Cinta Dan Asa Dibalik Tumpukan Buku ( 1 )

#MembacaItuGaul

Ditulis Oleh : Sugeng Hariyono Motorpustaka - 12 Oktober 2020

Terik panas matahari siang hari, Keringat belum kering dibaju kerjaku. Di balik pintu yang sudah tertutup, Saya sibuk menata puluhan jilid buku yang tadi pagi saya beli dari lapak barang loak. Sebersit niat sudah diteguhkan. Saya hendak membawa keliling aneka bacaan itu, agar dibaca anak-anak sekitar tempat tinggal saya: Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan.


Tak sulit membawanya. Buku-buku itu saya masukkan ke dalam tas, yang akan dilampirkan pada jok belakang motor butut hasil rakitan sendiri.


Saya lahir di Ponorogo, 5 Mei 1983. Sulung dari empat bersaudara. Dari kecil, hidup saya sudah penuh dengan hal-hal yang mengasyikkan. Sejak umur 5 tahun, saya sudah menumpang hidup di tempat orang lain dan membantu mereka agar saya bisa melanjutkan sekolah. Ketika bersekolah di SMA pun saya sudah sempat putus sekolah karena keadaan ekonomi yang minim, menuntut saya untuk bekerja membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Berbagai profesi telah saya lakoni, dari kuli bangunan hingga pengelola perpustakaan Sekolah Dasar. 

Hari demi hari saya lalui, banyak hal yang saya bisa dapatkan, sebuah pengalaman yang sangat luar biasa bahkan kejadian demi kejadian menjadi sejarah dalam perjalanan hidup saya. Walaupun prihatin bisa dikatakan awal hidup baru saya di Lampung, berbekal ijasah D2 Ilmu Perpustakaan dari Universitas Terbuka (UT) Surabaya, bukan jaminan saya mendapatkan apa yang saya ingin kan waktu itu. Bahkan rezim JAMANE WANI PIRO itu demikian meraja lela dan mungkin itu yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nanti. Tidak ada toleransi antar manusia itu sudah menjadi budaya, bahkan uang tidak memandang saudara. Uang bisa mengalahkan persaudaraan. Hehehe ini curhatan orang yang tak berdaya.

Peristiwa itu terjadi pada diri ini. Pada saat itu niat untuk mencari penghidupan dan harapan hidup baru saya rajut. Maka berangkatlah saya dari Ponorogo, pada bulan Juli 2013. Tujuannya merantau, tapi alamat persisnya belum jelas. Saya pun menjual motor saya satu satunya untuk ongkos dan biaya hidup nanti di tanah rantauan. Tapi apa daya Tuhan Alloh SWT menakdirkan berbeda. Dalam perjalanan dari Ponorogo dengan naik BUS saya merajut impian dalam lamunan menghanyutkan melihat pemandangan yang terpampang di depan saya di balik kaca candela bus yang melaju dengan tujuan Pelabuhan Merak Banten. Uang tujuh ratus ribu rupiah di kantong (hasil penjualan motor?) pun tinggal 300 ribu di saat kaki ini turun dari bus menginjakkan kaki di Tanah Banten. 

Karena pengetahuan saya yang kurang banyak tentang kerasnya hidup di pelabuhan, membawa kaki ini bertemu dengan calo bus jurusan Medan. Saat percakapan denga si calo itu di mulai hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulut saya. 

"Mau Kemana, mas?“ 

"Saya mau ke Lampung, pak “ 

Si calo menjawab, "ini mas bus nya yang ke Lampung!" 

“Iya pak. Terimakasih."  

Calo pun membawa tas rangsel saya ke bagasi bus itu. Lalu si calo mendekati saya dan bilang, “Mas, bayarnya duaratus enampuluhribu rupiah, mas!" 

Saya terperanjat mendengar angka dan spontan saya jawab, “Nggak jadi, pak, saya nyari bus yang lain saja.” 

Tapi sambil melotot si calo bilang, “Nggak bisa, mas.” 

Terus si calo memanggil teman temannya. Sambil melihat temen teman premannya berlarian ke arah saya, bukan rasa takut yang berkecamuk tapi ini nanti jadi ribet urusannya. Lalu saya bilang, “Ya sudah bang, ini uangnya.” 

Akhirnya, hanya uang empat puluh ribu yang tersisa di kantong itulah yang menemani perjalanan ini. 



Setelah bus naik ke kapal ferri, dan penumpang dimohon untuk turun dari bus, saya melangkah dan duduk di teras kapal beralaskan kertas koran untuk menikmati pemandangan laut yang luas itu. Tapi perut ini pun berkecamuk teriak teriak meminta diisi makanan. Akhirnya Pop mie pun menjadi pilihan saya dengan harga sepuluh ribu. Kini uang di kantong tinggal tiga puluh ribu.  

Sesampainya di pelabuhan Bakauheni Lampung saya memutuskan bertanya kepada kondektur bus, “Pak, bus ini nanti berhenti sampai mana?” 

Sang kondektur pun menjawab, “Sampai Medan, mas.” 


Beesambung......

Saya kaget dan diam sejenak sebelum saya memutuskan untuk bilang ke sang kondiktur, “Saya turun di sini saja, pak. Saya minta uang kembaliannya ya pak?"

Sang kondiktur bilang, "Kembalian uang apa, mas?" 

Saya jawab, "Uang ongkos naik bus ini tadi pak?"

Kondiktur pun bertanya ke saya, “Emangnya masnya tadi bayar berapa?" 

Saya jawab dengan nada agak keras, “Duaratus enampuluh ribu rupiah, pak!” 

Sang kondiktur pun terperanjat dengan dibarengi satu kalimat, “Mas kena tipu!“ 

Saya diam dan sang kondiktur pun menjelaskan bahwa dia cuma dikasih enampuluh ribu, "Itu pun sudah termasuk tiket kapal, mas!” 

Saya pun hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada sang kondektur.

Bagaimana nanti, harus ke mana, itu pertanyaan yang ada dalam pikiran saya di saat saya di mushola SPBU Bakauheni setelah sholat Ashar. Malam pun mulai larut perut pun mulai berteriak tapi apa daya saya hanya minum air putih di saat ambil air wudhu. 

Setelah sholat Isya’ ada mobil truk yang berhenti di depan mushola SPBU. Saya ngobrol ngobrol dan tanya tanya, akhirnya sampai pertanyaan, “Mau ke mana, pak, ini tujuannya?"

Beliau jawab “Mau ke Lampung Timur, mas.” 

Saya langsung lanjutkan pertanyaan yang sudah dari awal saya pikirkan, “Boleh tidak pak saya numpang sampai Lampung” 

Jawaban beliau membuat rasa lapar itu seketika sirna, “Boleh, mas, monggo kalau mau numpang.”

Sesampainya di Pasar Pematang Pasir truk pun berhenti di depan rumah makan semi permanen. Saya pun ikut turun tetapi tidak ikut makan karena saya ingat uang saya tinggal tiga puluh ribu. Saya putuskan untuk ngobrol ngobrol saja dengan orang yang ada di situ. Obrolan itu berujung pertanyaan, “Pak, di sini ada kan yang mencari pekerja? Saya pengen cari kerjaan.” 

Beliau jawab, “Saya tidak pernah dengar, mas. Tapi kalau mas mau mencoba tanya-tanya, ayo saya antar." 

Beliau menunjuk arah utara, "Di sana ada bengkel, mas, mungkin butuh pekerja.” 

"Kebetulan pak kalau bengkel. Saya bisa sih kalau ngelas ngelas begitu.”

Akhirnya saya diantarlah oleh bapak yang bernama Pak Imam itu ke bengkel yang pemiliknya bernama Pak Basuki. Di sana saya, Pak Imam dan Pak Basuki, ngobrol. Akhirnya saya mendengar kalimat Pak Basuki yang membuat saya gembira bukan kepalang, “Mas Sugeng boleh bantu bantu saya di sini. Kebetulan saya ada alat las. Tapi saya tidak bisa bayar Mas Sugeng. Cuma makan dan tidur nanti ikut saya di bengkel ini." 

Saya jawab, "Iya, pak, tidak apa apa, saya terima." 

Setelah itu saya kembali ikut Pak Imam untuk bilang kepada supir truk yg saya tumpangi bahwa saya numpang sampai di sini saja karena saya dapat tempat kerja. 


Rasa capek karena rutinitas membantu di bengkel Pak Basuki itu membuat saya jika malam hari sering galau. Akhirnya hobby saya membaca muncul, dimulai dengan pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya, “Kenapa saya tidak membaca saja di sela sela waktu malam saya, dari pada bingung mau ke mana dan mau mengapa?” 

Akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada masyarakat sekitar bengkel. Waktu itu bapak bapak yang saya tanya, “ Pak, saya mau pinjam buku. Di sini ada perpustakaan di mana?” 

Tapi bapak itu menjawab, “Perpustakaan itu apa, mas?" 

Saya pun terdiam dan dalam hati, “ Masyarakat saja tidak tau apa itu perpustakaan, apa lagi baca buku.”

Dalam hati saya berkata, hal ini tidak bisa di biarkan. Saya harus membuat perpustakaan. Tapi keadaan saya waktu itu tidak memungkinkan, karena saya bisa makan setiap hari saja sudah syukur Alhamdulillah. 



Artikel Terkait

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat...

Payung Rumah Baca Inspirasi Teduhkan Semangat Berliterasioleh : Halisa (pegiat Literasi Rbi Tonyaman) payung Rumah Baca Inspirasi Akhirnya Terpasang, Tepat Di Hari Kamis 22 Oktober 2020....

Jarak Aman Dalam Menerapkan Physical Distancing

Sars-cov-2 Atau Yang Biasa Kita Sebut Covid-19, Merupakan Wabah Besar Yang Terjadi Di Lebih Dari 190 Negara Di Dunia. Virus Ini Diindikasikan Menyebar Paling Banyak Melalui Respiratory Droplets...

Hayluz, Taman Baca Yang Mapan?

Kawan-kawan Dan Pengunjung Yang Mengetahui Taman Baca Hayluz Sejak Awal Tentu Saja Mengerti Bagaimana Kami Memulai Dan Mengusahakan Perkambangan Tbh. Mulai Dari Koleksi Bacaan Hingga Pelbagai...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul