Cerita 10 Rumah Aman Di Desa Kami

Picture by Ari Ghi

Ditulis Oleh : Ari Ghi - 27 Juni 2020

Kebetulan komunitas Compok Litetasi dipercaya untuk menjalakan program #10rumahAman, program kerjasama KEMENKOMINFO , KSP & @pustakabergerak.id dengan tujuan utama memberi rasa aman kepada tetangga terdekat kita.Tugasnya sederhana, kami diberikan alat ukur suhu badan untuk mengukur suhu badan masyarakat dan beberapa masker untuk dibagikan.


Namun saya masih ragu untuk bergerak. Lebih tepatnya, harus menunggu karena beberapa alasan, diantaranya sebab masker yg saya terima sangat terbatas. Sedang dalam pikiran saya, target masyarakat yang harus saya ukur suhu badannya harus lebih banyak dan tentunya ini butuh masker yang lebih juga untuk kami bagi-bagikan ketika kunjungan ke rumah-rumah.


Akhirnya saya menunggu memiliki uang lebih, untuk saya belikan masker namun ternyata gaji saya yg diharapkan, hanya terbayarkan setengah sebab dampak covid-19. Dan ini membuat uang ini tak cukup jika harus disisihkan. Pun bisa, hanya menghasilkan sedikit masker.


Akhirnya program inipun belum jalan, dilain sisi saya juga sedang menunggu paket pembelajaran dari sebuah lembaga non-profit untuk dibagikan ke anak-anak desa saya. Rencananya, nanti sekalian. Ukur suhu badan ke rumah-rumah warga, lalu paket pembelajaran itu kita berikan jika warga tersebut memiliki anak yg umurnya sesuai target paket pembelajaran tersebut.


Namun, hingga saat ini paketnya belum juga datang. Dan ini tambah menghambat rencana saya untuk bergerak.


Tapi tak kemana gunung dikejar, berawal dari sebuah obrolan-obrolan ringan dengan beberapa mahasiswa yang menguluh kepada saya, terkait dampak Covid-19 terhadap program kampusnya, salah satunya program Pengabdian Masyarakat (Sejenis KKN mereka menyebutnya KPM) terpaksa disederhanakan oleh kampus.


Bayangkan, cuma sekedar bantu nyapu halaman rumah atau cuci-cuci piring didapur, itu sudah bisa jadi laporan kegian KPM mereka. Saya benar-benar tertawa mendengar hal tersebut pada saat itu.


Dan akhirnya, saya coba beri usul. Saya ceritakan, bahwa saya punya program yg namanya #10rumahAman , konsepenya ukur suhu badan warga, kemudian memberikan masker selebihnya kita melakukan sosialisasi tentang Covid-19. Tentunya program ini dijalankan sesuai protokol keamanan Covid-19. Sebab panduan dan SOP-nyapun saya pribadi sudah ada.


Akhirnya sayapun memberitahukan terkait kendala saya. Serta kemudian mengusulkan kepada mereka, jika kita berkolaborasi, maka mita dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan memberikan manfaat lebih banyak serta permasalah dari masing-masing kita bisa menemukan solusi.


Salah satu dari merekapun terlihat sangat antusias, dan kemudian berkata akan coba berkoordinasi dengan mahasiswa lainnya. Sebab memang pada dasarnya, program KPM mereka saat ini hanya bisa dikerjakan secara pribadi dan harus didesa sendiri, padahal biasanya mereka melakukannya di desa orang lain, berkelompok dengan waktu sekitar 10 bulan. Jadi, dengan skema baru yg ditetapkan kampus, semua itu membuat beberapa mahasiswa ini kecewa.


Jadi, dengan program ini. Setidaknya ini menjadi sedikit penawar kekecewaan mereka pada keaadaan. Itu juga haraoan kecil saya.


Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, salah satu dari mereka mengabari saya. Dan melaporkan, ada sekitar 20 Mahasiswa yang siap bergabung dan menjalankan orogram ini bersama-sama. Wow, senang sekali saya mendengarkan kabar ini.


Dihari selanjutnya, saya undang mereka kerumah untuk membahas konsep serta teknis nantinya dilapangan. Kemudian disepakati tanggal 2 Juni berkumpul di balaidesa untuk briefing dan tanggal 3 Juni kita mulai bergerak.


Dan akhirnya, tanggal 3 Juni kita mulai bergerilya mendatangi beberapa rumah. 20 orang, kita bagi menjadi 4 tim, karena keterbatasan alat ukur suhu badan yg bisa saya sediakan. Dan mereka menyasar minimal 10 rumah.


Tim yang saya ikuti sendiri mencoba mendatangi 12 rumah, dengan total sekitar 45 orang yang kami ukur sugu badannya. Dan yang paling berkesan bagi kami ketika kami mendatangi salah satu rumah, dan kita beri masker serta ukur suhu badannya . Setelah kita ingin berpamitan, dengan berkaca-kaca," Sakalangkong ye nak, gi' eperhatiagi masyarakat bebe. Aberik rasa aman, karna corona reah perrean onggo (Terima kasih ya nak, kalian masih perhatian ke masyarakat bawah. Memberikan rasa aman, sebab corona ini memang bikin ulah beneran)".


Selebihnya, kami lihat warga lainnya sangat antusias ketika kami kunjungi.


John Doe
Ari Ghi
Hello, my Name is ghi. Seorang yg menyukai hal-hal yg berhubungan dengan dunia sosial. Saya juga bagian dari pustakabergerak Indonesia.

Artikel Terkait

Ada Uang Ada Nilai

Bersyukurlah Orang Yang Punya Tabungan Di Bank Atau Simpanan Di Koperasi. Termasuk Anda Yang Masih Menyimpan Lembaran Rupiah Di Bawah Bantal Dan Kasur. Alat Pembayaran Ini Sangat Dibutuhkan Saat...

Belajar Tauhid Dari Corona

Menyebarnya Virus Corona Atau Covid-19 Ke Penjuru Negeri, Telah Membuat Manusia Heboh Oleh Berita Atau Opini Yang Tersebar Di Tengah Masyarakat, Khususnya Di Jagat Maya.dampaknya Adalah Rasa...

Virus Corona Dan Khawatiran Publik

Virus Corona Yang Masuk Ke Tanah Air, Membuat Publik Begitu Khawatir. Sejatinya, Khawatiran Akan Hal Itu Bersifat Wajar. Namun Menjadi Tidak Elok Jika Diiringi Dengan Sikap Berlebih. Sikap Ini...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul