Embun Rasa Susu

Picture by Nurvayanti Abdullah

Ditulis Oleh : Nurvayanti Abdullah - 28 Juli 2020

Aku benci diriku selepas Subuh,

Sebelum matahari terbit lari terbirit tersapu pagi yang tampak pelit. Embun pagi yang menungguku untuk menyambanginya telanjur sering merajuk, sebab ulahku lebih memilih kantuk. 

Ketika kudatangi, hampir-hampir masa bunuh diri embun tiba. Tetes terakhirnya siap terjun bebas menghantam debu. Untung saja masih ragu.

"Embun bendera coklat, hingga tetes terakhir..."

Aku bernyanyi parau, untungnya ia tak lagi galau, meski liriknya terang-terangan kacau. Dalam hati, kupintai maaf dari susu di meja kamarku.

Aku suka diriku selepas bertemu embun,

Sebelum ibu menumpahkan air ke wajahku pertanda embunku tak sungguh merindu.


Takalar, 29 Juni 2020


John Doe
Nurvayanti Abdullah
When you cry, smile, get challenges, congratulations, you've been successfully alive.

Artikel Terkait

Ternyata Ada Ribuan Bahan Bacaan Gratis, Lo!

“kak Anggi, Sudah Dapat Novel Dan Referensi Yang Kakak Bilang Ditugaskan Bu Isnaini Kemarin?”“sudah Dong, Banyak Lagi”“wah, Keren Kak. Aku Pun Dapat Tugas Yang Sama Dari Bu Isnaini Di...

Tagline Lawan Unesco, Sebagai Bentuk Suatu Jawaban

Banyak Sekali Data-data Yang Tersebar, Terkait Minat Baca Anak Indonesia Yang Masih Terus Dikatakan Rendah Dan Selalu Di Presentasikan. Menilai Anak-anak Dari Semua Kalangan Di Indonesia Masih...

Gerakan Literasi, Beberapa Catatan

Geliat Gerakan Literasi Di Indonesia Kian Hari, Kian Gencar Terdengar. Melalui Media Daring, Televisi Maupun Media Cetak. Pun Munculnya Beberapa Komunitas, Club Baca Ataupun Pustaka Bergerak...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul