat menyadari bahwa setiap orang itu otonom dan bebas dalam bertindak. Melalui kesadaran ini setiap orang menaruh hormat pada nilai kesusilaan. Alasannya ialah otonomi yang ada dalam diri seseorang merupakan ekspresi nyata dari setiap aturan, dan selanjutnya menjadi prinsip dalam kesadaran, yaitu otonomi kepribadian, yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.[8]


Rumusan Ketiga Imperatif Kategoris

Rumusan ketiga ini berlandaskan pada prinsip otonomi, yakni hukum moral yang telah diatur bagi setiap orang dalam bertindak. Prinsip ini mengharuskan seseorang untuk tunduk pada aturan yang telah mereka buat sendiri. Untuk memahami pentingnya otonomi bagi moralitas, kita mesti mempertimbangkan dua hal berikut yakni kehendak baik dan motif. Kant mengatakan bahwa satu-satunya hal yang baik adalah memiliki kemauan yang baik.

Selanjutnya, Kant mengungkapkan bahwa kemauan baik ini menyata dalam tindakan yang di dalamnya terdapat berbagai motif. Misalnya, jika kita ingin membantu orang lain dengan tujuan mencari penghargaan atau nama baik, nilai moral di situ belumlah ada. Kehendak baik kita memiliki nilai moral ketika kita melakukan kewajiban kita sendiri, bukan untuk kepentingan tertentu, dan bukan untuk memperoleh nama baik atau sejenis lainnya.[9]

Konsep moralitas membutuhkan ide hukum mutlak, dan karena itu, prinsip moral dasar harus menjadi suatu perintah yang mutlak. Imperatif kategoris ini tidak bisa didasarkan pada sesuatu yang sifatnya kontingen (demi hal lain), tetapi selalu kembali kepada prinsip otonomi. Kebebasan menentukan pilihan secara rasional merupakan supremasi (kekuasaan tertinggi) ketentuan dan kondisi moralitas. Prinsip kebebasan memberikan pra-syarat (syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan suatu tindakan atau kegiatan) bagi setiap orang untuk melakukan tindakan moral. Tanpa adanya kebebasan untuk memilih tindakan, maka seseorang tidak bisa dinilai sebagai orang baik. Tindakan moral selalu mengasumsikan adanya kebebasan bagi seseorang untuk menentukan pilihan.[10]

Refleksi Kristis dan Penutup

Kant telah menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Sebagai makhluk rasional, manusia harus menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas. Kant menunjukkan kepada kita betapa pentingnya imperatif kategoris, di mana melalui prinsip otonomi, setiap orang mengekang segala kecenderungan jahatnya seperti berbohong, membuat janji palsu, dan menjadikan orang lain sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Pertanyaan kita sekarang ialah: “Mengapa kita harus taat pada teori imperatif kategoris Kant ini”?

Kant meneguhkan kita dengan jawabannya, yakni kita sebagai makhluk rasional harus mewujudkan citra diri makhluk rasional yang memiliki kebebasan dan kehendak, yang terarah bukan hanya demi kebaikan diri sendiri, tetapi juga bagi kebaikan orang lain. Kant beranggapan bahwa manusia melalui kehendak bebasnya harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku secara umum, mutlak, dan tanpa syarat. Kehendak itu adalah semacam kausalitas. Konsep kausalitas mensyaratkan bahwa kehendak bebas harus disesuaikan dengan ketentuan hukum yang berlaku secara umum.

Suatu kehendak bebas dalam arti positif harus dapat menentukan sendiri, harus bertindak sesuai dengan hukum dalam dirinya sendiri, hukum kebebasan. Inilah ciri yang menunjukkan manusia sebagai subyek imperatif kategoris. Manusia sebagai pelaku moral mengarahkan perilakunya sesuai dengan hukum-hukum universal – aturan-aturan moral yang berlaku secara mutlak, tanpa kekecualian dalam segala situasi.[11]

Gagasan dasar Kant tentang imperatif kategoris adalah manusia sebagai makhluk rasional. Manusia adalah subyek moralitas. Suatu putusan moral harus didukung oleh alasan-alasan yang baik. Artinya, kita harus mempertimbangkan apakah setiap tindakan kita sesuai dengan nilai-nilai moral. Alasan-alasan moral inilah yang menjadi patokan setiap orang di segala tempat dan situasi di mana dia berada, sehingga setiap orang dapat mempertanggungjawabkan setiap tindakannya. Dalam hal ini, Kant benar dalam anggapannya bahwa tidak seorang pun dapat melanggar imperatif kategoris.[12]

Kant memberikan sumbangan terbesar dalam dunia moral. Kant berpendapat bahwa setiap orang tidak boleh memandang dirinya sebagai sesuatu yang istimewa. Seseorang tidak boleh terus-menerus menganggap bahwa dirinya dapat melakukan segala sesuatu sesuka hatinya, berpikir bahwa dirinya diizinkan bertindak atas dasar sesuatu hal demi kepentingan dirinya sendiri, tetapi bertentangan dengan hukum universal.

Kant menyatakan secara tegas bahwa barang siapa melanggar imperatif kategoris dan tidak mengakui bahwa dia telah berbuat salah, dia itu tidak bermoral dan irasional. Gagasan Kant ini membuat kita sangat terkejut. Namun, Kant sebenarnya hanya menuntut agar setiap orang bertindak secara rasional, demi sesuatu alasan yang bisa kita berlakukan bagi dirinya sendiri, yang juga dapat diterima oleh orang lain, yang berada dalam posisi yang sama dengan dia.

Kekurangan Kant dalam teorinya ini adalah Kant sulit menerima kecenderungan jahat yang ada dalam diri setiap orang. Malahan Kant memberi stigma buruk bagi mereka yang melanggar imperatif kategoris dengan cap tidak bermoral atau irasional. Kant tidak membutuhkan diskusi dalam mengatasi masalah pelanggaran hukum universal. Unsur rasionalitas menjadi patokan utamanya dalam membela argumen-argumennya. 

Oleh karena itu, imperatif kategoris menyatakan prinsip yang pasti tentang bagaimana makhluk rasional harus bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku secara umum, mutlak, dan berlaku di segala tempat dan situasi tanpa terkecuali.[13]


Penulis: Silferius Hulu, S. Fil

Sedang menempuh Program Studi Pascasarjana di STFT St. Yohanes Sinaksak-Pematangsiantar.

Calon Imam Biarawan dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).



DAFTAR PUSTAKA

Copleston, Frederick. A History of Philosophy, Wolf to Kant, Vol. VI. London: Search Press, 1960.

Kant, Immanuel. Foundations of the Metaphysic of Morals. Indianapolis: Bobbs-Merrill, 1959. Diterjemahkan oleh Lewis White Beck.

Routledge. Encyclopedia of Philosophy. London and New York: Great Britain, 2000.

Routledge. History of Philosophy: The Age of German Idealism, Vol. VI. London and New York: Great Britain, 1993.


[1] Routledge, Encyclopedia of Philosophy (London and New York: Great Britain, 2000), hlm. 432-433.

[2] Routledge, History of Philosophy: The Age of German Idealism, Vol. VI (London and New York: Great Britain, 1993), hlm. 72.

[3] Immanuel Kant, Foundations of the Metaphysic of Morals (Indianapolis: Bobbs-Merrill, 1959), hlm. 39. Diterjemahkan oleh Lewis White Beck

[4] Routledge, History of Philosophy ..., hlm. 72.

[5] Frederick Copleston, A History of Philosophy, Wolf to Kant, Vol. VI (London: Search Press, 1960), hlm. 321.

[6] Routledge, History of Philosophy …, hlm. 73-74.

[7] Immanuel Kant, Foundations …, hlm. 46.

[8] Frederick Copleston, A History …, hlm. 329.

[9] Routledge, History of Philosophy …, hlm. 77.

[10] Routledge, History of Philosophy …, hlm. 78.

[11] Routledge, History of Philosophy …, hlm. 78-80.

[12] Routledge, History of Philosophy …, hlm. 80.

[13] Routledge, History of Philosophy …, hlm. 81.




Artikel Terkait

Kegiatan Dan Prestasi Griya Baca Jelita...

Griya Baca Jelita (gbj) "jendela Literasi Tanah Air" Taman Bacaan Masyarakat Di Kelurahan Kebokura, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Yang Berdiri Tahun 2015. Memberikan Pelayanan...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul