Cahaya Di Balik Jeruji Besi Itu Bernama Literasi

serah terima buku dari Jeruji Pustaka Papua

Ditulis Oleh : Panggih Priyo - 14 Oktober 2020

“Setiap orang berhak mengakses buku, tak terkecuali mereka yang di penjara. Di negera seperti Brasil bahkan sudah menerapkan remisi literasi. Kalau Mas Panggih bisa menggerakan itu di sini kami siap membantu” tutur Pak Ali.

Kata-kata tersebut benar-benar membakar semangat saya untuk kembali bergerak dalam dunia literasi. Jujur saja pada saat itu saya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Saya masih mencoba beradaptasi di kota yang benar-benar berbeda dengan Jogja. Menginjakan kaki di kota ini benar-benar hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, bahkan tidak saya inginkan. Namun garisan takdir berkata lain. Kamis 11 Januari 2018, pantai pasir putih dan barisan pegunungan Arfak menyambutku di Manokwari.

Ada satu komitmen dalam diri saya, dimanapun berada harus menjadi bagian dari gerakan literasi. Dimana bumi dipijak di situ buku dijunjung. Pertemuan saya dengan Pak Ali dan teman-teman Noken Pustaka benar-benar seperti mendapat angin syurga. Sejak saat itu saya termotivasi untuk membuat Gerakan lieterasi untuk para napi.

Sayang, angan-angan dan harapan besar tersebut terbentur tembok besar yang bernama birokrasi. Saat itu saya masih berstatus CPNS Kementerian Hukum dan HAM, sama sekali tidak punya kenalan ataupun kerabat di sini. Instansi tugas saya pun bukan di Lapas/Rutan tapi di Balai Pemasyarakatan (Bapas). Sangatlah mustahil tanpa rencana matang saya bertemu dan melakukan lobi kapada Kepala Lapas, Kepala Rutan dan para pejabat pejabat eselon II.

Saya menyadari bahwa tidak mempunyai power yang cukup untuk meyakinkan para pejabat. Sangat tidak mungkin , tiba-tiba saya menemui salah satu pejabat kemudian memberikan penjelasan pentingnya literasi di dalam penjara. Terlalu menggurui dan pastilah cara seperti ini tidak akan berhasil.

Pernah suatu kali, kebetulan ada momen santai, saya mencoba membuka diskusi dengan salah satu pejabat. Jawabanya cukup membuat terkejut.

“Ini Papua mas, beda dengan Jawa. Barang begitu akan susah” ucapnya.

***

Saya mencoba menghubungi teman-teman sesama CPNS yang bertugas di Lapas, LPKA dan Rutan. Berdasarkan informasi dari teman-teman ternyata dari lima lapas/rutan di Papua Barat hanya satu lapas yang sudah mempunyai perpustakaan di dalamnya.

“Nis aku aku bikin komunitas buku, tujuannya kita fasilitasi lapas/rutan untuk mendapatkan koleksi buku, gabung ya?” tulisku dalam sebuah pesan Whatsapp kepada salah satu teman kantor.

Diapun meng-iyakan dan bersedia bergabung. Beberapa teman yang aku kirim pesan yang sama menyatakan belum bersedia. Baiklah , mungkin harus dengan cara berbeda untuk mengajak teman-teman yang lain.

Sejak saat itu setiap kali bertemu teman satu angkatan (sama-sama CPNS) saya sudah seperti sales promosi. Tentunya mempromosikan gerakan literasi yang akan saya buat, dengan harapan mereka akan tertarik lalu bergabung. Ada satu dua orang yang menyatakan tertarik namun kemudian hilang tidak ada kabar. Memang terkadang orang susah untuk percaya kalau belum melihat bukti nyata. Saya kemudian memutuskan untuk segera memulai, sekecil apapun harus segera memulai.

Saya bersama tiga orang teman kemudian membuat komunitas bernama “Jeruji Pustaka Papua”. Tujuan kami sederhana,  yaitu menggerakan literasi sampai di dalam penjara. Kami sepakat bahwa penjara sebagai tempat pembinaan narapidana harus mempunyai sarana dan prasarana literasi. Namun faktanya kebijakan literasi di dalam penjara belum menjadi prioritas utama dalam instansi tersebut.

Bisa dibayangkan betapa menjenuhkan aktifitas narapidana di dalam penjara. Hidup serba terbatas , terkungkung dari dunia luar dan sangat minim aktifitas. Bagi narapidana, terlalu banyak waktu luang yang terbuang di dalam penjara. Buku bisa menjadi alternatif pilihan terbaik untuk mengisi waktu luang mereka. Melalui buku, mereka bisa memperoleh informasi, mempelajari hal-hal baru dan menemukan motivasi hidup. Tentu hal ini sangat sejalan dengan tujuan sistem pemasyarakatan yaitu membentuk manusia seutuhnya dengan mengembangkan segala potensi yang dimiliki untuk bisa kembali diterima di masyarakat.

***

Adanya Free Cargo Literacy (FCL) sangat berarti sekali bagi kita yang berada di timur negeri seperti Manokwari. Karena sebagain buku dari para donator berada di Jawa, ongkos kirim bisa mencapai 150 ribu per kilo. Jika dalam satu kardus berisi 10 kg buku maka biaya kirim bisa mencapai dua juta rupiah. Tentu ini ongkos yang sangat tinggi bagi komunitas yang berbasis kesukarelawanan seperti kami.

Kami sepenuhnya memanfaatkan program FCL. Kami menghubungi para jaringan komunitas literasi yang berada di Jogja, Jakarta dan Bandung. Kami kemudian membuka donasi buku dan membagikan infonya melalui akun Facebook dan WhatsApp. Respon  di media sosial sangat bagus dan kami mendapat banyak dukungan. Di bulan pertama, yakni Agustus 2018 kami menerima paketan donasi buku pertama kami. Sejumlah tiga kardus buku kami terima.

“Ini kemenangan pertama” pekikku dalam hati.

Bulan-bulan selanjutnya kami selalu mendapat paket buku dari program FCL. Pada bulan September saya mengajak Noken Pustaka untuk membuka lapak baca di halaman kantor Gubernur Papua Barat. Mengingat tempat ini cukup ramai dikunjungi orang setiap sore untuk berolahraga dan sekedar jalan-jalan di taman. Menurutku ini menjadi tempat yang tepat untuk mengkampanyekan gerakan literasi di Manokwari. Pak Ali Noken Pustaka pun mendukung dan mengajak komunitas literasi yang lain untuk bergabung.

Diluar dugaan, sambutan masyarakat begitu antusias. Lapak baca kami pun kemudian menjadi pusat perhatian setiap orang yang sedang beraktifitas sore itu. Kegiatan itu, kemudian saya unggah di akun Facebook dan Whatsapp. Banyak komentar dan dukungan atas kegiatan tersebut. Kemudian lapak baca di halaman Kantor Gubernur rutin kami gelar setiap minggu. Hingga salah satu pejabat eselon II di Kantor Wilayah Kemenkumham Papua Barat mengetahuinya. Saya kemudian diminta untuk menghadap beliau.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, ini kesempatan yang sudah lama saya tunggu. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk mempresentasikan komunitas dan gerakan kami.

“Pada dasarnya saya sangat mendukung apa yang dilakukan Panggih dan kawan-kawan. Jika buku-buku sudah terkumpul banyak tolong beritahu, nanti saya sampaiakan kepada Bapak Kepala Kantor Wilayah” ujar Kepala Divisi Pemasyarakatan.

Gayung bersambut, langkah perjuangan kami terasa ringan. Tidak hentinya kami dipertemukan dengan orang-orang baik yang mendukung Gerakan literasi. Tiga bulan kami berusaha keras untuk mengumpulkan buku-buku. Kami mendatangi komunitas literasi lain untuk meminta dukungan, membuat pemberitahuan donasi buku di media sosial dan mendatangi secara personal untuk meminta bantuan buku. Hingga pada bulan Maret 2020 terkumpulah 1000 ekslemplar buku di Jeruji Pustaka Papua. Kami kemudian melakukan sortir dan kodefikasi buku. Saya kembali menemui Kepala Divisi Pemasyarakatan untuk melaporkan progres Jeruji Pustaka Papua.

***

Tepat pada peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan 27 April 2018 kami diberikan kesempatan untuk menyalurkan buku-buku kami kepada Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Manokwari dan Lapas Perempuan (LPP) Manokwari. Setelah selesai upacara peringatan, kami diberikan kesempatan untuk serah terima buku. Saya mewakili Jeruji Pustaka Papua melakukan penyerahan buku secara simbolis kepada Kepala LPKA di damping oleh Kepala Divisi Pemasyarakatan dan Kepala Kantor Wilayah. Penyerahan buku di iringi riuh tepuk tangan peserta upacara.

Hingga saat ini Jeruji Pustaka Papua sudah mengadakan beberapa kegaiatan di dalam Lapas seperti pelatihan menulis, pemberian konseling dan motivasi kepada narapidana baik dewasa ataupun anak. Antusiasme mereka selalu menyulut api semangat kami.

Saya sadar betul bahwa perjuangan kami belum berakhir.  Saya yakin seyakin-yakinnya buku-buku akan menjadi cahaya kehidupan bagi mereka yang membacanya. Buku mampu mengubah kosong menjadi isi, menguatkan yang lemah dan menerangi yang gelap. Di balik jeruji besi adalah takdir mereka saat ini, dunia bebas adalah tempat mereka kembali.

***

Suatu kali saya disapa seorang ibu paruh baya di kantor.

“Bapak terimakasih, sudah pernah ajar sa menulis,  sa sekarang masih sering menulis puisi. Yah buat isi sa pu waktu luang di rumah” ungkapnya.








Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul