ETIKA DAN MORAL

ETIKA

Ditulis Oleh : Silferius Hulu - 10 September 2020

Pengantar

Manusia membutuhkan orientasi sebelum melakukan sesuatu. Orang perlu tahu terlebih dahulu di mana ia berada dan ke arah mana ia akan bergerak untuk mencapai suatu tujuan, dan ini merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental. Misalnya, bila seseorang untuk pertama kalinya pergi ke suatu tempat seperti Jakarta, Roma, Amerika, atau melaksanakan wisata, berbekalkan peta atau sebuah kertas, jika ia kebingungan, pasti para calo (tukang angkat barang, pengemudi taksi atau ojek yang semuanya menawarkan jasanya) akan memerhatikannya dan menawarkan ‘jasa baik’. Rasa bingung akan melahirkan sikap takut ketika harus memilih calo yang mana? Dapatkah dipercaya? Jangan-jangan perampok?).

Orientasi

Salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental adalah mencari orientasi (menentukan sikap, arah, tempat, yang tepat dan benar). Manusia sebelum melakukan sesuatu, harus mencari orientasi terlebih dahulu. Orientasi yang dimaksud ialah suatu proses pemahaman atau pengetahuan dimana saya berada, ke arah mana harus bergerak, dan tujuan apa yang harus saya capai.

Menurut filsafat antropologi, manusia adalah makhluk yang tahu dan mau. Artinya, kemauannya mengandaikan pengetahuan. Manusia bertindak berdasarkan pengetahuan tentang dimana ia berada, bagaimana situasinya, sampai dimana kemampuannya, dan aneka faktor lainnya. Semua faktor itu perlu dipertimbangkan sebelum bertindak dan melaksanakan suatu rencana. Itulah yang dinamakan orientasi. Tanpa orientasi seseorang tidak tahu menentukan sikap, arah dan tempat yang tepat dan benar, sehingga akan merasa terancam, bingung dan takut.

Etika dalam hidup manusia dipandang sebagai sarana orientasi. Sarana orientasi untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental yaitu bagaimana manusia harus hidup dan bertindak? Dalam konteks ini etika bertugas menghilangkan kebingungan, meluruskan motivasi, memberikan pemahaman (pengetahuan), dan memunculkan komitmen. Komitmen adalah suatu janji pada diri kita sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan kita. Harusnya, sekali kita komit, maka kita akan selalu memertahankan janji itu sampai akhir. Setiap orang dari kecil sampai dewasa pastilah pernah membuat komitmen, meskipun terkadang komitmen itu seringkali tidak diucapkan dengan kata-kata.

Bagaimana manusia harus hidup dan bertindak? Ada banyak pihak yang menjawab pertanyaan ini, antara lain orangtua, guru, adat/tradisi, teman, lingkungan sosial, agama, negara, dan pelbagai ideologi. Benarkah kata mereka? Terkadang nasihat mereka berlainan satu sama lain? Lalu siapa yang harus diikuti? Dalam situasi seperti ini, etika membantu kita untuk mencari orientasi, agar kita tidak ikut-ikutan, melainkan mengajak kita untuk mengerti, dan bersikap secara benar. Etika mau membantu manusia, agar mampu mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Apa itu Etika?

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu ethos (bentuk tunggal) atau ta etha (bentuk jamak). Ethos mempunyai arti: tempat tinggal, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan atau cara bertindak. Barang siapa membiasakan diri atau berperilaku sesuai atau mengacu pada adat istiadat yang berlaku di lingkungannya, maka ia bertindak etis (bertindak sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum). Dari arti bentuk jamak inilah yang melatarbelakangi terbentuknya istilah etika yang dicetuskan oleh Aristoteles untuk menunjuk filsafat moral.

Secara etimologis etika mempunyai arti sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan bagaimana cara bertindak sesuai dengan adat kebiasaan. Etika merupakan ilmu kritis, refleksif, metodis dan sistematis tentang tingkah laku manusia. Etika bertanya tentang apa yang harus dan tidak boleh, apa yang baik dan yang buruk.  

Terdapat lima ciri khas etika yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematis dan normatif. Etika tidak sekadar melaporkan pandangan moral, melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya. Etika adalah cabang filsafat yang memelajari prinsip-prinsip moral untuk menjernihkan mana yang benar dan mana yang salah atau mana yang dengan bebas harus dilaksanakan dan mana yang harus dihindari oleh manusia.

Etika juga bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, namun pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika mau mengerti mengapa manusia harus mengikuti ajaran moral tertentu dan mau membantu manusia agar lebih mampu mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Materi yang dibahas dalam etika, yaitu: 1) tentang apa yang baik dan apa yang buruk, ilmu tentang yang baik dan buruk, dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat;  2) tentang hak dan kewajiban; 3) kumpulan asas (dasar cita-cita perkumpulan atau organisasi tertentu (sebelum memasuki suatu organisasi, kita harus tahu tujuannya); hukum dasar (hukum dasar tindakannya bila melanggar kemanusiaan); nilai moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya (kode etik).

Apa tujuan kita perlu belajar etika. Pertama, untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruknya perilaku atau tindakan manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Kedua, mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib, teratur, damai dan sejahtera. Ketiga, mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom. Keempat, memersoalkan norma yang berlaku (diselidiki apakah dasar norma itu dan apakah dasar itu membenarkan ketaatan yang dituntut oleh norma). Kelima, mengajukan pertanyaan tentang legitimasi, artinya norma yang tidak dapat memertahankan diri dari pertanyaan kritis dengan sendirinya akan kehilangan haknya. Etika memersoalkan pula hak setiap lembaga seperti orangtua, sekolah, negara dan agama yang memberi perintah atau larangan yang harus ditaati. Keenam, mengantarkan manusia pada sifat kritis dan rasional, memberikan bekal kepada manusia untuk mengambil sikap yang rasional terhadap semua norma. Ketujuh, untuk menjadi alat pemikiran yang rasional dan bertanggung jawab bagi seorang ahli dan bagi siapa saja yang tidak mau diombang-ambingkan oleh norma-norma yang ada.

Etika berguna sebagai pegangan dalam menghadapi pergolakan moral, membantu manusia agar mampu membedakan antara apa yang hakiki dan apa yang dapat berubah, membantu manusia menghadapi ideologi-ideologi dengan kritis dan obyektif, membantu agama menemukan dasar kemantapan iman (kepercayaan) agar tidak menutup diri terhadap perubahan dalam masyarakat.

Etika dan etiket

Beberapa kata kunci tentang etika dan etiket. Etika (ethics) berarti moral, sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai hanya kepada manusia, tidak berlaku bagi binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket. Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif. Artinya, memberi norma bagi perilaku manusia dan menyatakan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Etiket menyangkut cara melakukan suatu perbuatan. Etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan suatu perbuatan, tetapi memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Sedangkan etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain.

Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Sedangkan etika lebih bersifat absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja, sedangkan etika memandang manusia dari segi kedalaman batin.

Kita dapat melihat contoh yang menunjukkan perbedaan antara etika dan etiket. Misalnya, penipu dapat saja bertutur kata dengan lembut, berarti memegang etiket, namun itu dilakukan untuk menipu, berarti mempunyai etika tidak baik. Orang munafik biasanya selalu mempunyai etiket yang baik, namun etikanya selalu tidak baik karena apa yang ada di dalam berbeda dengan apa yang dikeluarkan.

Kata etika sering dirancukan dengan istilah etis, etos, dan kode etik. Etis artinya sesuai dengan ajaran moral. Misalnya, tidak etis menanyakan usia kepada seorang wanita. Etos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya.

Etika adalah ilmu yang memelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan.

Kegunaan Etika

Etika diperlukan pada zaman ini dengan beberapa alasan. Pertama, hidup masyarakat semakin pluralistik (majemuk). Setiap saat kita bertemu dengan  pelbagai suku, daerah, agama yang berbeda-beda; demikian juga dalam bidang moralitas. Kita dihadapkan dengan pelbagai pandangan moral yang sering saling bertentangan. Kesatuan tatanan normatif sudah tidak ada lagi dan semua mengajukan klaimnya. Mana yang mau diikuti, apakah yang diterima dari orangtua, moralitas tradisional desa, atau moralitas yang ditawarkan melalui media massa?

Pluralisme adalah suatu paham yang mengakui bahwa terdapat berbagai entitas (orang, tempat, objek, kejadian, atau konsep tentang data yang tercatat) yang tidak bergantung yang satu dengan yang lain. Masing-masing entitas berdiri sendiri, tidak terikat satu sama lain, sehingga tidak perlu adanya substansi pengganti yang mensubstitusi berbagai entitas tersebut. Misalnya, di Indonesia terdapat ratusan suku bangsa. Menurut paham pluralis setiap suku bangsa dibiarkan berdiri sendiri lepas yang satu dari yang lain, tidak perlu adanya substansi lain.

Pluralisme melahirkan individualisme yang mengakui bahwa setiap individu berdiri sendiri lepas dari individu yang lain. Individualisme mengakui adanya perbedaan setiap individu. Setiap individu memiliki cirinya masing-masing yang harus dihormati dan dihargai seperti apa adanya. Individualisme melahirkan liberalisme, bahwa manusia terlahir di dunia dikaruniai kebebasan. Hanya dengan kebebasan ini, maka harkat dan martabat individu dapat didudukkan dengan semestinya. Trilogi pluralisme, individualisme dan liberalisme melahirkan sistem demokrasi dalam sistem pemerintahan di Negara Barat.

Kedua, masa transformasi (perubahan) masyarakat yang tanpa tanding (semua segi kehidupan) akibat gelombang modernisasi. Kehidupan di kota sudah jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Transformasi kehidupan itu dapat ditinjau dari dimensi ekonomi, sosial, intelektual dan budaya (nilai-nilai budaya tradisional ditantang). Dalam situasi inilah etika membantu kita agar jangan kehilangan orientasi, dapat membedakan antara apa yang hakiki dan apa yang boleh saja berubah, dan dengan demikian tetap sanggup untuk mengambil sikap-sikap yang dapat kita pertanggungjawabkan.

Ada beberapa cara berpikir yang secara hakiki mengubah lingkungan, budaya dan rohani di Indonesia, antara lain rasionalisme, sekularisme, individualisme, nasionalisme, materialisme, konsumerisme

Rasionalisme adalah sistem yang mengutamakan rasio dalam mencari kebenaran, termasuk kebenaran mengenai agama. Aliran ini menolak pewahyuan karena mengakui kemampuan pikiran manusia untuk mengenal Allah.

Sekularisme adalah sebuah gerakan kemasyarakatan yang bertujuan memalingkan diri dari kehidupan akhirat dengan berorientasi kepada dunia. Gerakan ini gencar pada abad-abad pertengahan, karena orang sengat cenderung kepada Allah (dunia akhirat) dengan menjauhi dunia. Orientasi sekularisme merupakan gerakan perlawan terhadap agama dan ajarannya. Semangat keduniaan atau orientasi “duniawi” dan sejenisnya. Secara khusus sekularisme merupakan sekumpulan prinsip dan praktek (practices) yang menolak setiap bentuk keimanan dan ibadah. Keyakinan bahwa agama tidak ada hubungannya sama sekali dengan soal-soal pemerintahan, terutama soal pendidikan umum. Secara etimologi sekularisme berasal dari kata saeculum (bahasa latin) yang artinya waktu tertentu atau tempat tertentu. Atau menunjukkan kepada waktu sekarang dan di sini, dunia ini. Maka sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai paham yang hanya melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini (keduniaan an sich) tanpa ada perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti adanya kehidupan setelah kematian yang notabene adalah inti dari ajaran agama.

Individualisme adalah paham yang menganggap manusia secara pribadi perlu diperhatikan (kesanggupan dan kebutuhannya tidak boleh disamaratakan); paham yang meng-hendaki kebebasan berbuat dan menganut suatu kepercayaan bagi setiap orang; paham yang mementingkan hak perseorangan di samping kepentingan masyarakat atau negara; paham yang menganggap diri sendiri (kepribadian) lebih penting daripada orang lain.

Elemen utama dari individualisme adalah tanggung jawab pribadi. Menjadi orang yang bertanggung jawab berarti menjadi proaktif. Setiap individu membuat keputusan dengan kesadaran dan kehati-hatian pribadi. Setiap individu memiliki kebebasan karena ia adalah pusat dirinya sendiri. Tetapi karena alasannya ini juga, individualisme bukan berarti kebebasan melakukan sesuatu tanpa tanggung jawab. Kebebasan seorang individu akan dibatasi oleh kebebasan individu lainnya. Individualisme mengajarkan agar kita mencintai diri kita sendiri. Terkadang banyak orang melupakan bahwa diri mereka adalah sebuah individu yang utuh dan pantas dihargai juga.

Nasionalisme berasal dari kata nation (Inggris) yang berarti bangsa atau kehendak untuk bersatu dan bernegara. Nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. Ada empat unsur nasionalisme, yaitu hasrat untuk mencapai kesatuan; hasrat untuk mencapai kemerdekaan; hasrat untuk mencapai keaslian; dan hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.

Materialisme merupakan paham yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Materialisme diambil dari bahasa inggris materialism, artinya ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material di atas yang spiritual. Tidak ada entitas-entitas (orang, tempat, objek, kejadian, atau konsep tentang data yang tercatat) non material seperti roh, hantu, setan, malaikat, pokoknya para pelaku immaterial tidak ada. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi, tidak ada sifat pertama dan penggerak pertama. Bentuk barang material dapat diubah dan materi itu sendiri mungkin ada dalam dimensi yang rumit, tetapi materi tidak dapat diciptakan dan dibinasakan.

Konsumerisme adalah gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan; paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan; gaya hidup yang tidak hemat.

Pemaknaan istilah konsumtivisme dan konsumerisme jelas berbeda, sama halnya dengan orang menilai apa itu emas dan kuningan. Akan tetapi, kerap kali konsumtivisme disamaartikan dengan konsumerisme. Kedua istilah tersebut adalah dua hal yang berbeda maknanya. Dari kedua arti kata tersebut jelas bahwa konsumerisme justru yang harus digalakkan dan konsumtivisme yang harus dijauhi.

Konsumtivisme merupakan paham untuk hidup secara konsumtif, sehingga orang yang konsumtif dapat dikatakan tidak lagi memertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli barang, melainkan memertimbangkan prestise (pujian, sanjungan, ucapan selamat atau apapun itu. Prestise adalah sebuah keinginan dan harapan untuk kita wujudkan, tapi sering menjadi sebuah kebutuhan) yang melekat pada barang tersebut. Oleh karena itu, arti kata konsumtif (consumtive) adalah boros atau perilaku yang boros, yang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Dalam arti luas konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang bermewah-mewahan.

Manfaat ketiga belajar etika adalah untuk membantu kita menghadapi ideologi-ideologi yang baru dengan kritis dan objektif dan membentuk penilaian sendiri. Adanya proses perubahan sosial budaya, moral dan situasi dipergunakan oleh berbagai pihak untuk memancing dalam air keruh. Mereka menawarkan ideologi-ideologi mereka sebagai obat penyelamat. Etika membuat kita sanggup untuk menghadapi ideologi-ideologi itu dengan kritis dan obyektif dan untuk membentuk penilaian sendiri agar kita tidak terlalu mudah terpancing.

Etika juga membantu agar kita jangan naif dan ekstrim. Kita jangan cepat-cepat memeluk segala pandangan yang baru, tetapi juga jangan menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum biasa.

Keempat, etika diperlukan untuk menemukan dasar kemantapan dalam iman dengan tidak menutup diri pada kepercayaan agama lain.

Ragam Etika

Etika terdiri atas berbagai macam ragam, yakni deskriptif, normatif, umum, dan khusus.

Etika deskriptif menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis; memberikan gambaran dan ilustrasi tentang tingkah laku manusia ditinjau dari nilai-nilai baik dan juga buruk, serta hal-hal mana yang boleh dilakukan sesuai dengan norma etis sebagaimana dianut oleh masyarakat. 

Etika normatif menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia: apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi, etika normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Etika umum membahas berbagai macam berhubungan dengan kondisi manusia untuk bertindak etis dalam mengambil berbagai macam kebijakan berdasarkan teori-teori dan prinsip-prinsip moral.

Etika khusus terdiri dari etika sosial, etika individu dan etika terapan. Etika sosial menekankan tanggung jawab sosial dan hubungan antar sesama manusia dalam aktivitas yang dilakukannya. Etika individu lebih menekankan kewajiban manusia sebagai pribadi. Sedangkan etika terapan adalah berlaku pada sebuah profesi.

Apa itu Moral?

Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata moral yaitu mos, sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat-istiadat. Bila kita membandingkan dengan arti kata etika, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata ‘moral’ karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat-istiadat. Yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu ‘etika’ dari bahasa Yunani dan ‘moral’ dari bahasa Latin. Bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

Kata bermoral mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya atau seseorang berperilaku seturut nilai dan norma yang berlaku. Rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Moral sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Moral mengacu kepada baik buruknya perbuatan manusia sebagai manusia. Inti pembicaraan tentang moral adalah menyangkut bidang kehidupan manusia dinilai dari baik buruknya perbutaannya selaku manusia. Norma moral dijadikan sebagai tolak ukur untuk menetapkan betul salahnya sikap dan tindakan manusia, baik buruknya sebagai manusia.

Moral berkaitan dengan moralitas. Moral berbicara tentang moralitas suatu perbuatan. Artinya, menyangkut segi moral, suatu perbuatan atau baik buruknya suatu perbuatan; menyangkut segi kualitas perbuatan manusia, yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk (mencakup sopan santun, etiket dan adat). Moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat dalam suatu kelompok manusia.

Moralitas berbicara mengenai kesesuaian sikap dan perbuatan (lahiriah dan batiniah) dengan norma-norma moral, yang dipandang sebagai kewajiban. Moralitas akan tercapai jika dalam menaati norma moral tertentu bukan karena takut (dihukum), melainkan karena sadar (menyadari) bahwa melakukan norma itu merupakan kewajiban. Dengan demikian, nilai moral baru akan ditemukan di dalam moralitas. Dorongan batin itu tidak dapat ditangkap dengan indera, sehingga orang tidak gampang (mungkin) akan menilai (memberi) penilaian moral secara mutlak. Menurut Immanuel Kant: “Hanya Tuhan yang dapat mengetahui dorongan (lahiriah dan batiniah) perbuatan seseorang bernilai moral”.

Manusia dapat dinilai dari banyak segi. Seorang dosen tertentu dapat dikatakan buruk, karena cara mengajarnya hanya dengan membacakan diktat di depan kelas. Tetapi sebagai manusia, dosen itu baik karena sering membantu mahasiswa dalam belajar, jujur dan dapat dipercaya, selalu mengatakan yang benar, dan selalu bersikap adil. Sebaliknya, seorang dokter ahli yang sangat sukses dalam profesinya, tetapi mata duitan karena memasang tarif konsultasi sangat tinggi. Penilaian terhadap seseorang dari profesinya hanya menyangkut satu segi atau satu aspek saja dari orang itu sebagai manusia. Kata moral mengacu pada baik-buruknya seseorang sebagai manusia, yang bukan saja baik buruk menyangkut profesinya, misalnya sebagai dosen, tukang masak, pemain tenis, melainkan sebagai manusia.

Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma moral menjadi tolok ukur untuk menentukan benar-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia, bukan hanya sebagai pelaku peran (profesi) tertentu. Contoh, Pak Silferius adalah seorang dosen yang buruk mengajar, tetapi seorang manusia yang baik. Ia seorang dosen yang buruk karena hanya membaca diktatnya secara monoton sehingga para mahasiswa mengantuk. Namun, ia seorang manusia yang baik karena membantu para mahasiswa, jujur, dapat dipercaya, tidak akan mengatakan yang tidak benar, dan selalu bersikap adil. Penilaian Pak Silferius sebagai dosen yang kurang bagus mengajar bukan penilaian moral, sedangkan penilain kedua bersifat moral. Contoh lainnya, Dr. Josua adalah seorang yang menyeramkan, ini bukan penilain moral, tetapi bila dikatakan Dr. Josua mata duitan, maka itu suatu penilaian moral.

Dimana perbedaannya? Pak Silferius dosen yang buruk mengajar dan Dr. Josua seorang yang menyeramkan adalah bukan penilaian moral, karena hanya menyangkut satu segi atau sektor tertentu dalam diri mereka. Dr. Josua mata duitan dan Pak Silferius orang baik, memandang dari segi hatinya, wataknya, sikapnya, dan inti kepribadiaannya. Manusia dinilai sebagai manusia adalah penilaian moral.

Kata moral selalu mengacu pada baik-buruk tindakan manusia sebagai manusia, bukan sebagai dosen, tukang masak, pemain bulu tangkis, atau penceramah. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.

Ada banyak macam norma yang perlu diperhatikan. Pertama, norma-norma khusus hanya berlaku dalam bidang atau situasi khusus. Misalnya, selain penjaga gawang, pemain sepak bola tidak bisa memegang bola; aturan agama tertentu hanya berlaku bagi anggota agama itu; peraturan di kampus hanya berlaku bagi seluruh mahasiswa/i di kampus tersebut. Aturan bahwa bola di lapangan permainan sepak bola tidak boleh disentuh oleh tangan, kecuali penjaga gawang. Di luar lapangan aturan ini tidak berlaku lagi. Aturan dalam agama tertentu hanya berlaku bagi anggota agama tersebut, tidak untuk anggota agama lain. Peraturan dan tata tertib di suatu universitas hanya berlaku selama mahasiswa itu berada di dalam kampus.

Kedua, norma-norma umum. Ada tiga yaitu norma sopan santun, hukum, dan moral. Norma sopan santun menyangkut sikap lahiriah manusia yang mengungkapkan sikap hati dan karena itu mempunyai kualitas moral. Orang yang melanggar norma kesopanan karena kurang mengetahui tata krama di daerah, atau dituntut oleh situasi (mendorong ibu Bupati ke sawah agar tidak tertabrak truk) tidak melanggar norma-norma moral. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar, orang yang melanggar pasti akan dihukum sebagai sangsi. Norma hukum tidak sama dengan norma moral. Bisa jadi demi tuntutan suara hati, demi kesadaran moral, kita harus melanggar hukum. Kalaupun kita dihukum, hal ini tidak berarti bahwa kita orang buruk. Hukum tidak dipakai untuk mengukur baik buruknya seseorang sebagai manusia, melainkan untuk menjamin ketertiban umum. Norma moral dipakai oleh masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Maka, dengan norma-norma moral kita betul-betul dinilai. Penilaian moral selalu berbobot.

Penutup

  Etika bukan suatu sumber tambahan bagi moral, melainkan pemikiran kritis dan mendasar tentang moral. Etika mempertanyakan mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana sikap kita terhadap pelbagai ajaran moral. Etika berusaha untuk mengerti mengapa atau atas dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu. Moral memberikan petunjuk bagaimana kita harus hidup dengan baik, sedangkan etika memberikan pengertian. Ibarat kendaraan, moral ialah buku petunjuk bagaimana kita harus memperlakukan (mempergunakan) kendaraan tersebut, sedangkan etika memberikan pengertian tentang struktur dan teknologi kendaraan itu.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.

Silferius Hulu, S.Fil.

Mahasiswa Prodi pascasarjana STFT St. Yohanes, Pematangsiantar.

Biara Kapusin Jl. Medan, Pematangsiantar.




Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul