Gerakan Literasi, Beberapa Catatan

Picture by Ang Rijal

Ditulis Oleh : Ang Rijal - 11 Januari 2021

Geliat gerakan literasi di Indonesia kian hari, kian gencar terdengar. Melalui media daring, televisi maupun media cetak. Pun munculnya beberapa komunitas, club baca ataupun pustaka bergerak dengan konsep dan cara yang unik. Tak mengherankan memang munculnya berbagai gerakan tersebut. Faktanya Indonesia masih menduduki posisi rendah dalam hal tingkat literasi masyarakat. Sehingga para pegiat sekarang ini ramai-ramai menyebur dalam tajuk gerakan literasi atas nama kepedulian maupun kepekaan sosial untuk merespon keadaan tersebut. 

Tentu kita semua sepakat bahwa menjamurnya lembaga nirlaba untuk gerakan literasi tersebut sangatlah baik dan harus kita dukung bersama-sama keberlanjutannya dan kebermanfaatnya. Namun ada sesuatu yang menyanggal, yang membuat jidat saya berkerut. Bahwa munculnya gerakan tersebut tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Dalam artian peningkatan minat baca, atau lebih jauh lagi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masyarakat tersebut. 

Saya menduga bahwa gerakan literasi yang kita lakukan masih kurang maksimal untuk tidak mengatakannya salah sasaran. Kecenderungan gerakan literasi yang kita lakukan masih sebatas simbolis-formalistis. Yang penting kita melakukan kegiatan tersebut dengan penuh games seru penuh edukasi yang membuat anak-anak betah dan akhirnya memilih salah satu buku untuk dibaca, kemudian kita dokumentasikan, seolah-olah kita sudah terlibat menyelesaikan persoalan literasi tersebut. Padahal yang kita hadapi adalah fenomena gunung es yang sudah lama membatu dan secara lama-kelamaan akan membudaya yang penyelesaiannya tidak semudah itu. Memerlukan proses, progres dan perencanaan yang mendalam. 

Tidaklah segampang itu!. Persoalannya, setelah kita mengedukasi mereka dengan doktrin mencintai buku tersebut, apakah mereka akan terus mencintai terus membaca buku? seperti yang kita dokumentasikan itu. Saya kira tidak, disinilah peran dan strategi gerakan literasi yang saya coba tawarkan untuk memaksimalkan kerja-kerja literasi yang coba kita dengungkan itu. 

Memiliki Wilayah Kerja

Kecenderungan yang saya lihat pada gerakan literasi yang kita lakukan yakni kita terlalu berambisi untuk bersafari literasi disetiap wilayah yang menjadi tujuan kegiatan kita pada setiap kali melakukan kegiatan. Praktik semacam inilah yang akan mengarah pada kegiatan yang simbolis-formalistis yang disinggung tadi. Yang kurang maksimal dirasakan oleh subjek yang dituju.

Wilayah kerja yang saya maksud adalah setiap pegiat literasi memiliki fokusan wilayah. Yang misalnya gerakan literasi yang dilakukannya hanya pada sebuah RT atau RW saja dalam jangka waktu tertentu. Wilayah kerja itu dapat menjadi laboratorium mini untuk kita ukur dan data bagaimana perkembangan peningkatan minat literasi pada wilayah kerja tersebut. Jangan sampai kerja-kerja literasi yang kita lakukan tersebut berpindah-pindah dalam setiap kita melakukan sebuah kegiatan. Dampaknya kita tidak bisa melihat perkembangan gerakan yang kita lakukan. Evaluasi dan monitoring wilayah kerja itu sangat penting dilakukan. Apabila hasilnya positif, saya kira bisa kita berpindah pada wilayah lain. Apabila berdampak sebaliknya, kita terus melakukan kegiatan pada wilayah tersebut.

Selain hal diatas, saya kira yang harus menjadi catatan bagi para pegiat literasi adalah kecenderungan kita melaksanakan kegiatan literasi di sekolah pada hari-hari aktif sekolah. Rasanya tidak elok melakukan kegiatan literasi ditempat yang harusnya menjadi pelopor gerakan literasi. Karena di sekolahlah harusnya kita bangun percik literasi, yang percikannya sampai diluar pagar sekolah itu. Karena sekolahlah yang sudah mempunyai fasilitas lengkap untuk pengembangan literasi, hanya perlu digiatkan oleh guru-guru dalam kelas pada saat KBM berlangsung.

Nah, wilayah kerja para pegiat literasi (komunitas, club baca, pustaka bergerak) itu berada pada hari-hari libur sekolah atau pada sore harinya saja untuk mem back up kegiatan literasi yang diajarkan di sekolah-sekolahnya. Upaya ini saya kira bisa membuat gerakan literasi yang dilakukan oleh para pegiat literasi (komunitas, club baca, pustaka bergerak) lebih maksimal dan tersistematis tanpa saling menyangsikan antara pelajaran sekolah dengan kegiatan literasi dari pegiat literasi. 

Peran Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan memang harus menjadi garda terdepan selain Perpustakan dan pegiat litersi. Karena disanalah kegiatan literasi itu benar-benar harus dimanfaatkan sesuai dengan porsi masing-masing satuan pendidikan. Misalnya pendidikan dasar dengan belajar menulis, membaca dan berhitungnya. Pada tingkat menengah, bagaimana membiasakan membaca dan mulai mengenalkan analisis terhadap sebuah persoalan. Pada tingkat-tingkat selanjutnya adalah upaya untuk mempertajam aspek-aspek pada tingkat sebelumnya. Tetap dengan catatat pembagian porsi dengan pegiat literasi seperti diatas. 

Karena selama ini institusi pendidikan kita terjebak pada persoalan-persoalan teknis mengenai proses kegiatan belajar dan mengajar saja. Dan institusi pendidikan juga belum berhasil memaksimalkan peran duta-duta baca yang diutus oleh sebuah sekolah untuk mengikuti perlombaan pada tingkat Kabupaten/kota misalnya. Alangkah baiknya, setiap institusi pendidikan yang biasanya mengirim utusan duta baca untuk perlombaan. Setelah perlombaan selesai, untuk dimaksimalkan menjadi duta baca sekolah untuk menebar virus literasi itu pada siswa-siswa lain dalam wilayah sekolah tersebut. Hal-hal semacam ini yang harus menjadi perhatian serius oleh setiap institusi pendidikan untuk meningkatkan minat literasi.

Jika catatan-catatan diatas berhasil dilaksanakan dengan upaya sungguh-sungguh dan terkoordinasi dengan baik, saya yakin dan percaya bahwa gerakan literasi cum mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi agenda nasional kita, bisa benar-benar terwujud. Karena memang agenda ini adalah agenda bersama yang harus dilakukan bersama-sama juga. Dan harus kita mulai melakukan pembaruan-pembaruan dalam kerja-kerja literasi agar gerakan literasi yang kita lakukan tidak hanya menjadi gerakan seremonial belaka tanpa arah dan tujuan. Apalagi hanya latah dengan memanfaatkan situasi untuk mendapatkan dana hibah dari pemerintah. Semoga kita semua terhindar dari sikap demikian dan hanya tulus meniatkan untuk kemajuan literasi dan perbaikan generasi bangsa. Salam literasi. 



John Doe
Ang Rijal
Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe.

Artikel Terkait

Ternyata Ada Ribuan Bahan Bacaan Gratis, Lo!

“kak Anggi, Sudah Dapat Novel Dan Referensi Yang Kakak Bilang Ditugaskan Bu Isnaini Kemarin?”“sudah Dong, Banyak Lagi”“wah, Keren Kak. Aku Pun Dapat Tugas Yang Sama Dari Bu Isnaini Di...

Tagline Lawan Unesco, Sebagai Bentuk Suatu Jawaban

Banyak Sekali Data-data Yang Tersebar, Terkait Minat Baca Anak Indonesia Yang Masih Terus Dikatakan Rendah Dan Selalu Di Presentasikan. Menilai Anak-anak Dari Semua Kalangan Di Indonesia Masih...

Pisang Apa

Pisang Apamasa Pandemi Benar-benar Membuat Kantong Teriris-iris. Tidak Sekedar Kantong Sebenar-benarnya Kantong, Pun Begitu Kantong Hati. Bila Iman Tak Hinggap Dada, Ingin Rasanya Berusaha Di Luar...

Komentar

Lihat Komentar Lainnya
AK-A-Miftahul Khairat
AK-A-Miftahul Khairat 2021-01-14 07:36:28

Mantap bang, terussss kembangkan..

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul