Fenomena Guru-Menulis Akankah Masih Bertahan Di 2020?

Picture by Panji Pratama

Ditulis Oleh : Panji Pratama - 20 Januari 2020

Berjualan buku di negeri yang penduduknya tidak suka membaca adalah tindakan heroik. (Andrea Hirata – Orang-orang Biasa)


Syahdan, seorang guru yang mengaku penulis, membagikan sebuah gambar jpeg di sebuah Grup Whatsapp yang diikutinya. Gambar itu berisi sebuah cover buku dengan caption kata-kata puitis yang sengaja dipilihnya dari kumpulan puisi yang direnunginya selama beberapa minggu terakhir. Setelah gambar yang desainnya luar biasa tersebut, guru penulis tersebut melampirkan harga buku beserta nomor telepon yang bisa dihubungi untuk memesan.

Satu tahun belakangan ini, kaleodoskop grup WA para guru berisikan cover-cover fenomenal tentang antologi buku-buku terbaru hasil garapan mereka secara bersama-sama. Dimulai dengan antologi puisi, baik itu yang bergenre pantun, haiku, sonian, akrostik, atau apapun yang katanya puisi genre terbaru versi mereka. Lalu, ada pula cerpen, baik itu cerpen rasa kisah nyata, maupun cerita pendek fiksi yang sangat pendek hingga menyerupai flashfiction. Bahkan, yang terbaru adalah menyusun novelet barengan.

Faktanya, Whatsapp Grup ini merupakan semacam klinik kepenulisan yang seringkali diprakarsai sebuah penerbitan indie. Meskipun adapula yang membuat grup, yang katanya “cinta sastra”, pada akhirnya salah satu anggota seringkali mengusulkan penerbit indie untuk menjadi solusi penerbitan karya-karya yang anggota tulis di grup whatsapp itu.

Apakah hal ini salah? Tentu tidak. Inilah salah satu dampak teknologi. Teknologi yang berkembang pesat, dalam hal ini media sosial sebagai sarana promosi masif dan sistem print on demand untuk menekan biaya, memudahkan penerbit indie menyambung nyawa. Nah, angka penerbit indie yang aktif bergerak di dunia literasi kini terus merangkak naik, menandakan ada ruang luas bagi mereka untuk berkembang.

Menurut data yang dipublikasikan oleh London Book Fair 2019, Indonesia merupakan negara yang paling aktif menerbitkan buku di antara negara-negara anggota Asean. Setiap tahun setidaknya ada 30 ribu judul buku yang diterbitkan di Indonesia. Sekian persen itu, bisa jadi merupakan buku yang diterbitkan oleh penerbit indie. Sekian persen juga, bisa jadi merupakan buku-buku karya para guru.

Berkembangnya penerbitan indie di Indonesia tak lepas dari iklim yang kondusif, mulai faktor penggerak, infrastruktur, budaya masyarakat yang mengakar, pola interaksi sosial, hingga keterbukaan pemikiran di antara elemen masyarakat. Bisa dibayangkan, dengan bujet terbatas, penerbit indie bisa mencetak buku sesuai pasar yang ditarget. Guru merupakan pasar yang kecil dan spesifik. Nah, guru adalah market paling dikejar di tahun 2019 kemarin yang menjadi pilihan penerbitan indie untuk membangun peradaban.

Guru menjadi lahan baru dunia literasi. Berawal dari regulasi yang mensyaratkan karya tulis sebagai penentu kenaikan pangkat guru, akhirnya beberapa tahun lalu munculah ide untuk menjadikan karya tulis sebagai “ladang usaha” beberapa oknum penulis sebagai penulis bayangan. Agaknya, para guru semakin aware dengan permasalahan ini. Tidak lama menunggu, muncullah gebrakan di kalangan guru tanah air. Tagline satu guru satu buku menjadi tonggak sejarah. Para guru menjadi sadar bahwa dirinya perlu bisa menulis sendiri.

Maka, seperti halnya jamur di musim hujan, bengkel-bengkel kepenulisan pun bermunculan. Awalnya dibentuk secara offline, lalu berkembang di dunia maya. Perkembangan yang masif inilah, ditangkap oleh sebagian pelaku usaha untuk membuat workshop kepenulisan yang diakhiri dengan penyusunan buku bersama di bawah panji penerbitan indie milik sang inisiator.

Potensi ini menjadi sesuatu yang gebyar pada tahun 2019. Seperti gayung bersambut, pemerintah melalui dinas pendidikan mencanangkan beberapa program literasi untuk mewadahi hobi baru guru ini. Beberapa program itu dianggap berhasil meningkatkan kesadaran literasi di kalangan pendidikan. 

Masalahnya, apakah literasi hanya soal menulis saja? Tentu tidak. Beberapa komunitas guru menulis masih belum paham esensi dari literasi. Bagi sebagian kalangan ini, menulis adalah cara untuk terkenal dan naik pangkat saja. Asumsi ini bukan tanpa alasan. Kualitas buku yang diterbitkan masih memprihatinkan. Penggarapan terkesan terburu-buru. Bahkan penyuntingan isi dan konten tidak sesuai yang diharapkan.

Untuk antologi puisi misalnya, inisiator penerbitan karya komunitas guru penulis tidak mengundang atau menyertakan penyair-penyair sebagai pihak yang layak mengurasi. Adapun beberapa yang menyertakan penyair dalam cover buku, adalah sebagai penulis tamu. Pengkurasinya belum tentu pihak profesional, sehingga antologi buku terkadang tidak punya benang merah atas karya yang dibuat.

Contoh lainnya adalah prosiding atau kumpulan karya ilmiah. Beberapa karya buku kumpulan praktik baik yang pernah saya baca, tidak mempunyai format penulisan yang jelas. Bahkan tim editornya bukanlah dari kalangan universitas atau pihak berkompeten dalam dunia karya ilmiah. Dengan begitu, data-data yang diabadikan dalam tulisan masih bisa dipertanyakan keilmiahannya.

Kekhawatiran saya yang paling puncak adalah peringkat PISA Indonesia yang masih belum bergeser dari 10 negara terbawah. Tentunya, PISA disinyalir sebagai salah satu indikator keberhasilan literasi di sebuah negara. Nah, gurunya menulis tetapi tidak menunjukan pengaruh banyak pada siswa yang diajarnya. Ibaratnya; menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, guru menulis, lalu buat apa kalau tidak menghasilkan perbaikan pendidikan? Sumbangsih karya fenomenal yang mewabah ini ternyata belum banyak berdampak terhadap tingkat baca di kalangan siswa.

Bahkan mungkin, banyaknya buku-buku terbitan para guru ini belum berdampak pada tingkat dan daya baca guru itu sendiri? Sebagai informasi saja, hal ini pernah diberitakan salah satu media massa nasional di tanah air, CNN Indonesia, pada pertengahan tahun 2019 lalu. Dalam berita terkait, dikutip pernyataan Kepala Biro Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN), Mohammad Ridwan, yang menuturkan mengenai data yang dihimpun Lapor-BKN. Dalam laporannnya, terdapat 14 aduan yang melibatkan ASN pusat dan daerah terkait dengan ujaran kebencian dan hoaks. Terlapor terbanyak berprofesi sebagai dosen ASN, kemudian diikuti oleh PNS Pemerintah Pusat, PNS Pemerintah Daerah, dan guru. Guru? Diterima atau tidak, profesi ini ternyata masih dikaitkan dengan laporan penyebar hoax tersebut. Bahkan, saya juga sering menyaksikan sendiri beberapa oknum guru yang sering menulis tetapi masih saja menyebarkan informasi yang salah di grup whatsapp yang mereka buat. 

Sebetulnya, tulisan ini adalah otokritik terhadap saya sendiri. Masihkah tahun 2020 besok, geliat dan fenomena guru menulis menjadi hobi baru di kalangan guru Indonesia. Harapan saya, guru terus menulis tetapi tidak melupakan untuk terus “membaca”. Baik membaca karyanya sendiri sebelum dibukukan, ataupun membaca karya-karya orang lain untuk menambah referensi tulisannya menjadi lebih keceh. Begitupun dengan para penerbit indie. Harapannya, meskipun urusan yang dikejar adalah potensi keuntungan, tetapi kita kembalikan penerbitan indie sebagai salah satu pelopor idealisme. Mengutip kata Nezar Patria, tokoh penerbitan indie tanah air, bahwa menjadi indie pada akhirnya berarti bebas berkreasi, menuangkan kreativitas lebih banyak, dan yang terpenting: tak tunduk pada selera pasar, sehingga ruang untuk berkarya kian luas dan tak terbatas.



John Doe
Panji Pratama
Panji Pratama adalah seorang mantan wartawan yang kini mengabdikan diri sebagai seorang guru di daerah. Menulis profesional sejak 2008. Tulisannya pernah dimuat di harian Republika, Pikiran Rakyat, Radar Sukabumi, Sukabumi Pos, RMOL Sumut, dan bebera

Artikel Terkait

Jangan Hambat Masyarakat Membaca

Beberapa Hari Ini Sedang Ramai Di Kalangan Penggerak Literasi Perbincangan Terkait Tulisan Muhidin M Dahlan Atau Gus Muh Berjudul “jangan Paksa Masyrakat Membaca Buku” Yang Diterbitkan Pertama...

Agenda Mendesak Bangsa : Memperjuangkan Bacaan

@muhammad Munir(founder Rumpita Sulbar Wa 082113008787 Email Rumpitasulbar@gmail.com)sebuah Catatan Nirwan Arsuka Terkait Seruan Tentang Gerakan Literasi Parlemen, Tentu Harus Diapresiasi Bersama,...

Pergerakan Literasi Dan Musuh Yang Harus Dihadapi

Di Dunia Pergerakan Literasi, Ada Dua Musuh Yang Niscaya Harus Dihadapi: Rasa Malas Dan Klaim Dari Pihak Tertentu. Dua Musuh Itu Memang Kerap Melumpuhkan. Baik Dari Segi Semangat Maupun Segi...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul