Hukum Moral

Picture by Silferius Hulu

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 18 Juni 2020

Pengantar

Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kebebasan. Sebagai makhluk hidup yang bebas ia menjalin relasi dengan sesamanya, dengan dunianya, dan dengan Tuhannya. Dalam relasi tersebut dibutuhkan suatu hukum yang menjamin kelanggengan relasi tersebut yang disebut dengan hukum moral. Hukum moral merupakan sebagai perwujudan cinta kasih, ketaatan dan ungkapan syukur manusia.


Hukum dan Moral

Hukum artinya peraturan yang dibuat oleh penguasa, adat, yang berlaku bagi semua anggota masyarakat. Hukum dipandang sebagai aturan yang bersifat menuntun hidup dan tindakan seseorang. Dimensi dasariah hukum terdapat pada undangan untuk saling mengasihi dan tuntutan yang mewajibkan untuk melakukan sesuatu.

Norma berasal dari bahasa Latin mos atau moris, artinya adat istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku; mores artinya adat istiadat, watak, cara hidup. Maka, hukum moral adalah aturan-aturan bertingkah laku dalam relasi dengan orang lain.[1]

Hukum moral adalah hukum yang didasarkan pada kehendak Allah. Hukum moral menjadi benar diterapkan dalam ungkapan iman, karena tindakan manusia mencerminkan imannya. Orang beriman bertindak bukan semata-mata atas kehendak dirinya, melainkan lebih atas dasar kehendak Allah.

Setiap pengalaman manusia memberi kontribusi besar pada hukum moral. Ada tiga ide utama yang perlu dipahami dalam hal ini, antara lain: pemahaman budaya suku bangsa; keterlibatan dalam budaya; dan keturutsertaan dalam memperjuangkan keadilan.[2]

Hukum moral menunjukkan aturan dalam bertingkah laku. Misalnya, upaya-upaya komunikasi sosial. “Untuk menggunakan upaya-upaya itu dengan tepat, sungguh perlulah bahwa siapa saja yang memakainya mengetahui norma-norma moral, dan di bidang itu mempraktikkannya dengan setia. Hendaknya mereka menelaah bahan, yang dikomunikasikan sesuai dengan sifat khas masing-masing medium. Sekaligus hendaklah mereka pertimbangkan juga situasi maupun kondisi-kondisi, yakni tujuan, orang-orang, tempat, waktu, dan hal-hal lain yang menyangkut komunikasinya sendiri. Sebab konteks itu dapat mengubah kadar moralnya, bahkan mengubahnya sama sekali. Perlu juga diperhatikan cara berfungsi yang khas bagi masing-masing medium; begitu pula daya pengaruhnya, yang dapat sedemikian besar sehingga orang-orang, terutama kalau tidak siap, cukup sulit menyadarinya, mengendalikannya, dan bila perlu menolaknya”.[3]

Semua orang secara mutlak wajib berpegang teguh pada prioritas hukum moral yang objektif. Sebab hanya hukum moral itulah yang melibatkan manusia, makhluk Allah yang berbudi dan dipanggil untuk tujuan adikodrati, menurut hakikat seutuhnya. Hukum moral itu jugalah, yang bila dipatuhi sepenuhnya dengan setia, mengatur manusia untuk mencapai kepenuhan, kesempurnaan, serta kebahagiaanya.[4] Kita bertindak bukan hanya karena keyakinan akan kemampuan intelektual, melainkan karena dorongan hati agar diri berkembang.[5]


Makna Hukum Moral

Hukum moral memberikan makna bagi kehidupan manusia. Makna tersebut antara lain:

1.  Mewariskan himpunan kebijakan moral yang sudah dirumuskan sebelumnya, kepada generasi berikutnya.

2.  Membantu manusia dalam mengambil keputusan.

3.  Membantu manusia dalam mengenali kekurangan dan kegagalan, sehingga manusia dapat memperbaiki diri.

4.  Membagikan pengalaman agar dapat tercipta tingkah laku personal dan sosial.

5.  Membantu manusia dalam melayani sesama penuh cinta serta dalam menuju kebaikan secara otentik. Manusia yang memiliki cinta kasih yang otentik adalah orang yang taat pada peraturan.


Kewajiban Moral

Kewajiban moral muncul bukan hanya sebagai pemenuhan tuntutan norma dan hukum moral, melainkan sebagai pemenuhan serta keharusan moral atas tuntutan keadaan manusia yang diterapkan pada kehendak bebas. Manusia menyadari bahwa Allah hadir dalam setiap peristiwa hidup manusia. Ia mencintai umatNya tanpa batas. Dan dalam semuanya itu manusia mengucap syukur kepada Allah atas segala kebaikanNya


Penutup

Hukum moral merupakan tanda ungkapan iman manusia bagaimana ia berbuat segala sesuatu didasari atas dasar cinta dan kehendak Allah. Untuk itu, ungkapan iman tidak terlepas dari kesadaran dan juga pilihan bebas manusia. Hati adalah pusat kesadaran. Manusia adalah subjek moral bila tindakan dan moralitas yang dimiliki sungguh merupakan suatu ungkapan iman. Hukum moral adalah hukum yang membebaskan dan memerdekakan.



Penulis: Silferius Hulu, S. Fil, Calon Imam Biarawan dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).

[1] William Chang, Pengantar Teologi Moral (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 101.

  [2] Bryan N. Massingale, “Has the Silence Been Broken? Catholic Theological Ethics and racial Justice”, dalam  Theological Studies Vol. 75, No. 1 (USA: Sheridan Press, Maret 2014), hlm. 141.

[3] Konsili Vatikan II, Dekrit Inter Mirifica tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial, art. 4.

[4] Konsili Vatikan II, Dekrit Inter Mirifica..., art. 6;  bdk. William Chang, Pengantar Teologi..., hlm. 102.

[5] Bryan N. Massingale, Has the Silence Been…, hlm. 142.



Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul