Eksistensialisme Dalam Perspektif Jean Paul Sartre

Foto Sartre (Wikipedia)

Ditulis Oleh : Cusdiawan - 17 Mei 2022

Nama Jean Paul Sartre (1905-1980) tentu bukanlah nama yang asing dalam sejarah pemikiran filsafat Barat. Ia adalah salah satu filsuf ternama yang pemikirannya turut mengguncang jagat pemikiran abad 20. Sartre adalah sosok yang fenomenal, yang tulisan-tulisannya banyak mendapat perhatian, sehingga tidak mengherankan ketika Sartre disebut sebagai “dinamit” di bidang pemikiran. Sartre sendiri terkenal dengan pemikiran eksistensialismenya.

Sebab itu, dalam membincangkan pemikiran Sartre, pertama-tama pertanyaan yang perlu diajukan adalah “apakah eksistensialisme itu?”

Dalam wacana eksistensialisme, secara umumnya terdapat dua jenisnya. Jenis pertama yaitu eksistensialisme teistik, dan jenis yang kedua adalah eksistensialisme ateisme, dan Sartre sendiri tergolong ke dalam jenis eksistensialisme yang kedua. Akan tetapi, sebagaimana penjelasan Sartre dalam buku Eksistensialisme dan Humanisme (2002), yang semula adalah materi kuliah yang disampaikan Sartre di Club Maintenant, bahwa yang menyamakan kedua jenis eksistensialisme ini adalah keyakinan jika eksistensi itu mendahului esensi.

Lalu apa yang dimaksud dengan eksistensi mendahului esensi yang dianggap sebagai diktum dasar dalam pemikiran eksistensialisme? Sartre sendiri menjelaskan, pertama-tama manusia ada, berhadapan dengan dirinya sendiri, terjun ke dalam dunia, dan barulah setelah itu ia mendefinisikan dirinya. Seorang eksistensialis memandang dirinya sebagai eksistensi yang tidak dapat didefinisikan karena ia tahu ia memulai hidup atau eksistensinya dari yang ia bukan “apa-apa”, ia tidak akan menjadi “apa-apa” sampai ia menjadikan hidupnya “apa-apa”. Dengan kata lain, eksistensialisme mengafirmasikan semangat subjektivitas, kebebasan dan sebagainya. 


Pembeda Manusia dengan Benda dalam Eksistensialisme

Dalam pemahaman eksistensialisme, apa yang menjadikan manusia bermartabat, dan menjadi pembeda dengan benda, yaitu karena manusia dapat menjadi apa yang ia ingini, dan ketika ia menerima diri setelah mengada, ketika apa yang ia ingini terwujud setelah ia meloncat ke dalam eksistensinya. Manusia adalah bukan apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri. Itulah prinsip pertama dalam eksistensialisme yang dijelaskan oleh Sartre.

Kita bisa mengambil contoh sederhana untuk menjelaskan persoalan tersebut. Katakanlah suatu benda seperti kursi, ketika kursi itu dibuat oleh si pembuat kursi, maka kursi itu sudah dikonsepsikan, sudah direncanakn, sudah difungsikan sedemikian rupa oleh si pembuat kursi. Dengan kata lain, esensi kursi itu, bagaimana kursi itu, apa kegunaannya dan sebagainya, itu sudah ditentukan oleh si pembuat kursi.

Nah, lain halnya dengan manusia dalam pemahaman eksistensialisne, bahwa dengan kebebasan dan subjektivitas yang dimilikinya, manusia haruslah membentuk esensinya sendiri, mengonsepsikan dirinya sendiri, dan lain-lain. Dengan demikian, berbeda dengan benda seeprti kursi tadi, manusia haruslah membentuk bagaimana dirinya sendiri dan seperti apa dirnya sendiri.

Sartre pun menjelaskan bahwa efek eksistensialisme yang pertama adalah bahwa filsafat ini menempatkan manusia pada posisinya sebagai dirinya sendiri, dan meletakkan keseluruhan tanggung jawab hidupnya sepenuhnya di pundak manusia itu sendiri. Akan tetapi, yang perlu segera ditambahkan, bahwa bukan berarti manusia bertanggung jawab hanya pada dirinya sendiri, karena mencakup juga tanggung jawab atas semua manusia.

Dengan demikian, pilihan dan keputusan hidup yang diambil oleh seorang eksistensialis, harus disadari betul bahwa hal itu akan mempunyai dampak dan ada tanggung jawab juga terhadap manusia lain. Sartre menulis “di satu sisi subjektivitas berarti kebebasan subjek-subjek individual, dan, di sisi lain, bahwa manusia tidak dapat melampaui subjektivitas.

Pengalaman Reflektif Bersama Eksistensialisme Sartre

Saya pribadi pernah mendapati kesan yang mendalam ketika berkenalan dengan eksistensialisme beberapa tahun silam. Saya pernah berada di posisi yang menganggap bahwa hidup adalah penderitaan. Akan tetapi, pemahaman penderitaan yang ditawarkan oleh eksistensialisme mampu mengubah energi yang sebelumnya terasa suram atau negatif dalam diri saya menjadi energi yang posistif, membuat saya merasa bergairah kembali dalam mengarungi kehidupan. Eksistensialisme seolah membuat saya menjadi seorang yang lebih berani, lebih percaya untuk menghadapi masa depan dan sebagainya. 

Dalam eksistensialisme, hidup memang dianggap sebagai penderitaan. Akan tetapi, konteks penderitaan dalam eksistensialisme bukan membawa pada kesunyian dan sebagainya. Melainkan karena adanya kesadaran bahwa manusia mempunyai tanggung jawab atas dirinya sendiri, termasuk atas masa depannya, dan bahkan bagi kemanusiaan. Setidaknya, saat itu eksistensialisme mampu mengarahkan dan memberi dorongan bagi saya untuk selalu berproses menjadi “manusia”, dalam arti menjadi manusia sebagaimana yang saya konsepsikan sendiri dan terus mencari bagaimana esensi manusia itu sendiri, dan mau untuk terus berpetualang di hari yang akan datang.

Sartre sendiri menulis “manusia pertama-tama ada, yaitu bahwa di atas segalanya, manusia adalah sesuatu yang meluncurkan diri ke masa depan dan menyadari bahwa ia melakukannya. Dengan demikian, manusia adalah sebuah proyek, yang memiliki kehidupan subjektif. Sebelum proyeksi diri itu, ia bukanlah apa-apa, bahkan dalam dunia ide sekalipun. Bagaimanapun, doktrin eksistensi mendahului esensi, manusia menjadi bertanggung jawab atas hidupnya”.

Sebagai catatan tambahan, Wahyu Budi Nugroho dalam buku Orang Lain adalah Neraka: Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre (2013), memberi analisis menarik, bahwa salah satu relevansi pemikiran Sartre dalam konteks kekinian, yakni tidak mudah menjatuhkan orang ke dalam gelombang konsumerisme. Tentu saja ini berkaitan dengan pandangan Sartre bahwa manusia itu sendirilah yang berhak menentukan dan mendefinisikan dirinya sendiri. Sementara itu, konsumerisme seringkali terjadi salah satunya karena adanya perasaan gengsi akibat tuntutan sosial, persepsi orang dan lain-lain.



John Doe
Cusdiawan
Pegiat AksI Literasi

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul