BERGERAK; PERISTIWA-PERISTIWA YANG MENCIPTAKAN LITERASIKU

Picture by Saufi Azka

Ditulis Oleh : Saufi Azka - 21 September 2020

#Satu

Sejak kecil aku sudah dikenalkan buku non teks pelajaran oleh dua abangku. Mereka sangat gemar sekali membeli buku di lapak buku bekas satu-satunya di kota kami, dan membawanya pulang untuk dibaca di rumah. Buku-buku bekas berupa komik dan novel, dari Chinmi Kungfu Boy hingga novel Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng muridnya Sinto Gendeng, kulahap dengan rakus. Bahkan kadang sesekali buku yang tak sesuai dengan usiaku.

Sebagai keluarga yang tak berlebihan dari sisi materi, tidak ada anggaran yang diberikan oleh kedua orang tua untuk abang dalam membeli buku. Mereka hanya menyisihkan uang jajan untuk membeli buku-buku tersebut. Bisa membayar buku teks dan uang sekolah kami saja, itu sudah perkara hebat yang dapat dilakukan orang tua kami. Kedua abangku yang entah dari mana kegemaran membaca –mungkin karena kami tidak punya televisi-, selalu mengajak aku menuju lapak buku bekas pada malam hari. Bertiga mengendarai sepeda ayah di kaki lima pusat kota. Butuh waktu 45 menit dari rumah.

Lapak buku bekas hanya ditemani lampu patromak -lampu yang bercahaya terang dan berbahan bakar minyak lampu serta spritus untuk menghidupkannya. Sambil menunggu abang memilih buku untuk dibeli, aku juga turut jongkok memilih dan membaca buku-buku yang disusun rapi di lantai beralaskan koran, hingga kedua kaki sering kesemutan. Berlanjut hingga SMP dan SMA aku menjadi langganan tetap abang pelapak buku bekas. Saat itu, kedua abang sudah merantau, ke luar kota-bekerja.

Bagiku, peristiwa seperti ini sungguh menyenangkan. Peristiwa yang tanpa kusadari melatihku menjadi pembaca gila.

#Dua

Seorang anak perempuan, remaja senang sekali membaca majalah-majalah remaja yang dibeli oleh kedua kakaknya, selain buku teks pelajaran sekolah tentunya. Beranjak dewasa, sambil kuliah, si gadis juga bekerja menjaga toko buku. Tentu saja kesempatan menjaga toko buku, dimanfaatkannya dengan sebenar-benarnya manfaat. Banyak buku-buku yang dilahapnya dari pagi hingga petang.

Setelah tamat kuliah, ia memilih untuk menjadi pekerja berita di kota kelahirannya. Sangat mudah katanya untuk merangkai paragraf demi paragraf untuk mengabarkan peristiwa kepada siapapun melalui koran tempat ia bekerja.

Sebagai orang-orang yang senang membaca dan menulis hasil dari warisan tak sengaja melalui kegemaran membaca oleh kedua kakaknya, si gadis tersebut ditakdirkan berjodoh denganku dan menjadi pasangan hidup dengan empat anak yang juga gila membaca.


#Tiga

Tahun-tahun pascamenikah, harta yang terbaik yang kami punya adalah buku. Maka barang yang paling mahal selanjutnya adalah rak bukunya. Kami lebih memilih menempahkan rak buku kuat, besar, bagus, dan tahan lama tentu saja dengan harga mahal, dari pada peralatan rumah tangga lainnya. Tidak ada sofa, kursi dan lain sebagainya untuk memperindah ruang dalam rumah kami, selain rak dan bukunya yang gagah berdiri. Selalu saja takjub tamu yang berkunjung melihat ratusan buku yang telah kami miliki di awal menikah.

Melihat anak-anak berkumpul bermain di teras rumah, membuat aku dan istri sepakat untuk memberdayakan buku terbaik yang kami punya agar dapat dibaca anak-anak. Tentu saja disesuaikan dengan usia anak-anak tersebut. Sejak itulah kami mendeklarasikan diri untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2012.

Sesungguhnya salah satu inspirasi membuka lapak dari abang penjual buku bekas pada tahun-tahun aku masih sekolah, hingga menikah sudah ada 4 pelapak buku bekas. Dari mereka kuciptakan peristiwa, membuka lapak buku, tapi tidak untuk dijual, hanya untuk dibaca secara gratis. Buku-buku tersebut merupakan kumpulan buku-buku yang dibeli sebelum menikah. Kemanapun kami mengontrak rumah pascamenikah, tetap membuka lapak baca di teras untuk anak-anak. Kegiatan membuka lapak buku dan berkumpulnya anak-anak adalah perkara yang membahagiakan.  


#Empat

Taman bacaan yang kami kelola semakin baik jalannya, semakin memberikan kontribusi positif untuk anak-anak kampung tempat kami tinggal bahkan merambah ke kampung tetangga. Anak-anak yang sudah pernah datang, bercerita kepada kawannya dan kemudian mengajak turut serta kawan lainnya ke taman baca yang kami punya. Terus begitu dari mulut ke mulut.

Awalnya hanya sejumlah anak yang bermain di teras, kemudian menjadi puluhan hingga ratusan anak yang silih berganti menjadi pengunjung dan pembaca setia di taman baca. Agar tak hanya anak-anak saja yang datang ke taman baca, kami membuat program membuka lapak baca di lapangan-lapangan terbuka termasuk diantaranya di halaman masjid. Program ini sangat diminati tidak hanya anak-anak saja, tetapi juga remaja, orang dewasa, serta orang tua yang turut membawa anaknya. Mereka turut terlibat untuk membaca buku-buku yang ada pada lapak baca.

Peristiwa ini memberikan kesan pada semua, bahwa di tengah kehidupan yang serba memanfaatkan teknologi, masih ada cara tradisional yang dapat menggugah mereka untuk menjadi pembaca, meskipun pembaca buku dadakan. Mungkin esok atau lusa, setelah lapak-lapak baca, orang dewasa, dan orang tua yang membawa anaknya akan terinspirasi untuk memfasilitasi anak-anaknya menjadi pembaca buku, tak hanya pembaca gawai.

Semakin terus menciptakan peristiwa, tentu saja ada kendala. Hal klise adalah ketidakcukupan buku, tidak up to datenya buku juga menjadi salah satunya. Terkadang mahasiswa yang ingin menemukan referensi berkomentar ‘Pak buku metode penelitiannya tidak ada yang terbitan terbaru ya?’ atau anak-anak kecil pelanggan setia yang rajin membaca protes ‘ah, Pak, bukunya ini saja, udah dibaca semua. Apa ga ada yang baru lagi Pak?’ tentu saja protes-protes ini tidak menjadikan kami patah arang. Bahkan mencari ide bagaimana dengan keuangan yang tak seberapa bisa mendapatkan buku lainnya. Salah satunya dengan membacakan kembali buku yang sudah mereka baca. Jadilah kami membuat program dongeng untuk anak.

Membeli buku dan majalah bekas yang sangat layak pakai untuk anak-anak dengan menyisihkan uang dari kantong juga menjadi salah satu pilihan. Agar semakin banyak anak-anak yang tercerahkan dengan membaca. Tentu saja inilah kelebihan aku menikah dengan istri yang juga pernah memiliki peristiwa yang sama dalam membaca pada masa lalu. Ia selalu mendukung, tak marah mau seberapa banyak aku membeli buku. Baginya yang juga penggila buku, tak ada kerugian membeli buku, meskipun bekas.

Salah satu peristiwa seru yang masih membekas tatkala dalam dua pekan buku yang sudah dibeli, tak nampak lagi bangkainya, sebab sudah raib. Penyebabnya banyak peminjam yang tidak mengembalikan dengan alasan lupa hingga hilang. Tak apa. Kami ikhlaskan, dengan doa agar sepuluh atau dua puluh tahun lagi, mereka terinspirasi untuk mengganti buku yang pernah dipinjam dengan menjadi pencipta peristiwa berikutnya: penjaga peradaban-mendirikan taman baca atau sejenisnya-.

Selain itu, tentu saja hal paling sangat disyukuri adalah dengan keberadan pustaka bergerak. Melalui pustaka bergeraklah, banyak buku kami dapat dari kawan-kawan donatur di seluruh wilayah Indonesia. Judul dan genre buku semakin baragam yang kami terima. Ongkos kirim yang gratis pada tanggal 17 setiap bulan menjadi hari raya bagi kami.

Melalui buku-buku donasi dari kawan-kawan donatur ini pula, kami dapat menginisiasi berdirinya pustaka-pustaka bergerak lainnya di kampung. Buku-buku yang diterima benar-benar bergerak. Berputar dari satu taman baca ke taman baca lainnya yang sudah berdiri. Doa kami, program ini terus berjalan selamanya, meski dengan berbagai cara.


Terus Bergerak

           Sebagai seorang sarjana pendidikan, banyak yang menyayangkan keputusanku untuk tidak mengajar lagi di instansi sekolah. Kata mereka sayang ilmu yang didapat, tidak disalurkan. Justru keterlibatan dalam dunia literasi yang meliputi taman baca, mendongeng, menulislah yang membuka wawasan berpikir dan jejaring lebih luas.

Melalui kegiatan literasi, ilmu yang aku pelajari semasa kuliah dapat diterapkan, bahkan juga membuka lapangan kerja bagiku sendiri. Sebab dari berdirinya taman baca, aku belajar mendongeng, hingga diundang di beberapa tempat dengan apresiasi kompensasi yang dapat mememenuhi kebutuhan literasi finansial keluarga.

Melalui taman baca, aku memutuskan bergerak dalam dunia penerbitan dan percetakan buku, sebagai pintu literasi. Ini juga menambah kompensasi kebutuhan hajat hidup keluarga.

           Semua peristiwa yang saya alami adalah proses untuk terus memberikan yang terbaik untuk negeri, melalui kegiatan literasi. Hal terbaik dari semua itu, literasi keluarga benar-benar terselamatkan. Anak-anakku juga penggila baca, bahkan si nomor 1 dan 2 sudah menulis cerita anak pertamanya pada koran lokal. Mereka masih kelas enam dan empat sekolah dasar.


Saufi Ginting-TBM Azka Gemilang-Asahan-Sumut


John Doe
Saufi Azka
Pegiat literasi Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Senang menulis, dan membaca peta, peta kehidupan.

Artikel Terkait

Ternyata Ada Ribuan Bahan Bacaan Gratis, Lo!

“kak Anggi, Sudah Dapat Novel Dan Referensi Yang Kakak Bilang Ditugaskan Bu Isnaini Kemarin?”“sudah Dong, Banyak Lagi”“wah, Keren Kak. Aku Pun Dapat Tugas Yang Sama Dari Bu Isnaini Di...

Tagline Lawan Unesco, Sebagai Bentuk Suatu Jawaban

Banyak Sekali Data-data Yang Tersebar, Terkait Minat Baca Anak Indonesia Yang Masih Terus Dikatakan Rendah Dan Selalu Di Presentasikan. Menilai Anak-anak Dari Semua Kalangan Di Indonesia Masih...

Gerakan Literasi, Beberapa Catatan

Geliat Gerakan Literasi Di Indonesia Kian Hari, Kian Gencar Terdengar. Melalui Media Daring, Televisi Maupun Media Cetak. Pun Munculnya Beberapa Komunitas, Club Baca Ataupun Pustaka Bergerak...

Komentar

Belum ada yang berkomentar

Silahkan login dahulu untuk berkomentar

Home

Artikel

Data Simpul

Home

Artikel

Data Simpul