Dampak COVID-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran Daring

Picture by Nining Aidah

Ditulis Oleh : Nining Aidah - 13 Juli 2020

Pandemi COVID-19 sangat mengejutkan masyarakat di seluruh dunia karena memberi perubahan secara tiba-tiba pada keseharian individu dan aktivitas masyarakat, yang akhirnya membawa dampak perubahan luar biasa dalam berbagai bidang. Salah satu dampaknya yaitu dalam bidang pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang berisi tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Dengan demikian, Sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah “dipaksa” melakukan pembelajaran dari rumah dikarenakan kampus dan sekolah ditutup untuk sementara. (Oktavian Riskey dan Aldya Riantina Fitra, 2020 : 16)


Pembelajaran dari rumah membuat pelajar, tenaga pengajar, dan orang tua merasa keberatan. Semua lini masyarakat dipaksa untuk bertransformasi dan beradaptasi dalam kondisi pandemi ini. Hal ini tentu bukanlah hal yang mudah, karena belum sepenuhnya siap meskipun sebenarnya, model pembelajaran di rumah dan di sekolah bisa dikatakan relatif sama tujuannya jika dalam keadaan normal. Mungkin yang membedakan adalah sarana dan prasarana yang digunakan. Pembelajaran secara daring, menyisakan berbagai dampak. 


1. Materi yang didapat hanya sedikit.

Salah satu dampak negatifnya yaitu materi yang didapat tidak sebanding dengan pembelajaran yang dilakukan saat tatap muka di sekolah, karena banyak materi pelajaran yang belum selesai disampaikan oleh pendidik, kemudian pendidik langsung mengganti menuju materi lain. Hal ini menjadi keluhan bagi pelajar karena pelajaran yang di dapat tidak sepenuhnya dipahami.


2. Akses Informasi Pelajar Luar Daerah terkendala Sinyal

Dampak negatif lain dari adanya sistem pembelajaran secara daring ini adalah akses informasi pelajar yang tinggal di daerah. Mereka terkendala oleh sinyal yang menyebabkan lambatnya dalam mengakses informasi. Mereka harus bertahan dengan kondisi serba keterbatasan. Tak punya alasan, pelajar daerah harus tetap aktif dalam pembelajaran demi memenuhi standar penilaian yang telah ditetapkan.


3. Kurang Efektifnya Program Pemerintah mengenai tayangan Belajar dari Rumah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, telah menginisiasi program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI. Program Belajar dari Rumah mulai tayang di TVRI sejak 13 April 2020, dimulai dari pukul 08.00. TVRI, yang selama ini menjadi media satu arah dalam menyampaikan informasi publik, menjadi solusi yang inovatif ketika dimanfaatkan menjadi sumber informasi dan sumber edukasi bagi dunia pendidikan, terutama mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Pelaksanaan program ini merupakan kelanjutan dari langkah Kemdikbud menyediakan sarana yang bisa dipakai oleh para pelajar untuk melaksanakan "Belajar dari Rumah" selama pandemi Covid-19. Program Belajar dari Rumah di TVRI itu sebagai bentuk upaya Kemdikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan di masa darurat Covid-19. Khususnya membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, secara ekonomi maupun letak geografis. Namun demikian, efektivitas dari program ini tentunya tidak bisa disetarakan dengan interaksi pembelajaran secara langsung.


4. Tugas Pendidik menjadi lebih berat.

Penerapan pembelajaran daring juga membuat pendidik berpikir kembali, mengenai model dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Bagi guru sekolah PAUD atau TK, dituntut sesuatu yang menyenangkan dengan kreativitasnya. Fasilitas video, voice note, dan Youtube dapat dijadikan media pembelajaran. Namun perlu pendampingan penuh dari orangtua. Anak Sekolah Dasar (SD) juga menggunakan media-media tersebut yang ditambah dengan penggunaan aplikasi daring. Bukanlah hal yang mudah, karena anak belum bisa mengoperasikannya secara mandiri. Jenjang Sekolah Menengah dan Pendidikan Tinggi, ini membutuhkan inovasi dari pendidik agar peserta didik tidak jenuh, tanpa menghilangkan poin capaian pembelajaran. Disamping itu, belum lagi pendidik yang memeriksa banyak tugas yang telah diberikan kepada siswa, membuat ruang penyimpanan gadget semakin terbatas. 


5. Orang Tua banyak yang tidak bisa mengajarkan anaknya.

Bagi orang tua atau wali murid kebijakan sistem belajar di rumah juga merupakan hal yang baru. Sejumlah kendala dari orang tua atau wali murid yang anaknya melakukan sistem belajar di rumah di tengah pandemi ini adalah pendidikan orang tua yang kurang. Hal tersebut membuat para orang tua kesulitan memahami alat penunjang maupun materi, ketika anak membutuhkan bantuan. 


Di balik dampak negatif tersebut, terdapat dampak positif dari pendidikan di Indonesia selama pandemi covid-19 ini. Diantaranya, pelajar maupun pendidik dapat menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran dari rumah ini dan dampak positif lainnya membuat orang tua lebih mudah dalam mengawasi perkembangan belajar anak secara langsung. Dimana sebenarnya orang tua adalah institusi pertama dalam pendidikan anak. 


Setiap perubahan pasti memberi dampak namun semua orang harus bisa mengikuti perubahan tersebut. Segala proses untuk menjadi pendidik maupun pembelajar yang baik tentunya menjadi tanggung jawab bersama. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita kembali dalam keadaan normal seperti biasanya.


DAFTAR PUSTAKA


Oktavian Riskey dan Aldya Riantina Fitra. (2020). Efektivitas Pembelajaran Daring Terintegrasi di Era Pandemi. Jurnal Ilmu dan Pengetahuan. 2(2), hlm.16


John Doe
Nining Aidah
Mahasiswi UIN Jakarta

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul